
Shifa dan Pangestu akhirnya tiba di Jakarta. Langsung berangkat ke rumah dengan memakai kendaraan yang sedari tadi parkir di depan gedung bandara menunggu untuk segera mengantar penumpang yang baru saja melandas.
Merekapun tiba di rumah, kedatangan mereka langsung di sambut oleh Burhan dengan penuh sukacita yang luar biasa.
"Selamat datang di rumah ini nak", sapa Burhan dengan penuh senyuman kepada Pangestu.
"Papa senang, akhirnya kalian telah memberikan papa cucu", Burhan sengaja langsung berbicara tentang kehamilan Shifa. Karena ingin tahu tanggapan Pangestu.
Pangestu membalas dengan sedikit menyunggingkan bibirnya.
"Dengan lahirnya pewaris dari keluarga ini, papa akan menyerahkan seluruh harta kekayaan papa. Bila cucu papa lahir. Baik yang lahir perempuan atau laki-laki dia lah yang menjadi pewaris kekayaan papa ", Burhan memberikan penawaran.
Agar Pangestu tidak meninggalkan Shifa. Pangestu hanya diam saja, seperti berpikir dan mempertimbangkan sesuatu di dalam pikirannya.
"Karna sekarang sudah sore, baiknya kalian segera mandi dan segera beristirahat", Burhan tidak berkomentar lagi, karena Pangestu hanya diam saja, tanpa menanggapi perkataan Burhan.
"Baiklah, aku akan segera beristirahat di kamar saja", Pangestu pamit dan langsung masuk ke kamarnya. Begitu juga Shifa mengikut dari belakang Pangestu.
Tanpa banyak basa-basi, atau permisi kepada Shifa. Pangestu langsung masuk ke kamar mandi hendak mandi, dan dari kamar mandi Pangestu langsung mengenakan pakaiannya dan langsung mengambil bantal dari ranjang dan menaruhnya di sofa. Pangestu mengambil posisi tidur di sofa.
"Aku tidur di sofa saja, kamu tidur di ranjang. Oh ya jangan ganggu aku tidur, aku ingin tidur dengan nyenyak", Pangestu tegas.
Shifa hanya diam saja.
Shifa berusaha berpikir atau memutar otaknya, bagaimana caranya untuk membuat hati Pangestu luluh. Agar Pangestu bisa menerima janinnya dan menjadi suami Shifa selamanya.
Shifa pesimis, segala cara apapun itu. pasti tidak akan bisa mengubah kerasnya hati Pangestu. Pangestu tetap akan kembali kepada Indah dan meninggalkan Shifa. Shifa hanya bisa berdoa dan berharap mudah-mudahan Pangestu di ketuk pintu hatinya. Bisa menerima Shifa dan anaknya.
Benar saja, Pangestu sejak dari awal tidur di sofa hingga larut malam tidak ada terbangun untuk pindah ke ranjang. Walaupun Shifa sengaja memakai baju tidur yang transparan dan menggoda.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali, seperti biasa Shifa membuatkan sarapan untuk Pangestu. Setelah semua beres Shifa pun membangunkan Pangestu untuk sarapan bersama.
"Sayang bangun yuk, kita sarapan dulu", ajak Shifa membangunkan Pangestu dari tidurnya.
"Oh iya, ini sudah jam berapa?. Hari ini kita ke rumah sakit kan?", tanya Pangestu untuk mengetahui jadwal kegiatan mereka hari ini.
"Ini sudah jam 7 pagi. Iya, hari ini kita hendak ke rumah sakit menanyakan perihal penyakit ku", Shifa membenarkan jadwal kegiatan mereka hari ini.
"Baiklah aku akan menyusul untuk sarapan. Kamu pergilah duluan. Sebelumnya aku ingin mandi dulu ya", Pangestu segera beranjak dari sofa dan segera bergerak menuju kamar mandi untuk segera mandi, begitu juga Shifa segera keluar kamar menuju meja makan.
***
Di meja makan telah berkumpul Shifa dan Burhan.
"Bagaimana sikap pangestu kepada kamu nak?", tanya Burhan ingin tahu.
"Pangestu cuek kepada Shifa, pa. Bahkan Pangestu tidur di sofa", Shifa memberitahu Burhan.
"Shifa tidak tahu pa, Pangestu belum memberitahukan nya kepada Shifa. Tetapi kemarin, Pangestu ingin Shifa menggugurkan janin ini. Tetapi Shifa dengan keras menolak nya", Shifa memberitahu.
