
Kai_PoV
*
Aku sudah lebih dulu naik ke atas ranjang, meninggalkan istriku yang masih saja asik melukis wajah dan duduk di depan meja riasnya. Entah apalagi yang masih ingin di poles di wajah cantik itu, nyatanya Vero masih terus ingin memberikan sentuhan lembut dengan kuas kecilnya.
Aku menatap dalam ke arah istri manusiaku, aku terlalu berpikir jauh beberapa hari ini. Terlebih aku seperti mempunyai firasat yang buruk setelah aku tidak bisa memegang gelas minum waktu itu. Namun tak hanya diriku saja yang merasa janggal, Aster pun ikut merasakan hal yang sama denganku. Bahkan Aster lebih parah dariku.
Bisa-bisanya saat dia sedang panas-panasnya memacu permainan panasnya dengan sang sekretaris seksinya. Antenanya tiba-tiba menghilang dari tubuhnya, konyol sekali bukan! Glory sang sekretaris yang merasakan keanehan langsung menatap protes ke arah pria yang berada di atasnya tersebut.
Alhasil wanita yang menjadi kekasihnya itu, merajuk sebab acara olah raga panas mereka harus berhenti di tengah jalan, bahkan keduanya belum merasakan nikmat kepuasan apapun. Nyatanya hanya raut kebingungan yang Aster berikan, membuat Glory kesal hingga mendorong tubuh Aster ke samping, dan beranjak pergi dari hadapan sang Bos dengan hati yang amat sangat dongkol, namun ia berhasil mencekalnya. Dan demi mengurangi rasa kesal kekasihnya itu, akhirnya Aster berinisiatif memberikan servise ampuhnya yang lain dan mampu membuat Glory menjerit meneriaki namanya.
Benar-benar lucu, jika mengingat cerita dari Aster, selalu berhasil membuatku tertawa lepas. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika itu adalah aku. Membayangkan saja sedikit bergedik, saat senjata ampuh milikku itu tiba-tiba menghilang begitu saja. Bahkan sebelumnya tidak terjadi apapun dengan mereka berdua, semua terlihat baik-baik saja setelah mereka saling memberi pemanasan.
Sungguh kejadian demi kejadian membuat kami merasakan keanehan, jika aku yang berada di posisi Aster saat itu, bisa hilang wajah tampanku. Tak berselang lama pandanganku kembali menatap istriku yang masih sibuk disana, aku merasakan keanehan yang terjadi pada Vero akhir-akhir ini.
" Sayang, kau ingin pergi tidur ataukah jalan-jalan? Kenapa harus berhias diri berlebihan seperti itu?" Gerutuku yang melirik sedikit kesal ke arahnya.
" Aku berhias juga untuk suamiku sendiri, kenapa, kau tidak suka?" Keluhnya dengan sedikit kecewa, mungkin usahanya agar bisa membuatku senang ternyata tidak di hargai oleh suaminya sendiri yaitu aku, namun penampilannya yang seperti itu justru sama sekali tidak au harapkan, aku suka dia apa adanya. tidak perlu berlebihan. Namun demi membuatnya senang aku pun tersenyum senang.
" Tentu saja aku sangat senang sayang. Tapi tidak seperti biasanya kau suka berdandan akhir-akhir ini. Cepatlah sedikit, kau akan membuatku menunggu berapa lama lagi?" Pintaku yang ingin segera memeluk tubuh seksinya itu.
__ADS_1
Ku rebahkan tubuhku sembari melirik lagi istriku, sepertinya ia sendiri juga merasa bingung dengan perubahan yang ia lakukan, sesuatu yang bahkan tak pernah ia lakukan dulu. Ia hanya berhias diri ala kadarnya saja, tidak suka berlebihan juga. Namun saat ini ia justru senang menghias wajah cantiknya dengan polesan dari berbagai merk kosmetik dari brand ternama di negara sana.
Tak lama istriku mendekatiku, bukannya segera merebahkan tubuhnya di sampingku, ia justru seolah sedang menggodaku dengan cara mengukung tubuhku." Kau mau apa sayang?" Tatapan kami saling mengunci.
" Mau apa lagi?" Bisiknya seraya memdekatkan wajahnya semakin mengikis wajah kami.
