
Vero menikmati sarapan paginya dengan roti bakar berselai coklat di atas piring kecilnya, bahkan di sebelahnya juga sudah tersedia segelas minuman hangat, hot chocolate kesukaannya tentunya.
" Terserahlah, mau mati kek, mau hidup kek! Aku tidak peduli dasar pria mesum! Brengs3k! Kau belum mengenalku yang sebenarnya.!" Gerutu Vero di sela sarapannya.
Tak begitu lama ia pun bangkit dan berjalan ke arah kamarnya sekalian mengecek keadaan pria itu, walau seharusnya tidak perlu sebab ia masih merasa kesal, sudah di tolong bukannya berterima kasih ini justru tidak mendapatkan apa-apa, setidaknya melihat keadaannya yang membaik bagi Vero itu sudah lebih dari cukup. Entah bagaimana bisa Vero sedikit mengawatirkan pria mesum itu, apa ia sudah mempunyai perasaan terhadap pria yang menjadi atasannya tersebut? Vero menggeleng mengelaknya, sebab di dalam hatinya masih terukir indah nama Kakaknya seorang, ya siapa lagi jika bukan Jullio.
Vero membuka pintu kamar dan segera memasuk, namun tidak menemukan keberadaan pria yang tadi tengah berbaring sakit di atas ranjang miliknya. " Kemana dia? Bukankah tubuhnya masih demam?" Vero melangkah semakin dalam akan mengecek di dalam kamar mandi, siapa tahu pria itu justru tengah membersihkan diri di dalam sana. Begitu melihat pintunya tidak tertutup Vero segera mendorongnya, dan tidak ada siapapun disana, membuatnya mendesah lelah.
Akhirnya Vero menyerah dan memilih berganti pakaian, hari ini ia ingin mencari udara segar di luar, mumpung hari libur, ia tidak akan menyia-nyiakan waktu barang sedetik saja. Pikirannya masih saja kalut memikirkan pria yang menjadi atasannya itu bagaimana bisa bos yang tidak pernah minum, yang biasanya selalu menghindari minuman berakohol justru semalam mabuk berat hingga tidak sadar berakhir menyetubuhi dirinya. Ya walau bukan untuk pertama kalinya mereka bersetubuh namun tetap saja ada yang berbeda, mereka biasanya melakukannya saat dalam keadaan sama-sama sadar. Namun sebelum meninggalkan gedung Apartnya ia akan mampir ke suatu tempat guna untuk memastikan, ia berjalan ke salah satu unit yang juga memberikannya akses masuk ke dalamnya, yang pasti atasannya sendiri yang memberikan kartu aksesnya padanya waktu itu.
Sementara Kai yang baru saja keluar dari kamar Vero yang menjadi sekretarisnya itu memilih masuk ke dalam kamar milik sahabatnya dalam keadaan setengah bug*l. Ya ia tidak perlu repot-repot memakai pakaiannya kembali yang memang saat semalam datang ke kamar Vero hanya memakai celana panjang dan juga ****** ******** saja, sebab pakaian atasnya sudah terlebih dulu ia tanggalkan di dalam kamarnya sendiri saat ia merasakan kegerahan.
" Astaga BruV, kau mengejutkanku saja! Dimana pakaianmu!" Gerutu Aster menatap kesal pada sahabatnya yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Ini pasti akibat mabuknya semalam, pikir Aster yang kemudian menyingkirkan sebelah tangan kekar milik Kai yang memeluk pinggangnya.
Aster bergedik jangan sampai ada orang lain yang mengira mereka adalah gay! Dia pun menatap kesal kembali pada Kai, kenapa harus saling peluk-peluk segala! " Bruv bangun! Pindah ke kamarmu sendiri!" Titahnya yang sama sekali tak di indahkan oleh Kai, seolah telinga Kai mendadak tuli.
__ADS_1
" Jika kau tidak bangun, maka_
" Apa! Kau ingin apa? Seharusnya kau membantuku sebagai sahabat Bruv menurutmu bagaimana bisa Lala ( Panggilan khusus untuk Quila? berakhir bersama pria b********n itu! Bahkan mereka sudah_Aahhh, brengs3k! Ingin sekali kubunuh manusia bodoh itu!!" Pekik Kai yang tiba-tiba bangkit dan berjalan ke arah pintu, membuat Aster merasa was-was, sehingga pria itu buru-buru membuka pintu kamarnya dan begitu keluar mereka sudah berada di dalam kamar yang berbeda, tepatnya kamar pribadi Kailash.
