Terjerat Cinta Pria Alien

Terjerat Cinta Pria Alien
Mood Booster


__ADS_3

Di belahan bumi lain hampir sama seperti apa yang tengah Vero dan Kai rasakan. Namun bedanya sang wanitanya-lah yang tengah menderita di tengah kehamilannya.


Ya mereka adalah pasangan suami istri yang juga tengah berbahagia atas kehadiran calon sang buah hati. Siapa lagi jika bukan Jullio dan Quila si wanita Alien. Dan memang pada dasarnya cinta Jull masih sangat dalam untuk Adiknya Vero, jadi wajar jika perasaan Jull tidak sepenuhnya untuk istrinya.


" Hummpp...Hummp.." Wanita itu terus menutup mulutnya sembari berlari kecil ke arah kamarnya. Ia merasa mual yang luar biasa, sebab tidak tahan dengan aroma yang menusuk ke indra penciumannya. Membuat sang pria pun terganggu lalu terbangun dari tidur panjangnya.


" Hueekk.. hueekk.."


" Sayang, kau baik-baik saja?" Tanya Jull panik dan juga khawatir saat setelah mendengar istrinya muntah-muntah di dalam kamar mandi.


Quila yang merasa lemas hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, saat akan beranjak bangun, tiba-tiba perutnya kembali bergejolak membuatnya ingin kembali memuntahkan isi dalam perutnya walau yang keluar hanyalah air bening saja.


" Kita ke Dokter sekarang ya?" Ajak Jull yang dengan sigap langsung menggendong istrinya membawanya keluar menuju ke ranjang.


Setelah merebahkan tubuh Quila denhan nyaman, Jull pun duduk di sisi ranjang menatap kasihan kepada sang istri. " I'm okay." Ujar Quila setelah meminum air yang suaminya berikan. Ia juga berusaha tenang, sebab ia selalu menolak jika di ajak untuk pergi ke rumah sakit. Ia hanya ingin di periksa saat waktu pemeriksaan saja.


" Baiklah, istirahatlah kalau begitu. Tidak usah masak lagi mulai hari ini, aku tidak masalah sayang." Sahut Jull yang sangat mengkhawatirkan istrinya, sebab pagi-pagi sekali si istri pasti sudah membuat keributan di dapur.


Hanya karena alasan ingin membuatkan sarapan untuk suaminya, ia berusaha bangun pagi-pagi buta seperti sekarang. Namun bukannya masakan yang ia masak, namun justru mereporkan seluruh penghuni rumah, termasuk sang suami seperti sekarang.


" Okay baiklah, tapi maafkan aku jika belum bisa menjadi istri yang baik untukmu." Sesal Quila menatap sendu ke arah sang suami yang sedang mengusap-usap perut buncitnya itu.


Jull pun sangat tahu jika istrinya itu berusaha menyenangkan hatinya. namun sayangnya Quila tidak bisa melihat kondisi tubuhnya sendiri yang akhir-akhir ini keadaannya semakin menurun. Dan Jull juga tidak ingin terjadi sesuatu kepada keduanya terlebih calon buah hatinya yang sangat ia nantikan kehadirannya, ya walau usia kehamilan Quila sudah memasuki usia dua puluh minggu, namun tetap saja ia tidak ingin keduanya kenapa-kenapa.


" Tidak apa sayang, kau tidak perlu bersikap seperti itu, cukup menjadi istriku yang siap kapan saja, itu sudah cukup bagiku." Sahut Jull dengan ambigu. " Sayang, jangan nakal ya, kasihan Mommy kalau di muntahin terus." Ujar Jull yang kini mulai mengajak ngobrol calon bayinya yang ada di dalam perut Quila.


" Eh, tunggu! Siap kapan saja? Apa maksudnya?" Tanya Quila menatap curiga kepada pria yang sudah menikahinya itu.


Yang di tanya justru tersenyum simpul sembari menaik turunkan kedua alisnya. " Tidak apa sayang, sudah kau istirahat saja okay." Jull mengecup dahi Quila sedikit lama, kemudian ia berniat berdiri untuk membersihkan dirinya, namun sebelah tangannya justru sudah di cekal oleh sang istri membuatnya mengurungkan niatnya.


" Mau kemana?"


" Ke kamar mandi."

__ADS_1


" Jawab dulu pertanyaanku yang tadi, baru boleh ke kamar mandi." Tolak Quila yang tak ingin suaminya itu pergi dulu sebelum melanjutkan ucapannya yang tadi.


" Iya, nanti dulu. Biarkan suamimu ini buang air kecil, nanti ngompol lho ini." Ujar Jull sedikit bercanda.


" Ya sudah cepatan, jangan lama-lama tapi." Rengek Quila yang tidak ingin di tinggal.


Tak lama Jull pun keluar dari kamar mandi setelah membuang hajatnya. Ia pun duduk kembali di sisi sang istri." Ayo jawab sekarang!" Pinta Quila yang menagih jawaban dari suaminya itu.


Jull terlihat mendes*h pelan, ia sangat tahu jika istrinya itu akan terus bertanya sebelum mendapatkan sebuah jawaban yang membuatnya puas." Baiklah dengarkan baik-baik ya. Kau tidak perlu melakukan apapun di rumah, cukup menjadi istri yang siap kapan saja untuk melayaniku di atas ranjang, sudah paham?" Seru Jull pada akhirnya.


