
Kedua wanita itu yang tadinya begitu panik juga gelisah saat tidak menemukan keberadaan prianya dimanapun berada. Kini terlihat sudah lebih tenang. Mungkin bagi Vero ia sudah mengetahui jika suaminya pasti akan menghilang secara tiba-tiba entah itu kapan.
Namun sungguh ia tidak tahu jika suaminya akan pergi meninggalkannya secepat ini, yang tentunya ia belum siap untuk di tinggalkan begitu saja, terlebih dalam keadaannya yang tengah mengandung besar, hanya tinggal beberapa bulan lagi buah hatinya akan lahir ke dunia ini, namun sayang bayi yang belum terlahir itu tidak bisa bertemu dengan Daddy kandungnya.
Kenapa secepat ini kau pergi meninggalkan aku dan juga calon buah hatimu Kai? Seharusnya kau bisa menunggu sampai putri kita lahir dan kau bisa melihatnya walau cuma sebentar..
Lirih Vero di dalam hatinya, ia merasa tidak kuat jika harus berjuang seorang diri, terlebih dalam kondisinya yang seperti ini. Pasti ia membutuhkan seorang suami yang selalu ada di sampingnya, selalu menemaninya, namun sekarang suaminya justru sudah pergi kembali ke alamnya sendiri.
Tidak! Aku harus kuat, semua ini demi putriku." Sayang maafkan Mommy ya? Setelah ini kita harus berjuang berdua saja, agar Daddy di atas sana bisa tersenyum bahagia melihat kita yang terus semangat menatap masa depan." Seru Vero yang berusaha menyemangati calon buah hatinya yang berada di dalam perutnya.
Vero tidak sadar jika apa yang ia ucapkan dan ia rasakan tidaklah sama. Walau terdengar ia berusaha tersenyum saat berbicara dengan calon bayinya, namun berbeda dengan hatinya yang saat ini sedang menangis darah.
Namun berbeda dengan Glory yang memang tidak tahu apapun yang sebenarnya, tentang siapa sosok Aster yang sesungguhnya. Aster tentu saja tidak langsung percaya kepada sang kekasih yang notabene nya adalah sekretarisnya sendiri.
Walau wanita itu memang sudah lama menjadi bawahannya, akan tetapi Aster sangat tahu seperti apa sifat dari kekasihnya yang memang tidak pernah terlalu percaya kepada orang lain. Dan jika dirinya mengungkapkan statusnya yang sebenarnya kepada Glory, ia yakin Glory tidak akan bisa menerimanya tidak seperti Vero yang memang pada dasarnya ia adalah wanita yang unik.
" Vero! Aku akan pergi ke kantor sekarang, apa kau mau ikut?" Tanya Glory yang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Saat ini keduanya masih berada di unut Apartement milik Aster.
" Oh, iya aku akan ikut. Aku juga ingin bertemu dengan Erick." Sahut Vero sembari menghapus sisa-sisa air matanya di kedua pipi putihnya itu.
Glory sangat mengerti jika Vero baru saja selesai menangis, tidak berbeda jauh darinya yang memang masih terus menangisi kepergian dari kekasihnya itu, yang tiba-tiba menghilang tanpa berpamitan kepada dirinya.
Beberapa saat kemudian kedua wanita itu sudah sampai di perusahaan dimana para prianya ikut andil dalam membesarkan nama perusahaan tersebut.
" Permisi Ana, apa Mr Erick saat ini ada di ruangannya?" Tanya Glory kepada salah satu Resepsionis yang bekerja di depan sana.
" Oh Miss Glory maafkan saya. Dan sepertinya saat ini Mr Erick tidak ada di ruangannya Miss." Jawab wanita Resepsionis tersebut kepada keduanya.
__ADS_1
Walau ia merasa heran saat menatap wajah sembab wanita yang menjadi pasangan para bosnya itu, namun wanita tersebut nampak terdiam, tidak punya keberanian untuk hanya sekedar bertanya.
" Baiklah kalau begitu biar kami menunggunya di lantai atas saja." Putus Vero yang ingin menunggu sahabatnya itu di ruangan atas, atau ia bisa masuk ke dalam ruangan suaminya.
Akhirnya Glory dan Vero pun naik ke lantai paling atas sendiri, dimana ruangan para prianya berada. Begitu keluar dari ekskalator banyak karyawan yang menatap keduanya, banyak pula yang membicarakan mereka dengan saling bisik-bisik.
