
Vero_PoV
*
Sudah seminggu ini akhirnya hubunganku dan Kak Jull menjadi sepasang kekasih, walau aku merasa menjadi kekasih gelapnya saat ini, sebab hubungan kami tsembunyi-sembunyi tidak ada orang yang tahu. Namun aku merasa bahagia saat kami selalu menghabiskan waktu bersama-sama seperti dahulu, oh aku sungguh merindukan moment yang sudah lama tidak kami rasakan seperti ini.
" Kak lalu gimana dengan Mama dan Papa jika mereka tahu hubungan kita?" tanyaku padanya sembari mengusap rambut hitamnya yang saat ini sedang ada di pangkuanku. Kami sedang duduk di balkon kamar menikmati semilirnya angin malam yang lama kelamaan mulai menembus ke dalam tubuh.
Kak Jull sedang berbaring, namun ia menjadikan kedua pahaku sebagai bantalnya, bahkan kedua tangannya melingkar sempurna di pinggangku, ia benamkan wajah tampannya di perutku. sedikit tidak nyaman memang namun ia meminta posisi seperti ini.
" Sudah kukatakan kau tidak perlu khawatir, semua akan menjadi urusanku termasuk Papa dan Mama, kau hanya perlu mengikuti apa yang akan aku lakukan selanjutnya, dan kau harus terus mendukungku sayang, apa kau mengerti hmmm,,!" jelasnya, aku hanya bisa mengangguk, walau ia tidak melihatnya.
Kami menghabiskan waktu berdua di puncak, dimana Papa mempunyai sebuah Villa disana yang biasanya disewakan pada orang yang sekedar berkunjung dan bermakna disana, dan sudah satu minggu ini kosong tidak ada yang menempatinya, sehingga Kak Jull mengajak menginap disana.
" Hari sudah beranjak semakin malam ayo kita istirahat, kau pergilah berbaring di atas ranjang, nanti aku akan menyusulmu Aku.ajan keluar sebentar mencari Mamang." seru Kak Jull seraya bangkit dari acara baringnya, tidak lupa ia mengecup keningku sebelum beranjak pergi meninggalkanku sendirian di kamar yang luas ini.
" Jangan lama-lama." cicitku yang masih terdengar olehnya, Kak Jull pun menghentikan langkahnya yang sudah hampir keluar kamar, lalu ia tersenyum manis padaku.
" Lima menit, hanya lima menit okay!" ucapnya membuka pintu kamar dan seketika menghilang dari panganganku.
Aku berjalan menghampiri dimana ranjang yang berukuran besar itu seolah sedari tadi memanggilku untuk segera berbaring disana, aku pun menjatuhkan tubuhku yang lelah, menatap langit-langit kamar, pikiranku berkelana kemana-kemana saat ini. Bukankah seharusnya aku merasa bahagia sebab inilah yang aku inginkan bisa bersama dengan Kakakku.
Namun entah mengapa begitu kami sudah bersama, ada rasa yang mulai menggerogotiku, rasa bersalah yang amat dalam pada kedua orangtua yang sudah rela membagi kasih sayangnya kepadaku, merawatku dengan penuh kasih sayang layaknya anak kandung mereka sendiri, lalu apa timbal balik yang aku berikan pada mereka, aku justru menusuk mereka dari belakang.
Putri mereka diam-diam berhubungan dengan Kakaknya sendiri di belakang kedua orangtua mereka, bukanlah aku sangat jahat sekali, seharusnya aku bisa membuat mereka bangga padaku, sebagai bentuk rasa terima kasihku pada mereka yang sudah merawatku hingga aku tumbuh sehat dan besar seperti sekarang ini.
Sungguh aku menjadi anak yang durhaka pada kedua orangtua, ibarat kata air susu di balas dengan air tuba sepertinya itu cocok untukku, anak yang tidak mempunyai rasa bersyukur dan berterima kasih sama sekali pada kedua orangtua yang sudah merawatnya.
__ADS_1
Sesuai apa yang ia katakan tadi, Kak Jull baru saja memasuki kamar. Sedangkan aku sudah bergelung di bawah selimut namun dengan keadaan yang masih terjaga aku memang sengaja menunggunya. Kak Jull langsung merangkak naik ke sisi ranjang yang kosong lalu mencondongkan tubuhnya ke arahku.
