
PoV. Vero
Pagi ini aku terlambat bangun, gara-gara semalam setelah acara dinner keluarga aku masih menemani Mama dan Papa yang menonton televisi, karena perut baru saja di isi jadi tidak boleh langsung tidur, begitulah yang selalu Mama katakan pada kami semua jika kami baru saja selesai makan malam bersama sementara di sofa depan kami duduklah Kak Jull dan juga Nella, sebenarnya aku ingin langsung kembali ke kamar apalagi untuk menatap mereka berdua rasanya sudah sangat jengah sekali.
Setelah selesai membersihkan diri, aku memakai pakaian lalu bercermin di cermin besar berukuran melebihi tinggi tubuhku, memperlihatkan penampilanku yang sudah cantik dan rapi karena ingin keluar hari ini, bosan sekali jika terus berada di dalam rumah. Aku akan mengajak semua para sahabatku untuk merayakan ulang tahunku.
Ting!
Terdengar suara notif pesan masuk di benda pipih pintarku, aku pun segera meraih ponselku yang masih tergeletak di atas nakas kecil samping ranjang dan langsung membukanya, tak lama aku menghela nafas panjang saat tahu siapa pengirim pesan tersebut.
Kak Jull: Cantik keluar yuk! Kakak traktir dech! Mau beli apapun ayoo,, pasti Kakak sanggupin.
Begitulah isi pesannya, aku hanya mencebik tanpa ingin membalas pesan tersebut lalu memasukkan ponselku ke dalam tas slempang kecil yang akan aku bawa. Setelah mematut penampilanku sebentar di cermin, kemudian aku keluar kamar dengan hati penuh semangat akan bertemu dan berkumpul dengan para sahabatku yang hampir sebulan tidak bertemu setalah hari kelulusan sekolah waktu itu.
Namun baru saja akan melangkah untuk menuruni anak tangga, ada seseorang yang menarik pergelangan tanganku dan membawaku masuk ke dalam sebuah kamar yang tampak begitu gelap.
Cetik!!
Suara saklar lampu di nyalakan, seketika ruangan jadi terang benderang, memang siapa lagi pelakunya jika bukan Kakakku yang sedang aku hindari mati-matian beberapa minggu ini, kenapa dia membawaku ke kamarnya?
" Kak lepaskan!" Pekikku sambil memalingkan wajah ke samping sebab tidak ingin menatap wajah tampannya yang nanti bisa-bisa membuatku khilaf dan tidak bisa mengendalikan diriku sendiri.
" Hei, kau ini kenapa akhir-akhir ini selalu menghindari Kakak? Apa Kakak ada salah padamu adikku? Katakan!" Cecarnya yang masih saja berdiri di depanku dan tidak ingin melepaskan cekalannya itu.
" Apaan sih Kak, lepasin nggak?" Bentakku seketika karena ia tidak mau mendengarku. Akhirnya ia melepaskan tanganku dan berjalan duduk di sofa dekat jendela besar kamarnya. Seharusnya ia membuka semua gorden jendela itu agar kamarnya tidak gelap, tetapi entah dia sengaja atau tidak aku tidak tahu.
Kini aku baru sadar jika saat ini tengah berada di dalam kamar Kakakku hanya berdua saja, walaupun biasanya memang aku keluar masuk ke kamar ini tanpa ada rasa canggung sama sekali, namun kali ini berbeda aku sedang berusaha mati-matian menghindarinya, bukan seperti ini dan terakhir kali aku menginjakkan kakiku di kamar ini, itu kira-kira sejak satu bulan yang lalu, tepatnya sebelum mendengar pernyataannya pada Papa dan Mama yang akan melamar Nella kekasihnya yang sudah dua tahun mereka menjalin hubungan.
__ADS_1
Aku langsung berbalik ingin cepat segera keluar dari kamarnya yang membuatku semakin sesak saja karena hanya ada kami berdua di dalam kamar, yang bisa saja melakukan hal yang tidak-tidak, tetapi itu hanya ada dalam pikiranku sendiri.
Aku sudah memegang handle pintu tetapi tidak berhasil terbuka, dan ternyata pintunya memang sengaja di kunci olehnya, kapan di kuncinya? Aku bahkan tidak sadar tadi dan kini aku berbalik kembali menatap kesal padanya.
" Bukain nggak?" Titahku dengan nada mengancam agar cepat di bukain. Namun bukannya bergerak ia justru menatapku dengan senyum mengejek. Kak Jull memang suka sekali menggodaku dari dulu.
