Terjerat Cinta Pria Alien

Terjerat Cinta Pria Alien
Masa Lalu_Keras Kepala


__ADS_3

Jullio_PoV


*


Setelah acara selesai Nella dan rekan-rekannya mengajakku untuk merayakan pesta pertunangan kami di sebuah Lounge and bar. Awalnya aku menolak ajakan mereka sebab aku paling tidak suka untuk mengikuti acara kumpul-kumpul begituan, terlebih ke tempat yang ramai seperti itu.


Namun karena Nella terus saja merengek dan memaksa, akhirnya aku pun terpaksa mengikutinya, sesampainya disana Nella dan yang lainnya terus saja mengobrol entah sedang membicarakan hal apa? Aku tidak ikut menaggapo obrolan mereka. Hingga entah mengapa aku jadi tidak begitu fokus, kepalaku rasanya sedikit pusing dan berputar-putar, aku pun langsung bangkit dan berjalan cepat meninggalkan mereka semua, teriakan Nella bahkan tidak kuhiraukan lagi. Persetan dengannya!


Sepanjang jalan menuju area parkiran aku merasa heran kenapa hanya minum soda saja, kepalaku bisa sakit seperti ini? Sepertinya di dalam minumanku sengaja di campurakn dengan sesuatu, entah itu obat atau apa, aku tidak tahu, hingga kepalaku semakin pusing saja.


Beruntung aku hanya minum sedikit saja tadi, jika tidak! Aku pasti sudah tumbang dan tidak sadarkan diri, dan entah akan berakhir dimana. Sampailah aku dimana mobil milikku berada, aku langsung masuk dan kunyalakan mesinnya, lalu segera bergegas pergi.


Sepertinya ini adalah kerjaannya si kawan-kawan Nella, atau mungkin Nella sendiri yang sudah merencanakan dan membuatku seperti ini, sudah tidak heran lagi dengan tingkah wanita itu, walau terlihat mandiri dari luar, tetapi aku sangat tahu dengan jelas luar dalamnya Nella seperti apa. Awas saja jika aku tahu kau yang berusaha menjebakku, habis kau! Dan bkdohnya aku justru mau-mau saja di ajaknya bertunangan malam ini. Aku merogoh ponsel dan segera mengirim pesan kepada seseorang.


Hingga tak lama aku sudah sampai di rumah. Ya aku memilih pulang ke rumah saja dari pada harus ke Apartemen pasti Nella akan mencariku disana, sebab wanita itu tahu passcode pintu unitku. Saat sudah masuk ke dalam rumah keadaan sudah sepi, jelas saja ini sudah tengah malam pasti semuanya sudah tidur sehingga Mama dan Papa tidak melihatku dalam keadaan mabuk.


Aku juga mempunyai kunci cadangan rumah sendiri, agar sewaktu-waktu bisa masuk kapan saja, aku langsung bergegas naik ke lantai atas dimana kamarku berada, dengan tubuh sedikit sempoyongan aku menyeret tubuh ini, saat sudah akan memegang handle pintu kamarku aku mengurungkan niat dan melirik sekilas ke arah kamar Vero, apa dia sudah tidur?


Detik berikutnya aku langsung menerobos masuk ke dalam kamar yang ruangannya sudah gelap, dengan keadaanku yang setengah sadar perlahan aku merangkak naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhku disisi kosong sampingnya.


Sebenarnya aku sangat kesal pada Adikku ini, saat ia lebih memilih pergi bersama Roma pria berengsek itu. Aku sangat menyayangkan kenapa harus Roma pria yang sedang dekat dengannya, seandainya saja pria lain yang mungkin saja jauh lebih baik lagi, aku tidak akan mempermasalahkannya.


Namun jika Roma aku orang pertama yang menentang hubungan mereka, aku tidak akan terima, Adikku adalah wanita yang aku sayang dan cintai di rusak dan di anggap sebuah boneka yang dengan sesuka hatinya bisa di permainkan oleh pria b*******n itu! Aku sangat geram padanya, jika saja di masa lalu aku sudah membunuhnya mungkin di masa kini tidak ada lagi orang bangs4t seperti dia. Emosiku sungguh sudah berada di ubun-ubun.


