
Pov Veronica
Namaku Veronica Jeslin, panggil saja Vero. Di saat aku masih berusia delapan tahun, aku di ajak menginap ke rumah Nenekku yang jarak rumahnya tak jauh dari rumah kedua orangtuaku. Memang aku sering menginap disana, sebab Nenek di rumah seorang diri, sedangkan Kakekku sudah lama meninggalkan dunia ini.
Sedangkan di rumah hanya ada Ayah dan Ibuku saja, sebab hingga sekarang mereka masih belum di karuniai anak kembali, walau mereka terus berusaha, namun jika belum waktunya, mereka hanya bisa pasrah.
Aku sedikit mengingat kejadian waktu itu, yang mana pada saat tengah malam, aku dan nenekku dikejutkan oleh beberapa orang yang mengetuk pintu, bahkan seperti mendobrak pintu tersebut mungkin karena saking paniknya saat itu.
Mereka memberitahu bahwa api besar membakar habis rumahku, hingga kedua orangtuaku yang sedang tidur meninggal seketika, aku langsung menangis histeris saat melihat kobaran api yang sangat besar menghanguskan rumahku beserta isinya, terlebih saat mendengar Ayah dan Ibuku tak bisa di selamatkan lagi, aku menjerit, bahkan beberapa kali pingsan. hingga saat hari pemakan tiba, aku ingin masuk ke peti bersama Ibuku, agar aku bisa selalu berada di sisinya.
Tak lama setelah kepergian orang tuaku, aku tinggal hanya berdua dengan Nenek, hingga datanglah sepasang suami istri, yakni mereka adalah kedua orangtua angkatku yang katanya adalah sahabat baik dari kedua orangtua kandungku dulunya.
Mereka mengetahui kabar kebakaran yang menimpa sahabatnya dari siaran berita di televisi, Papa dan Mama sangat kehilangan sosok kedua sahabatnya yang dulu sangat berjasa bagi keduanya terutama pria paruh baya yang aku panggil Papa, hingga keduanya menganggapku sebagai anaknya sendiri.
Papa dan Mama sering mengunjungiku dan Nenek, mereka banyak membantu kami, mereka ingin mengajak kami ke kota, Nenek awalnya menolak, akan tetapi karena desakan Papa dan Mama akhirnya kami pun ikut ke kota bersama mereka, dua tahun kemudian Nenek tiba-tiba sakit dan di larikan ke rumah sakit, Papa dan Mama selalu menemaniku, hingga beberapa hari Nenek di rawat, Dokter menyatakan Nenek tak bisa tertolong lagi, dan aku kembali berduka, keluargaku satu-satunya pun ikut berpulang.
Kini tinggal aku sebatang kara, tubuhku yang kecil semakin kurus karena aku tidak mau makan apapun, Papa dan Mama terpaksa membawaku ke rumah sakit, namun perlahan aku bisa menerima keadaanku apalagi sejak mengenal Kak Jullio yang sangat baik padaku, ia selalu menjaga dan menghiburku hingga perlahan aku bisa melupakan kenangan pahit kehidupanku yang dulu.
Aku menjadi putri kesangan kedua orangtua angkatku, mereka menyayangiku seperti putri kandungnya sendiri, apalagi aku selalu tergantung pada Kak Jullio, kakak angkatku yang sudah beberapa tahun belakangan ini menemaniku, dan pada akhirnya kami memutuskan untuk menjadi menjalin hubungan.
Entah banyak orang yang mengatakan kami tidak bisa menikah, dengan banyaknya alasan, bahkan saudara Mama yang paling dekat menentang hubungan kami, mungkin karena aku sudah seperti anak kandung Mama dan Papa, sehingga mereka bersikap seperti itu.
__ADS_1
Padahal Mama dan Papa sangat merestui hubungan kami, aku pun sangat mencintai Kak Jull, bukan cinta adik pada kakaknya, melainkan cinta wanita kepada pria dewasa.
Seiring berjalannya waktu, akhirnya kami menjalin hubungan yang sangat serius, apalagi saat mendengar kami ingin segera menikah mereka begitu sangat mendukung. Entah benar-benar merestui atau tidak yang jelas aku melihat ada raut wajah sedikit kecewa di wajah Mama.