Kenapa jika dia bersikap seperti ini, justru aku merasa sedikit takut. Ini jelas bukan Vero biasanya." Ke-kenapa kau bersikap begini sayang? Ada apammpp—
Ucapanku langsung terhenti seiring bibir tipisku yang di bungkam oleh ciuman mautnya. Vero menciumku dengan penuh penghayatan, perlahan aku mulai terbuai oleh ciumannya yang selalu membuatku candu, kami pun saling menglum*t juga menyesap rasa masing-masing.
Ciuman kami pun berubah menjadi panas dan menuntut, kedua tanganku mulai bergerak untuk melelepaskan pakaian tidur tipisnya, dalam sekali hentakan kain itu sudah lolos dari tubuhnya, kini aku berusaha melepaskan pakaianku sendiri yang di bantu oleh istriku.
Kami kembali saling berc*mbu mesra, tak lama ciumanku semakin turun dan menyesap bergantian dua bukit kembarnya yang selalu menantangku untuk segera di puaskan.
" Baiklah sayang." Aku segera mengangkat tubuhnya, kami dalam keadaan sama-sama polos. Ku himpit tubuhnya ke dinding masih dalam gendonganku, dalam sekali hentakan tubuh kami mulai menyatu sempurna membuat kami sama-sama melenguh nikmat.
Sembari bergerak aku mengangkat tubuhnya di udara, kami bercinta dalam keadaan melayang-layang di ruangan kamar ini. Jangan pernah kalian membayangkannya, ataupun mencobanya, karena pasti kalian tidak akan pernah berhasil.
Tubuh kami saling meliuk di udara, berbagai gaya bercint4 telah kami lakukan. Bahkan istriku Vero sudah mencapai puncaknya untuk kesekian kalinya, sedangkan aku belum sama sekali, namun sebentar lagi sepertinya aku akan sampai, sebab aku merasa antenaku berkedut siap menggetarkan rahim hangat istriku.
" Aku sampai sayang..ouugghhh!" Lenguhku dengan secara bersamaan mengeluarkan benih unggul Alienku ke dalam rahim istriku, dengan penuh harapan jika benihku akan cepat menjadi seorang bayi-bayi lucu keturunanku. Namun saat masih merasakan kenikmatan ini, kami beruda terhenyak saat hal tak terduga terjadi.
__ADS_1
Bagaimana tidak! Tubuh kami yang masih menyatu tiba-tiba terjatuh ke bawah, aku dengan cepat mengankat tubuh Vero ke atas, sehingga tubuhku-lah yang mencium lantai dingin itu. Beruntung tepat di bawah kami adalah karpet berbulu sehingga tubuhku tidak terlalu sakit, walau pada dasarnya aku pasti tidak akan merasakan sakitnya.
" Maaf sayang, semua di luar kendaliku?" Sesalku membantunya berdiri dan akan membantunya naik ke ranjang kami, namun ia menahan gerakanku.
" Aku ingin ke kamar mandi." Pintanya, aku pun segera membawanya kesana, bahkan membantunya membasuh miliknya yang bengkak akibat ulah antenaku tadi. Tak lama kami berdua keluar setelah selesai bersih-bersih diri sebentar.
" Cepatlah tidur, ini sudah malam sayang." Kubantu menyelimuti tubuhnya yang sudah ku pakaikan kembali pakaian tidurnya juga.
" Iya, tapi peluk ya..." Rengeknya, yang entah mengapa aku merasa ia semakin manja akhir-akhir ini. Tak ingin ia memikirkan hal lain, aku ikut merebahkan diri dan segera menariknya ke dalam pelukanku.
" Sekarang tidurlah, pejamkan matamu sayang." Titahku, hingga tak lama kemudian aku mendengar napas teratur dari istriku, pertanda ia sudah terlelap. Kupandangi dengan seksama wajah cantiknya, entah sampai kapan aku bisa menatap wajahnya sedekat ini?
Jika nanti aku tak ada lagi di sampingmu, dan telah pergi dari muka bumi ini. Aku akan datang kepadamu sebagai hujan dan aku juga akan datang menghampirimu sebagai salju pertama. Tetapi sejujurnya aku sangat berat berpisah denganmu sayang...
.
.
.tbc
Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..