
Di belahan bumi lainnya, Jullio terlihat marah-marah membuangi semua barang yang ada di dalam kamar sang Adik sekaligus kekasihnya itu. Sebab begitu ia pulang ke rumah, ia tak mendapati keberadaan Vero di dalam kamarnya sedari kemarin.
Ya sejak kemarin Jullio sudah berada di rumah besar milik keluarganya itu, bertanya kepada semua orang penghuni rumah tersebut yang menjaga kediaman orang tuanya, namun sama sekali tidak ada satupun yang tahu keberadaan sang Adik.
Bahkan Jull juga sudah mendatangi semua sahabat-sahabat Adiknya itu, tapi tetap saja jawaban yang sama yang ia terima.
" Aacchh..kemana kamu Vero !!"Jull terlihat sangat frustasi, ia sungguh menyesal meninggalkan Vero sendirian dalam keadaan yang memprihatinkan seperti kemarin itu. Ia akui ia salah dan berubah menjadi pria yang begitu pengecut.
Jull pun bingung bagaimana jika nanti Papa dan Mamanya menanyakan keberadaan Adiknya itu, apalagi ia sudah berjanji akan menjaga dan melindungi Vero sampai jalan pun.
" Aku harus jawab apa? Bahkan kamu tidak meninggalkan sepucuk surat pun untukku, atau barang yang lainnya." Desah Jull mengacak-ngacak rambutnya sendiri.
Hingga terasa sakit kepalanya akibat memikirkan dimana kira-kira keberadaan sang Adik saat ini." Oh ****!" Jull baru ingat, kalau barang pribadi Vero belum ia cek di dalam laci nakas yang selalu di kunci oleh Adiknya, dengan cepat Jull pun segera memeriksanya.
Dan benar saja barang-barang penting milik Vero tidak ada satu pun yang tertinggal, dan yang paling penting, Visa dan paspornya juga menghilang di bawa pergi, yang itu berarti Adiknya pergi meninggalkan negara ini.
" Kamu pasti kembali kesana Ver, ya Kakak yakin, baiklah tunggu Kakak datang." Dengan semangat ia berjalan keluar dari kamar sang Adik menuju kamarnya sendiri yang memang jaraknya berdekatan.
Tak susah sebenarnya melacak posisi Vero saat inj, jika nomor kontaknya itu masih aktif, namun ternyata nomor itu sudah tidak aktif lagi dan kemungkinan sudah berganti yang baru, kalau sudah seperti ini, yang harus ia lakukan adalah bersabar dan berusaha sendiri, menunggu waktu yang tepat.
Jull sudah memutuskan akhir pekan ini ia akan menyusul Vero ke negara sana, tidak peduli harus mencarinya dimana pun yang terpenting ia harus bertemu dengan Vero, dan menjelaskan bagaimana hubungan mereka selanjutnya untuk kedepannya. Ia tidak ingin kehilangan wanita itu.
---
Pagi-pagi sekali Vero sudah terlihat sangat rapi untuk hari pertama bekerja di Kasterick Corporation, ya itu adalah nama perusahaan yang akan ia datangi pagi ini, perusahan yang bergerak di bidang pembuatan alat-alat canggih yang bentuknya tak kasat mata, alias sangat kecil kemungkinan akan nampak oleh orang lain, ya di sebut smartfly.
Walaupun dalam dunia teknologi alat canggih tersebut belum pernah di publikasikan, tapi banyak perusahaan atau orang kaya yang sudah meminta jasa dari perusahaan tersebut.
Benda tersebut memang tak nampak karena sangatlah kecil tapi alat-alat yang mereka buat sangatlah brrguna bagi orang lain juga bagi perusahaan itu sendiri.
" Semangat Vero!!" Ujarnya menyemangati dirinya sendiri.
Vero baru saja memasuki kawasan perusahaan tersebut, ia berjalan ke arah Resepsionis, yang langsung di sambut hangat oleh mereka.
__ADS_1
Setelah di beritahu oleh salah satu Resepsionis dimana ruangan HRD nya, Vero pun segera berjalan menuju ke lantai yang di maksudkan tadi.
Gedung perusahaan ini memang terbilang cukup besar, kemajuan dari bisnisnya-lah yang semakin berkembang pesat hingga membuat perusahaan ini namanya melambung hingga ke pelosok negeri.
" Ya masuk." Jawab seseorang yang sudah pasti menjabat sebagai kepala HRD itu yang berada di dalam ruangan tersebut.
" Permisi." Seru Vero sambil berjalan masuk.
" Kau yang bernama Veronica Jeslin?" Tanya si Kepala HRD tersebut sambil membuka lembaran CV milik Vero.