"Apa!. Mendengar kamu hamil. Papa pikir hubungan kalian sudah membaik. Ternyata Pangestu adalah laki-laki yang tidak bertanggungjawab. Baiklah papa nanti akan mencoba bicara kepada Pangestu", Burhan menenangkan hati Shifa.
"Hari ini, kita akan memeriksa kembali perihal penyakit kamu ,bukan?", ucap Burhan memastikan.
"Iya pa, kita berangkat pagi ini setelah selesai sarapan", Shifa menyakinkan Burhan.
Pangestu datang dari kamar, ikut bergabung di meja makan untuk sarapan bersama.
"Pagi nak Pangestu", sapa Burhan untuk membuka obrolan.
__ADS_1
"Pagi pa", balas Pangestu sekedarnya dan tetap asik menyendoki nasinya ke piring.
"Pangestu, papa sudah tahu perihal kehamilan shifa. Dan saya sangat senang mendengar kabar baik ini. Ini adalah kabar yang papa tunggu-tunggu sejak lama. Bagaimana menurut kamu, apakah salah saya mengharapkan seorang cucu dari anak dan menantu papa?", tanya Burhan ingin tahu tanggapan Pangestu.
"Papa benar, tidak salah mengharapkan cucu dari anak dan menantu yang saling mencintai", Pangestu bicara ketus.
"Maksud kamu apa Pangestu?, Maksud kamu kalian melakukan hubungan suami-istri, hingga Shifa sampai hamil, karena paksaan?, apakah Shifa memaksakan atau telah memperkosa kamu?", Burhan bertanya balik, bingung perkataan Pangestu.
"Sudahlah pa, masalah Pangestu saat ini banyak sekali. Papa tidak usah menambah masalah Pangestu lagi.
Pangestu berharap Shifa segera menggugurkan kandungannya. Karena Shifa telah memanfaatkan penyakitnya untuk mengambil simpati dan empati saja.
Saya pikir tadinya Shifa benar-benar umur nya tidak lama lagi. Jadi saya ingin Shifa juga merasakan kebahagiaan dalam berumah tangga. Tetapi kenyataan Shifa sudah lebih 40 hari tidak meninggal dunia. Jadi saya merasa di tipu", Pangestu mencari pembenaran.
"Kami tidak ada menipu nak Pangestu. Memang dokter yang mengatakan semua itu kepada saya. Saya tidak tahu dimana kesalahan nya. Setelah sarapan rencananya kita akan menemui dokter yang memeriksa Shifa.
Silahkan kamu bertanya banyak mengenai hal itu. Agar kebenaran boleh terungkap. Saya sendiri pun tidak senang kalau kamu menyebut saya seorang penipu", Burhan kesal Pangestu menuduh yang tidak-tidak, bahkan Pangestu sudah tidak sopan bicara kasar kepada ayah mertuanya.
"Oh iya, saya peringatkan kamu. Saya sangat menginginkan cucu saya lahir. Saya tidak mau kamu memaksa atau menyuruh Shifa menggugurkan nya. Silahkan kamu bercerai dengan Shifa. Kalau itu yang kamu inginkan.
Tetapi Seluruh saham Shifa akan diambilnya dari perusahaan patungan kalian. Dan semua pelanggan kamu yang menjadi kolega saya. Akan saya suruh membatalkan kontrak kerja dengan kamu", Burhan mengancam Pangestu.
Pangestu diam saja, keringat nya bercucuran. Apa yang ditakutkan nya ternyata benar-benar akan terjadi. Pangestu tidak mau hal itu terjadi. "Aku sudah sangat bekerja keras untuk perusahaan patungan Ini. Aku tidak rela kehilangannya begitu saja", gumamnya dalam hati dengan penuh ketakutan.
Pangestu segera memutar otaknya tidak mau hal itu terjadi. Dan segera memberi tanggapan atas pernyataan Burhan tadi.
"Pa, sekarang Pangestu hanya ingin tahu dan penasaran atas penyakit Shifa. Baiklah kita segera pergi ke rumah sakit sekarang, agar bisa mendapat nomor antrian pertama", Pangestu mencoba mengalihkan pembicaraan.
Burhan tahu ketakutan Pangestu, yang tidak mau kehilangan perusahaan patungannya. Dan merasa senang karena Pangestu pikirnya tidak akan meninggalkan Shifa. Burhan pun langsung menanggapi Pangestu agar Pangestu tidak merasa malu.
__ADS_1
"Baiklah, papa sudah tidak sabar untuk mengetahui perkembangan penyakit Shifa", Burhan segera menyelesaikan makannya.