Namun hubungan kami harus berakhir berawal saat dan teman-temanku menghabiskan liburan kami di pulau dewata. Aku juga tidak menyangka, semuanya terjadi begitu cepat aku mabuk karena kesal dengan Kak Jull, hingga berakhir aku tidur bersama pria asing yang tidak aku ketahui seperti apa orangnya.
Aku memang sangat buruk jika minum, semuanya yang terjadi tidak ada yang aku ingat sama sekali, namun pagi harinya saat menyadari tubuhku terasa remuk redam di tambah inti tubuhku yang terasa amat sakit, dari situlah aku bisa menebaknya.
Apalagi hampir seluruh tubuhku penuh dengan bercak berwarna merah kebiruan, apa lagi jika bukan karena aku dan pria asing itu melewati malam yang panas, dan bodohnya aku sama sekali tidak mengingatnya hingga detik ini, siapa yang sudah memerkosaku? Ya aku telah di modal oleh pria asing.
Dengan tekad yang kuat aku pergi meninggalkan negaraku tercinta, sebab Kak Jull yang di saat itu sangat aku butuhkan sosoknya, justru menghilang entah kemana dan tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali di depanku begitu aku menceritakan semuanya tanpa ada yang aku tutupi darinya apa yang terjadi dan menimpaku waktu itu.
Hingga ketika aku memilih tinggal di negara yang dulu sempat aku tinggali beberapa tahun silam saat melanjutkan kuliahku, justru disini aku bertemu dengan bos yang super mesum, aku terjebak dalam ikatan perjajian dengannya.
Minggu lalu Kak Jull datang menemuiku, aku sungguh tidak percaya pria itu mau menyusulku bahkan mencari keberadaanku di negara asing ini, dan itu membuatku sedikit luluh, namun Kai Bos mesumku justru marah tidak terima jika aku kembali pada Kak Jull.
Aku menatap jengah, pria ini marah tidak jelas, layaknya pria yang sedang cemburu. What? Jealous? Sepertinya itu tidak akan mungkin terjadi!
" Kau adalah milikku, tidak ada yang boleh memilikimu selain aku," Begitulah yang selalu Kai ucapkan padaku, sungguh aku merasa sudah tidak bisa menyembunyikan perasaanku lebih lama lagi.
" Apa kau benar-benar tidak menyukaiku? Tak memiliki perasaan apapun padaku?" Tanyaku untuk yang kesekian kalinya.
__ADS_1
" Aku sangat menyukaimu Baby, menyukai semua hal yang ada di tubuh seksimu ini, kenapa kau selalu bertanya seperti itu berulang-ulang! Tentang perasaan buang jauh-jauh perasaan cintamu itu! Aku tidak akan bisa membalasnya.!" Serunya sambil beranjak bangun dari tempat tidur.
Terkadang Bosku ini bersikap begitu manis dan hangat padaku, namun juga terkadang begitu dingin jika ia sudah sangat kesal, tapi entah mengapa aku tidak bisa pergi meninggalkannya, terlebih aku sudah tidak ingin kembali pada Kak Jull yang sudah membuatku begitu amat kecewa.
Sungguh hatiku terasa sakit setiap mendengar pernyataan itu, namun sebisa mungkin aku tegar, ini mungkin karena kesalahanku yang selalu mengambil keputusan tanpa berpikir panjang terlebih dahulu, sama seperti saat aku memutuskan meninggalkan tanah airku yang menyimpan banyak kenangan.
Kalau sudah seperti ini, aku sangat merindukan kedua orangtua kandungku dan juga Nenekku, semenjak kepergian mereka semua, hidupku memang terjamin. namun yang tidak aku dapatkan sekarang adalah dukungan dan juga perhatian yang lebih dari Mama dan Papa. Semenjak aku memutuskan menjalin hubungan dengan Kak Jull, semenjak itu pula Mama dan Papa lebih sering menghabiskan waktu mereka di luar negeri, tanpa memperhatikanku lagi.
Mereka bahkan juga jarang menghubungiku, aku jadi berpikir apa keputusan menjalin hubungan dengan Kak Jull adalah salah? Tetapi bukankah mereka sudah menyetujui hubungan ini? Dan di saat aku mengalami hal buruk itulah aku merasa sendirian di dunia ini, bahkan aku sempat mencoba mengirimkan pesan pada Mama, namun Mama hanya membalas singkat tanpa bertanya lebih.
" Apa aku harus pergi? Atau bertahan saja?!" Lirihku menahan sesak.
.
.
.
.tbc
Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..