" Aku menunggu di ruangan Kailash saja ya." Ucap Vero yang akan melangkah masuk ke dalam ruangan yang tertutup rapat itu.
" Oh, ya baiklah. Aku juga akan masuk ke ruangan Aster." Sahut Glory yang juga sama memilih masuk ke dalam ruangan kekasihnya guna untuk mengurangi rasa gelisah juga paniknya. Keduanya pun berpisah menuju ke ruangan yang berbeda.
Begitu sampai di dalam ruangan Kai, Vero kembali mengeluarkan bulir kristal beningnya yang semakin lana semakin deras. Sungguh walau baru beberapa jam berpisah, ia sudah sangat merindukan suaminya itu.
" Sayang aku harus bagaimana sekarang? Aku takut...Aku takut tidak bisa membesarkan putri kita seorang diri nantinya." Lirih Vero dengan suara yang putus-putus karena sesenggukan.
Vero bahkan tidak menemukan apapun di ruangan ini. Apapun yang bisa membuatnya lega, namun tidak ada yang istimewa di dalam sini kecuali tumpukan berkas-berkas yang mungkin sudah lama berada di rak sudut ruangan.
" Maafkan aku yang tidak bisa memenuhi permintaanmu tadi. Jika tahu kau akan pergi secepat ini, aku pasti sudah memenuhinya." Sesal Vero sembari menelungkupkan separuh tubuhnya di atas meja. Untuk saat ini, menyesal pun tiada gunanya.
Di ruangan lain, tepatnya di ruangan Aster, Glory kembali menangis dengan kencang saat melihat setiap sudut di ruangan tersebut. Sebab banyak kenangan-kenangan indah yang ia dan Aster lakukan di dalam sini, terutama saat mereka sedang meneguk surganya dunia bersama.
" Aku sangat merindukanmu Baby. Aku tidak sanggub kau tinggalkan sendiri." Lirih Glory dengan berderai air mata.
Rasanya separuh jiwanya ikut menghilang di bawa pergi oleh kekasihnya itu. Lalu ia berjalan menuju ke arah ruang rahasia dimana ada sebuah kamar yang kadang menjadi tempat mereka untuk memadu kasih hingga menguras habis seluruh tenaga mereka.
Gloly langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang berukuran tidak terlalu besar itu, tubuhnya meringkuk menahan rasa kesedihan yamg entah sampai kapan ini semua akan berlalu.
" *Kau lihat mereka? Aku sungguh tidak sanggup melihat kekasihku BruV."
__ADS_1
" Ya aku sangat paham itu, namun kita juga tidak bisa berbuat apapun lagi. Jadi biarkan mereka seperti ini dulu, pasti semua akan cepat berlalu*.."
****
Di belahan bumi lain, tepatnya di Mansion Prayoga juga tak kalah jauh berbeda dengan apa yang Vero dan Glory rasakan. Namun bedanya orang itu masih bisa sedikit tenang mengingat dirinya adalah seorang pria.
Ya Jullio juga di tengah landa rasa kehilangan yang amar begitu dalam. Wanita yang menjadi istrinya itu menghilang di hadapannya secara tiba-tiba pada saat wanita itu selesai memberi asi putra mereka.
Sungguh itu semua seperti mimpi bagi Jullio. Terlebih ia masih tidak percaya dengan adanya makhluk lain yang tinggal di luar bumi selain manusia. Apalagi mengingat penjelasan Quila sebelum menghilang, wanita itu mengatakan jika dirinya bukanlah manusia biasa, tepatnya dia adalah makhluk dari salah satu bintang yang ada di atas sana.
Walau pada awalnya Jull merasa itu semua hanyalah bualan semata, namun begitu ia melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang istrinta itu lakukan di hadapannya, ia menjadi sedikit percaya dan yakin jika wanita yang menjadi istrinya itu memanglah bukan manusia pada umumnya.
Dan kini ia sedang memikirkan nasib Adiknya Vero. Ya tadi Quila juga sempat mengatakan jika pria yang bersama dengan Adiknya itu adalah makhluk spesies yang sama dengan dirinya, jika ia menghilang, otomatis pria yang bersama dengan Vero juga akan menghilang.
" Aku harus menjemputnya, sekarang." Ucapnya pada dirinya sendiri." Tunggu aku sayang." Lirihnya sembari bersiap-siap untuk keluar dari kamar.
.
.
.
.tbc
Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷
Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..
__ADS_1