" Ish, mesum! Sudah sana bersih-bersih." Titah Quila sembari mendorong tubuh Jull untuk segera pergi mandi.


" Nah giliran sudah di jawab, malah sekarang di suruh pergi. Baiklah aku siap-siap dulu, tapi sebelumnya berikan aku mo**od booster terlebih dahulu." Pinta Jull yang tak ingin rugi. Dasar pria!


" Ya sudah sini, jangan lama-lama nanti kau terlambar ke kantor." Ujar Quila meminta suaminya itu mendekat.


Jull pun dengan senang hati menyodorkan wajah tampannya itu ke hadapan sang istri, ia tidak sabar menantikan ciuman dari istri cantiknya. Detik berikutnya kedua bibir pun saling bertemu, memang*t juga saling menyes*p rasa manis.


Beberapa menit kemudian Jull pun melepas ciuman panas mereka, dengan menyisakan sisa saliva juga napas keduanya yang terengah. Bahkan pandangan keduanya yang mulai sayu nampak menginginkan yang lebih dari itu.


" Aahh, sayang.." Lirih Quila menahan hasr*t yang mulai bangkit perlahan.


" Sayang apa kau juga ingin?" Tanya Jull dengan suara beratnya, pandangannya mulai berkabut, dengan sebelah tangan sudah masuk ke dalam pakaian tidur istrinya, membuat Quila pun melenguh kecil.


" Eumm, nanti k-kau terlambatt sayanggh." Sahut Quila di sela lenguhannya, ia selalu tidak bisa menolak sentuhan dari lelaki ini jika sudah menyentuh juga meremas apapun yang ada pada tubuhnya.


Terlebih semenjak ia tengah mengandung sekarang ini, rasanya ia ingin bercint* setiap hari bahkan setiap waktu jika mereka berdekatan seperti sekarang ini. Karena merasa tidak tahan lagi Quila pun berinsut dan duduk di atas pangkuan suaminya.


" Sudah tidak merasakan mual lagi?" Bisik Jull melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Quila.


Dengan cepat Quila menggeleng, mungkin efek dari aroma masakan di dapur tadi yang membuatnya mual dan juga muntah-muntah. Namun sekarang sudah hilang rasa mualnya.


" Yakin?" Tanya sang suami yang nampaknya ragu. Ia hanya tidak ingin melihat istrinya semakin kesakitan jika ia harus melayaninya pagi ini.

__ADS_1


" Iya, ayo aku juga ingin sayang." Pinta Quila yang langsung meraup bibir suaminya, ia kul*m atas bawah secara bergantian. Tak ingin kalah Jull pun juga membalasnya sembari tangannya menjalar kemana saja dan mulai menanggalkan pakaian yang melekat di tubuh mereka berdua.


Hingga kini keduanya sudah tidak lagi memakai sehelai benang, dan mulai dengan permainan panas pagi mereka yang tentunya dengan semangat yang full mengingat semalaman sudah terisi penuh tenaga mereka berdua.


" Ouughh, , sayang." Rintih Quila saat dua bukit kembarnya mulai di permainkan oleh bibir juga jemari suaminya.


" Masukin sayang." Ujar Jull dengan suara seraknya. Perlahan tapi pasti kedua tubuh itu pun mulai menyatu dengan sempurna. Quila mulai bergerak seirama, meliukkan tubuhnya yang semakin bulat berisi.


" Milikmu selalu enak sayang, semakin sempitt, milikku terasa di jepit, Oughh." Lenguh Jull membantu istrinya bergerak naik turun juga maju mundur demi mencari rasa nikmat di tubuh masing-masing.


Tak berselang lama Quila memekik puas saat merasakan puncak pertamanya, setelah tenang Jull pun meminta istrinya menungg*ng di tepi ranjang, lalu ia pun berdiri dan mulai melesakkan pusakanya dari belakang.


Bless..


Pusakanya tertancap begitu dalam hingga menyentuh diding rahim hangat istrinya. Hanya terdengar lenguhan juga desah*n yang keluar dari mulut keduanya. " Aahh sayang Almost there!" Erang Jull saat ia merasakan gelombang itu sudah berada di ujung.


" Together Baby." Sahut Quila yang juga merasakan hal yang sama. Hingga beberapa saat kemudian lolongan panjang keluar dari bibir keduanya dengan rasa puas.


" Hhmmmm, terima kasih sayang, kau selalu nikmat setiap saat." Ujar Jull dengan napas yang memburu, begitupun dengan Quila yang hanya bisa tersenyum puas, mereka seakan berebut oksigen.


Beberapa saat kemudian Jull sudah siap pergi ke kantor meninggalkan istrinya yang sedang terlelap letih akibat pergumulan panas mereka pagi ini." Aku berangkat sayang." Pamit Jull mengecup kening juga bibir sang istri walau tidak ada jawaban sebab istrinya benar-benar pulas tidurnya. Jull pun sangat mengerti, setelahnya ia bergegas pergi menuju ke gedung perusahaan milik keluarganya.


.


.


.


.tbc


Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷


Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..

__ADS_1


__ADS_2