
Semua ingatan di masa lalu masih terngiang di dalam ingatan Vero hingga detik ini, rasa penyesalan yang amat sangat dalam ia rasakan, seolah hanya sia-sia saja perjuangan mereka berdua yang dulu untuk mendapatkan restu dari kedua orangtua mereka.
Ya mungkin inilah yang di maksud oleh sang Mama jika suatu hari nanti pasti keduanya akan merasakan penyesalan yang besar sebab sebagai bentuk kekecewaan dari kedua orangtua mereka waktu itu.
Jika begini pada akhirnya, pasti ia tidak akan memancing Kakaknya. Inilah yang membuat seorang Vero sangat menyesal sudah menuruti ego dan keinginan dari Kakaknya itu. Jika saja saat itu ia menolak dan segera pergi dari rumah pasti semua ini tidak akan terjadi pada mereka semua.
Terlebih ia sangat merasa bersalah dan merasa berdosa telah menyakiti hati dan perasaan Mamanya yang selama ini sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Namun apa balasan yang ia berikan untuknya, hanya rasa sakit dan kecewa. Dan inilah balasan yang pantas ia terima, semua orang menjauhi dirinya.
Vero yang merasa letih setiap malam sebelum tidur ia hanya bisa menangis, meratapi kehidupannya dan juga keluarga yang sudah menganggapnya sebagai keluarga kandung mereka. Malam ini sepertinya adalah malam puncaknya ia menahan rasa sesak di d**anya. Mama dan Papa hingga sekarang tidak lagi menghubunginya, jangankan saling berkomunikasi, hanya sekedar memberi kabar saja mereka sudah putus hubungan sejak kedua putra dan putri mereka bersikeras meminta restunya.
Namun Vero masih sering berkomunikasi dengan Papanya secara diam-diam, yang memang terlihat merestui hubungan keduanya, namun tidak dengan sang Mama yang masih sangat-sangat kecewa dengan keputusan kedua anaknya yang tidak sejalan dengan apa yang ia impikan selama ini.
Vero sudah sering mencoba menghubungi sang Mama terus mencoba walau ia tahu nomor tersebut jarang aktif, lalu ia juga mengirim pesan kepada sang Mama, walau pesannya juga tidak pernah di balas. Jangankan untuk di balas di lihat saja rasanya tidak, terlihat di ponsel pesan tersebut hanya centang dua, tetapi tidak berubah warna sebagai petunjuk jika pesan sudah terbaca oleh penerima. Membuat Vero semakin berteriak marah pada dirinya sendiri.
Dan sudah hampir satu minggu ini Vero memilih menghindari bos mesumnya tersebut, siapa lagi jika bukan Kai. Pria itu pun sibuk dengan urusannya sendiri hingga terlihat seperti menghindari Vero, walaupun tidak ada niat seperti itu namun kehadiran seseorang mampu mengalihkan sejenak perhatiannya pada Vero gadis yang sudah ia klaim menjadi mliknya.
" Aah, si4l! Kenapa bisa dia bersama dengan pria itu!" Desah Kai dengan kasar sembari meneguk minuman alkohol yang sedang ia konsumsi langsung dari botolnya, entah sudah berapa banyak botol yang berserakan di lantai panthouse miliknya. Namun Kai sama sekali belum merasakan mabuk, ini sungguh menyiksanya, tubuhnya bahkan sudah berputar-putar kesana kemari tak tentu arah.
" Hentikan BruV, akan percuma saja jika kau hanya akan mabuk-mabukan seperti itu." Celetuk Aster yang sedang duduk di sofa sambil memandang tubuh sahabatnya itu yang sedang melayang-layang di udara.
Pranggg...
__ADS_1
" Aaarrgghhh,, si4l! Mereka sudah melakukannya beberapa kali, bahkan di negara pria itu juga!" Pekik Kai kesal sembari melempar botol kosong itu ke arah dinding yang jauh dari mereka. Hingga menimbulkan suara pecahan kaca yang keras, hingga semuanya berserakan di lantai.
" Lalu apa bedanya kau dan dia? Bahkan kau jauh lebih parah daripada pria bumi itu BruV. Kau sudah mendapatkan wanita yang kau inginkan bukan? Jadi biarkan saja dia mendapatkan wanita itu, bukankah kalian sudah sangat lama tidak melakukannya, bisa saja telah tumbuh penghuni bumi di dalam rahimnya." Sahut Aster begitu tenang dan mencoba memberikan penjelasan yang logiga kepada sahabatnya itu.
