
PoV_Vero
Di sepanjang perjalanan menuju ke rumah, kami sama-sama terdiam, Kak Jull yang fokus mengemudi dan menatap lurus ke depan, sedangkan aku menatap ke arah jendela mobil sampingku sambil berpikir mencari alasan jika Mama tiba-tiba bertanya padaku mengenai kenapa tidak pulang tadi malam?
Tiba-tiba Kak Jull bertanya padaku, " Kau itu tidak di larang berhubungan dengan siapapun, tapi tidak dengan menghancurkan dirimu sendiri Vero." Ujarnya menasehatiku.
" Memang Kakak tidak pernah mencintai seseorang begitu sangat dalam?" Tanyaku memancingnya.
" Hah,,! Kenapa jadi bertanya tentang Kakak. Kakak hanya tidak mau kau terlalu mencintai seorang pria dengan cara bersikap bodoh seperti tadi malam. Dunia orang dewasa itu lebih banyak menyakitkan, kau masih muda jalanmu masih panjang Vero. jangan menangis bodoh hanya karena seorang pria! " Aku hanya terdiam, lagi-lagi dia menasehatiku, juga mengumpatiku.
Berulang kali aku dikatakan bodoh oleh pria yang aku cintai ini, ya memang aku akui, aku terlalu bodoh mencintai pria yang sama bodohnya hingga ia buta. Dan yang membuatku bodoh lagi bisa-bisanya menyetujui ide gil4 dari Nina, agar Kak Jull tidak melihatku sebagai anak kecil lagi. Bukannya di anggap sudah dewasa justru aku bersikap kekanak-kanakan tadi malam. Oh God!
" Kakak jadi bertunangan minggu ini dengan Nella?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan. " Kenapa sih harus dengan Nella!" Gerutuku pelan sekali agar Kak Jull tidak bisa mendengarnya, tetapi ternyata Kak Jull mendengarnya.
" Kenapa?" Beonya sambil menatapku sekilas, lalu kembali fokus menatap ke depan.
" Iya kenapa? Aku hanya ingin tahu, apa yang membuat Kakak memilihnya? Sehingga setuju menikah dengannya! Apa dia mempunyai kelebihan khusus yang aku_eh maksudnya wanita lain tidak punya?" Tanyaku, hampir saja keceplosan bicara, dasar mulut ini!
" Memang kenapa, kau tidak setuju?" Tanyanya.
Jelas saja aku orang terdepan yang tidak setuju Kak.
Aku hanya bisa menjawabnya di dalam hati, karena pasti hanya sia-sia jika aku menyeruakan pendapatku ini.
" Kau pasti tahu Nella wanita baik, mandiri, dia juga wanita yang smart, dan yang pasti Kakakmu ini mencintainya Vero. " Jelasnya.
Tetapi tidak perlu di perjelas juga, kata-kata terakhirmu itu telah menyakitiku Kak, tanpa kau sadari. Jeritku dalam hati
Tetapi kata-kata itu terus saja terngiang jelas di telingaku, hingga terasa menamparku, jika aku ini hanya bisa mencintai pria yang mencintai wanita lain, kenyataan ini adalah nyata, dan aku harus sadar itu, tidak boleh terus-terusan terobsesi padanya, rasanya d**aku terasa sesak sekali.
__ADS_1
Kini aku akan berusaha kuat dan belajar move on, seharusnya itu yang aku lakukan sebelum melakukan hal konyol dan bodoh tadi malam, ya aku harus bertekad demi utuhnya hubungan sebuah keluarga yang sudah aku jalani selama ini.
Aku akui Nella memang wanita mandiri, pintar, sukses dalam berkarir terbukti ia bisa memegang perusahaan milik keluarganya sendiri, sedangkan aku hanya bocah ingusan yang baru saja lulus sekolah, bahkan belum merasakan bangku perkuliahan itu seperti apa, jadi aku harus bagaimana?
" Ya semoga pertunangan Kakak berjalan dengan lancar." Hanya itu yang bisa aku ucapkan saat ini, terlepas rasa sakit yang terus saja menyiksaku.
" Hmm, dan kuharap kau pun akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari b*******n itu." Serunya lagi memberi petuah, sebelum mematikan mesin mobilnya.
Ya, aku juga berharap demikian, aku bisa menemukan pria yang jauh lebih dar segalanya darimu Kak!
