Terjerat Cinta Pria Alien

Terjerat Cinta Pria Alien
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Vero baru terjaga dari tidur panjangnya, mengeliat pelan, ia berniat ingin mencuci pakaian yang sudah tiga hari belum ia cuci, namun pandangan pertama yang ia lihat adalah sosok pria yang masih tertidur pulas karena beberapa hari ini mereka memang sudah tidur di satu ranjang yang sama. Namun pagi ini terasa berbeda, sebab masih mendapati pria itu masih terlelap. Apakah pria itu baik-naik saja?


Veto menempelkan punggung tangannya ke dahi Kai, guna untuk mengecek suhu tubuh pria itu, namun dugaannya salah. Suhunya normal, yang itu berarti bosnya ini baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan, melihat itu ia justru tersenyum, tak sadar jika sebelah tangannya mengelus pipi yang lembut itu, bagaikan kulit bayi. Vero bahkan sedikit insecure pada dirinya sendiri, bagaimana bisa kulit seorang pria bisa selembut itu?


' Astaga, kulitnya! Dia perawatan di salon mana? Ia pasti mengelontorkan dana yang tidak sedikit.'


Vero tidak sadar jika suara hatinya itu mampu membuat seseorang menahan tawanya. Sebenarnya Kai sudah terjaga sedari tadi, namun pria itu merasa malas untuk beranjak pergi, ia masih ingin berlalu-lama memeluk tubuh wanitanya.


" Kau terlalu sempurna untuk wanita sepertiku? Aku ini sudah terlalu kotor sedari awal. jadi tidak pantas mendapatkan semua perhatianmu.' Lirih Vero masih dengan mengusap kulit lembut itu.


' Bolehkah aku egois?'


Vero merasa dirinya kini justru menikmati menjalani hari-harinya yang seperti ini. Apa karena ia merasa sudah tidak lagi gadis yang bisa menjaga dirinya sendiri. Ataukah sudah mulai nyaman dengan perlakuan pria yang berstatus menjadi bosnya itu. Ia juga merasa sudah kepalang tanggung, jika harus mundur dari kegilaan ini, di tambah ia sudah membuat perjanjian dengan pria ini dan belum tentu bisa selamanya menemaninya seumur hidup.


Namun itu bukan sebuah alasan, sebab ia merasa sangat di cintai, di sayangi, dan juga di manja jika berada di dekat bosnya ini. Padahal ia baru beberapa minggu bekerja di perusahaan namun bosnya ini justru memperlakukannya selayaknya seorang tuan putri saja.


Kalau di lihat dari pekerjaannya yang hanya seorang sekretaris, mana mungkin bosnya memperlihatkan perhatian yang khusus hanya untuk dirinya seorang. Namun ia justru merasa nyaman tidak peduli, entah itu perhatian palsu ataukah kenyataan yang jelas. Vero mulai terbiasa dengan sosok pria mesum yang masih sangat misterius baginya.


Entahlah Vero sendiri juga bingung kenapa bisa secepat ini ia move on dari kekasih sekaligus kakaknya itu, apakah ini sebuah pelampiasan saja? Karena ia terlalu merasa kecewa berat di buat oleh pria itu, atau memang sudah hilang rasa cinta untuk sang kekasihnya.


Setelah mengecup bibir tipis itu sekilas, Vero segera beringsut dari atas ranjang dan berjalan ke arah ruangan Laundry, dan segera memasukkan semua pakaian kotor miliknya ke dalam mesin cuci. Terdengar air yang mengalir ke dalam mesin tersebut, sambil menunggu, Vero masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya, tak begitu lama ia sudah terlihat segar dan hanya menggunakan jubah mandinya lalu berjalan ke arah kamar tidur.

__ADS_1


Tepat sekali pria yang menjadi teman tidurnya sudah hilang dari atas ranjang seperti hari-hari sebelumnya. Setelah selesai menjemur pakaian dan juga sarapan sederhananya Vero pun segera bersiap, dan tak lama ia keluar dari unit Apartement miliknya menuju basement dimana mobilnya di parkir.