Aku langsung memeluk tubuh Vero dari belakang dengan sebelah tanganku melingkar erat di perutnya, menghirup dalam aroma yang membuatku candu, entah pikiran gil4 dari mana, aku justru membayangkan kehadiran seorang bayi di dalam perut ratanya ini agar tidak ada siapapun yang bisa memilikinya, selain hanya aku seorang. Ini sungguh gil4.

__ADS_1


Beberapa jam berlalu, entah sudah berapa jam aku juga ikut terlelap, tiba-tiba saja terdengar suara menggelegar, menggema di seluruh ruangan kamar, siapa lagi jika bukan suara dari Vero Adikku.


" Kak Jullio!" Pekiknya yang terlihat sangat terkejut juga gugup.


" Ssstttt..."


Aku langsung memintanya untuk diam, seperti seorang wanita yang baru saja di lecehkan oleh pria saja teriak-teriak begitu! " Jangan berisik aku masih ngantuk, okay!" Racauku dengan mata yang masih sangat berat.


" Kakak ngapain ada disini?" Hardiknya padaku.


" Jangan sekarang ya, pusing sekali Ver. " Keluhku sembari memegang kepalaku yang memang masih sedikit berat.


Terlihat Vero mengendusku, seperti hewan, sedikit konyol memang melihat semua tingkahnya yang selalu saja tidak terduga ini.


" Kakak itu salah masuk kamar!" Omelnya lagi yang sudah beringsut duduk. Aku pun ikutan duduk dan bersandar di headboard ranjang, walau kepala ini masih terasa berat, namun aku paksakan.


" Darimana kamu semalam?" Kini gantian aku yang mencecarnya. Tanpa ingin menanggapi pertanyaan darinya.


" Bukan urusan Kakak!" Ketusnya.


" Jika itu sudah menyangkut Adik Kakak, itu sudah menjadi urusanku juga Vero." Terlihat Vero mendengkus kesal. Seharusnya 'kan aku yang marah disini, kenapa jadi dia?


" Dari mana?" Tanyaku ulang.


" Nonton."

__ADS_1


" Jangan berbohong, dan Kakak minta jauhi dia. Dia bukan pria baik-baik Vero." Titahku memperingatinya.


" Memangnya kenapa? Apa hak Kakak melarang aku untuk dekat dengan pria di luar sana termasuk Roma sekalipun." Sahutnya yang seolah menantangku.


" Kakak bilang jauhi dia Vero!" Ancamku yang tidak main-main.


" Kenapa sih, aku sudah dewasa Kak. Aku bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kakak stop, untuk mencampuri urusanku lagi! Urusi saja tunanganmu itu!" Ujarnya dengan bengis, aku sangat tahu ia sedang cemburu saat ini, lalu bagaimana denganku? Akupun merasakan hal yang sama.


Aku mendengkus. " Dewasa apanya, Huh!?" Aku mulai ikut tersulut saat mengingat kejadian waktu itu di Apartement saat Vero menciumku dengan buas layaknya singa betina yang sedang kelaparan. Rasanya aku sudah tidak tahan lagi saat hasrat yang sudah lama terpendam kini perlahan-lahan akan kembali mencuat.


Aku menghela napas panjang, susah sekali bicara pada wanita keras kepala ini. Rasanya percuma saja, aku bicara panjang lebar, Untung dia Adikku, jika bukan entah sudah aku apakan dia ini! Gemas sekali aku dengannya.


" Ya kau lihat saja, Kakak bisa memperlihatkan seperti apa Roma itu?" Seruku dengan pecaya diri, bukannya sombong, tetapi memang seperti itulah kenyataannya. Pria itu layaknya iblis berwujud manusia.


.


.


.


tbc


Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷


Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..

__ADS_1


__ADS_2