
Akhirnya Vero bersama Roma berhasil keluar dari kediaman Nella, ia sudah tidak betah sekali berada disana, apalagi melihat kebahagian yang terpancar jelas di wajah si Nenel itu membuatnya semakin muak saja rasanya.
" Maaf Kak soal yang tadi, aku terpaksa_
" Tidak apa, it's okay, well kita jadi nonton ini?" Tanya Roma menoleh sekilas pada Vero sembari fokus menyetir.
" Terserah. Eum,, Kak Jull memang seperti itu." Aku-nya menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku mobil milik Roma sembari mendesah lelah.
" Kita makan dulu ya, kamu belum makan 'kan?" Vero hanya menggelengkan kepala entah Roma melihat atau tidak, ia memang sama sekali tidak memakan apapun tadi di acara itu, hanya mengambil minuman saja.
Tetapi tidak lama mobil yang di kendarai Roma masuk ke dalam perkarangan Restoran yang cukup besar dan mewah terlihat dari luarnya. Roma segera mengajak Vero turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam Resto.
" Kamu mau makan apa?" Tanya Roma pada Vero sembari memilah-milah buku menu yang sedang ia pegang.
" Terserah saja, aku tidak lapar!" Jawabnya malas, Vero memang sedikit tidak lapar, tadi di acara ia sudah terlalu banyak minum. Sehingga sekarang ia merasa malas makan.
" Kamu harus makan! Kalau gitu aku yang memilihnya, terserah ya, 'kan aku tidak tahu makanan kesukaanmu apa?" Sahutnya, secara tidak langsung memaksa Vero untuk memilih menu makanan.
" Nggak usah, aku pesan minuman aja." Sambarnya dengan cepat." Mbak aku pesan yang ini ya," Lalu denfan cepat ia menunjukkan salah satu gambar secara asal pada pelayan yang sedari tadi berdiri di hadapan mereka.
" Baik, mau pesan apa lagi?" Tanya sang pelayan setelah mencatat pesanan Vero di benda pipih yang sedang ia pegang.
" Kalau begitu aku pesan dua porsi charsiu ayam dan nasi hainan sama_
" Eh tunggu! Itu satu porsi buat siapa?" sela Vero yang seolah tahu jika Roma sedang memesankan satu untuknya.
" Buat siapa lagi ya untukmu-lah, siapa suruh tidak mau pesan sendiri!." Jawabnya yang keukuh, begitu keras kepala dan akan berbicara kembali pada mbam pelayan.
" Tapi 'kan aku nggak makan ayam! Ya sudah mbak pesan gurami asam manis ya, sama nasinya setengah porsi aja." Dengan kesal akhirnya Vero memesan makanan, walau sebenarnya ia tidak ingin makan.
__ADS_1
Dasar! Menghindari beruang kutup, justru aku terperangkap dengan serigala lapar yang suka memaksa, apes-apes! Jerit Vero dalam hati.
Vero tak melihat jika Roma sedari tadi memperhatikannya sembari tersenyum setelah mbak pelayan tadi sudah pergi dari hadapan mereka berdua. Entah mengapa hanya melihat wajah yang tertekuk itu menjadi pemandangan yang indah di mata Roma.
Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan tadi sudah datang, mereka makan dalam diam. Namun Roma sekali-sekali mencuri pandang ke depan melihat wanita itu makan dengan lahapnya, ia pun jadi tersenyum geli.
" Sepertinya tadi ada yang mengatakan tidak lapar, tetapi sekarang justru terlihat seperti orang yang kelaparan!" Seloroh Roma masih terus tersenyum, membuat Vero seketika tersedak makanan yang sedang ia makan.
Uhuuk..
Uhuukk..
" Hati-hati dong makannya, nggak ada yang minta juga." Ujar Roma kembali sengaja menggodanya.
Vero jadi tersulut, rasanya ingin segera pergi saja dari hadapan pria pemaksa dan menyebalkan itu. " Aku pulang saja, sudah kenyang!" Seperti yang ada di pikirannya, kesabarannya benar-benar sudah habis dan memilih untuk segera pergi. Vero merasa rasa kesalnya jadi bertambah saat bersama pria itu.
Akhirnya Vero kembali duduk, ia juga sadar jika bukan bantuan dari pria ini, mungkin ia tidak bisa pergi dari tempat acara Kakaknya bertunangan, yang membuat hatinya sakit.
