
Bagaimana?" Tanya Marry menatap ke arah Nina yang kambali duduk di samping dirinya.
" Sudah sampai, kurasa dia tengah ada masalah dengan Kak Jull, hingga mambuatnya mabuk seperti itu." Jawba Nina semabri menyesap minumannya. Kedua sahabatnya hanya mengangguk membenarkan.
Akhirnya sampai di lantai atas dimana kamarnya berada, Vero berjalan menuju kamar mereka, tanpa ia sadari ada seseorang yang mengikutinya dari arah belakang sejak sedari awal ia beranjak dari tempat duduknya.
Dan di meja bawah tinggallah mereka bertujuh, malam pun semakin larut, mereka semua hanyut ke dalam obrolan- obrolan ringan sampai yang menjerumus ke hal pribadi masing-masing. Boy memilih beranjak pergi menghampiri sang empu acara. Tunggallah mereka berenam saja.
Karena suasana yang sangat ramai, dan menghabiskan banyak minuman beralkohol mereka semua sudah hampir dalam keadaan yang tidak sadarkan diri, pengaruh dari minuman tersebut.
" Aku ke toilet dulu ya." Pamit Nina yang juga sudah setengah mabuk itu kepada semuanya.
Nina berjalan dengan sedikit sempoyongan ke arah toilet, tak lama ia pun keluar setelah membasuh mukanya, akan tetapi tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik pergelangan tangannya untuk memasuki toilet pria.
" Kau! Ada apahmmmmm_"
Belum selesai Nina selesai bicara mulutnya sudah di bungkam dengan benda kenyal milik Nino. Ya Nino yang sudah tidak sabar lagi menyusul Nina ke toilet, mungkin karena efek minuman ia pun hilang akal.
Nino menciumnya dengan sidikit kasar, karena sudah sama-sama mabuk mereka terbawa suasana yang memabukkan, dan juga saling mendamba.
" Oohh, dari kemarin aku sudah tertarik padamu Nina, apa yang kau rasakan padaku?" Tanya Nino di sela ciuman panasnya.
Nina yang mendengarnya pun tersenyum , ia memang sedikit mengagumi pria ini, apalagi mereka terlihat sangat nyambung sekali saat mengobrol kemarin dan kemarinnya lagi. Rasanya ia baru menemukan seorang partner yang cocok untuknya.
" Ya, kurasa aku juga tertarik padamu." Jawab Nina terus menatap ke dalam bola mata yang terlihat memerah dan juga sudah berkabut.
" Lalu bagaimana kalau kita pindah ke atas saja." Ajak Nino dengan pandangan semakin mengabut dan juga setengah sadar.
Setelah ciuman itu terlepas Nino menggendong Nina membawannya ke dalam sebuah kamar yang sudah ia pesan sebelumnya. Ia dan para sahabatnya memang berencana menginal di hotel ini, sebab acara party pasti berlangsung lama dan juga mungkin hampir pagi baru selesai.
Nino lalu merebahkan tubuh Nina di atas ranjang, mereka kembali berciuman, *****4* dan juga menghisap b1b1r masing-masing yang membuat mereka semakin mabuk kepayang.
" Oh ternyata kau begitu nikmat, melebihi dari bayanganku." desis Nino yang terus menciumi tubuh Nina. Tanpa terkecuali.
" Maksudnya?" Nina membeo.
__ADS_1
" Dari kemarin sebenarnya kau menjadi fantasi liarku Nina." Lirih Nino yang kembali menghujami kecupan-kecupan yang membuat tubuh Nina belingsatan.
Di dalam kamar itu pun menjadi sangat panas bagi keduanya, hingga keduanya sudah tidak memakai sehelai benang apapun, dan terus melanjutkan aktifitas yang membuat mereka melayang, dan mencapai nirwana.
Nino menyesap gundukan kembar milik Nina secara bergantian, membuat sang empunya semakin mengeliat gelisah.
" Aahh, ini sungguh menyenangkan Nino, eughhmm." Nina terus meracau sambil *******-***** rambut hitam kecoklatan milik Nino.
Ciuman Nino semakin memabukkan saat lid4hnya bermain-main di inti tubuh Nina, membuatnya sudah tidak tahan lagi.Nina berjalan dengan sedikit sempoyongan ke arah toilet, tak lama ia pun keluar setelah membasuh mukanya, akan tetapi tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik pergelangan tangannya untuk memasuki toilet pria.
" Kau! Ada apahmmmmm_"
Belum selesai Nina selesai bicara mulutnya sudah di bungkam dengan benda kenyal milik Nino. Ya Nino yang sudah tidak sabar lagi menyusul Nina ke toilet, mungkin karena efek minuman ia pun hilang akal.
