
Alien??
' Apa yang barusan dia katakan, dia seorang Alien? Apakah dia sedang bercanda? Dia bahkan tak hanya bisa membaca pikiranku tetapi juga bisa menghipnotisku! Apa aku harus mempercayainya??'
" Bolehkah aku menciummu?" Seru Kai tiba-tiba dengan senyum menyeringainya. Tanpa aba-aba lagi, Kai segera menempelkan bibirnya ke permukaan bibir Vero, ******* juga menyesap rasa manis yang membuatnya candu. Vero sendiri nampak bergeming, kehilangan kata-katanya, entah mengapa ia merasa dejavu.
' Kenapa sepertinya aku pernah merasakan hal ini sebelumnya? Dan rasa bibirnya ini?'
" Ya memang kau pernah merasakannya." Ujar Kai begitu ia melepaskan tautan bibir mereka. Ia menatap lekat ke dalam manik hazel milik Vero, seakan ia ikut terseret masuk ke dalam sana. Sedetik berikutnya Kai kembali memangut bibir itu, dan kali ini semakin lembut dan intens.
' Ya benar rasa ini, tetapi sepertinya itu di dalam mimpi. Kenapa jantungku rasanya begini, seperti melompat kesana kemari, apa aku juga harus membalas ciumannya?'
" Baiklah, kita lakukan sekali lagi jika kau mau membalas ciumanku." Ujar Kai yang melepaskan kembali ciuman panasnya, sebenarnya ia menahan diri untuk tidak tertawa geli mendengar suara-suara hati Vero, rasanya sungguh lucu dan juga menggemaskan.
' Aku lupa dia bisa membaca pikiranku, benarkah dia seorang pria Alien??'
Tanpa berpikir panjang lagi Kai kembali melahap bibir Vero, ********** dengan sedikit kasar. Tangannya menuntun tangan Vero agar memeluk lehernya, dan Vero tidak protes sama sekali ia langsung melakukannya. Dan mulai membalas ciuman itu secara perlahan.
Tangan Kai juga tak mau diam saja, dengan lincah ia membelai pipi dan surai hitam Vero hingga menari-nari di dekat telinganya, membuat wanita itu semakin geli dan tergoda..
Kai mengigit bibir bawah Vero agar terbuka, kemudian mulai menjelajahi rongga mukut Vero dengan lid4hnya, sehingga membuat lid4hnya berpetualangan di dalam sana.
Vero tak mau kalah, walau ia hanya berciuman dengan Kakaknya sekaligus Kekasihnya selama ini, namun ia sadar ciuman ini rasanya sungguh jauh lebih memabukkan di bandingkan dengan ciuman yang di lakukan oleh Jullio.
Hingga tanpa sadar ia membalas perlakukan Kai, ********** perlahan menikmati setiap hisapan disana. Jari lentikku pun ikut menari di tengkuk hingga ke puncak kepalanya. Begitu lid4h mereka bertemu, keduanya bersilat lid4h, menari-nari, saling menghisap satu sama lain.
Membuat Kai merasakan geli juga merinding akibat ulah Vero, mereka masih saling menghisap, mencecap rasa yang terlampau manis itu hingga tak sadar sudah berapa lama mereka berciuman panas.
Tangan kekar Kai merengkuh pinggang Vero, merapatkan tubuh mereka, sehingga tubuh mereka saling menempel masih saling berciuman mesra.
__ADS_1
' Entahlah, kenapa rasanya aku tidak ingin menyudahi ini semua, walau statusku masih menjadi kekasih pria lain, namun tidak semua salahku, memang aku yang sudah pergi meninggalkannya. Namun itupun terjadi karena ia yang menjauhiku? Meninggalkanku seorang diri tanpa kejelasan. Biarlah jika aku harus mencintai pria yang salah, jika pria ini juga pada akhirnya menjauhiku, aku pun akan pergi lagi sejauh mungkin darinya jika ia hanya ingin bermain-main dengan menjadikanku teman tidurnya saja.'
Vero mengurai pelukan mereka saat napasnya mulai tersengal dan langsung memalingkan wajahnya malu dan juga salah tingkah, Kai justru menatapnya intens lalu tersenyum.
" Look at me, Baby." Suara bariton itu terdengar memerintah, membuat Vero segera menoleh menatap ke arah sang Bos.
