
Di Lounge and bar Nella masih berada di sana bersama kawan-kawannya, dia amat sangat kesal saat Jull memilih pergi begitu saja meninggalkannya bahkan tanpa berucap apapun walau sekedar berpamitan.
" Berengs3k! Awas kau Jull, sudah sampai disini kau malah kabur! Sia-sia sudah yang aku lakukan malam ini, tapi tunggu saja akan aku pastikan malam berikutnya aku pasti berhasil." Desisnya tersenyum menyeringai." Aahh, sial4n!!"
" Sabar Nell, mungkin dia tahu minumannya kita campur dengan wine, jadi sekarang bagaimana? Kau tetap akan menginap di hotel yang sudah kami booking?" Tanya salah seorang wanita teman Nella.
" Tentu saja! Tidak bersamanya, aku bisa bersama dengan yang lain." Kembali Nella menyeringai sembari melihat ke arah jarum jam dua belas di depan sana, ia melihat seorang pria yang sudah duduk sedari awal yang juga menatapnya. Membuat temannya yang tadi bertanya ikut mengalihkan pandangan mengikuti Nella.
" Astaga bagaimana bisa dia ada disini?" Pekik temannya itu saat menatap pria yang ia kenal sebagai kekasih Nella. Yang mereka semua tahu Nella sudah berhubungan jauh dengan pria itu sebelum menjalin hubungan dengan Jullio.
" Tentu saja dia pasti datang sendiri. Baiklah aku pergi kalian nikmati pestanya." Pamit Nella yang berjalan menjauhi rekan-rekannya dan memilih menghampiri pria tadi. Namun sebelumnya ia sudah merampas sebuah kartu akses di tangan rekannya tadi untuk bisa masuk ke sebuah kamar yang sudah di sewa untuknya dalam semalam saja.
" Baby you've come, let's go." Ajak Nella pria yang tidak kalah tampan itu dengan Jullio bahkan jauh lebih tampan dari tunangannya tersebut. Mereka keluar dari sana menuju ke sebuah mobil hitam yang terparkir di parkiran depan sana.
Sang pria yang memang berkebangsaan luar negeri hanya menurut dan tersenyum menatap ke arah sang wanitanya. Tak lama mobil yang mereka tumpangi bergerak maju menuju ke sebuah hotel mewah di pinggiran ibukota.
Tak begitu lama mereka telah sampai dan turun di lobby berjalan menuju ke salah satu kamar mewah yang berada di lantai paling atas. Nella terlihat berjalan terburu-buru sebab ia sudah sedikit mabuk.
" You're so impatient dear,( Kamu sangat tidak sabar sayang )" Serunya saat Nella terus saja menarik lengan kokohnya. Sesampainya di kamar Nella dengan cepat melucuti semua pakaiannya lalu bergantian melucuti pakaian sang bule yang terlihat sudah pasrah.
" Slowly you will surely get what you want dear. ( Pelan-pelan kamu pasti akan mendapatkan apa yang kamu inginkan sayang.)" Bisiknya tersenyum kecil saat Nella menarik paksa kain terakhir yang menutupi senjatanya yang gagah.
" Noisy! I can't wait, hurry up! ( Berisik! Aku memang sudah tidak sabar, cepat lakulan!" Desisnya yang langsung menjatuhkan tubuh polosnya di atas ranjang empuk berukuran besar dengan terlentang.
Membuat sang pria menyeringai lebar, ia pun langsung merangkak naik, dan memberikan stimulasi di setiap inchi tubuh Nella, memberikan rangsangan mendamba yang selalu ia lakukan bersama wanita ini setiap mereka bertemu.
__ADS_1
Sebenarnya mereka saling mencintai, namun keluarga Nella menentang keras hubungan keduanya dengan alasan perbedaan agama, walau kasta mereka hampir sama-sama kaya raya. Dan itu yang membuat Nella terpaksa harus bersembunyi-sembunyi untuk bertemu janji dengan sang kekasih agar tidak ketahuan oleh keluarganya bahkan tunangannya Jullio. Serakah sekali bukan wanita ini?
" Hurry up! I can not stand it anymore! ( Cepat lakukan! Aku sudah tidak tahan lagi! )" Racaunya dengan tubuh mengeliat, melengkung ke atas saat inti tubuhnya di permainkan oleh lid4h yang terus menusuk, menghis4p area berbahaya itu.
