
~ Flashback on Beberapa tahun.
PoV_Vero
Aku sedang merasa frustasi saat ini tidak hanya karena permintaan Papa dan Mama yang akan mengajakku serta ke luar negeri tepatnya di negara kanguru untuk melanjutkan pendidikan tinggiku disana, tetapi juga sebab mengenai Kakakku tepatnya Kakak angkatku Jullio yang akan bertunangan dengan Bella bulan depan, seorang wanita yang aku anggap tidak pantas menjadi calon Kakak iparku.
Mungkin ini bukan pertama kalinya aku tidak merestui hubungan Kakakku dengan seorang wanita, aku begitu iri, aku tidak terima ada orang lain yang mengalihkan pandangan Kakakku padaku. Namun aku baru menyadari jika ini lebih parah dari yang sebelumnya, membuatku bingung sendiri, ada apa sebenarnya denganku?
Entah kenapa aku merasa begitu sakit hati sangat dalam mendapatkan kenyataan bahwa hubungan Kakakku Jullio yang bukan hanya sekedar berkencan bahkan akan segera menikah, dulu aku masih bisa membuat Kak Jullio memutuskan hubungannya dengan teman wanita kencannya, tetapi sekarang ini jauh lebih serius lagi.
Jika dulu aku hanya bisa memendam rasa dalam diam jika Kak Jull pergi dengan seorang wanita manapun, tetapi kenapa ini lebih parah. Aku akui, aku merasa egoku mulai akut, aku bahkan akan membenci semua orang yang akan mendekati Kak Jull dan memusuhi mereka juga hingga mengerjainya, aku jahat sekali bukan?!
Terlebih dari itu semua aku hanya ingin Kak Jull selalu ada di sampingku, menjadikanku satu-satunya wanita yang di utamakan juga di perhatikan oleh Kakakku, selain kedua orangtua kami. Terserah saja semua orang atau bahkan teman-temanku akan menilaiku sebagai adik yang gil4 mencintai Kakaknya sendiri, buatku itu tidak masalah toch kami bukanlah saudara kandung.
Sudah beberapa waktu ini aku mendiami Kak Jull, tepatnya saat ia mengatakan pada Papa dan Mama bahwa ingin berhubungan yang lebih serius dengan Nella calon tunangannya itu, jadi aku selalu menghindar jika Kak Jull datang berkunjung ke rumah. Setelah Kak Jull menggantikan posisi Papa sebagai Direktur di perusahaan, pria itu memilih tinggal di Apartemen miliknya yang jaraknya tidak jauh dari perusahaan, sehingga pria itu jarang pulang ke rumah, dan itu membuatku sedikit lega tidak harus bertemu dengannya setiap hari.
Tok..Tok..
Tetdengar seseorang mengetuk pintu kamarku dari luar, saat aku menyahut dari dalam, seketika muncullah wanita paruh baya yang masih begitu sangat cantik dimataku, ya dia adalah Mamaku, Mama kami berdua aku dan Kak Jull, bahkan banyak yang mengatakan kami sama-sama cantik walau wajah kami tidak ada kemiripan sama sekali, bahkan aku juga tidak mirip dengan Papa. Sangat jelas jika memang aku bukan putri kandung mereka.
" Sayang sudah siap belum? Ayo nanti kita kesiangan." Ujar Mama memanggilku di ambang pintu tanpa masuk ke kamarku, aku pun hanya menoleh.
Hari ini Mama mengajakku pergi ke spa langganannya, katanya sudah lama tidak melakukan body spa. Karena biasanya kami memang sering pergi keluar rumah bersama entah mau pergi kemana saja, walau hanya sekedar untuk berjalan-jalan saja kata Mama untuk menjernihkan pikiran yang sedang suntuk, memang benar kata Mama.
__ADS_1
Tetapi entah mengapa aku malas sekali untuk keluar rumah hari ini, tetapi aku juga tidak ingin membuat Mama kecewa, akhirnya aku pun mengiyakan ajakan Mamaku.
"Iya sebentar Ma, Vero rampikan dulu rambut Vero." Sahutku yang sudah menoleh ke belakang sambil terus menyisir rambutku yang sebenarnya sudah rapi.
" Ya sudah cepat sedikit ya, Mama tunggu di bawah." Pintu pun kembali tertutup, aku menghela nafas lelah. Jika sudah seperti ini aku bisa apa.