Tak perlu waktu lama kini Vero sudah berada di depan gedung tempatnya bekerja, ia segera turun dari mobil dan berjalan masuk namun baru beberapa langkah Vero berhenti karena melihat seseorang yang sedang berdiri depan sana. Dan seseorang tersebut tentu saja sangat familir untuknya..


Degh!...


' Bukankah itu—bagaimana bisa dia ada disini?' Gerutunya dalam hati.


Vero berbalik badan sudah akan masuk ke dalam mobilnya kembali, namun seseorang itu kini justru sudah menempel di tubuh belakangnya. Tubuhnya di peluk begitu erat oleh seorang pria yang ingin Vero hindari saat ini, ya siapa lagi kalau bukan mantan kekasihnya atau masih menjadi kekasihnya hingga saat ini karena belum ada kata perpisahan yang keluar dari mulut masing-masing.


Namun bagi Vero saat dirinya sendirian menghadapi masalah berat yang menimpanya waktu itu, dan juga kepergian Jullio dan ketidak kepeduliannya sudah Vero anggap hubungan di antara mereka sudah berakhir. Biarlah ia egois, tapi bukanlah kekasihnya itu sendiri yang justru lebih egois.


Di satu sisi ia sangat kecewa dengan pria ini, namun disisi lain ia juga sangat merindukannya dan juga masih mencintainya. Ego dan akal sehatnya saling bertolak saat ini.


Vero mendengar isak lirih Jullio, ya pria itu tengah menangis saat ini, Vero bahkan tidak percaya pria itu menangis tidak tahu tempat. Dan ternyata bukan hanya dia yang hancur. Vero memang merasa hancur setelah kepulangannya dari pulau yang indah itu hingga ia terpaksa pergi meninggalkan negara asalnya. Maka dibiarkan saja tubuhnya sesaat di peluk oleh Jullio, tak di pungkiri jauh di dalam lubuk.hatinya masih terukir indah mama pria ini disana. Terlepas dari bagaimana sikap dan keegoisan pria itu terakhir kali padanya, bagaimana perasaannya sendiri terhadap pria ini yang telah menjadi mantan atau belum, tetap saja dia yang dulu telah mengisi hatimu walaupun bukan untuk selamanya.


Dalam kehangatan pelukan pagi ini, saat Vero yang baru membuka kedua matanya sebab tadi ia memejam untuk meresapi kehangan pelukan dari Jullio. Namun begitu membuka matanya ia bisa menagkap aura kemarahan yang terpancar dari pria yang menjadi bosnya itu di dalam pantulan mobil miliknya, Vero reflek melepaskan pelukan Jullio dan berbalik.


"Kak stop it! " Vero benar-banar melihat Kai di belakang Jullio, wajah garang yang tidak pernah ia tunjukkan padanya kini baru ia lihat sendiri, benar-benar menyeramkan jika ia sedang marah.


" Sayang kumohon, aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf, aku sangat merindukanmu." Ujar lirih Jullio terus menatapnya dengan tatapan cinta. Pria itu belum sadar jika di belakang tubuhnya saat ini ada seseorang yang sedang merasa terbakar oleh api cemburu yang sedang ia sulut.

__ADS_1


Saat Vero akan membalas perkataan dari Jull, tapi urung karena Kai lebih dulu menarik tubuh Vero dan langsung melahap bibir mungilnya saat itu juga di hadapan Jullio. Terkejut tentu saja itu yang terjadi kepada Jullio.


Vero yakin itu cukup membuat hati seorang Jullio hancur berkeping-keping, karena selama ini Vero tidak pernah berciuman dengan pria manapun selain dirinya seorang.


" Emmpphh.." Vero mencoba meronta melepaskan ciuman Kai darinya, namun Kai justru menarik tengkuknya dan semakin memperdalam ciumannya bahkan memeluknya erat. Veo begitu malu pada Jullio, namun tak berselang lama tubuh Kai terlepas menjauh dari tubuhnya sebab, di tarik paksa oleh Jullio.


Buggh...


" Bangs4t siapa kau, berani-beraninya kurang ajar pada kekasihku, berani sekali kau menciumnya di hadapanku.!" Hardik Jullio murka, setelah melayangkan pukulan tepat di hidung dan bibir Kai namun tidak sampai mengeluarkan darah segar.


.


.


.


.tbc


Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷


Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..

__ADS_1


__ADS_2