Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#67. Arkan terbawa ombak


__ADS_3

Pangestu merasa tidak enak hati untuk menghubungi Indah. Karena hampir 2 Bulan sudah sejak kepergian Pangestu ke luar negeri, Pangestu tidak ada mengubungi atau sekedar menanyakan kabar Indah atau Arkan.


"Mungkin kalau aku tidak menghubungi Indah dan sama sekali tidak memberitahu keadaan ku dan menanyakan kabarnya. Lama-lama indah akan terbiasa dan bisa melupakan aku.


Baik nya indah dan Arkan melupakan aku selamanya. Karena memang aku laki-laki yang tidak bertanggungjawab dan laki-laki yang tidak bisa berkorban untuk kepentingan keluarga nya", gumam Pangestu merasa bersalah dan menyesali semua kebodohannya.


"Selama nya aku akan hidup bersama Shifa, walaupun aku tidak mencintai shifa. Mau gimana lagi, ini sudah pilihan ku. Aku tidak mau kehilangan perusahaan ku", gumamnya sedih dalam hati nya.


Shifa datang dan langsung memeluk Pangestu dari belakang. Pangestu yang sedari tadi duduk di balkon rumah nya untuk mencari angin, dan sejenak berpikir atas keputusan nya untuk meninggalkan indah dan Arkan selamanya.


"Aku sudah mencari-cari kamu kemana-mana, ternyata kamu sedang duduk disini", peluk Shifa dengan erat dari belakang.


"Iya, aku ingin sejenak menghilangkan kepenatan yang kurasakan saat ini", Pangestu membiarkan saja Shifa terus memeluknya. Shifa tahu apa yang dirasakan Pangestu. "Pasti Pangestu sedang mengingat indah dan anaknya", Gumam nya dalam hati.


Shifa pun ingin dengan sekuat tenaga berusaha agar Pangestu bisa melupakan Indah dan keluarga nya.


"Sayang, sebentar lagi kamu juga akan mempunyai anak. Aku berharap keluarga kecil kita juga tidak kalah bahagianya dengan keluarga yang lain", harap Shifa sambil terus memeluk Pangestu.


Mau tidak mau Pangestu harus bisa membuat Shifa bahagia dan tanpa beban. Karena penyakit Shifa suatu waktu bisa menjadi bom waktu. Yang membuat Shifa menjadi meninggal dunia.


"Sayang maukah kamu menggendong aku hingga ke tempat tidur. Aku ingin sekali kamu menggendong aku sampai ke tempat tidur", pinta Shifa manja.


"Jangan seperti anak kecil begitu dong, mana bisa aku menggendong kamu. Secara kamu sedang berbadan dua sekarang", Pangestu menolak.


"Sayang ini permintaan bayi yang ada dalam kandungan ku lho", Shifa terus membujuk, dan menggunakan berbagai cara.


"Jangan-jangan Shifa ngidam", gumam Pangestu dalam benaknya. Kalau wanita hamil sedang meminta sesuatu maka wajib dipenuhi. Pangestu pernah mendengar perkataan itu. Pangestu pun dengan terpaksa harus memenuhi keinginan Shifa untuk menggendong nya ke tempat tidur.


"Kamu maunya di gendong di depan atau di belakang?", tanya Pangestu datar.


"Gendong depan", balas Shifa manja.


Pangestu pun menaruh kedua tangannya ke punggung dan ke bagian kedua pergelangan kaki Shifa dan memulai mengangkat nya.


"Eits tunggu dulu, pelan-pelan dong jalannya, aku ingin menikmati setiap langkah kamu hingga tiba ketempat tidur", tiba-tiba Shifa menyela memberikan peraturan.


"Ihhh kamu, jangan banyak permintaan deh. Berat banget tahu", Pangestu sedikit mengerutu. Shifa tidak peduli, menikmati dengan penuh bahagia momen itu.

__ADS_1


Tiba-tiba Pangestu terjatuh menimpa tubuh Shifa karena merasa tidak sanggup lagi menahan berat beban tubuh Shifa, karena berjalan menggunakan lutut nya di atas tempat tidur. Posisi Wajah Pangestu berdekatan dengan wajah Shifa.


Pangestu buru-buru menarik tubuhnya dan berusaha untuk menghindar dan ingin beranjak dari tempat tidur. Shifa langsung mencegatnya, tubuh Pangestu terjatuh dan bibir Pangestu menyentuh bibir Shifa.


Shifa langsung melingkarkan tangannya di kepala Pangestu dan mengunci. Agar Pangestu tidak menjauhinya. Shifa langsung ******* bibir Pangestu sambil memejamkan matanya penuh gairah dan nafsu.


Shifa tahu, pangestu adalah laki-laki normal yang tidak akan tahan menolak untuk berhubungan intim.


Benar saja Pangestu langsung terpancing. Karena memang kebutuhan sexnya selama hampir 2 minggu sama sekali tidak ada.


Shifa mencium seluruh tubuh Pangestu termasuk bagian yang paling sensitif dari Pangestu. Pangestu mengerang, bergantian melakukan hal yang sama pada Shifa.


Menyentuh dan ******* bagian gunung kembar Shifa. Hingga mereka tibalah pada tahap puncaknya bagian peluru Pangestu dimasukkan ke dalam lubang Shifa. Mereka berdua pun rebah di tempat tidur dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


****


Arkan sibuk menyiapkan seluruh perlengkapan renang, pakaian ganti dan berbagai perlengkapan lainnya. Semua dimasukkan ke dalam ranselnya dengan rapi. Memang Arkan sudah terbiasa melakukan rutinitas nya sebelum pergi ke sekolah tanpa bantuan indah. Untuk kebutuhan perlengkapan sehari mulai dari bangun pagi, mandi, berpakaian sekolah serta terakhir sarapan.


