
" Aku akan mati jika kau memakanku.!" Bentaknya tidak sadar, seolah ia sudah lupa siapa bosnya disini, dan siapa sekretarisnya.
Saat itu juga Kai terkekeh pelan, senyum tampannya itu mempu membuat Vero terhipnotis seketika, bahkan ia salah mengambil makanan yang ada di daalm piringnya, bukannya mengambil nasi beserta sayurnya ia justru mengambil cabe yang memang di biarkan utuh di dalam sayuran tersebut. Begitu masuk ke dalam mulut seketika manik matanya melotot berair dan mulutnya trasa terbakar saking pedasnya.
" Huh, hah, huh, hah! Astaga apa yang aku makan!" Jeritnya dengan cepat menyambar gelas minumannya yang tinggal setengah isinya. Dengan tenang Kai pun menyodorkan minuman miliknya yang entah sejak kapan sudah duduk di samping Vero saat ini.
" Pelan-pelan saja. Aku tahu jika aku ini sangat tampan, kau bisa memandangku dengan puas setiap hari, bahkan setiap menit pun aku bersedia, seluruh tubuh ini menjadi milikmu sekarang." Dengan rasa bangganya, Kai justru secara tidak langsung menyodorkan dirinya sendiri kepada Vero, layaknya seorang gigolo yang haus akan belaian.
" Kau sudah tidak waras ya!." Sarkasnya setelah rasa kepedasannya berkurang." Kau yakin tidak makan?" Tawarnya kembali saat pria itu hanya duduk terdiam saja dan masih terus menatap wajahnya.
" Makanlah, kasihan yang berada di dalam perutmu sudah kelaparan sedari tadi." Jawab Kai dengan ambigu.
Degh..
'Yang berada di dalam perut?'
" Maksudku cacing yang berada di dalam perutmu itu." Lanjut Kai yang tahu ucapannya tadi membuat Vero ketakutan.
'Tapi tunggu, aku tidak mungkin hamil 'kan?!'
Pikir Vero dalam hati, ia jadi memikirkan ucapan dari bosnya barusan, walau hanya satu kali ia telah melakukannya dengan seorang pria asing, namun kemungkinan ia untuk hamil bisa saja terjadi bukan? Atau besar kemungkinan juga tidak!
Apalagi waktu itu ia sedang dalam masa suburnya, ya Veri baruningat, dan kini tanpa sadar membuat tangannya yang bebas mengusap perutnya yang memang kelihatan maish rata itu.
Dan perbuatannya itu tak lepas dari penglihatan Kai. Membuat pria itu tersenyum simpul saat mengetahui apa yang tengah di pikirkan oleh wanitanya.
Wanitanya? Tentu saja bukankah ia sudah mengklaim Vero di saat malam panas waktu itu, malam yang pertama kalinya buat Kai merasakan nikmatnya bercinta dengan seorang manusia.
Vero tidak tahu saja, kelebihan apa saja yang di miliki oleh Kai, jika memang ia belum menginginkan seorang penerus dari keturunannya. Maka benih yang ia tanam di dalam rahim Vero dulu pun semua tidak ada yang hidup, alias tidak akan ada kehamilan.
Atau bisa di katakan sebelum ia meledakkan benih Aliennya itu, ia sudah lebih dulu menonaktifkan benih yang akan di ledakkan itu.
Sudah seperti alat ciptaannya saja, yang semuanya serba canggih. Bukan hanya alat-alat ciptaannya yang semuanya bisa di kendalikan benihnya sendiri pun juga bisa di kendalikan ternyata.
Sungguh Kai dan Aster itu adalah makhluk Alien yang super. Hampir semua gedung pencakar langit di beberapa negara merekalah yang membangunnya namun dengan beberapa kali ganti identitas, jika tidak bisa jadi mereka dalam masalah yang bisa menggemparkan seluruh dunia.
Mereka mempunyai seorang teman yang berprofesi sebagai anggota kepolisian, lebih tepatnya lagi seseorang itu dalah jenderalnya, umurnya pun juga sudah tua dan sudah mendekati masa pensiun dini.
