
PoV_Jullio
Keesokan paginya aku benar-benar datang ke perusahaan yang semalam aku cari, tampak megah dan lumayan besar, tidak berbeda jauh dari perusahaan milikku sendiri.
Aku bertanya pada salah satu Resepsionis di depan, apakah disana ada seorang wanita bernama Vero yang bekerja di situ, dan ternyata dugaanku benar, Vero bekerja disana, tetapi ia belum datang, aku pun dengan tenang menunggunya, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dan meminta maaf padanya.
Tak lama ada sebuah mobil yang cukup mewah memasuki lobby, seseorang turun dan akan berjalan masuk ke dalam perusahaan, tunggu! Bukankah itu Vero?
Ya sepertinya Vero juga melihatku, aku pun berjalan dengan sangat cepat, Vero terlihat berbalik badan sudah akan kembali masuk ke dalam mobilnya namun sebelum itu terjadi aku sudah menempel di tubuh belakangnya, memeluknya erat.
Aku langsung terisak saking merindukannya dan juga merasa amat bersalah, aku sangat hancur, mungkin ia sama hancurnya denganku. Disaat aku meresapi kehangatan pelukan ini tiba-tiba Vero melepaskan pelukanku dan langsung berbalik badan.
"Kak stop it! " Tegurnya yang membuatku bingung.
" Sayang aku mohon, aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf, aku sangat merindukanmu." Ujarku lirih menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
Saat Vero akan membalas perkataanku, seseorang lebih dulu menarik tubuhnya dan langsung mencium bibir mungilnya saat itu juga dan di hadapanku, sungguh bangs4t orang ini, aku langsung menarik tubuh pria itu dan memukulnya.
Buggh...
" Bangs4t siapa kau, berani-beraninya kurang ajar pada kekasihku, berani sekali kau menciumnya di hadapanku.!" Pekikku menahan amarah.
Vero langsung berteriak berusaha melerai, namun tubuhku lebih dulu di tarik dua orang satpam yang memilki tubuh yang sana-sama kekarnya.
" Tunggu Pak, aku ini kekasih dan juga calon suami dari wanita itu, sayang tolong jelaskan pada mereka apa hubungan kita." Seruku pada dia pria yang berusaha menyeretku, aku tidak peduli mereka mengerti dengan yang aku katakan barusan atau tidak. Lalu aku menatap dan memohon pada Vero.
" Mungkin kau memang kekasihnya dulu, namun sekarang dia adalah kekasihku, tidak ada yang bisa merebutnya dariku, pergi sekarang tinggalkan tempat ini. Ayo." Seru Pria itu menatap tajam kearahku dan menarik Vero untuk masuk ke dalam perusahaannya.
Degh!
Apa yang pria itu katakan tadi? Dia kekasih baru Vero? Secepat itu kau melupakanku sayang? Namun aku berusaha menepis semua itu. Orang itu bahkan bisa berbahasa yang sama dengan kami, yang itu berarti dia satu negara dengan kami.
" Hey kurang ajar, dia kekasihku, lepaskan dia jangan bermain-main denganku.!" Teriakku geram ke arah keduanya namun tubuhku terus di seret keluar hingga ke tepi jalan raya.
Aku terpaksa meninggalkan perusahaan itu, dan kembali ke Apartemen, mungkin lain kali aku akan mengajak Vero untuk bertemu berdua saja. bahkan aku yang masih kekasihnya harus mengajaknya bertemu secara diam-diam, ini menyedihkan!
Aku memutuskan untuk pergi mencari udara segar dan tempat yang nyaman, namun entah mengapa aku justru datang kesini, berada di sebuah tempat yang tak asing lagi bagi semua orang, tempat di mana para pemuda-pemudi sedang bersenang-senang. jika tidak karena terpaksa aku pun tidak sudi menginjakkan kakiku di tempat seperti ini.
Walau saat ini matahari sedang terik-teriknya tak menghalangi niatmu di kala hatiku yang sedang berkecamuk, antara marah, kecewa bercamlur memjafi satu dan tentu saja menyesal yang paling dominan.
Saat aku sudah mulai menerima semuanya, namun kenyataan lain yang harus aku terima, aku menyadari bahwa ini bukan kesalahannya, tetapi aku yang salah tidak bisa menjaga dan melindunginya, dan sekarang sudah terlambat dia sudah mendapatkan pria penggantiku.
