Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#10. Tedja ingin baby Arkan test DNA


__ADS_3

Setelah Indah diperbolehkan pulang ke rumah. Begitu perhatian sikap dan perhatian Tedja. Baby sitter di sewa untuk memudahkan Indah lebih fokus dulu untuk pemulihan luka pasca operasinya.


Baik Tedja dan Pangestu sama-sama memberi perhatian yang lebih kepada si dedek bayi. Keduanya berlomba-lomba dekat dengan sidedek. Mengganti popok dengan cepat, karena sidedek akan menangis bila popoknya sudah basah.


Karena Tedja umur nya sudah lanjut, baru 2 kali mengganti popok si dedek. Tedja sudah merasa pinggang nya sudah mau patah. Akhirnya Tedja mengalah membiarkan Pangestu yang banyak Andil dalam mengasuh si dedek.


"Kamu aja deh, Pangestu yang ganti popoknya. Ayah encok menunduk dan mengangkat sidedek. Ayah tidak sekuat dan semuda usia kamu", Tedja mengalah menyuruh Pangestu yang mengganti popok si dedek. Ketika ketiganya berkumpul di ruang keluarga sambil menonton bersama.


Pangestu pun langsung sigap mengganti nya, Pangestu belum pengalaman menjadi seorang ayah, entah mengapa Pangestu seperti cepat belajar dari contoh yang dilihatnya ketika suster Ani mengganti popok nya si dedek.


Beda halnya dengan Tedja, tedja sudah pengalaman menjadi ayah, tetapi faktor usia membuatnya tidak gesit bergerak.


"Sayang, siapa nama panggilan bayi kita ini?", tanya Indah Ingin tahu.


"Baiklah, kita namakan saja anak kita dengan panggilan Arkan", ucap Tedja tersenyum.


"Nama yang bagus, baiklah aku setuju", Indah menyetujui.


"Ayah, bolehkah aku menambahinya dengan sebutan Arkan Rizkia?", tanya Pangestu.


"Boleh, begitu pun bagus!. Baiklah si dedek sekarang kita namai Arkan Rizkia", Tedja memberitahu. Semua pun mengangguk-angguk tanda setuju.


***


Tiga bulan berlalu setelah kelahiran baby Arkan.


"Ternyata wajah Arkan lebih mirip ke wajah Pangestu", pikir Tedja dalam hati, sekarang keinginannya untuk mencari tahu kebenaran mengenai ayah biologis Arkan semakin tinggi.


Diam-diam Tedja mencari informasi cara untuk mencari tahu ayah biologis dari seorang anak adalah dengan cara test DNA.


Setelah mengetahui cara dan tempat untuk test maka Tedja pun pergi ke rumah sakit yang khusus menangani hal tersebut.


Tedja membawa beberapa helai rambut Arkan Rizkia, kebetulan rambut Arkan tumbuh sangat lebat dan hitam. Tedja tidak begitu sulit untuk mendapatkan nya. Sengaja Tedja ketika bermain dengan Arkan Tedja berpura-pura ingin menyisir rambut Arkan. Akhirnya Tedja memperoleh beberapa rambut Helsi rambut Arkan dan membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


"Ini dok rambut anak yang akan di test DNA nya", Tedja memberi beberapa helai rambut Arkan yang dimasukkan kedalam plastik.


"Baiklah pak, silahkan bapak datang 2 minggu lagi untuk mengambil hasil testnya", dokter memberi tahu.


"Baiklah dok, saya permisi dulu", Tedja pamit meninggalkan rumah sakit.


Selama diperjalanan Tedja merasa kurang enak badan, Tedja bermaksud untuk pulang lebih awal ke rumah.


"Kenapa aku merasa tidak enak badan?, baiklah aku tidak usah ke kantor hari ini Aku akan pulang saja dan istirahat", gumam Tedja merasa tidak enak badan.


Beberapa menit kemudian. Tedja pun tiba di rumah.


Dari dalam kamar Tedja mendengar percakapan antara Pangestu dan Indah.


"Sayang aku merasa aneh dengan sikap ayah, Apakah mungkin ayah mengetahui hubungan kita ini dan memilih untuk diam?", tanya Pangestu menebak.


"Mengapa kamu bilang begitu?, memang nya apa yang aneh dari sikap ayah menurut mu?", menurut Indah sikap Tedja biasa saja.


