
Jullio_PoV
Aku turun dari mobil dan segera menyusul Vero yang sudah lebih dulu berjalan menjauh dimana Papa, Mama dan rombongan sudah menunggu kami. Sementara Vero berhenti di samping Mama, aku berjalan lebih maju lagi dan melihat semua keluarga Nella sudah ada di depan teras siap menyambut kedatangan kami.
" Selamat malam semuanya." Sapaku sembari menyalimi kedua orangtua Nella yang menyambutku dengan tersenyum bahagia.
" Sudah-sudah ayo masuk Jull, ajak semuanya." Titah calon Papa mertua padaku, aku hanya mengangguk menoleh ke belakang sekilas.
Begitu semua sudah masuk, aku melihat Vero yang mencari duduk di deretan belakang bersama keluarga yang lainnya. Terlihat wajahnya yang di tekuk, aku tahu ia terpaksa datang ke acara ini, kenapa dia terus saja memancingku? Disaat aku sudah mati-matian mengubur dalam rasa ini untuknya.
Aku terus saja memperhatikan walaupun tidak intens, sebab di sampingku ada Nella, aku tidak ingin ia salah paham dan mulai membuat drama, begitulah wanita sedikit-sedikit ngedrama.
Ada rasa sedih dan juga rasa kehilangan , kami yang biasanya sangat dekat, tertawa bersama, berbagi cerita bersama, berbagi kesedihan juga bersama, Namun sekarang tawa itu bukan lagi bersamaku, kami bagaikan orang asing.
Vero bukan lagi Adikku yang dulu yang mudah untuk di luluhkan, bersikap manja, walau kami bertengkar namun ia akan selalu mencariku. Selalu merengek jika menginginkan sesuatu padaku, aku merindukan Vero adikku yang dulu..
Aku berdiri di samping Nella menyambut para tamu undangan yang hadir malam ini, sebenarnya hanya keluarga besar kami dan juga sahabat dan kerabat dekat kami di undang tak lupa para kolega kami pun tak ketinggalan. Aku memang sengaja membuat acara ini di rumahnya saja, tak perlu menyewa gedung atau membuat acara di luar, toh buang-buang waktu dan tenaga juga.
Hingga kemudian acara inti pun berlangsung, Mama dan Papa langsung mengungkapkan permintaannya untuk meminang Nella sebagai istriku kepada kedua orangtuanya, kami pun bertukar cincin. Nella menyematkan cincin polos di jari manis tangan kiriku, sedangkan aku menyematkan cincin bermata diamond di jari manis tangan kirinya.
Tadi tak sengaja aku melirik Adikku yang sedang keluar ke pintu utama sepertinya sedang menerima telepon, tapi siapa yang meneleponnya malam begini? Hingga ia memilih ke tempat sepi untuk mengangkatnya.
Tidak ingin berspekulasi yang bukan-bukan pada Vero, aku pun menyibukkan diri untuk mengobrol dengan para tamu yang datang bersama Nella yang memang juga mengenal sebagian dari mereka yang banyak kolega dari berbagai bisnis.
Hingga entah berapa lama kami mengobrol dengan tamu satu dengan tamu yang lain, tiba-tiba saja kedua netra ini menangkap seseorang yang begitu familiar dan tentu saja aku sangat mengenalnya, yang membuatku bingung kenapa dia jalan bersama dengan Vero dari arah depan?
Hingga langkah mereka berdua berhenti tepat di hadapan Mama dan Papa lalu pria yang datang bersama Vero menyalimi kedua orantuaku ber-ramah tamah, bersikap sopan sekali seketika membuatku meradang, ada apa ini sebenarnya? Bagaimana mereka bisa saling mengenal satu sama lain? Aku sangat mengenal Vero yang tidak langsung akrab dengan orang yang baru di kenalnya, tetapi sekarang apa yang kulihat?
Karena sudah tidak tahan lagi, aku pun berjalan menghampiri mereka semua setelah sebelumnya meminta ijin pada Nella dan juga kedua orangtuanya yang sejak tadi memeng berdiri bersamaku.
__ADS_1
Vero terlihat tersenyum malu-malu entah apa maksudnya itu. Apa yang sedang tengah mereka bahas saat ini? Aku terus saja mengumpat dalam hati, langkahku lebar-lebar, d**aku kini terasa panas terbakar, apa aku cemburu pada pria yang menjadi musuhku ini? Cih aku tidak akan membiarkan pria berengs3k itu mendekati Vero ataupun mengenalnya jauh lagi. Sudah cukup untuk yang lalu tetapi tidak untuk yang sekarang!
Lihatlah, pria itu terlihat jelas sedang menatap Vero dengan tatapan yang menggambarkan seorang pria yang begitu mengagumi lawan jenisnya. Sial4n!! Awas saja sampai berani mendekati Vero!