__ADS_1
" Perusahaan KC, kenapa aku sampai lupa tidak memperhatikan di sekitarnya," Keluhku pelan.
" What do you want to order? ( Mau pesan apa? )" Tanya seorang bartender padaku dengan sopan.
" Please, Whiskey. ( Tolong, Wiski )" Jawabku dengan datar dan tanpa ekpresi.
" Thank's." Sembari menerima segelas wiski, aku mengeluarkan pandangan. walau masih siang begini, tempat ini tidak pernah sepi, layaknya di pulau dewata sana.
Namun bukannya berkurang rasa sakit itu, kini justru menjalar ke dada yang langsung membuatku sesak, dan kini aku bingung bagaimana nantinya jika kedua orangtua kami menanyakan keberadaan Vero.
Sebelum aku berangkat ke negara ini, Mama sempat menghubungiku dan menanyakan kabar Vero, bagaimana keadaannya, kenapa ponselnya tidak aktif lagi, dan banyak hal lainnya yang kita bahas.
Sungguh membuat aku tidak dapat mengendalikan emosiku dan terus menghabiskan minuman beralkohol itu hingga habis beberapa gelas. Bahkan ia lupa bahwa waktu sudah berlalu dengan begitu cepatnya.
Ternyata hari sudah berganti malam, aku benar-benar tidak sadar, mungkin karena sudah sangat pening memikirkan hal yang tidak-tidak mengenai ucapan pria yang mengklaim dirinya sebagai kekasih Vero. Namun jika benar apa yang dia katakan, aku akan membuat perhitungan dengannya, enak saja dia main ambil milikku seenaknya!
Mungkin karena aku sudah terlalu mabuk dan hampir kehilangan kesadaran akhirnya beberapa pria berjas rapi membantuku keluar klub, entah berapa banyak aku minum, untungnya aku masih kuat berjalan, tak lupa aku tadi sudah menyodorkan beberapa lembar uang dollar kepada Barista tadi.
Aku terus berjalan sempoyongan menyusuri jalan trotoar, jalanan begitu sepi karena hari memang sudah sangat larut, mungkin saja ini sudah dini hari, aku tidak tahu jelas, padahal benda penting itu melingkar sempurna di pergelangan tangan kiriku.
" Vero kenapa kau lakukan ini padaku??" Racauku pada diri sendiri masih terus berjalan seperti orang yang tidak waras.
" Aku akan membuatmu kembali padaku bagaimana pun caranya.! Kau lupa siapa aku? Aku_
" Baby, akhirnya aku menemukanmu, ayo kita pulang sekarang juga." Aku menarik sebelah tangannya, bahkan seakan memaksanya aku tidak peduli, aku benar-benar takut kehilangan dia kembali., cukup kemarin saja aku menjadi pria yang bodoh.
Aku merasakan dia terus saja meronta dan memberontak, namun kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan yang aku miliki, akhirnya aku berhasil membawanya ke dalam unit Apartemen milik Adikku.
Aku langsung membanting tubuhnya ke atas tempat tidur yang sangat empuk itu dan segera mengukungnya. " Please, let me go. Go!! ( Tolong lepaskan aku! Perg!!" Pekiknya berusaha mendorong tubuhku, walaupun sama sekali tidak bergerak. Aku menahan tawa kenapa dia memakai bahasa asing dengaku. Ada-ada saja, membuatku semakin gemas.
Aku segera melancarkan aksiku mencumbu bibir mungilnya yang sudah membuatku candu dengan begitu bergairah, aku harus mendapatkannya malam ini, aku tidak ingin milikku di miliki oleh orang lain.
Saat merasa napasnya tersenggal barulah aku melepaskannya, membiarkannya bernapas aku segera menciumi leher putihnya, menghirup aroma tubuh yang membuatku mabuk.
Kenapa aromanya seperti ini? Ini sedikit berbeda? Dan ini lebih terasa lebih segar, atau mungkin dia mengganti parfumenya, pikirku.
Begitu aku merasa dia sudah tidak lagi memberontak dan justru membalas ciumanku, aku meneruskan kegiatan yang menakan ini yang ternyata begitu nikmat.
