
PoV. Vero
" Happy Birthday my best friend." Seru para sahabatku semua secara serempak begitu kami sudah masuk ke dalam mobil milik Marry.
" Thank's guys, tanpa kalian hidupku terasa hampa." Sahutku setelah mengurai pelukan ala tuletubbies kami.
" Please, jangan lebay!!" Timpal Sisil yang langsung menoyor bahu kananku.
" Akhirnya anak Mama keluar juga dari sangkar emasnya." Kini giliran Nina yang menggodaku sambil mengemudi, lalu terdengar suara gelak tawa dari arah belakang, Sisil dan Nina tentu saja yang juga sedang menertawakanku.
Emang dasar para sahabat tidak beradap! Senang sekali mengejek dan menggodaku. Untung saja aku sayang pada mereka bertiga jika tidak sudah aku tinggal dan mencari sahabat yang lain.
Tapi dimana mendapatkan sahabat seperti mereka yang sudah lama berteman denganku? Mami sudah sangat dekat sekali seperti saudara sendiri semenjak masuk sekolah menengah pertama hingga sekarang, ya walau mereka seperti itu tetapi hanya mereka yang selalu membuatku nyaman selain keluargaku.
Persahabatan yang bagaikan kepompong, suka dan duka merasakannya bersama, bersenad gurau, bahkan sering melakukan hal yang konyol. Bersama mereka hidupku penuh warna tanpa adanya gangguan yang namanya makhluk lelaki. Ya kami memang tidak begitu mengenal yang namanya berpacaran, walau ada di antara kami yang berpacaran pun, kami sama-sama tahu, tidak ada rahasia di antara kami berempat.
" Sudah puas kalian!? Dasar sahabat lakn4t!" Umpatku, bukannya kesal mereka justru tertawa terbahak, membuatku ikut tersenyum. Tak menyangkal godaan mereka semua, aku memang seolah adalah anak emas yang selalu di jaga oleh keluargaku.
" Jadi kita mau kemana nih?" Tanya Marry setelah tawanya reda.
" Seperti yang aku bilang semalam." Sahutku sambil membalas pesan masuk yang ternyata dari Kak Jull.
" Jadi ke Villa nih? Kau yakin?" Tanya Marry lagi, aku hanya berdehem sambil menganggukkan kepala.
Kak Jull; Kalian pergi kemana?
Pesannya yang langsung kubalas dengan cepat.
Kepo!!, Balasku kesal.
Kak Jull; Kakak tunggu nanti sore!,
Balas Kak Jull, aku yakin dia masih kesal atas kejadian tadi.
__ADS_1
Ah terserah-lah, saat ini aku hanya ingin menikmati kebebasanku setelah satu bulan berada di rumah, dan hanya keluar bersama Mama saja, jadi berasa seperti tahanan yang baru saja keluar dari lapas.
Aku membuka kaca jendela mobil walau Marry sudah menghidupkan Ac Mobil, tetapi aku ingin menghirup udara bebas. " Aahh,, nikmatnya udara segar seperti ini." Ujarku lega sambil merentangkan kedua tanganku ke samping, hingga keluar lewat jendela mobil.
" Burung Beo yang terlepas dari sangkar emasnya Bukk?!" Kini giliran Sisil yang mengejekku. Aku tidak pediluli, pura-pura tidak mendengarnya saja.
Langsung terdengar gelak tawanya di ikuti oleh Marry dan juga Nina, klop banget memang mereka semua jika sedang menggodaku.
Hingga hampir dua jam-an akhirnya mobil yang kami tumpangi memasuki area Villa milik keluarga Marry, kami berempatpun segera keluar dari mobil dan berjalan memasuki Villa tersebut dengan hati yang sangat gembira tentunya terutama aku.
Villa milik Marry memang masih di kawasan pinggiran ibukota, sehingga tidak begitu jauh jaraknya dari pusat kota. Entah nanti malam mau menginap disini atau tidak kami belum tahu, sebab memang tidak ada rencana juga, kami pun tidak membawa pakaian ganti, tetapi yang pasti hari ini kita akan menikmati party sepanjang hari ini.
Sebelumnya aku sudah memesan begitu banyak makanan dan juga minuman kaleng melalui aplikasi, hingga mungkin tidak lama lagi pesananku akan segera di antar kesini—ke Villa ini.
Kami berjalan menuju kamar utama yang langsung memperlihatkan pemandangan lautan lepas, yang memang Villa ini berletak di dekat tebing pantai.