Nino menciumnya dengan sidikit kasar, karena sudah sama-sama mabuk mereka terbawa suasana yang memabukkan, dan juga saling mendamba.
" Oohh, dari kemarin aku sudah tertarik padamu Nina, apa yang kau rasakan padaku?" Tanya Nino di sela ciuman panasnya.
Nina yang mendengarnya pun tersenyum , ia memang sedikit mengagumi pria ini, apalagi mereka terlihat sangat nyambung sekali saat mengobrol kemarin dan kemarinnya lagi. Rasanya ia baru menemukan seorang partner yang cocok untuknya.
" Ya, kurasa aku juga tertarik padamu." Jawab Nina terus menatap ke dalam bola mata yang terlihat memerah dan juga sudah berkabut.
" Lalu bagaimana kalau kita pindah ke atas saja." Ajak Nino dengan pandangan semakin mengabut dan juga setengah sadar.
Setelah ciuman itu terlepas Nino menggendong Nina membawannya ke dalam sebuah kamar yang sudah ia pesan sebelumnya. Ia dan para sahabatnya memang berencana menginal di hotel ini, sebab acara party pasti berlangsung lama dan juga mungkin hampir pagi baru selesai.
Nino lalu merebahkan tubuh Nina di atas ranjang, mereka kembali berciuman, *****4* dan juga menghisap b1b1r masing-masing yang membuat mereka semakin mabuk kepayang.
" Oh ternyata kau begitu nikmat, melebihi dari bayanganku." desis Nino yang terus menciumi tubuh Nina. Tanpa terkecuali.
" Maksudnya?" Nina membeo.
" Dari kemarin sebenarnya kau menjadi fantasi liarku Nina." Lirih Nino yang kembali menghujami kecupan-kecupan yang membuat tubuh Nina belingsatan.
Di dalam kamar itu pun menjadi sangat panas bagi keduanya, hingga keduanya sudah tidak memakai sehelai benang apapun, dan terus melanjutkan aktifitas yang membuat mereka melayang, dan mencapai nirwana.
__ADS_1
Nino menyesap gundukan kembar milik Nina secara bergantian, membuat sang empunya semakin mengeliat gelisah.
" Aahh, ini sungguh menyenangkan Nino, eughhmm." Nina terus meracau sambil *******-***** rambut hitam kecoklatan milik Nino.
Ciuman Nino semakin memabukkan saat lid4hnya bermain-main di inti tubuh Nina, membuatnya sudah tidak tahan lagi.
" Aaahhhh,," Lenguhan panjang keluarAaahhhh,," Lenguhan panjang keluar dari bibir Nina, pertanda gadis itu sudah mencapai puncaknya untuk pertama kalinya.
Nino langsung menyesap habis cairan madu yang baru saja Nina keluarkan itu, lalu perlahan Nino menarik wajahnya dan merangkak naik, tersenyum melihat wajah cantik Nina saat menikmati pencapaian pertamanya.
Rambut yang berantakan basah, juga dahinya yang sedikit berpeluh membuat Nina semakin seksi di mata Nino. Nafas Nina juga masih tersengal-sengal saat Nino mencium bibirnya kembali, menyesap rasa yang sangat manis itu.
Mereka berdua melakukan dengan suka sama suka tanpa memikirkan hal yang lainnya. Nino kemabli menciumi seluruh inchi dari tubuh Nina tanpa terkecuali.
" Bolehkah?" Tanya Nino meminta persetujuan terlebih dahulu kepada Nina.
Nina pun mengangguk dengan pandangan sayu sambil tersenyum sebagai jawaban, entah ia sendiri sudah tak mampu berpikir jernih saat ini. Setan sudah menguasai kedua insan yang di mabuk asmara.
Setelah mendapatkan lampu hijau Nino dengan perlahan mengarahkan benda pusakanya ke milik Nina memasukinya dengan sedikit kesulitan, sebab milik Nina terasa sangat sulit untuk di tembus.
Hingga beberapa kali hentakan, akhirnya benda keras berurat milik Nino terbenam penuh di dalam liang yang sangat sempit itu.
'Oh shitt, ternyata dia masih peraw4n, pantas saja sulit di tembus!' Gerutu Nino di dalam hati.
" Sakiiitt Ninooo!!" Teriak Nina kemudian miliknya terasa perih seperti terkoyak benda yang tajam, padahal benda tersebut amatlah tumpul.
.
.
.
.tbc
Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..