Terjerat Cinta Pria Alien

Terjerat Cinta Pria Alien
Kedatangan Dua Pria


__ADS_3

Itulah sisi lain dari Jullio belum mendengar jawaban yang sebenarnya ia sudah lebih dulu menyimpulkan apa yang ia lihat dan ia dengar. Terlebih pria itu bilang bahwa wanita itu adalah kekasihnya, wanita yang tak lain adalah Vero sama sekali tak menjawab juga tak mengelaknya sama sekali.


Dan itu berarti memang mereka sudah menjalin hubungan, Jull sangat marah dan kesal namun ia juga tidak bisa melakukan apapun. Ia tadi sempat ingin masuk paksa ke dalam perusahaan nun lagi-lagi satpam-satpam yang bekerja disana terus menghalangi jalannya. Mau tidak mau akhirnya Juli pun menyerah dan akan kembali nanti.


Jull bisa melihat pria itu sepertinya bukan pria sembarangan, para satpam yang bertubuh besar tadi saja tunduk padanya, itu berarti gedung tinggi tadi adalah perusahaan milik pria tersebut.


' Perusahaan apa ya tadi namanya? Kenapa aku sampai lupa tak memperhatikannya.' Keluhnya dalam hati. Dan begitulah akhirnya ia sampai ke tempat ini.


Suara yang sangat bising langsung memekakkan indra pendengarannya, ia berjalan menuju ke bar, seorang bartender pun langsung menyapa dan bertanya padanya.


" Anda mau memesan apa Tuan?" Tanyanya dengan sopan.


" Ambilkan aku Whiskie." Jawab Jull dengan datar dan tanpa ekpresi.


Sang Bartender pun mengangguk dan dengan cepat langsung meracik minuman yang di minta oleh Jull  dengan sangat ahli dan lincah lalu segera memberikannya pada Jull.


" Thank's."


Jull segera menyesap minuman beralkoholnya itu sedikit demi sedikit agar sakit kepalanya berkurang. Namun bukannya berkurang rasa sakitnya itu justru semakin menjalar ke dadanya yang langsung membuatnya sesak, dan kini ia bingung bagaimana nantinya jika kedua orangtuanya itu menanyakan keberadaan sang Adik.


Sebelum ia berangkat ke negara ini, Mamanya sempat menghubunginya dan menanyakan keberadaan Vero, bahkan menanyakan kenapa ponselnya tidak aktif. Sungguh membuat Jull tidak dapat mengendalikan emosinya dan terus menghabiskan minuman beralkohol itu hingga beberapa gelas. Padahal dulu ia amat membenci minuman haram tersebut, bahkan tempatnya sekaligus, namun sekarang hanya itu yang mampu membuatnya lebih tenang.


 


Malam harinya.

__ADS_1


Vero berjalan menuju ke walk in closet setelah selesai membersihkan tubuhnya dan masih mengenakan handuk yang hanya menutup separuh tubuhnya saja. Dengan cepat ia memakai pakaian rumahnya dan setelah selesai ia berbalik badan akan berjalan turun ke dapur untuk membuat makan malam.


Namun langkahnya terhenti tatkala melihat seseorang yang sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.


Siapa lagi jika bukan bos mesumnya itu, Vero memang sudah terbiasa namun ia masih saja terkejut dengan kehadiran Kai yang tiba-tiba. Bagaikan jalangkung datang tak di undang pulang pun tak di antar, konyol sekali.


" Apa aku mengganggumu?" Tanya Kai tanpa merasa bersalah apapun seraya berjalan mendekat ke arah wanita itu.


" Tidak, hanya saja kau selalu muncul secara tiba-tiba dan itu membuat jantungku bisa bermasalah." Sahut Vero sudah tidak ada rasa takutnya sama sekali dengan bosnya sendiri.


" Maaf, bukan bermaksud membuatmu terkejut, baiklah ayo kita makan malam aku sudah menyiapkan makanan spesial untukmu." ajaknya sembari memeluk pinggang Vero.


Vero sama sekali tak menjawab dan juga tak mengelak ketika pria itu memeluk tubuhnya, mungkin karena ia sudah mulai terbiasa dengan tindakan yang di lakukan oleh Kai, ia pun membiarkannya saja, toch percuma juga menghindar pria itu selalu saja tahu apa yang ada dalam pikirannya, akhirnya mereka berjalan bersama menuju ke meja makan.


" Hah, makanan sebanyak ini? Apa akan ada tamu?" Tanyanya menoleh ke arah Kai dengan mengkerutkan dahinya. Pria itu justru tersenyum simpul, dan membuat Vero semakin curiga.


