
PoV_Vero
Sudah hampir satu minggu aku tidak melihat Kak Jull di rumah, mungkin pria itu memilih berada di Apartemennya sendiri, dan itu membuatku sedikit lega karena tidak perlu bersembunyi untuk terus menghindarinya. Tetapi aku baru ingat jika nanti malam adalah hari pertunangannya dengan si Nenel itu, Aahh,, rasanya aku tidak ingin pergi ke acara mereka, tetapi aku harus bagaimana? Harus mencari alasan apalagi sekarang untuk mengindari acara tersebut?
Berpikir mencari jalan keluar pun rasanya buntu, sepertinya malam ini aku terpaksa harus ikut serta mau bagaimana lagi, aku tidak mempunyai alasan yang kuat untuk tidak pergi. Apalagi Mama pasti curiga padaku, saat aku tengah pusing memikirkan hal itu, tiba-tiba ponselku berdering.
Ternyata nomor baru yang sedang memanggil, aku sangat jarang merespon jika ada nomor asing masuk ke nomorku, rasanya malas sekali meladeni seseorang yang bagiku tidak penting sebab aku tidak menyimpan nomornya itu.
Tetapi berhubung aku sedang mendapatkan tekanan yang membuat kepalaku hampir pecah, tak perlu menunggu orang itu untuk melakukan panggilan keduanya aku pun langsung menggeser icon berwarna hijau untuk menjawab panggilannya.
" Ya Hallo." Sapaku begitu panggilan itu sudah tersambung.
" Hay, kau masih ingat denganku bukan? Pria yang kau tabrak kemarin lusa?" Sahutnya di seberang sana.
Tunggu, seorang pria yang kutabrak? Astaga! Ya aku baru ingat jika dua hari yang lalu aku menabrak seseorang yang sedang berdiri tak jauh dari pintu masuk disaat aku sedang tidak fokus berlari karena terburu-buru keluar dari toko buku.
" B-bagaimana kau bisa mendapatkan nomorku!!" Tanyaku sedikit membentaknya.
" Hey, apa kau hilang ingatan? Kau juga tidak perlu marah dan seharusnya akulah yang marah disini, kau yang sudah merusak labtopku dan tidak bertanggung jawab setelahnya pergi begitu saja." Sahut si pria itu lagi dan terdengar nadanya begitu kesal.
Dan ya benar apa yang pria itu katakan, bahkan aku sendiri yang memberikan nomor ponselku padanya, bagaimana aku bisa lupa, Astaga! Ini semua pasti gara-gara memikirkan Kak Jull. Aahh, berengs3k!
" Hey, kau masih disana?" Suara pria itu kembali menyadarkanku jika panggilan ini masih terhubung.
" Oh, ya! Maaf aku lupa." Cicitku menahan rasa malu, untung saja pria itu tidak melihatnya.
" Baiklah, begini saja sebagai gantinya kau ikut aku untuk dinner malam ini, nanti malam aku jemput di rumahmu."
" Hey, jangan! Aku ada acara keluarga nanti malam,"
__ADS_1
Tut..Tut..
" Halo, halo..!"
Aah, si4l! Ia sudah memutuskan panggilan secara sepihak bahkan sebelum mendengarkan jawabanku, lebih baik aku mengisi perutku yang sudah keroncongan sejak tadi.
Tunggu! Pria itu 'kan tidak tahu alamat rumah ini, dan aku juga tidak berkenan mengirimnya. Persetan dengannya!
Begitu sampai di lantai bawah tepatnya di meja makan aku tidak melihat siapapun termasuk Mama, kemana Mama? Niasanya Mama selalu memanggil jika sudah waktunya makan siang. Aahh,, mungkin saja sedang mempersiapkan seserahan dan yang lainnya untuk di bawa ke acara nanti malam.
Aku pun memilih makan siang sendirian, daripada sibuk memikirkan tentang acara nanti malam, toch yang terpenting aku datang ke acara tersebut, yang mungkin saja akan membuat d**aku sesak lantaran melihat orang yang aku cintai menyematkan cincin di jari manis wanita lain, aku harus mempersiapkan mental dan batinku agar kuat nanti malam.
Setelah selesai makan aku melangkah akan kembali naik ke kamarku, bingung mau mengerjakan apa, sementara aku belum ingin mendaftar kuliah. Padahal semua para sahabatku sudah mendaftar di Universitas yang cukup besar di benua Eropa sana bahkan jika aku mendaftar disana juga pasti akan di terima, mengingat nilaiku yang cukup bagus.
