
Di tempat lain..
Seorang pria berjalan menuju ke unit Apartemet bersama seorang pegawai yang bekerja di gedung tersebut. Langkahnya terasa begitu ringan tanpa beban begitu mereka sudah tiba di lantai yang di tuju senyumnya semakin merekah dan juga tidak luntur dari wajah pria tersebut seiring dengan langkahnya.
Sang pegawai segera menempelkan access card ke platform magnet yang ada di depan pintu besar tersebut, card cadangan khusus hanya untuk waktu tertentu saja, misalkan mendesak seperti ini. Entah bagaimana si pria itu mendapatkan cara untuk meyakinkan pegawai tersebut.
Tak lama pintu pun terbuka, " Silahkan Tuan?" Ujar sang pegawai tersebut kepada sang pria muda yang meminta bantuannya.
Tak perlu berpikir panjang, si pria segera masuk dengan cepat dan langsung menggeledah seluruh isi unit tersebut, hampir keseluruhan ia masuki namun ia sama sekali tidak menemukan apapun yang ia cari sedari tadi.
" ****!! Dimana mereka berdua? Apa dia salah menginformasikan unitnya!.Aaargghh,, si4l!!" Keluhnya menggerutu pada dirinya sendiri, sementara pegawai tadi sudah pergi meninggalkannya setelah dirinya masuk ke dalam.
Tak ingin bersusah payah, lelaki itu pun segera menghubungi anak buahnya yang saat ini tengah berada di daerah yang sama dengannya. Baru nada dering pertama terdengar, panggilannya pun sudah langsung di angkat oleh seseorang di seberang sana.
" Kau bisa bekerja tidak! Jangan pernah bermain-main denganku! Cepat katakan dimana dia sekarang?!!" Hardiknya dengan tatapan tajam, walau lawan bicaranya tak bisa menatapnya, jika orang yang di seberang ini ada di hadapannya, mungkin sudah babak belur terkena hantaman keras dari kedua tangan kekarnya. Beruntungnya ini hanya lewat panggilan telepon saja.
" Ma-maafkan saya Tuan! Sa-saya benar-benar tidak tahu jika tempat itu sudah kosong, se-sebab dua hari yang lalu mereka masih terlihat keluar masuk dari unit tersebut Tuan." Sahut si penerima telepon dengan rasa takut yang kentara.
" Aarrghhh! Bedebah! Cepat cari lagi sekarang! Atau nyawamu melayang detik ini juga!" Ancamnya yang tidak pernah main-main. Ia pun segera keluar membuka pintu besar tersebut, namun begitu pintu terbuka, ia terhenyak, napasnya tercekat di tenggorokan melihat siapa yang tengah berdiri di hadapannya saat ini.
Mampus kau Rama!!
" Lho, kamu Rama 'kan? Kenapa bisa ada disini?" Tanya Jihan Mama Juli dan juga Vero.
__ADS_1
Ya pria itu memang Rama yang selama ini mencari keberadaan Vero, ia terlihat gelagapan saat di tanya seperti itu oleh Mama angkat wanita yang ia cintai.
" Tunggu dulu—Ini adalah unit yang di tempati putri kita Pah." Jihan menatap suaminya sekilas yang berdiri di sampingnya, lalu kemudian kembali menatap Rama yang masih berdiri di ambang pintu." Apa kamu pria yang selama ini bersama dengan Vero?" Tudingnya menyelidik setelah beberapa saat baru teringat oleh sesuatu.
Di tanya seperti itu membuat Rama kembali gelagapan, jika memang benar dirinya yang selama ini bersama dengan Vero, ia tidak akan mungkin mencarinya jauh ini. Bahkan sudah berkali-kali mencoba mendekati wanita itu, namun pria yang menjadi Kakaknya selalu saja berhasil membuatnya berantakan. Dan sekarang apa yang harus ia katakan pada kedua orangtua wanitanya ini?
" Eum, ya Tan. Maafkan kami yang belum sempat memberikan kabar, tapi selama disini Rama selalu menjaga Vero dengan baik, terlepas setelah kejadian dia pergi meninggalkan rumah bahkan negaranya dan juga Kakaknya yang sama sekali tidak ada niat mencegahnya, akhirnya saya membawanya kemari. Maafkan saya." Ujar Rama menunduk yang pada akhirnya terpaksa harus berdusta.