Namun siapa sangka gedung kantor polisi itu juga merekalah yang membangunnya dulu, yang pasti dengan identitas yang berbeda. Ya duo Arion yang super, super Narsis juga super Mesum!
Setelah Vero selesai makan, ia segera membereskan alat-alat bekas makan yang ia gunakan tadi, setelahnya Vero berjalan ke arah ruang tengah di ikuti Kai dari belakang, karena memang sedari tadi ia hanya menatap Vero sambil tersenyum.
" Kenapa menatapku seperti itu terus? Nanti kau bisa suka padaku!" Goda Vero sedikit bercanda, karena sedari tadi pandangan bosnya itu menatap ke arahnya kemanapun ia melangkah pergi.
" Aku memang sudah menyukaimu sedari awal." Jawab Kai dengan cepat, ia juga ikut duduk di samping wanita itu.
__ADS_1
" Kau berlebihan Kai, apa yang kau lihat dari wanita miskin sepertiku ini." Sahut Vero tahu akan posisinya.
" Aku tidak butuh uang untuk menyukaimu, aku sudah punya banyak uang dan ini semua salahmu.!" Desisnya yang berpura-pura kesana.
" Aku? Apa salahku?" Elaknya yang tidak ingin di salahkan.
" Tentu saja salahmu, kenapa kau begitu cantik dan menggoda!" Balas Kai kemudian dengan menahan senyum tampannya.
" Ya aku akui aku memang cantik, tapi aku tidak pernah menggoda Anda, asal tahu saja aku ini mempunyai keka—
Vero segera menutup mulutnya sebab sudah keceplosan bicara, ia tidak mungkin membicarakan kekasihnya di saat ia mulai mengikuti permainan gila dari bos mesumnya ini.
' Hah! Hampir saja.'
Kai sangat tahu apa yang akan Vero katakan, namun ia memilih diam saja. Tak ingin dalam suasana yang membingungkan, Vero segera bangkit dari duduknya dan Kai pun langsung mengikuti langkah Vero yang akan masuk ke dalam kamarnya.
Vero memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk mengosok gigi dan juga mencuci wajahnya terlebih dahulu, ya masih di ikuti Kai dari belakang.
" Kenapa kau terus mengikutiku! Aku jadi serba salah kalau kau terus begitu! " Keluh Vero yang memang sedari tadi salah tingkah.
" Karena kau milikku, jadi aku harus mengikuti setiap langkahmu." Balas Kai kembali ambigu.
" Astaga! Baiklah, aku akan bertanya. Katakan dengan sejujurnya, apa Anda ini sudah jatuh cinta padaku pada pandangan pertama?" Tuding Vero yang mulai jengah dengan sikap Bosnya ini.
" Ya, kau memang telah membuatku jatuh cinta." Jawab Kai dengan mantap, tanpa mengelak sedikit pun.
" Aku tidak yakin, pria sepertimu bisa jatuh cinta padaku secepatnya itu, kita bahkan baru beberapa hari berinteraksi." Balas Vero segera menguspa wajah bashnya dengan handuk kecil, setelah menyelesaikan ritualnya itu, Vero pun keluar kembali dan berjalan ke arah tempat tidur." Dan itu bukan salahku!"
Vero merangkak naik ke atas ranjang. " Aku mau istirahat Mr.Kai, silahkan Anda bsa memilih tidur di sofa itu atau di kamar bawah saja." Pintanya bukan ingin mengusir, tetapi ia memang belum siap berbagi ranhang dengan pria asing. Toch Apartemen ini juga milik pria itu.
" Kau mengusirku? Kau tidak lupa bukan dengan perjanjian kita?" Sahutnya telak, mengingatkan akan surat itu kepada wanitanya.
Mau tidak mau Vero membiarkan Kai merangkak naik juga ke atas ranjang di sisi sebelahnya, Vero segera meletakkan dua bantal guling sebagai pembatas untuk mereka berdua.
Kai hanya tersenyum simpul, membiarkan wanita itu melakukan sesuka hatinya saat ini, karena bila wanita itu sudah tertidur pasti tidak ada penggalang lagi di antara mereka.
