Terjerat Cinta Pria Alien

Terjerat Cinta Pria Alien
Lahirnya Putra Mahkota


__ADS_3

Sepasang suami istri terlihat begitu gelisah di depan ruangan yang pintunya tertutup rapat dari dalam. Sedari tadi keduanya npak mondar-mandir bak setrikaan, kadang juga duduk dengan gelisah di kursi tunggu.


" Duduk saja, Mama yang tenang, kita terus berdoa agar menantu dan juga cucu kita selamat dan keduanya sehat semua." Ujar Johan yang mencoba membuat istrinya itu tenang, sebab sudah hampir tiga jam mereka menunggu namun belum ada tanda-tanda jika pintu persalinan itu terbuka.


Ya dini hari ini tepatnya pukul dua pagi tiba-tiba Quila merasakan dirinya akan segera melahirkan, awalnya ia tidak merasakan apapun, namun begitu merasakan air ketubannya pecah membuat semua orang kalang kabut, tak terkecuali kedua mertuanya.


" Mama belum bisa tenang Pa, kalau belum mendengar tangisan dari cucu kita. Semoga keduanya di beri kekuatan terutama menantu kita Pa." Sahut Jihan yang masih merasa gelisah terus menerus.


" Iya kita tunggu saja, Papa juga tidak sabar menggendong cucu kita Ma." Johan berusaha mengalah, tidak ingin mengajak istrinya berdebat kali ini.


Setelah menunggu selama hampir satu jam kemudian, akhirnya suara melengking yang mereka tunggu-tunggu mulai terdengar hingga sampai di luar ruangan.


" Syukurlah Pa, cucu kita lahir. Mulai sekarang kita akan di panggil Opa dan Oma Pa. Mama jadi tidak sabar lagi untuk menggondong cucu kita." Ujar Jihan yang begitu antusias saat mendengar suara tangis dari cucunya yang baru saja lahir ke dunia.


Sementara itu di dalam ruangan persalinan, raut wajah berbinar dan juga bahagia tercetak jelas di wajah Jullio. Pria yang sudah berganti status menjadi seorang Ayah. Pria itu terus saja menghujami banyak kecupan di kening juga puncak kepala istrinya yang baru saja berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan buah hati mereka berdua ke dunia ini.


" Terima kasih banyak sayang, kau sudah banayk berjuang hingga detik ini demi kami berdua. Aku tidak bisa berkata-kata apapun lagi kecuali yang kata terima kasih untukmu, sungguh aku sangat bahagia sekali mempunyai kalian sekarang, semoga kita bertiga selalu bahagia selamanya hingga maut memisahkan." Seru Jull menatap mesra sang istri yang masih terlihat lemah setelah berjuang melahirkan.


Quila hanya bisa tersenyum manis di depan suaminya, namun tidak di dalam hatinya ia merasa sangat bersedih, sebab ia merasa waktunya tidak akan lama lagi, dan itu terlihat saat ia menatap kedua telapak kakinya yang sekarang ini tidak terlihat.


Walau manusia masih bisa melihat kwledua kakinya, namun tidak dengan dirinya. Ia juga bisa merasakan bahwa kakinya memang tidak merasakan apapun lagi saat ini, dan itu terjadi saat sang Bidan sedang menyeka keduanya.

__ADS_1


" Ada apa sayang kau terlihat bersedih? Apa rasanya masih terasa sakit?" Tanya Jull sedikit panik saat ia melihat raut wajah istrinya yang menjadi murung tidak bersemangat lagi.


Mendengar suara panik dari suaminya, Quila dengan cepat merubah raut wajahnya menjadi tersenyum lagi. " Aku tidak apa sayang, mana bayi kita aku ingin melihatnya?" Sahut Quila yang mencoba mengalihkan pembicaraan, agar suaminya tidak curiga.


Ia memang tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Jull tentang statusnya yang memang bukanlah manusia biasa, sebab ia terlalu takut Jull tidak bisa menerima kenyataan perihal tentang statusnya itu, jadilah ia lebih memilih diam saja tanpa harus jujur kepada suaminya, dari pada ia harus kehilangan sosok pria yang mampu mengalihkan dunianya sejenak dari sang kekasih.