" Hei sayang kau belum tidur? Ada apa?" tanyanya yang seolah mengerti jika perasaanku kini sedang tidak tenang.
" Kak apa sebaiknya kita break dulu, lusa Papa dan Mama akan berangkat ke Aussi, sepertinya aku akan ikut bersama mereka untuk melanjutkan kuliahku disana, aku takut_
" Vero apa yang kau katakan! Bukankah aku sudah mengatakan berulang-ulang semua akan baik-baik saja, kau hanya tetap diam disini bersamaku, kau haris tenang ya." ujar Kak Jull berusaha membujukku.
Namun perasaanku semakin tidak enak saja jika hubungan ini tetap di teruskan, akan banyak hati yang terluka, terutama hati kedua orangtua kami. Apalagi pria bernama Roma itu kemarin datang ke rumah dan berbicara pada Mama dan Papa tentang hubungan kami, ia bahkan berniat melamarku. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu, bahkan kami todak ada hubungan apapun, semua hanya kebohongan semata.
Mendengar Roma akan melamarku, membuat Kak Jull meradang, ia begitu emosi hingga tafi siang aku di ajak paksa keluar dari rumah dan berakhir disini bersamanya, sungguh ketika ia sedang marah seperti ini aku sangat takut sekali, ia amat menyeramkan, kenapa aku baru menyadarinya selama ini? Dia adalah tipe pria yang coll, tidak banyak bicara dan mungkin sekali ia marah tanduk dan taringnya seketika langsung keluar saat miliknya di usik. Itulah fakta di balik orang yang pendiam.
" Roma_
" Jangan menyebut nama pria berengs3k itu di hadapanku Vero, bukankah aku sudah melarangmu dengan keras, jangan membantahku lagi, kau mengerti." desisnya menyela ucapannya, membuat nyaliku menciut. Aku merasa ketakutan saat ini padanya.
*
Setelah selesai sarapan yang di belikan oleh Mamang penjaga Villa ini, aku dan Kak Jull bersiap-siap untuk keluar sekedar mencari angin segar di sekitar Villa. Namun saat baru saja melangkah keluar, ponselku dan ponsel Kak Jull berdering secara bersamaan, aku langsung melihat siapa orang yang memanggil.
Degh! Papa..
Sepertinya yang menelpon Kak Jull pun juga Papa, terlihat saat kami saling bertatapan setelah melihat si pemanggil di masing-masing ponsel kami. Bahkan sekarang masih berdering.
" Biar Kakak yang mengangkatnya." ujar Kak Jull memberi tahu.
" Hallo Pa." jawab Kak Jull ketika panggilan sudah tersambung.
__ADS_1
" Kamu dimana sekarang Jull? Apa bersama dengan Vero. Cepat kalian pulang, kami menunggu kalian berdua!"
Sahut Papa di seberang sana, aku pun mendengarnya sebab Kak Jull mengaktifkan loudspeaker ponselnya. Ada apa ini? Suara Papa terdengar tegas, panik, marah luar biasa, apa mereka sudah mengetahui perihal hubungan kami? Aku masih diam dengan segala asumsi yang ada di dalam pikiranku.
" Baik Pa." jawab Kak Jull yang terlihat lesu, sepertinya ia pun merasakan hal yang sama denganku.
Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke rumah, sepanjang perjalanan di dalam mobil kami saling diam dengan pemikiran masing-masing. Aku jadi takut jika memang benar Mana dan Papa sudah mengetahui hubungan kami, lalu bagaimana ini.
Aku sangat gelisah sekali, tiba-tiba Kak Jull menggenggam sebelah tanganku dengan erat, " Tenanglah, kau percayakan semuanya pada Kakak." ujarnya mencoba membuatku tenang. Namun aku tetap tidak bisa tenang.
Hampir satu jam-an di perjalanan akhirnya kami sampai juga di rumah, itupun Kak Jull menyetir dengan kecepatan penuh, aku segera keluar dari mobil di ikuti Kak Jull setelahnya, ia kembali menggenggam tangan kananku tetapi aku berusaha menepisnya, walau itu sangat sulit sekali. Akhirnya aku pun pasrah di dalam genggamannya.
" Jullio.!" ujar Papa menatap kami dengan tajam. Aku sempat melirik ke arah sofa dimana disana ada Mama yang terduduk lemas bersama seseorang, seseorang?
Degh!!
.
.
.
.tbc
Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷
Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..
__ADS_1