" Tidak akan! Sebelum kau jawab dulu pertanyaan Kakak yang tadi." Sahutnya begitu tenang, tanpa menatapku yang sudah gugup sedari tadi.
" Yang mana?" Tanyaku yang berpura-pura lupa, namun Kak Jull justru membuka laptop miliknya dengan santai dan mulai mengerjakan sesuatu yang membuatku semakin geram saja.
" Ayolah Kak, bukain pintunya. sahabat-sahabatku sudah menunggu di bawah." Bujukku yang menampilkan ekspresi wajah sedikit manja.
Namun ternyata bujukanku tidak berhasil, ia justru tidak bergeming seolah menganggap aku tidak ada di sana, kesal nggak sih kalian. Aku pun dengan cepat melangkah mendekatinya yang duduk di atas sofa, namun baru akan merebut paksa kunci yang ia masukkkan ke dalam saku celananya, tiba-tiba terdengar suara deringan ponsel milik Kak Jull yang membuatnya langsung merogoh ponsel dan segera menerima panggillan tersebut.
Tekk!!
Dan secara bersamaan tidak sengaja kedua netraku melirik ke lantai bawah sofa yang di duduki Kak Jull ternyata saat Kak Jull merogoh ponselnya tadi, kunci kamar itu pun ikut keluar dan jatuh ke bawah.
Mungkin Kak Jull tidak menyadarinya, sungguh aku sangat senang sekali, dengan gerakan cepat aku mengambil kunci tersebut mumpung dia sedang fokus menerima panggilan telepon. Yang entah dari siapa?
" Kau ada di bawah sekarang? Baiklah tunggu sebentar aku akan turun." Lanjutnya.
Si4l! Dia juga akan turun ke bawah, sepertinya itu si Nenel yang datang dan sudah berada di bawah. Dengan gerakan cepat aku sudah berhasil membuka pintu kamarnya, " Hei Vero!!" Pekiknya.
Aku sempat melirik sekilas ke arahnya yang ternyata Kak Jull menyadari aku berhasil mendapatkan kunci pintu. Dengan cepat aku pun keluar dari kamarnya dengan berlari kencang. Biarlah dia akan marah nantinya, aku sudah sangat kesal sekali dengannya.
Sampai di lantai bawah aku bisa melihat wanita itu sudah duduk di ruang tengah bersama Mamaku, dasar wanita genit! Umpatku dalam hati.
__ADS_1
" Hai Ver." Sapanya, aku hanya tersenyum tipis tepatnya senyum yang ku paksakan.
" Itu di depan ada teman-teman kamu. memangnya kamu mau kemana sayang? " Tanya Mamaku seraya menilai penampilanku yang sudah rapi.
" Oh, itu Ma Vero mau keluar sama teman-teman Vero untuk merayakan ulang tahun Vero, boleh ya Ma?" Rayuku sambil bergelanyut manja di lengan Mamaku seperti biasa dan pasti selalu berhasil.
" Baiklah tapi jangan malam-malam pulangnya sayang, Mama sama Papa nanti malam akan keluar dan sebelum kami keluar, kamu sudah harus ada di rumah, mengerti." Sahut Mama begitu tegas.
Yaa, walau di awal aku merasa senang akan pergi dengan para sahabatku, tetapi aku juga merasa Mama dan juga Kak Jull selalu saja bersikap protektif padaku, apa aku ini masih di anggap anak kecil oleh mereka? Aku hanya bisa mengangguk pasrah.
Namun sebelumnya aku mencium kedua pipi Mamaku, dan bergegas pergi. " Terima kasih Ma." Pamitku dengan hati gembira, aku sekilas menoleh ke arah Nella dan tersenyum tipis berjalan melewatinya.
Dari ekor mataku aku bisa melihat Kak Jull yang baru saja menuruni anak tangga dengan sedikit cepat. Aku tahu dia pasti marah padaku dengan kejadian barusan, Aahh,, bodohlah! Aku jauh lebih kesal darinya.
Dan sebelum ia sampai di lantai bawah aku harus sudah menghilang dari pandangannya maka aku sedikit berlari untuk sampai ke depan ruang tamu dimana para sahabatku sudah menungguku, yang penting aku segera keluar dari rumah secepatnya!
" Ayo Guys, buruan!" Titahku yang sudah lebih dulu berlari keluar rumah di ikuti ketiga satabatku.
.
.
.
.tbc
Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..