Ya sampai detik ini cintanya untuk sang kekasih jauh lebih besar daripada pria yang sudah menjadi suaminya sendiri saat ini. Walau rasa cinta dan sayang itu ada walaupun cuma sedikit. Tapi ia merasa cukup bahagia hidup bersama suaminya.


Beberapa saat kemudian bayi mungil yang berjenis kelamin laki-laki itu di antar oleh sang perawat setelah selesai di beraihkan juga melakukan serangkaian perawatan lainnya. Akhirnya tibalah keduanya bisa menatap bayi tampan yang masih merah itu yang kini sudah ada di samping Ibunya.


" Ohh, putra Daddy tampan sekali sih." Seru Jull yang begitu antusiasnya sembari ia menoel-noel pipi merah bayi mungilnya yang terpejam.


Sedangkan Quila terus saja mencium bayi tampannya yang memang duplikat dirinya versi laki-laki." Mirip denganmu sayang." Ujar Jull kembali yang terus menatap waja tampan dan mungil tersebut.


" Selamat sayang, kini kau telah menjadi seorang Mommy, dan Jullio jadi seorang Daddy, ingat tanggung jawabmu menjadi bertambah Jull, kedepannya kalian harus saling kerja sama untuk mengurus dan membesarkan cucu Oma yang tampan ini." Seru Jihan memberi ucaoan juga arahan kepada sepasang suami istri yang baru menjadi orangtua.


" Pasti itu Ma. Jull tidak akan lupa tanggung jawab Jullio sekarang, Mama dan Papa tidak perlu khawatirkan kami berdua. Toch nanti kami juga akan menyewa baby sitter Ma, biar Quila tidak kerepotan juga." Timpal Jull memberitahu niatannya setelah sang istri sudah di ijinkan pulang ke rumah.


" Ya sudah itu terserah kalian, dan Mama minta setelah pulang dari sini kalian berdua harus tinggal di Mansion, Mama nggak ingin dengar protes dari kalian, toch nggak baik juga anak-anak itu tumbuh di Apartement." Sahut sang Mama yang mencoba memberi pengertian untuk kebaikan kembang tumbuh cucu pertamanya.


" Iya Ma, Jull sangat tahu akan hal itu. "

__ADS_1


" Baguslah. Mana sini Mama ingin gendong cucu Oma. Uluh, uluh cucu Oma yang tampan, lihat Pa seperti Jullio saat masih bayi ya?" Seru Jihan yang kini perhatiannya beralih kepada bayi mungil yang masih berwarna merah sedikit kebiruan.


" Iya Ma, mirip Jullio kita masih bayi. Ya namanya juga Ayah sama anak ya pasti miriplah Mama ini gimana sih, " Sahut Johan tidak habis pikir dengan istrinya itu.


" Iya-iya. Eh kalian sudah dapat nana untuk putra kalian ini? Boleh Mama ikut kasih nama juga?" Tanya Jihan berharap nama yang sudah di pilih olehnya di terima oleh putra dan menantunya.


" Mama ini gimana sih, biar mereka sendirilah yang memberi nama putra mereka, dulu juga kita berdua yang memberi nama Jullio. Biarkan mereka saja selaku orangtua kandungnya." Protes Johan membuat Jull dan Quila pun terkekeh melihat Kakek dan Nenek yang mulai berdebat kecil.


" Ya apa salahnya sih Pa, Mama hanya ingin menyumbang nama saja untuk putra mahkota kita, kalau mereka sudah punya nama sendiri Mama juga tidak masalah, benar 'kan Jull?" Tanya sang Mama yang meminta suport dari putranya.


" Ya terserah Mama saja, kami juga ingin dengar nama yang Mama berikan untuk jagoan kami." Jawab Jull yang tidak mempermasalahkan tentang hal itu.


" Tuh Papa denger sendiri!!" Sahut Jihan merasa berbangga hati begitu di bela oleh putranya.


.


.


.


.tbc

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷


Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..


__ADS_2