Kedua tangan Kai membingkai wajah Vero, mengusap pipinya yang mulus itu, Vero bisa melihat wajah tampan bosnya itu dari jarak yang sangatlah dekat. Vero bisa melihat tatapan itu sangat lembut dan bisa merasakan ketulusan dari tatapan itu.
" Kua tidak sendirian! Jangan pernah berpikir aku akan pergi darimu, dan jangan berpikir kau akan pergi meninggalkanku, juga jangan pernah berpikir pula aku hanya bermain-main denganmu saja, berjanjilah satu hal, kau akan selalu ada di sampingku, selamanya, karena kau adalah milikku." Jelas Kai panjang lebar.
" Apa kau sadar dengan semua perkataan gilamu ini!" Vero tak serta merta percaya dengan semua ucapan pria gila yang sayangnya amat tampan ini. Sebab mereka baru bertemu dan kenal tidak kurang dari satu bulan ini.
" Ya, aku sangat sadar saat mengatakan itu semua. Kau adalah manusia pertama yang aku seriusi selama hidup di muka bumi ini. Dan aku minta kau berjanji akan semua hal yang aku katakan tadi." Pinta Kai segera mengunci tatapa mereka.
" I promise." Entah sadar atau tidak Vero menjawabnya dengan cepat tanpa berpikir terlebih dahulu.
" Thanks Mr. Kai. Aku pengang kata-katamu itu." Vero sengaja menggodanya.
" Kau sengaja menggodaku hem!" Dalam hitungan detik, tubuh mereka kini sudah saling berhadapan, pria itu segera memeluk erat tubuh Vero.
Belum sempat Vero menjawab, Kai sudah meraub bibirnya dan ********** kembali namun tidak lama ia kembali melepaskannya.
" Aku bisa kena serangan jantung jika kau selalu mengagetkanku." Sungutnya mengerucutkan bibirnya ke depan, dan itu terlihat begitu menggemaskan di mata Kai.
" Tapi kau menyukainya bukan?" Godanya sambil menyeringai seperti biasa.
Vero hanya berdehem tanpa mau menjawabnya, ia justru membalikkan tubuhnya membelakangi pria itu.
Kai justru merapatkan tubuhnya, memeluknya erat dari arah belakang, menciumi tengkuk Vero berkali-kali.
__ADS_1
" Kai lepas, i'm sleepy." Protes dengan tegas.
" Tidurlah, biarkan aku memelukmu seperti ini, kau tidak lupa bukan, jika kau adalah partner ranjangku." Tanpa menghiraukan protes wanita itu, Kai terus saja menghimpit membuat tubuh keduanya menempel.
-----
Pagi menjelang Vero baru terjaga dari tidur panjangnya, ternyata tidur dengan di peluk dari belakang membuatnya nyaman dan tidurnya pun terasa nyenyak.
Bukannya ia dan Jullio dulu tidak pernah tidur bersama, mereka sering melakukannya, ya hanya sebatas tidur saja, tidak melakukan hal lebih, sebab Jull sangat menjaga itu. Namun karena insiden yang menimpanya waktu itu, membuatnya sedikit demi sedikit melupakan sang kekasih. Tepatnya bukan melupakan, hanya mengesampingkan saja.
Entah masih menjadi kekasih ataukah mantan kekasih, Vero pun masih enggan jika harus bertemu dengan pria itu.
Vero sudah tak merasakan pelukan hangat dari pria itu yang tak lain dari bos mesumnya, ia langsung beringsut bangun dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi, untuk bersih-bersih.
Tak lama Vero pun keluar setelah membersihkan tubuhnya, karena memang hari sudah menunjukkan pukul enam pagi, ia tak mau terlambat ke kantor nantinya, ia pun memutuskan turun ke dapur untuk membuat sarapan yang simple.
Pagi ini ia hanya membuat roti panggang yang akan ia beri selai nanas dan juga membuat segelas susu coklat hangat untuknya. Begitu selesai membuat dan juga menghabiskannya, Vero segera bersiap untuk berangkat menuju perusahaan tempatnya belerja. Tak berselang beberapa menit Vero pun sudah sampai dan segera masuk.
.
.
.
.tbc
Terima kasih yang sudah mampir baca, semoga suka dengan ceritanya. Minta dukungannya ya dengan memberi like, koment dan hadiah juga, 🌷🌷🌷🌷🌷
Jangan lupa tekan favorite nya agar mendapatkan notifikasi dari kami. terima kasih love u All..
__ADS_1