Akhirnya aku melakukan penyatuan tubuh dengan kekasihku untuk pertama kalinya, sungguh ini membuatku gil4 dan tak bisa berhenti, mungkin karena aku baru merasakannya untuk pertama kalinya, sehingga aku sama sekali tidak curiga, karena memang sebelumnya aku sudah mengetahui keadaannya yang memang sudah tidak utuh lagi, dan sekarang aku sudah menerima keadaannya.
" Oouchhh...kau membuatku gil4 sayang, yeaahh kau nikmati saja permainanku ini, aku akan membuatmu melupakan pria berengs3k itu." Racauku sambil terus menghujami tubuhnya yang indah dan teramat seksi.
__ADS_1
Tak lama kami pun mencapai puncaknya, melenguh bersamaan dengan napas yang memburu, aku menciumi kening juga seluruh wajahnya, sambil mengucapkan maaf juga terima kasih.
------
Keesokkan harinya.
" Hey Mister, let go of that big hand of yours. ( Hei, Tuan lepaskan tangan besarmu itu.)" Pekik suara wanita yang sangat dekat denganku, namun aku tidak meresponnya justru tanganku semakin melilit pinggang rampingnya itu.
" Tunggu sebentar Ver, biarkan seperti ini dulu." Sahutku dengan suara berat, dengan mata yang masih terpejam, kenapa dia tetap saja berbicara asing denganku, apa dia sedang mencoba menggodaku? Aku terkekeh dalam hati.
" Kau sangat nikmat sayang tadi malam, aku semakin tergil4-gil4 pada tubuhmu ini." Bisikku yang kini kembali menciumi tengkuknya dan tanganku juga sudah menjalar kemana-mana.
" Stop it! I don't recognize you bastard. ( Hentikan! Saya tidak mengenali Anda bajing4n!!) " Pekiknya kembali.
Degh.!!
Suara itu? Bukan suara Vero lalu siapa? Seketika aku langsung tersadar dan mataku membola dengan cepat aku melepaskan pelukanku yang sejak kapan sudah memeluknya, atau dari semalam aku memeluknya dari belakang hingga kami terlelap karena saking lelahnya.
" Oh my god, who are you? How did you get here ( Ya Tuhan, siapa kamu? Bagaimana kamu sampai di sini? )" Aku pun ikutan terpekik karena sama terkejutnya saat melihat ada seorang wanita cantik tak kalah cantik dengan Vero, kini ada di atas ranjang yang sama denganku.
Yang membuatku kembali terkejut adalah penampilan tubuh kami yang polos tanpa sehelai benang pun, aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi pada kami semalam.
Aku mulai mengingat kembali kejadian semalam saat dari mulai aku mabuk berat, hingga permainan panas kami yang membuat rudalku kembali tegang di balik selimut yang aku pegang sekarang.
" Asataga! Jangan bilang, aku telah menidurinya semalam?!! Oh my god, ini tidak mungkin." Gumamku mengelak, mengusap wajahku dengan frustasi.
Bagaimana tidak! Ada seorang wanita asing yang sama sekali tidak aku kenal ada bersamaku semalaman suntuk, aku melirik ke arahnya yang ternyata dia juga tengah menatapku, dia wanita yang teramat cantik, bagaimana bisa ia kelayapan di tengah malam begitu? Benar juga, tidak mungkin Vero kelayapan pada indah malam.
Bagaimana bisa aku tidur dengan wanita asing? Tapi bukankah semalam aku sedang bercinta dengan Vero? jangan bilang, karena mabuk berat, hingga membuatku mengkhayal dan menganggap dia adalah Veroku. Oh my god, double sh1**.
Bagaimana ini apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin meninggalkannya begitu saja bukan, walau aku sadar di negara ini banyak orang yang melakukan hubungan int1m hanya semata-mata sekedar kebutuhan semata, namun aku di ajarkan untuk bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku perbuat, terlebih aku sudah menanam benihku di dalam rahimnya, bagaimana jika sampai dia mengandung anakku? Tidak! Aku tidak ingin terpisah dengan darah dagingku sendiri.
Baiklah aku putuskan akan bertanggung jawab pada wanita ini, soal Vero aku akan memikirkannya lagi sebab aku belum pernah menyentuhnya sama sekali, lain dengan wanita ini. jika aku sudah menyentuhnya itu berarti dia sudah menjadi milikku, tidak ada yang boleh memilikinya selain aku. Hanya milikku seorang.
.
.
.
.tbc
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷
Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..