" Ma, Pa, ada apa ini?" Tanyaku yang seketika mengejutkan mereka semua.
Vero—Adikku itu terlihat sangat terkejut dengan kedatanganku, dan pria yang bernama Roma itu terlihat tersenyum menyeringai padaku, memang dasar pria b*******n mau apa dia? Berani sekali datang ke kediaman tunanganku!
Gadis cilik ini kemarin itu bilang baru saja putus dengan pacarnya yang pergi ke luar negeri meninggalkannya! Lalu sekarang? Apa dia akan memulai kembali dengan si tengik ini!!? Oh jangan sampai itu terjadi!
" Hey Jull, lihat siapa yang datang? Kenapa kau tidak mengundang Roma datang kesini kemarin-kemarin?" Protes Mama padaku, memang siapa yang mau mengundang si berengsek3k ini!
" Oh tidak apa Tan, pasti Jull begitu sibuk untuk mempersiapkan acara malam ini, dan Roma juga baru kembali dari luar negeri beberapa hari ini kok. Bukan begitu Jul, oh iya selamat untukmu Jull, semoga lancar sampai hari Pernikahanmu nanti." Ujarnya sembari mengulurkan tangan kanannya memintaku untuk menyambutnya.
Oh ayolah kawan! Mulutmu itu memang sangat manis hingga mengalahkan gula manisnya jika sedang berbicara pada siapa saja. Aku akui kau memanglah pintar jika untuk urusan tarik-menarik simpati orang banyak.
Aku tahu ini adalah trik darinya, yang mungkin mampu membuat siapapun mudah tersentuh dengan sendirinya. Namun tidak denganku, jangan harap aku akan bersimpati pada pria sepertimu Roma, yang habis manis sepah di buang. Jangan sampai Adikku mengalami hal ini Tuhan.
" Mau kemana?" Tanyaku begitu tegas dan tajam pada Vero yang masih saja menundukkan
" M-mau Nonton!" Jawabnya tanpa memandangku. Astaga ini bocah, kalau sedang terpojok begitu nyalinya akan langsung menciut seketika.
" Kalian kenal dimana? Sudah berapa lama?" Tanyaku yang terdengar posesif. Wajar bukan jika aku posesif terhadap Adikku sendiri? Ataukah aku yang terlihat berlebihan?
" Kami_
" Aku bertanya padanya Vero, bukan padamu!" Tegasku lagi tanpa memandang Vero, sebab aku terus menatap ke depan ke arah manik coklat milik Roma—mantan sahabatku.
" Jullio kau tahu, mereka berdua ternyata sudah menjalin hubungan, Mama sampai tidak percaya." Sela Mama, memberitahuku. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan yang bisa saja membuatku murka, Mama ternyata sangat mengenalku sebagai putranya.
__ADS_1
Degh!!
Apa? Tunggu dulu mereka sudah berpacaran? Apa-apaan ini, aku tidak akan membiarkan itu terjadi, bayangan masa lalu seketika menghampiriku kembali walau tidak terlalu jelas, dimana wanita yang aku cintai di rebut oleh pria b********n yang ada di hadapanku saat ini.
Masih berani rupanya dia menampakkan batang hidungnya di hadapanku, setelah perlakuan menjijikkan yang ia dan mantanku lakukan tepat di hadapanku dulu, cukup berani sekali dia ternyata..
" Di_
" Kami bertemu di toko buku setahun yang lalu kira-kira, sudah lama lupa tepatnya kapan. Kenapa sih Kakak selalu saja seperti ini padaku, aku sudah besar." Gerutu Vero padaku, yang menyela ucapan Roma.
" Ma, Pa Vero pergi dulu." Pamitnya yang langsung melipir begitu saja.
" Baiklah Tan, Om, Jull. Roma ijin ajak Vero nonton dan makan malam." Pamit si cung*k itu sembari kembali menyalami kedua orangtuaku.
" Vero tunggu!" Desisku sedikit keras, agar ia dengar, namun Vero tak mengindahkan panggilanku justru ia semakin mempercepat langkahnya. Aku hanya bisa menghela nafas beratku.
" Jull, biarkan saja Adikmu keluar, dia sudah beranjak dewasa, toch dia keluar juga dengan Roma pria yang Mama dan Papa kenal, begitu pun denganmu. Sebaiknya kau kembali sana bersama Nella, tidak enak sayang." Titah Mama yang tak bisa ku bantah, kemudian aku pun mengangguk dengan terpaksa kembali melangkah mendekati Nella.
Mama dan Papa tidak tahu saja jika pria yang dulu menjadi sahabat putramu ini, telah menusuknya dari belakang. Pria licik, dan b*******n itu tidak akan aku biarkan kau membuat Vero menjadi targetmu yang berikutnya, Never!!.
.
.
.
.tbc
Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..