Tetapi aku bingung memikirkan akan melanjutkan pendidikanku dimana?Aku ingin tetap disini, tetapi Mama dan Papa ingin aku ikut serta pergi ke luar negeri bersama mereka dan melanjutkan pendidikanku disana saja. Dan sepertinya itu adalah keputusan yang terbaik jika aku ingin melupakan Kak Jull, tetapi entah mengapa rasanya begitu berat saat akan berpisah darinya.
Aargh,, aku sungguh bodoh sekali, bagaimana bisa aku mencintai Kakakku sendiri begitu sangat dalam. Dan aku sudah masuk ke dalam penyiksaanku batinku sendiri, memang mau menyalahkan siapa lagi? Kak Jull? Pria itu tidak bersalah sama sekali, akulah yang salah menempatkan rasa cintaku ini.
" Baru saja, Mama dari mana?" Tanyaku balik sambil melirik ke beberapa paper bag yang berada dalam genggaman tangan kanan kiri Mama.
" Ini ambil pakaian untuk nanti malam, kesal sekali Mama! Pihak Laundry baru membersihkan gaun kita, karena kata mereka salah satu alatnya bermasalah jadi baru selesai hari ini." Keluh Mama terdengar amat sangat kesal terlihat juga dari raut wajahnya.
" Ya udah sih, yang penting semua beres. Ya udah Mama makan dulu aja, Vero mau kembali ke kamar." sahutku akan melanjutkan langkahku, tetapi Mama memanggilku kembali.
" Vero, bukannya tadi baru saja makan? Jangan langsung kembali tidur." Tegurnya.
" Vero gak tidur Ma, cuma_
" Sudah ayo temani Mama." Mama menarik sebelah tanganku sambil berjalan menuju meja makan, mau tidak aku pun menurut dan duduk di samping Mama, mau bagaimana lagi.
__ADS_1
" Oh iya, Mama belum menunjukkan perhiasan yang akan Mama kasih ke Nella padamu 'kan? Sebentar Mama mau mengambilnya dulu di kamar." Belum sempat aku menjawab Mama sudah berlalu pergi menuju ke kamarnya.
Sambil menunggu Mama, aku memainkan ponselku, ternyata ada sebuah pesan masuk dari Marry sahabatku, aku berpikir sejenak tumben dia mengirim pesan padaku secara pribadi. Karena biasanya kami mengobrol di dalam groub kami berempat bersama yang lainnya, tak mau menunggu lama aku pun langsung membuka pesannya.
Ternyata dia mengirimkan sebuah foto padaku, aku pun langsung mengklik gambar tersebut, dan ternyata itu adalah potret si Nenel yang sedang bermesraan dengan seorang pria. Dasar wanita ular! Aku terus saja mengumpatinya, detik berikutnya aku langsung menyeringai karena mendapatkan sebuah ide agar Kak Jull dan si Nenel bisa berpisah.
Bukan karena aku ingin memiliki Kak Jull, buat apa berjuang jika sang pria saja tidak mempunyai rasa apapun padaku. Tetapi tujuanku hanya ingin Kak Jull terlepas dan tidak di bodohi oleh wanita ular itu.
Hingga Mama kembali dengan membawa kotak perhiasaan berjalan ke arahku dan menunjukkan satu set perhiasan berlian itu padaku. Yang sama sekali tak membuatku tertarik, aku lebih tertarik dengan pesan dari Marry.
***
Malam harinya tibalah waktu acara pertunangan Kak Jull, kami sekeluarga dan juga rombongan langsung pergi menuju kediaman si Nenel dengan pakaian seragam yang begitu kompak, tadinya aku ingin semobil dengan Mama dan Papa, tetapi Mama memaksaku untuk ikut serta ke mobil Kak Jull untuk menemani pria itu.
Suana di dalam mobil jadi akhward, hening di antara kami berdua, hanyut ke dalam pikiran masing-masing, Aku menatap jalanan dari jendela mobil sedangkan Kak Jull menatap lurus ke depan fokus menyetir, hingga tak lama kemudian ia memulai berbicara terlebih dahulu.
" Kau terlihat cantik sekali." Pujinya padaku tanpa menoleh padaku, aku hanya menoleh sebentar lalu kembali menatap jalanan.
Baru tahu kalau aku ini memang cantik. Berarti dia sudah tidak buta lagi setelah bertapa seminggu di Apartemennya, lalu dia pikir jika sudah memujiku, aku langsung luluh begitu, Tidak akan.!
.
.
.
.tbc
Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..