
Beberapa minggu kemudian..
Dunia ini layaknya bayangan. Jika kau berusaha menangkapnya, ia akan lari. Namun, jika kau membelakanginya, ia tak punya pilihan selain mengikutimu.
Begitulah yang selalu Vero pikirkan akhir-akhir ini. Di saat keluarga besar Prayoga tengah berbahagia atas kelahiran cucu pertama laki-laki di keluarga mereka. Berbeda pula dengan apa yang tengah di rasakan oleh Vero di saat melihat kondisi suaminya semakin drop saja setiap hari.
" Sayang kau yakin tidak ingin pergi ke rumah sakit? Aku mohon sekali saja dengarkan permintaanku kali ini, aku tidak ingin kau kenapa-kenapa." Seru Vero untuk yang kesekian kalinya mengajak suaminya itu untuk di bawa ke Dokter, namun Kai tetap keukeh pada pendiriannya untuk tidak pergi kemanapun, dan hanya ingin di samping istri tercintanya.
" Itu tidak perlu. Dokter manapun pasti juga tidak akan bisa menyembuhkan sakitku ini sayang, dan aku hanya ingin berduaan saja denganmu. Sini aku ingin mengobrol dengan putri kita." Sahut Kai dengan nada yang terdengar begitu lemah. Namun ia berusaha kuat agar tidak membuat istrinya itu khawatir juga kepikiran.
" Sepertinya dia tengah tertidur, kenapa kau begitu yakin sekali jika dia adalah perempuan?" Tanya Vero yang lagi-lagi protes, sebenarnya bukan kali pertama suaminya itu terus saja memanggil calon buah hati mereka dengan putriku.
" Apa kau meragukanku sayang?" Lirih Kai dengan tersenyum, ia tidak ingin berdebat kecil kali ini dengan istrinya. Ia merasa waktunya tidak akan lama lagi, entah berapa jam atau menit lagi tubuh ini masih terlihat oleh manusia.
Sebab Kai merasa kakinya mulai tidak terasa hingga sampai ke kedua lututnya. Mencoba terus kuat dan tersnyum perlahan ia mengusap lembut perut buncit istrinya yang semakin hari semakin bulat saja. Ia terlalu gemas ingin terus bisa melihat buah hatinya yang sepanjang hari terus terlelap di dalam sana.
" Sayang,, cintanya Daddy. Daddy sangat merindukanmu sayang.." Kai terus saja berusaha berinteraksi dengan putrinya di dalam sana yang padahal belum bisa menjawab apapun, namun ia terlalu bersemangat juga tidak ingin melewatkan waktunya yang mungkin ini adalah untuk terakhir kalinya ia bisa melakukan hal yang baginya tidak mungkin terulang kembali." Apa? Kau ingin bertemu dengan Daddy? Sekarang?" Bisik Kai yang seolah sedang menggoda istrinya, sungguh ia sangat merindukan berada di dalam tubuh istrinya saat ini, namun apalah daya, jangankan untuk berc*nta, bangun saja rasanya ia tidak sanggup lagi.
Mendengar bualan dari suami musumnya itu, membuat Vero spontan memukul pelan lengan Kai, yang membuat Kai mengaduh pura-pura kwsakitan." Aduh kok Daddy di pukul sih Mommy? " Rengek Kai yang sengaja ingin bermanja-manja terhadap istri cantiknya.
" Isshhh, sudah cukup. Bicara apa tadi! Tidak ingat dengan kondisinya yang sepertu itu! Bisa-bisanya masih memikirkan juniornya!" Gerutu Vero pelan, namun tetap saja Kai masih bisa mendengarnya.
Vero sendiri juga sangat merindukan sentuhan dari suaminya itu yang memang sudah beberapa minggu ini mereka sudah tidak pernah lagi melakukan hubungan selayaknya suami istri.
__ADS_1
" Tentu saja sayang. Itu hal yang sangat penting bagi seorang pria, aku bisa sakit kepala atas dan juga bawah. Kau tenang saja aku tidak akan meminta memasukimu. Aku hanya ingin kau memberikan aku ciuman terpanas yang belum pernah kau berikan pada suamimu ini." Pinta Kai yang terdengar sebagai perintah yang tak ingin di di bantah.
Karena Vero tak kunjung menjawab dan juga masih terdiam, akhirnya Kai berinisiatif menarik pelan tangan Vero, membuat istrinya itu pun terjatuh di atas tubuhnya. Detik berikutnya Kai langsung menstempelkan bibirnya di atas permukaan bibir istrinya. Keduanya berciuman begitu mesra juga terasa panas.