Bukan tanpa sebab ia mengatakan hal yang sama sekali tidak ia lakukan, sebab ia hanya berpikir mungkin dengan cara inilah ia kembali bisa mengantongi restu dari keduanya. Sekarang ia tidak lagi merasa cemas, ataupun kalah, sebab pria yang dulu pernah merebut wanitanya kali ini sudah mempunyai pendamping hidup. Jadi Rama tidak perlu lagi merasa takut. Yang menjadi saingannya kini adalah pria lain, baginya itu jaih lebub gampang.
" Jadi kau pria yang menikahi Vero?" Tanya Jihan kembali menatap Rama dengan serius.
Ah, si4l! Aku melupakan hal itu! lalu apa yang harus aku katakan sekarang?!
Jihan bertanya seperti itu sebab ia tahu bahwa putri angkatnya itu sudah menikah, begitulah kabar yang orang-orangnya katakan. Namun dalam foto yang di kirim oleh orangnya, sang pria tidak begitu jelas. Sehingga ia langsung menduga bahwa Rama-lah pria yang ada di dalam foto tersebut.
" Lalu dimana putri kami? Cepat katakan?!" Seru Johan yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putrinya, tepatnya putri dari sahabatnya.
Dalam kondisi seperti ini seharusnya Johan marah besar kepada Rama, sebab putrinya di nikahi tanpa sepengetahuan darinya. Namun ia mencoba berpikir jernih juga bersikap tenang, karena tidak seharusnya ia melampiaskan kemarahannya pada Rama, pria yang jelas-jelas sudah banyak membantu putrinya selama ini, tepatnya setelah putrinya meninggalkan negaranya. Walau bukan putri kandungnya, tetap saja Johan sungguh menahan amarahnya saat ini, sebab Vero putri dari sahabatnya sendiri, yang itu berarti dia berkewajiban untuk melindungi dan menjaga Vero layaknya putri kandungnya sendiri.
Rama kembali bingung, namun karena ia mempunyai otak yang encer dalam berperan, sehingga ia hanya perlu berakting sebentar saja di hadapan mereka berdua.
" Maaf sebelumnya, bukannya ingin menghalangi Tante dan Om untuk bertemu dengan Vero saat ini. Akan tetapi Vero sendirilah yang belum siap bertemu dengan siapapun termasuk kepada keluarganya sendiri, terutama Kakaknya yang sudah membuatnya seperti ini." Jelas Rama yang ingin segera menyudahi obrolan mereka dan segera hengkang dari tempat ini untuk mencari keberadaan Vero kembali.
__ADS_1
Johan dan Jihan menghela napas panjang, keduanya mencoba memahami perasaan putrinya saat ini. Terutama bagi Jihan ia sangat memahami sifat putrinya jika sedang dalam masalah, putrinya itu akan menyendiri tak ingin di ganggu dulu. Hanya saja, ada sesuatu yang masih mengganjal di hatinya, tetapi entah apa itu, ia sendiri masih terus memikirkannya, rasa rindu dan bersalah terus mengisi pikiran dan hatinya saat ini, sejak pertemuan mereka terakhir kali.
" Lalu dimana dia sekarang? Apa dia ada di dalam? Biarkan kami bertemu walaupun hanya sebentar saja." Pinta Johan sedikit memohon pada Rama.
" Maaf sebenarnya sejak siang tadi kami sudah cek out dari sini, hanya saja ada sesuatu yang tertinggal yang membuatku untuk datang kemari dan mengambilnya." Lagi-lagi Rama berdusta, agar keduanya tidak lagi mendesak dirinya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan nyleneh dari mereka.
Akhirnya setelah memberi penjelasan sedikit lagi pada kedua orang paruh baya itu, Rama bisa bernapas lega, kini ia sudah berada di dalam mobil, dan siap untuk meninggalkan negara ini. Sesaat baru keluar dari lift tadi orang suruhannya mengabari jika wanitanya sudah meninggalkan negara ini dan berpindah ke negara lain tepatnya di negara bagian AS negara yang cukup luas tersebut.
Mereka semua tidak tahu saja sedang berurusan dengan siapa kali ini. Semua sudah Kai perhitungan sebelumnya, melalui alat-alat canggih miliknya.
" Kita lihat saja..." Ujar Kai yang mengamati dari kejauhan.
.
.
.
.tbc
Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷
Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..
__ADS_1