" Apa kau bilang? Penghuni bumi apa maksudmu?" Desis Kai tidak terima, ia bahkan sudah ada di hadapan Aster menatapnya tajam.
Bukannya takut, Aster justru tertawa terbahak. " Kau tidak bodoh, jika putri kita menginginkan hal itu, apa yang tidak mungkin pasti terjadi. Dan lebih baik kau pun juga sama, menanamkan bibit unggul Alien kita ke dalam rahim wanitamu itu." Cetus Aster memberikan ide.
Dengan sangat santainya Aster berkata seperti itu pada Kai, tanpa memikirkan perasaan sahabatnya yang tengah di landa kecemburuan yang sangat besar pada seseorang di masa lampaunya yang kini baru ia ketahui keberadaannya yang ternyata menyusulnya di sudut bumi yang pernah ia kunjungi dulu.
" Persetan dengan wanita itu!"
Kai yang sudah hampir tidak waras dan tak terkendali lagi, langsung membuka salah satu pintu yang ada di dekatnya, hingga sedetik kemudian ia sudah berpindah tempat di dalam sebuah ruangan tamaram yang sering ia datangi bahkan setiap malam.
" Euumm.." Lenguh suara wanita yang tengah ia tindih dan ia cumbui itu, membuat hasratnya semakin menggebu-gebu. Kai yang sudah siap dengan antenanya yang sudah tegang, gagah berani itu dengan segera menenggelamkannya ke dalam sesuatu yang sudah basah dan siap untuk di tanami dengan benih unggulnya.
" Oohh,, Kau selalu membuatku hilang akal Baby." Racaunya di sela-sela aksi panasnya yang terus melancarkan kegiatan kesenangannya itu dengan Vero. Sedangkan Vero sendiri, antara sadar dan juga tidak sadar ia merasakan sesuatu yang membuatnya semakin melayang jauh.
***
__ADS_1
Di belahan bumi lain pun tak kalah panas dengan kegiatan yang di lakukan oleh Kai dan Vero. Namun perbedaannya sang wanitanya ini yang dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya bahkan sangat kelihatan sekali dirinya yang seolah-olah menginginkan penyatuan tersebut, ya anggap saja dewi sang pemburu, sama halnya seperti Kailash, ya siapa lagi jika bukan Aquila kekasih Kai itu.
Terbukti satu minggu sejak mereka menginjakkan kaki di negara ini. Quila yang terus saja mendominasi permainan mereka, bahkan keduanya tidak pernah absen untuk melakukan kegiatan panas mereka setiap malam, bahkan di saat Jull pergi ke kantor pun kadang juga mengajak serta Quila bersamanya.
Bagi pria yang baru pertama kalinya merasakan nikmatnya surga dunia seperti itu, pasti rasanya seakan ketagihan yang tidak akan ada abisnya. Sehingga kini membuat pria yang sekaligus merasakan patah hati itu seakan merasakan candu yang tidak berkesudahan.
Bagi Jull saat ini Adiknya Vero sudah menjalani kehidupannya di luar sana dengan pria lain yang terlihat begitu menyayangi dirinya. Dia sadar di saat Adiknya itu membutuhkan seseorang untuk menemani dan mendukungnya, seharusnya dirinyalah yang setia menemaninya memberikan dukungan dan kekuatan pada Adik yang berubah status menjadi calon istrinya pada waktu itu, namun ia seperti pria yang pecundang juga pengecut, ya Jull akui itu.
" Faster Baby. Aaahh,, yes.. I'll be out soon." Lenguh Jull yang merasa tubuhnya menegang, pusaka beruratnya pun semakin membesar dan juga sudah siap akan memuntahkan lahar panasnya ke dalam rahim Quila.
Quila pun pasrah menerimanya dengan senang hati, " Together." Lenguhnya tertahan dengan rasa yang sulit untuk di utarakan begitu keduanya meledak secara bersamaan, hingga tubuh keduanya pun melemas seketika saling merapatkan kedua tubuh yang tengah kelelahan akibat pertempuran panas mereka yang memakan beberapa jam lamanya.
Tenaga Jull seakan tidak pernah letih sama sekali jika sudah melakukan kegiatan rutin di atas ranjangnya bersama wanita yang ia klaim menjadi miliknya itu. Hingga keduanya terlelap dengan tubuh masih sama-sama polos dan saling berpelukan erat seakan tak ingin di pisahkan. Jull sudah berniat akan menikahi Quila, yang tentunya kedua orangtuanya pasti akan menyetujui hubungannya kali ini bersama Quila.
.
.
.
.tbc
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷
Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..