Sang pria pun menarik kembali wajahnya untuk melihat wajah wanitanya yang terlihat sayu, dan gelisah, dan dalam sekali hentakan tubuh keduanya sudah melebur menjadi satu, menari-nari indah, merancau saling bersahutan bagaikan anak burung yang sedang kelaparan.
Dan tanpa mereka berdua sadari di luar sana ada seorang pria yang menyeringai lebar setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, lalu bergegas pergi dari sana. Lalu setelah sampai di dalam mobil ia segera mengirimkan semua bukti yang ia lihat dan diambil kepada seseorang di lain tempat. Dan tentu saja sedari awal pria itu sudah mengamati gerak-gerik mereka berdua saat keluar dari Lounge and bar tadi hingga berakhir di tempat mewah ini.
***
* Di tempat lain..
Vero langsung bangkit berdiri hendak berjalan menjauh namun dengan cepat pula Jull mencekal pergelangan tangan Vero membuat gadis itu berbalik. " Mau kemana?" Desisnya sedikit tajam bahkan Vero merasakan cengkraman itu sedikit kuat.
Tak begitu lama ia pun segera keluar dan berjalan ke arah pintu ingin segera keluar dari kamarnya, bahkan ia tidak tahu saat ini pukul berapa, Vero hanya ingin menghindari Kakaknya. Seminggu kemarin ia sudah berhasil tidak bertemu dengannya sama sekali, pasti hari-hari berikutnya ia akan mulai terbiasa.
" Kau mau kemana lagi?" Dengan cepat Jull menghadang jalan Vero, menatapnya kesal.
" Jika Kakak tidak mau keluar dari kamarku, biar aku yang akan keluar!" Ancamnya yang akan membuka handle pintu, namun gerakannya kalah cepat dengan Jull.
" Kakak belum selesai bicara, jangan terus menghindari Kakak! Kakak tahu segalanya." Ucapnya dengan percaya diri.
" Kakak tahu apa?? Kakak tahunya hanya tentang Nella! Lebih baik kalian segera menikah saja!" Usulnya yang sudah tidak tahan lagi, di tambah melihat cincin yang melingkar di jari manis sang Kakak, hatinya seketika berdenyut nyeri.
" Itu yang akan Kakak lakukan! Kakak akan pergi minggu ini bersama Nella, seperti yang kau katakan Kakak akan memajukan tanggal pernikahan Kami." Ujar Jull memberitahu, ia ingin melihat respon dari Adiknya.
__ADS_1
Tanpa Jull sadari ada hati yang semakin berdenyut yang seakan tertusuk belati, sakit sekali rasanya, namun tidak berdarah. Namun sebisa mungkin Vero menyembunyikannya jangan sampai Kakaknya itu mengetahuinya.
" Oh, baguslah. Lebih cepat lebih baik, aku tidak sabar untuk menggendong keponakanku." Sahutnya memalingkan wajah ke samping, ia tidak sanggup untuk menatap wajah tampan itu. Ia mati-matian menahan raut wajahnya agar tenang, juga yang sejak kapan kedua netranya mulai mengembun.
" Bagaimana dengan pulau dewata disana sepertinya banyak destinasi yang bagus untuk melakukan beberapa sesi foto prewed disana, bagaimana menurutmu? Atau Kakak harus pergi keluar negeri saja?" Tanyanya meminta pendapat dari sang Adik, sengaja sekali memang.
Bulir bening itu sudah menggenang di pelupuk matanya, siap untuk meluncur di kedua sisi wajah cantiknya. Yang seolah-olah ucapan Kakaknya itu memang di sengaja hanya untuk memancingnya! Walau kenyataannya memang benar apa adanya, itu memang Jull sengaja.
" Pergi Kak! Kakak keluar dari kamarku!" Bengisnya bersamaan dengan mengalirnya kristal-kristal bening itu.
" Tidak!"
" Okay, baiklah. Jika Kakak akan menikah dengan Nella, mungkin saja aku bisa menikah dengan Roma, kita bisa menikah secara bersamaan nanti." Celetuk Vero, yang membuat tanduk Jull tiba-tiba sudah keluar dari atas kepalanya.
.
.
.
.tbc
Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷
Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..
__ADS_1