Di kamar ini ada dua ranjang besar, cukuplah untuk istirahat kami berempat, aku melangkah untuk membuka jendela kaca besar, menggesernya hingga udara langsung masuk ke dalam kamar yang akan kami tempati.
Beruntung kami tidak mengajak teman pria, jika tidak pasti mereka sudah tak berkedip menatap tubuh seksi milik Nina, dan ternyata di ikuti Sisil di belakangnya. " Eh, emang kalian bawa ganti?" Tanyaku begitu polos.
" Aah, Vero nggak asik, tenang aja nanti aku pesankan dalaman ganti untuk kalian semua." Sahut Nina yang bersiap akan menyeburkan dirinya ke kolam renang yang terlihat berwarna biru.
Tentu saja biru, sebab air yang ada di kolam ini memang berasal dari air laut langsung, sehingga rasanya seperti kita berenang di pantai, bahkan aman tidak akan ada ombak yang akan membuat kita panik.
Byurrrr...
Nina dan Sisil langsung masuk ke dalam kolam, mereka berenang kesana kemari, mereka memang sudah sangat lihai sekali, sedangkan aku masih berpakaian lengkap begitu pun dengan Marry.
Aku memang sekalian menunggu pesanan makananku datang, sedangkan Marry mungkin sedang menyiapkan tempat atau yang lainnya, karena Villa ini memang adalah miliknya.
Selang beberapa menit sebuah mobil boks datang untuk mengantarkan makanan yang telah aku pesan tadi, bukan satu mobil ya, melainkan hanya beberapa kotak saja, mungkin mereka sekalian mengantar pesanan orang lain yang mungkin searah dari tempat kami.
Setelahnya aku dan Marry langsung menyusul Sisil dan Nina berenang setelah memastikan semua makanan yang aku pesan benar dan tidak kurang satu pun. Hingga menjelang sore, baru kami menyudahi acara berendamnya lalu naik ke atas dan langsung membersihkan diri masing-masing.
__ADS_1
" Kak Jull jadi bertunangan minggu depan dengan si Nenel itu?" Tanya Nina yang mengambil duduk di sampingku. Aku hanya bisa berdehem tanpa ingin menjawabnya rasanya malas sekali membahas mereka lagi.
Setelah tadi kami semua menikmati makan malam untuk merayakan hari jadi lahirku, kini kami semua sedang berkumpul di ruang tengah dan menonton film bergenre movie lover, maklum kami semua para wanita yang beranjak dewasa jadi tidak ada larangannya menonton acara seperti ini bukan?
Tidak ada acara tiup lilin ataupun potong kue dari kebanyakan, acara-acara yang di lakukan hampir semua orang dari mulai anak-anak hingga sampai tua. Dan itu memang aku yang tidak menginginkannya seperti anak kecil saja, cukup semalam di rumah dengan keluargaku.
" Terus gimana dengan perasaanmu?" Itu suara Marry yang kini giliran bertanya padaku.
" Nggak gimana-gimana-lah! Kalian kenapa sih jadi bahas mereka terus!!" Ketusku dengan nada sedikit meninggi.
Membuat mereka bertiga terhenyak, aku yakin mereka terkejut dengan reaksiku yang sedikit berlebihan ini. Tetapi bukan karena apa aku jadi seperti ini, aku memang sangat kesal pada Kak Jull, pergi dari rumah niatnya untuk menghindarinya bukan untuk membahasnya disini, membuatku badmood saja!
" Sorry_
" Ya kami tahu Ver, apa yang tengah kau rasakan saat ini, baiklah jadi apa rencanamu?" Tanya Marry yang sedikit lebih dewasa dari kami, ya aku akui aku masih sedikit manja dan kekanak-kanakan. Apa mungkin karena selama ini selalu di manjakan oleh keluargaku? Terutama Mama.
Aahh,, memangnya aku ingin di perlakukan manja oleh mereka? Tetapi sejak aku kehilangan semua anggota keluarga kandungku, aku merasa sangat bahagia memiliki keluarga kembali, merasakan kehangatan itu lagi.
" Tentu saja melepaskannya! Memang apa lagi? Ingin mengemis-ngemis cintanya?" Sahutku sedikit berdusta, bagaimana aku bisa melepaskannya begitu saja saat rasa ini semakin tumbuh.
Dan aku berharap bisa Move On.
.
.
.
.tbc
Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷
Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..
__ADS_1