"Waktu di rumah sakit, ketika ayah mengizinkan aku masuk menemui mu. Mungkin ayah mengerti kalau aku sangat ingin tahu kondisimu, padahal waktu itu ayah kembali tidak ada membawa sesuatu.


Terus yang paling mengejutkan lagi bila ayah tiba-tiba datang dan melihat aku dekat dengan kamu dan Arkan. Seolah-oleh ayah menjauh dan membiarkan kita bersama-sama. Apankamu tidak menyadari sikap ayah itu?", Pangestu memberi gambaran.


"Aku merasa itu biasa saja, ketika di rumah sakit, wajar dong pak Tedja membiarkan kamu menemani aku, lagian kan ayah tahu kamu adalah anak tiriku. Tidak apa apa sih menurut ku.


Mengenai menambah nama untuk Arkan, bisa-bisa saja sih menurutku seorang kakak memberikan nama untuk adiknya. posisi kamu dengan Arkan kan kakak beradik.


Menurutku sikap pak Tedja biasa saja. Mengenai membiarkan kita dekat, yah mungkin saja kebetulan pak Tedja banyak urusan", indah memberi tanggapan nya.


"Entahlah, aku juga bingung. Bagiku ku sikap ayah itu tidak biasa. Ya sudahlah, bagus dong ayah bisa menerima hubungan kita", Pangestu asal bicara.


"Aku juga bersyukur kalau pak Tedja sekiranya menyetujui hubungan kita. Karena apabila tiba bagi Arkan untuk bersekolah.


Ketika pak Tedja yang mengantar Arkan ke sekolah. Teman-teman nya pasti bertanya pak Tedja ayah Arkan atau kakek Arkan?.

__ADS_1


Teman-teman Arkan pasti akan mengejek Arkan bila tahu pak Tedja adalah Ayahnya", Indah merasa gusar.


Pangestu pun terdiam. Pak Tedja yang mendengar dari balik pintu. Segera pergi ke ruang kerjanya saja. Di ruang kerja juga ada sebuah kasur kecil.


Cukuplah untuk melepaskan lelah ketika selesai bekerja. Karena berpindah ke kamar akan terasa lama bila rasa lelah itu datang. Itulah sebabnya di ruang kerja Tedja ada sebuah kasur kecil untuk rebahan.


Tedja memikirkan semua percakapan antara indah dan Pangestu di dalam hatinya.


"Benar juga kata Indah, pasti Arkan akan malu dengan ayahnya yang cocoknya sebagai kakeknya", gumam Tedja dalam hati.


Karena terlalu lelah memikirkan hal itu, Tedja pun tertidur lelap dibrusng kerjanya hingga sore hari.


Pangestu yang merasa kalau sebentar lagi ayah nya akan pulang kerja. Pangestu pun segera keluar dari kamar Indah.


Tidak sengaja Pangestu berpapasan dengan Bi Inah.


"Nak Pangestu dari mana", tanya ni Inah bingung melihat Pangestu turun dari atas.


"Aku tadi habis mengantar susu buat Arkan", jawab Pangestu gelagapan.


"Apa tidak ketemu dengan pak Tedja di atas?", tanya bi Inah. Karena Bu Inah merasa bingung mengapa Pangestu yang mengantar susu?, padahal pak Tedja setahu bi Inah sudah pulang sejak pagi tadi.


"Saya tidak ada ketemu ayah di atas", jawab Pangestu seadanya.


"Terus Pak Tedja dimana sekarang, pak Tedja itu sudah sedari pagi pulang, katanya kurang enak badan makanya langsung balik ke rumah", bi Inah memberitahu.


"Pangestu pun segera berlari ke atas dan mencari tahu keberadaan ayahnya. Pangestu memberanikan diri membuka pelan-pelan kamar kerja ayahnya. "Ternyata Benar ayah sudah pulang kerja sejak tadi, sesuai informasi dari bi Inah,


Sekarang ayah sedang tertidur lelap di tempat tidur kecilnya", gumam Pangestu bingung langsung memberitahu keberadaan ayahnya kepada Indah.


Indah juga panik, takut kalau perselingkuhan mereka diketahui oleh Tedja.


Pangestu pun segera membangunkan ayahnya.

__ADS_1


"Ayah, apakah ayah baik-baik saja. Bi Inah tadi memberitahu kalau ayah sudah sejak pagi tadi pulang ke rumah?", tanya Pangestu ingin tahu kondisi ayahnya.


"Iya, ayah sudah baikan, setelah beristirahat tadi sebentar", Tedja menyakinkan Pangestu.


__ADS_2