Roma berusaha menenangkan Vero saat ini, ia sadar bercandanya tadi tidaklah tepat. Ia juga menyadari jika gadis yang sedang ada di hadapannya ini sedang ada masalah, entah dengan siapa? Awalnya ia hanya ingin berkenalan saja dengan Vero, namun sekarang justru ingin mengenalnya lebih jauh lagi, terlebih gadis itu sangat cuek dan tidak mudah tersentuh berbeda dengan gadis di luar sana yang ia temui. Itu menjadi daya tarik tersendiri untuknya, ia merasa tertantang untuk bisa menakhlukkan seorang Vero.
Di tambah dia adalah Adik dari mantan sahabatnya dulu Jullio, yang sekarang menjadi musuhnya, ya sejak kelulusan mereka di sekolah menengah atas, keduanya tidak pernah bertemu kembali setelah kejadian itu, dimana dulu Roma merebut gadis yang di cintai mantan sahabatnya itu, hingga membuat hubungan keduanya hancur gara-gara seorang wanita.
Setelah selesai dengan acara makannya, mereka pun bergegas pergi menuju salah satu gedung untuk menonton salah satu film yang sedang booming bulan ini.
Hingga acara di mulai sampai selesai Vero hanya terdiam seribu bahasa dan hanya menatap ke depan layar lebar itu entah menikmati film tersebut atau tidak hanya gadis itu yang tahu.
Di dalam mobil pun gadis itu tetap masih sama, tidak ingin berbicara. Roma juga hanya sesekali mengajak mengobrol dan itu pun i enggan untuk sekedar bertanya mengenai hal yang menjarah ke hal pribadi misalnya, namun ia urungkan, biarlah secara perlahan saja ia mendekatinya begitulah pikirnya.
Hingga tak lama mobil Roma memasuki pelataran rumah megah keluarga Okta. Vero pun segera membuka pintu di sampingnya, " Terima kasih Kak." Ujarnya seraya menurunkan satu kakinya.
__ADS_1
Namun gerakan cepat yang di lakukan Roma padanya membuatnya berbalik menatap pria itu, " Sorry, sorry." Roma segera melepaskan cekalannya di tangan Vero saat melihat wanita itu terlihat kesal padanya. " Eumm,, lain kali mau 'kan kita keluar lagi?" Tanyanya dengan sangat hati-hati. Dan ini bukanlah sifatnya, namun saat di hadapan gadis ini entah mengapa Roma menjadi pribadi yang berbeda, ya sangat berbeda.
" Tidak janji, tapi lihat nanti." Jawabnya seraya turun dengan cepat dari mobil Roma, membuat pria itu menghela nafas kasarnya. Sulit sekali rasanya hanya untuk sekedar mengajak gadis itu keluar.
Roma pun memencet klakson mobilnya sembari memutar arah sebelum pergi meninggalkan kediaman Vero, hingga mobil itu benar-benar sudah tidak terlihat lagi barulah Vero berjalan menuju pintu utama, ia sangat lelah sekali, ingin segera membersihkan diri lalu merebahkan tubuhnya itu ke atas ranjang empuk miliknya.
**
Beberapa jam kemudian Vero terjaga dari tidurnya namun ia merasakan tubuhnya terasa terhimpit oleh sesuatu, entah apa yang sedang menimpanya saat ini, rasanya begitu berat sekali. Namun ia berusaha mendorongnya sekuat tenaga ke arah samping, dan ia baru menyadari jika itu adalah tangan kekar seseorang yang sedang melingkar erat di pinggang rampingnya.
Hah! Tangan siapa ini? Siapa pria b******n yang berani masuk kamarku? Roma? Tidak mungkin pria itu ada disini. Jadi siapa yang ada di atas ranjang denganku? Kak Jull? Benarkah dia?
Dengan kekuatan yang ia miliki akhirnya Vero bisa menghidupkan lampu tidur yang ada di atas nakas samping ranjang dan tertampanglah wajah siapa yang sedang ada di atas tempat tidurnya sekarang ini.
" Kak Jull apa yang kau lakukan disini!" Pekiknya menggema di seluruh ruangan kamar, beruntung kamarnya mempunyai kedap suara jika tidak pasti sudah membangunkan seluruh penghuni rumah di tengah malam buta seperti ini.
" Ssstttt, jangan berisik aku masih sangat ngantuk." Jawabnya pongah tanpa merasa bersalah sama sekali.
.
.
.
.tbc
Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷
Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..
__ADS_1