Kenapa aku merasa kami seperti tengah berbicara perpisahan, lebih tepatnya lagi cinta yang tidak bisa bersatu dan saling mengalah. Apa Kak Jull...? Eh, mana mungkin, tetapi jika itu benar, bukankah cintaku tidak bertepuk sebelah tangan? Tetapi aku tidak boleh senang dulu, nyatanya tadi malam saat aku menyatakan perasaanku padanya, ia tidak meresponnya, atau mungkin memang dia tidak peka! Dasar!
Aku baru ingat apa yang aku lakukan tadi malam pada Kakak, terlebih aku juga mengingatnya apa saja yang aku katakan padanya, untung saja aku tidak sampai keceplosan menyebutkan namanya. Bisa hancur aku.
Aku lebih dulu turun dari mobil berjalan memasuki rumah kedua orangtua kami, baru saja akan melangkah masuk ke teras rumah , ternyata Papa dan Mama tengah ada di depan pintu, mungkin Mama akan mengantar Papa yang akan berangkat ke kantor.
" Vero, akhirnya kau pulang nak, Mamamu mencarimu dari semalam, masuklah. Papa pergi dulu." Pamitnya yang juga mengecup puncak kepalaku dan mengusapnya.
Namun belum sempat aku menjawab perkataan Papa, suara Mama lebih dulu mengudara di sana, hingga Papa pergi melewatiku.
" Astaga Vero! Kenapa baru pulang, kau dari mana saja? Kau tahu Mama sangat mengkhawatirkanmu sayang." Pekik Mama begitu melihat anak perempuannya ini baru saja tiba di rumah.
Berlebihan sekali Mamaku. Bukankah seharusnya aku bersyukur mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari mereka berdua selama ini? Akan tetapi aku justru akan membuat mereka berdua kecewa jika sampai aku memperjuangkan perasaanku pada putra mereka.
" Vero menginap di Apartemen Jull Ma tadi malam." Seru Kak Jull, yang tiba-tiba muncul di belakangku, berjalan merangkulku mengajak masuk ke dalam rumah.
" Ahh, jadi begitu. Kenapa kau tidak menghubungi Mama Jull." Mama berjalan mengikuti kami dari belakang.
" Maaf Jull lupa Ma, karena banyak sekali pekerjaan yang Jull kerjakan tadi malam." Jawabnya sambil melirikku, dan mengajakku terus melangkah.
__ADS_1
Pekerjaan banyak konon! Oh, tidak! Pasti dia sibuk menenangkanku yang menggil4 tadi malam dan semua pun karenaku.
" Kalian membuat Mamamu ini khawatir saja. Ayo kita makan bersama." Ajak Mama mengiri lahkah kami berdua.
" Kami sudah makan Ma sebelum pulang tadi." Masih Kak Jull yang menjawab, sedangkan aku hanya terdiam menunduk sesekali menatap Mama.
" Baiklah kalau begitu pergilah bersihkan diri kalian." Titahnya.
Akhirnya Kak Jull mengajakku menaiki anak tangga ke lantai atas, " Kau masih bisa selamat hari ini dari amukan Mama, tapi Kakak tidak yakin kau akan selamat jika sampai kau melakukan hal memalukan itu lagi, mengerti!" Bisiknya tepat di dekat telingaku. membuatku sedikit bergedik.
Aku hanya bisa mengangguk pasrah, layaknya anak kucing yang patuh pada induknya. Eittss, bukan induk. Tetapi pria ini adalah pawangnya, ya pawang cintaku. Walau tadi berniat akan melupakan Kak Jull, nyatanya aku tidak bisa membuang seluruh rasa yang sudah mendarah daging di hati ini.
Setelah sampai di lantai atas aku melepaskan rangkulannya di pinggangku dan langsung bergegas masuk ke dalam kamar, lalu menguncinya. Kak Jull yang tadinya ingin ikut masuk ke dalam kamarku pun tidak jadi, pasti ia kembali kesal, terserah saja aku tidak mau tahu!
Aku menjatuhkan tubuhku di atas ranjang empuk, menatap langit-langit kamar, kedua netra memejam, tetapi nyatanya aku justru teringat sesuatu, masih saja terngiang saat Kak Jull membandingkan si Nenel itu denganku Adiknya sendiri. Adik yang manja, bodoh, anak Mama, entah apalagi yang melekat pada diriku yang terlihat tidak pantas jika di sandingkan dengan Kakak tampanku itu.
Tidak! Aku pasti bisa lebih baik dari dia Kak, persetan dengan Nella!!
.
.
.
.tbc
Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷
Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..
__ADS_1