" Kenapa kau membawaku kesini!" Tatap tajam Kai pada sahabatnya itu yang membuat rencananya berantakan.
" Tunggu! Kau mau kemana dalam keadaan bug*l seperti ini? Ingin menakuti-nakuti kucing? Atau ingin mengajak pria itu untuk melakukan threesome bersama sang Dewi? Ejek Aster tersenyum miring. Kai baru sadar jika ia tidak memakai pakaian, ia pun mendorong pelan sahabatnya itu ke samping dan berjalan menuju walk in closet untuk mencari pakaian yang akan ia kenakan.
" Setidaknya bersihkan tubuhmu yang menyengat itu, bau cairan bercintamu sangat kuat Bruv!" Kelakar Aster yang membuat kedua tangan Kai seketika berhenti, lalu mengendus-ngendus bau badannya sendiri. Dan benar saja apa yang sahabatnya katakan. Bau cairan dari antena miliknya begitu menyengat, bagaimana tidak, ia dan Vero bercinta dengan begitu menggil4 seolah tidak mengenal lelah dan waktu, hingga menumpahkan cairan itu berkali-kali. Dengan sangat cepat ia membasuh tubuhnya ala kadarnya, lalu kembali dengan tubuh yang sidah segar.
" Dan jangan melakukan apapun! Jangan ikutan gil4! Begini saja, anggap saja perbuatan pria itu adalah karma atas apa yang kau lakukan dulu pada kekasihnya di pulau kecil itu!" Seru Aster kembali yang kini memberi keputusan jalan yang terbaik.
" Ya kekasihnya! Kau pasti melupakan akan hari dimana kau menodai Vero gadis yang masih suci sebelum kau merusaknya! Hingga hubungan keduanya hancur dan wanita itu berakhir di perusahaanmu!" Cecar Aster mengingatkan kembali perbuatan tercela seorang Kailash.
Degh!!
Ya Kai baru ingat dengan kejadian buruk itu, tetapi juga nikmat waktu di pulau surganya dunia, apa benar yang sahabatnya itu katakan, jika ini adalah karma baginya? Begitulah apa yang di katakan banyaknya orang, jika kita berbuat buruk pada orang lain, suatu saat nanti perbuatan buruk itu akan kembali terjadi pada kita atau orang terdekat kita. Dan sekarang Kai baru mempercayainya, dan sungguh ia mulai sedikit menyesali perbuatan tak senonohnya dulu, andai saja dulu ia tidak tergoda oleh na*sunya sendiri, andai saja...
__ADS_1
" Aaarghhh brengs3k!! " Kai memukul pintu pakaian yang masih terbuka itu hingga jebol. " Tapi aku juga tidak bisa melepaskannya begitu saja. Dia sudah_
" Jangan serakah menginginkan keduanya. Ingat sang dewi mungkin sudah tidak mencintaimu lagi Bruv." Celetuk Aster yang tanpa di filter terlebih dahulu, membuat emosi Kai langsung kembali siap meledak.
" Lala hanya mencintaiku Bruv! Kau jangan asal bicara, kau tidak begitu mengenalnya selama ini!" Sahut Kai yang mulai meledak-ledak, namun Aster hanya menatapnya datar tanpa ada rasa takut sama sekali.
" Jadi kau masih mencintai sang Dewi? Jika iya maķa lepaskan wanita itu, aku justru kasihan padanya biarkan dia kembali pada pria itu, atau biarkan dia bertemu dengan laki-laki yang mencintainya di luar sana." Seru Aster memberikan solusi yang terbaik.
" Tidak bisa! Aku tidak akan pernah melepaskan Vero!" Pekik Kailash tanpa ingin ada bantahan lagi dari sahabatnya, membuat Aster pun tersenyum simpul sudah tahu dengan apa yang sahabatnya itu butuhkan.
.
.
.
.tbc
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷
Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..