Mama adalah sosok Ibu pengganti yang sangat baik sekali padaku, sangat menyayangi dan juga mencintakui begitu pun dengan Papaku tak terkecuali Kak Jull. Walau sebenarnya aku bertanya-tanya dia bersikap demikian kepadaku karena menganggapku sebagai adik ataukah wanita yang sudah dewasa?
Tak lama aku pun beranjak berdiri, karena percuma berlama-lama di dalam kamar, Mama pasti akan datang kembali ke kamarku, sebab memang sedari tadi aku duduk di meja rias sambil melamun, pikiranku semakin kacau saat mengingat ucapan Mama dan Papa semalam.
Aku menutup pintu kamarku dengan sedikit keras, sambil sedikit menghentakkan kakiku aku mulai berjalan ke arah anak tangga, namun langkahku terhenti begitu di bawah anak tangga sana aku mendengar suara langkah seseorang, dan tak lama muncullah seorang pria yang selama beberapa minggu ini aku hindari.
" Hey cantik, kau mau kemana? Pergi bersama Mama?" Tanyanya menatapku begitu serius.
Sebenarnya aku malas sekali menjawabnya, selain aku tidak ingin melihat wajahnya, bagaimanapun aku terus berusaha menghindar darinya selama ini, aku tidak ingin usahaku sia-sia. Aku pun hanya menjawab dengan deheman seperti biasa dan akan berlanjut melangkah turun melewati tubuh kekar Kakakku.
Namun langkahku terhenti saat salah satu lenganku di cekal olehnya, " Lepaskan!!" Aku berusaha menepis tangannya tanpa menatapnya tetapi cekalannya begitu kuat, hingga sulit sekali terlepas.
" Tunggu!! Aku bertanya-tanya ada apa sebenarnya denganmu? Apa aku mempunyai salah padamu Vero? Jika iya, katakan apa kesalahan Kakakmu ini?" Cecarnya dengan pandangan sedikit kecewa.
Tetapi aku justru memalingkan wajahku ke samping, bagaimana tidak! Saat ini aku berusaha mati-matian menahan debaran jantungku yang berdetak lebih cepat dari biasanya, apalagi jarak antara kami begitu sangat dekat dan nyaris menempel.
" Ver_
__ADS_1
" Tidak ada apa-apa! Lepaskan Kak, Mama sudah menungguku." Ketusku sambil menghibaskan cekalannya dengan sedikit kasar dan akhirnya cekalannya pun terlepas, aku segera berjalan cepat menuruni anak tangga yang bentuknya setengah lingkaran ini.
Panggilan Kak Jull tidak aku hiraukan lagi, setiba di bawah aku melihat Mama yang baru beranjak dari duduknya di sofa ternyata sedang duduk bersama dengan Papa, kulihat Papa tersenyum menatapku.
" Hay sayang, kau cantik sekali hari ini." Ujar Papaku memuji kecantikanku.
Bukannya senang di puji aku justru mengerucutkan bibirku sedikit kesal, " Jadi kemarin-kemarin aku tidak cantik begitu!" Sungutku sedikit ketus.
Entah karena emosiku yang masih terlalu kesal kepada Kak Jull, hingga Papa pun terkena imbasnya, Papa dan Mama saling berpandangan sejenak, lalu kembali menatapku. " Bukan begitu sayang, kau selalu cantik seperti Mamamu, bukan begitu Ma." Sahut Papa menatap Mama, berharap meminta bantuan kepada istrinya itu.
Aku pun jadi tersenyum menatap mereka berdua, dua orang yang paling aku sayangi di dunia ini setelah kepergian keluarga kandungku. " Ahhh,, Papa tidak pandai merayu putrinya sendiri." Aku langsung memeluk tubuh Papa dan juga Mama secara bersamaan.
Ekor mataku menangkap Kak Jull yang masih berdiri di atas tangga paling atas dan tengah tersenyum saat melihat kami bertiga yang sedang berpelukan bagaikan teletubbies. Aah masa bodoh aku hanya ingin menghindarinya, berharap rasa cinta yang salah ini bisa memudar dengan seiring berjalannya waktu, tetapi bukannya pudar rasa rindu ini justru terus menyelimuti hatiku ketika aku tidak melihat sosoknya beberapa minggu ini dan aku juga tidak ingin pergi ke luar negeri, ini bahkan jauh lebih sulit bagiku.
.
.
.
.tbc
Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..