Hingga beberapa saat kemudian Kai menarik dirinya lalu menatap wajah cantik yang akan ia kenang selamanya. " Aku sangat mencintaimu sayang, aku—
Ucapan Kai tiba-tiba saja terhenti bersamaan itu pula dengan raut wajah Vero yang berubah tegang dan juga berubah sangat panik. Sebab sosok suaminya langsung menghilang dari pandangannya begitu saja, tanpa ada kata perpisahan terlebih dahulu.
" SAYAANGG,,, SAAAYAANGG,, KAILASH,, KAMU DIMANAAA??? " Teriak Vero begitu kencangnya dengan berderai air mata, ia bahkan langsung berjalan keluar kamar guna mencari suaminya yang mungkin saja berpindah ke ruangan lain di dalam Penthouse ini.
" KAILASH,, KAMU DIMANA?? Kenapa kau tidak mengatakan hal apapun padaku.?" Lanjut Vero masih terus membuka semua ruangan berharap suaminya di temukan.
Ya sebulan yang lalu Kai sudah mengatakan hal yang sebenarnya terjadi pada dirinya kepada sang istri bahwa waktunya tinggal di bumi tidak lama lagi. Semua penuh dengan pertimbangan yang matang juga, ya walau pada awalnya Vero tidak terima dan menangis histeris selama berhari-hari lamanya, namun pria itu selalu berusaha memberikan pengertian kepada Vero. Terus menyemangati istrinya agar terus semangat menjalani kehidupan ini kedepannya walau dengan atau tanpa dirinya di sisi wanita itu nantinya.
Sebab dari awal ia sudah terlanjur jujur kepada wanita yang telah ia nikahi hampir satu tahun ini, dan ia sebenarnya juga sedih tidak bisa menemani istrinya hingga sampai mereka tua nantu, atau bahkan jika saja ia bisa meminta kepada sang pencipta agar dirinya di ijinkan untuk menemani istrinya hingga Vero selesai melahirkan buah hati mereka kedunia ini.
Namun apalah daya, sepertinya masanya sudah habis untuk tinggal di muka bumi ini. Dan jujur itu bukanlah keinginan dari dirinya. Kai bahkan tidak tahu bagaimana nasib sahabatnya Aster dan juga Lala-nya wanita yang masih berstatus sebagai tunangannya itu yang kemungkinan besar keduanya juga tengah merasakan hal yang sama seperti dirinya saat ini.
Apakah ia merasa senang akan bertemu kembali dengan wanitanya itu? Jawabannya tentu saja ia sangat senang, namun terlepas dari semua itu, ia tetap mempunyai rasa andil yang jauh lebih besar kepada wanita yang ada di hadapannya, terlebih ada buah hatinya, buah cintanya dengan Vero yang sudah tumbuh di dalam rahim istrinya.
Tidak hanya Kai, Aster pun merasakan hal yang sama. Pria itu hanya bisa berbaring di atas ranjang empuknya, dengan setia pula Glory sang kekasih selalu menemani Bos tampannya itu.
" Sayang aku ke dapur sebentar ambil minum." Pamit Glory yang langsung di angguki oleh Aster. Ia pun beranjak bangun dan berjalan keluar menuju ke dapur.
__ADS_1
Tak berselang lama wanita itu sudah kembali masuk ke dalam kamar Bosnya. Namun sayang sosok Aster tidak ada lagi di atas ranjang besar itu." BABY, KAU DIMANAA?? ASTER!!" Teriak Glory yang berjalan ke arah kamar mandi, namun pria itu tidak ada disana.
"ASTEERR.." Teriak Glory frustasi dengan suara kencangnya menggema di seluruh ruangan Apartement ini. Dan disaat bersamaan terdengar bunyi bel pintu depan, tanpa berpikir lagi Glory segera berjalan ke arah depan dan membuka pintu dengan cepat.
Begitu pintu besi itu terbuka, berdirilah seorang wanita berperut buncit yang terlihat juga sedang gelisah sama seperti dirinya. " Glory dimana Aster sekarang?" Tanya wanita itu panik yang tidak lain adalah Vero yang nekat keluar untuk mencari suaminya.
" Aster tidak ada di dalam. Justru aku juga sedang mencarinya saat ini. Apa dia sedang di atas bersama suamimu?" Tanya Glory balik yang mengira kekasihnya itu pergi ke tempat sahabatnya di lantai atas.
" Tidak ada. Suamiku juga tidak ada." Jawab Vero yang kembali mengeluarkan kristal beningnya.
" A-apa!?"
.
.
.
.tbc
Detik-detik ya, mungkin beberapa bab lagi Novel ini akan tamat.
Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..