Arkan selalu melakukan nya dengan seorang diri. Akibat kesibukan Indah, menuntut Arkan untuk mandiri dalam melakukan segala hal.


"Benarkah!. Kamu yakin semua sudah beres?", tanya indah balik menyakinkan Arkan.


"Benar ma", Arkan mantaf menyakinkan Indah.


"Baiklah kalau begitu, mari kita berangkat", indah tidak perlu memeriksa lagi, karena bagi indah mempercayai hal yang dikerjakan anak itu sangat perlu. Karena itu adalah bentuk apresiasi karena anak melakukan hal yang positif.


Mereka pun segera masuk ke dalam mobil dan indah segera melajukan mobilnya menuju pantai.


Tidak beberapa lama mereka pun tiba di tempat wisata tersebut. Setelah mengambil tiket dan menyewa beberapa pelampung Arkan langsung masuk ke pantai berlari dengan sangat bersemangat dan penuh keceriaan.


Indah duduk di pondok melihat dari kejauhan, segala aktifitas yang dilakukan Arkan.


"Aa.....aaa.....", Arkan berteriak dengan sangat kencang. Ia percaya dengan berteriak kencang maka seolah beban pikiran terbuang dan perasaan kita akan lega.


Setelah berteriak dengan puas, Arkan juga melempar batu ke laut. Di lempar sejauh-jauhnya, Ada kepuasan dan kegembiraan di dalam hatinya. Sesekali ia datang menghampiri indah untuk meminta minum dan makanan kecil untuk mengisi perutnya yang lapar.


"Ayo ma, temani Arkan dong melempar batu, siapa yang paling jauh dia yang akan jadi pemenangnya", Arkan begitu antusias mengajak Indah.

__ADS_1


"Baiklah sayang, Kamu duluan ke pantai ya, mama nanti menyusul. Mama beresin barang kita dulu, agar tidak berserakan dan nanti bisa lebih gampang menemukan barang yang kita butuhkan", Indah menyuruh Arkan pergi ke pantai lebih dulu.


Arkan pun berlari dengan sekencang-kencangnya menuju pantai. Tiba-tiba saja ada ombak besar datang bergulung menghempaskan tubuh Arkan. Arkan tersapu ombak terseret ke laut. Seluruh orang yang sedang dipantai berteriak dengan kencang. Indah terkejut dan histeris segera berlari ke arah pantai ingin menolong Arkan.


"Arkan....", teriaknya dengan kencang sambil berlari ke arah pantai.


Tetapi orang yang disana mencegahnya, karena kalau tidak bisa berenang sama saja. Akan menyerahkan nyawanya saja.


Indah mencari-cari disekitar nya sosok Arkan tetapi Arkan tidak ada.


"Ada seorang anak kecil terseret ke laut", teriak salah satu pengunjung yang melihat kejadiannya.


Begitu tahu ada anak kecil tersapu ombak ke laut, seorang pemuda berlari ke arah laut dengan kencang dan sekuat tenaga. Untuk mencari Arkan, beruntung Arkan memakai pelampung di kedua lengannya dan memakai baju pelampung. Sehingga tubuh arkan masih kelihatan dari pantai, akibat ombak yang menggulung Arkan jadi terhempas ke arah laut.


Pemuda itupun berhasil menemukan dan menyelamatkan Arkan dan segera membawa Arkan kembali ke daratan.


Ternyata Arkan sudah menelan banyak air, sehingga Arkan pingsan.


Pemuda itu dengan sigap langsung menekan-nekan pada dadanya, hingga 30 kali. Dan setelah itu Arkan menunjukkan reaksi batuk-batuk dan memuntahkan banyak air.


"Mama", ucap Arkan setelah melihat sosok indah ada di samping nya.


"Sayang, syukurlah kamu tidak kenapa-kenapa", indah memeluk Arkan kencang.


Pemuda itupun dengan sigap langsung membawa Arkan ke ruang perawatan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.


"Silahkan persiapkan dan bawa perlengkapan pakaian gantinya", perintah lelaki itu kepada indah dan segera membawa Arkan ke ruang perawatan. Indah pun hanya menurut saja. Dan segera membawa perlengkapan Arkan dan mengikuti pria itu dari belakang menuju ruang perawatan.


Setelah di ruang perawatan Arkan di perintahkan untuk mengganti pakaiannya yang telah basah. Dan segera menghangatkan tubuhnya dengan menyelimutinya.


"Lain kali, kalau ke pantai harus memperhatikan sekeliling. Ombak bisa datang dengan tidak terduga-duga. Makanya kita harus terus waspada dan jangan bermain terlalu dalam ke arah laut", lelaki itu menasihati. Mendengar suaranya Sepertinya tidak asing. Indah dan Arkan bertatapan muka langsung melihat pemilik suara tersebut. Dan ternyata pemilik suara itu adalah Febri.


"Om Febri", teriak Arkan terkejut, tidak menyangka yang menolongnya adalah Febri. Laki-laki yang menemani Arkan ketika menyendiri di taman. Begitu juga indah tidak menyangka, dan merasa senang karena yang menolong Arkan kali ini sudah di kenalnya sebelumnya.


"Terimakasih ya, lagi-lagi kamu selalu ada dekat Arkan. Ketika Arkan lagi membutuhkan pertolongan", indah menjadi salah tingkah.


"Tidak usah sungkan begitu. Justru aku senang. Mungkin aku dan Arkan sudah ditakdirkan untuk bersama", ucap Febri mantap dan begitu percaya diri melirik terhadap Indah. Indah menjadi salah tingkah seketika menjadi bingung tidak tahu harus berkata apa.

__ADS_1


__ADS_2