Belum sempat Kai menjawab pertanyaan dari Vero, terdengar pintu depan yang terbuka, lalu setelahnya terdengar suara beberapa langkah kaki masuk ke dalam, membuat atensi keduanya pun menoleh ke arah sumber suara.


" Lama sekali kalian! Dari mana saja!" Desis Kai menatap sedikit kesal ke arah dua pria sahabatnya yang baru saja datang.


" Ckck, aturannya jika ada tamu yang datang itu di sambut dengan baik dan hangat bukan justru makian seperti ini yang kami dapatkan Bruv. Payah sekali kau ini." Keluh Aster mulai berjalan menghampiri keduanya yang sudah duduk di meja makan di ikuti Erick dari belakang, pria itu hanya diam saja dan tersenyum menatap Vero.


Kai hanya memutar bola matanya jengah mendengar celotehan dari sahabatnya itu, kini ia beralih menatap Erick yang duduk di hadapannya." Kenapa kau tidak mengajak wanitamu kemari?" Tanyanya sembari meminum minuman yang sudah ia siapkan sebelumnya.


" Dia sedang sibuk." Kawan Erick datar tanpa ekspresi, bahkan pandangannya menatap ke arah beberapa menu makanan yang sudah tersaji di atas meja." Kau yang memasak semua ini Ver?" Tanyanya yang mendongakkan kepala untuk bisa melihat wajah cantik yang dulu pernah singgah di hatinya.

__ADS_1


" Bukan! Bukan aku yang menyiapkan semua ini." Cicitnya melirik ke arah sampingnya, dimana sang Bos terlihat santai memakanan makanannya." Kenapa Anda tidak mengatakan akan mengundang kedua sahabat Anda kemari?" Tanyanya, berharap Bos mesumnya itu segera menjawab.


" Kenapa kau menatapnya seperti itu! Kau tidak lupa bukan jika sudah mempunyai seorang tunangan!" Tegur Kai yang tidak senang Vero di tatap seperti itu oleh Erick, walau ia adalah sahabatnya sendiri.


" Aku? Aku biasa saja manatapnya, kami 'kan masih sahabatan." Elak Erick tak mau kalah.


" Eh, tunggu! Kenapa kalian terlihat formal begitu? Tidak perlu bersikap seperti itu di hadapan kami berdua Nona. Kami sudah mengetahui semua hal tentang kalian berdua, bahkan sejauh mana hubungan kalian kami sudah sangat tahu, jadi bersikaplah seperti biasa, layaknya seorang teman." Celetuk Aster yang tanpa di filter terlebih dahulu.


Mendengar hal itu tentu saja Kai sangat marah, ia menatap kesal ke arah sahabatnya, bisa-bisanya keceplosan. Ia sudah berjanji pada Vero bahwa hanya mereka berdua saja yang mengetahui perihal perjanjian tersebut. Namun pria ini justru membongkar semuanya disini, di hadapan sahabatnya Erick juga, ingin rasanya Kai melenyapkan Aster saat ini juga, namun akal sehatnya masih berfungsi dengan baik, yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah bersabar menahan amarahnya sendiri.


Tatapan Aster tidak sengaja bersitatap dengan Kai, yang menatapnya tajam, seolah siap mengahabisi musuhnya. Seakan baru sadar ia salah bicara tadi, Aster pun segera melarat ucapannya kembali." Maksudku, bersikaplah seperti kita semua adalah teman Nona, begitu maksudku." Ujar Aster membenarkan ucapannya lalu menyengir ke arah sahabatnya.


Sementara Vero sendiri terlihat tak kalah kesal, sebab dua sahabat Bosnya mengetahui perjanjian itu, yang menurutnya bersifat pribadinya. Sungguh ia merasa malu terlebih kepada Erick sahabatnya dulu. Ia melirik tajam ke arah Kailash dengan ekor matanya.


' Dasar Kailash Mesummm! Penjahat kel*min!! Kenapa tidak mati saja kau sekalian Huh!' Gerutu Vero begitu sangat kesal. Ini sama saja aibnya sudah di ketahui oleh dua pria lainnya.


Karena tidak mungkin bagi Vero pergi meninggalkan meja makan, sebab ia merasa itu tidak sopan, sehingga Vero terpaksa mengambil makanan yang cukup banyak ke dalam piringnya dan memakannya dengan begitu lahap, layaknya orang yang sedang kelaparan.


.


.


.


.tbc

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷


Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..


__ADS_2