" Jangan menatapku seperti itu! Bagaimana aku bisa tidur, jika kau terus melototiku dengan bola mata indahmu!" Bentak Vero kembali memejam setelah tadi sempat melirik ke arah samping sekilas.
Walau tatapan Kai sangat lembut, namun Vero merasa tidak nyaman di tatap seperti itu, bayangkan saja tatapan itu sama seperti tatapan binatang buas yang siap akan menerkam mangsanya.
Bukannya memalingkan wajah, Kai justru mendekatkan tubuhnya, bahkan sudah menggenggam jemari lentik Vero yang berada di atas guling pembatas, membuat wanita itu sedikit tersentak ingin menepis tangan Bos mesumnya namun genggaman itu terlalu kuat untuknya.
Justru Kai semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah Vero, membuat Vero memundurkan kepalanya ke belakang secara perlahan.
' Dia sangat tampan sebenarnya, tapi aku hanyalah bawahannya plus hanya di anggap sebagai teman tidurnya saja, tidak lebih. Padahal dulu bersama Kak Jull, aku tidak pernah melakukan hal gila seperti ini. Apa karena aku sudah kotor, jadi— Ah, Entahlah.'
__ADS_1
Batin Vero terus bergejolak, ia tak sadar jika pesonanya sudah menyihir pria ynag berasal dari luar angkasa tersebut. Membuat Kai tak kuasa tersenyum pelan mendengar suara hati dari wanita itu dan itu tertangkap oleh kedua manik Vero.
" Senyummu itu sungguh sangat misterius dan mencurigakan!!!" Tudingnya begitu curiga.
" Oh iya?"
Kai semakin memajukan wajahnya tepat di depan wajah Vero, keduanya saling mengunci tatapan membuat Vero seperti terhipnotis, hingga tidak bisa memundurkan wajahnya lagi, tubuhnya mematung seketika.
Tangan Kai yang bebas dengan lembut membelai sebelah pipi Vero, hingga nafas pria itu terasa menerpa di wajah cantik Vero.
Kai menuntun tangan Vero lalu meletakkannya tepat di dadanya, Vero pun bisa merasakan detak jantung pria itu yang bertalu-talu, seolah pertanda peperangan akan di mulai. Senyum Vero pun terbit karena merasakan jantung Kai yang berdetak sangat cepat.
' Apa dia sedang jatuh cinta? Pada siapa? Padaku? Hei itu tidak mungkin.' Vero segera menggelengkan kepala, menepis pikiran-pikiran tak jelas yang baru saja hinggap di dalam benaknya.
Sementara Vero menahan tawa begitu ia melihat wajah bosnya yang memerah. Kai justru menahan malu. Ya warna merah di wajahnya itu bukan karena marah melainkan menhana malu.
Ya seorang Alien juga punya rasa malu kali. Bukankah wanita yang seharusnya terlihat blushing seperti itu, hal ini justru terjadi pada seorang pria, wajah Kai sudah seperti kepiting rebus.
Kai menarik menarik dagu Vero hingga jarak wajah di antara keduanya hanya beberapa senti saja. Vero masih terpaku, tubuhnya tidak bereaksi apa-apa saat kedua tangan pria itu sudah menjalar di tengkuknya dan Vero pun spontan menutup matanya cecara perlahan.
Perlahan tapi pasti Kai langsung meraup bibir pink Vero, ********** pelan namun hanya sebentar saja lalu melepasnya kembali, Vero bisa merasakan bibir seksi itu mendarat di bibirnya, bahkan sekarang gantian jantungnya yang berdetak lebih cepat.
' Ya Tuhan apa aku sedang bermimpi?.'
" Tentu saja kau sedang tidak bermimpi Baby." Bisik Kai dengan pandangan sayu.
' Kenapa dia bisa membaca pikiranku?'
" Tentu saja aku bisa."
' Astaga!! Apa dia seorang Alien? Atau cenayang?'
" Yes I'm Alien.
"Whattt??!!"
.
.
.
.tbc
Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..