" Ya benar, itu aku. Jawabnya seraya duduk setelah di persilahkan oleh seorang wanita paruh baya yang ada di hadapannya saat ini.
" Jadi kau sebelumnya pernah bekerja menjadi sekertaris pribadi?" Vero hanya mengangguk pelan sambil terus menatap wanita itu.
" Baiklah tolong tanda tangani surat kontrak kerja terlebuh dahulu. Setelahnya aku akan mengantarkanmu ke ruangan Miss Glory." Titahnya meminta Vero tanda tangan lalu keluar menuju ke lantai atas dimana ruangan wanita yang di maksud olehnya tadi.
" Permisi Miss, ini Nona Veronica yang melamar bekerja kemarin itu." Seru Ibu HRD kepada seorang wnauta muda yang mungkin usianya sedikit lebih tua dari Vero.
" Ya baiklah terima kasih. Oh ya, Veronica karena ini adalah pertama kali untukmu bekerja disini, jadi kau harus ikut kemana aku akan pergi atau membantu pekerjaan saya sebelum kamu menjadi sekertaris pribadi Mr. Kai." Seru wanita yang menjabat sebagai sekertaris terlama di situ.
" Panggil saja Glory, sepertinya usia kita tidak terpaut jauh." Vero hanya tersenyum menanggapi lalu mengangguk.
'Ternyata wanita yang ada di hadapannya ini, sangatlah ramah dan juga baik hati, sepertinya aku akan betah bekerja disini nantinya.' Pikir Vero masih dengan senyumannya.
" Oh iya tolong antarkan berkas ini ke ruangan Mr.Erick ya, karena aku masih mengerjakan pekerjaan lainnya, bisa 'kan?" Pinta Glory sambil menyerahkan Map berisi dukumen penting kepada Vero.
'Erick? Apa ini Erick yang sama?'
" Hello Vero, kau mendengarkanku?" Panggil Glory karena melihat Vero malah sedang termenung.
" Ah, sorry-sorry Glory, baiklah aku akan mengantarkannya, " Jawab Vero merasa tidak enak hati, karena tadi sempat melamun.
Vero sudah beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu namun langkahnya terhenti lalu kembali berbalik ke belakang menatap Glory.
__ADS_1
" Glory aku baru ingat dimana ruanganku berada, aku ingin meletakkan bag milikku ini terlebih dahulu.." Tunjukknya sambil mengangkat tas kecil yang ia pegang sedari awal.
" Ah iya aku melupakan itu, ruanganmu ada di ujung sana, sedangkan ruangan Mr.Erick ada di depan lift yang disana." Tunjuk Glory ke bagian-bagian yang Vero cari.
Glory menunjuk ke salah satu bilik kaca transparan yang tidak terlalu luas itu kepada Vero tempatnya bekerja, tepatnya lagi di samping ruangan sang big bos, dan juga ruangan bos lainnya." Baiklah aku pergi dulu." Vero berjalan ke bilik miliknya terlebih dahulu untuk meletakkan bag yang masih ia pegang sedari tadi, lalu keluar kembali menuju ke ruangan yang di maksud oleh Glory barusan.
Vero memang menyukai hal yang terlihat unik, maka dari itu ia mengambil jurusan TEI sedari ia sekolah menengah atas, walaupun jarang seorang wanita yang mengambil jurusan tersebut, tapi ia sangat menyukainya.
Mungkin sifatnya ini menurun dari Ayah kandungnya yang memang menyukai hal tentang dunia teknologi sebab mendiang sang Ayahnya pun bekerja di perusahaan telekomunikasi dulunya.
Tok.. tok..
" Come in."
Begitu terdengar ada sahutan dari dalam barulah Vero membuka pintu kaca tersebut, mendorongnya masuk.
" Permisi, Mr. ini dukomen dari Glory." Ujar Vero sambil menyodorkan dukumen tersebut, yang akan ia letakkan di atas meja.
Seorang pria yang berada di dalam ruangan itu masih fokus dengan layar transparan miliknya yang berada di depannya saat ini. Pria itu mengira Glory-lah yang masuk, karena itu dia pun masih belum sadar bahwa Vero-lah yang saat ini berada di ruangannya saat ini.
" Letakkan di sana." Serunya tanpa melihat ke arah Vero, wanita itu langsung melakukan apa yang di ucapkan oleh pria yang sedang duduk tenang tanpa merasa terusik. Saat menyadari Glory masih belum beranjak pergi, barulah pria itu menoleh ke arah wanita itu.
" Kenapa masih—Eh..."
Ucapannya menggantung seketika matanya terbelalak tidak percaya begitu melihat siapa yang berada di hadapannya sekarang ini.
.
.
.
.tbc
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷
Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..