Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#30. Tedja membelikan sebuah rumah baru


__ADS_3

Segala inovasi-inovasi baru pun di terapkan. Karton-karton yang dulunya di produksi hanya untuk kebutuhan pabrik baik perusahaan usaha kecil dan usaha besar semua diperuntukkan untuk kemasan barang pabrikan.


Sekarang mencoba memproduksi karton untuk banyak perusahaan seperti kemasan makanan untuk jasa-jasa catering, kemasan kotak untuk perusahaan penjualan kue atau roti, perusaahan jajanan, sovenir, dan parcel.


Semua di design dengan bentuk yang unik, modern, minimalis, cantik dan menarik. Yang paling utama harganya juga terjangkau. Produksi lebih mengutamakan kualitas.


Dengan dibuat nya inovasi-inovasi baru tersebut. Ternyata mendapat sambutan baik dan antusias dari para pengguna. Perusahaan Tedja pun lama-kelamaan semakin berkembang dan meningkat. Dengan penjualan yang setiap bulannya melebihi target yang diinginkan.


PerusahaanTedjapun akhirnya bisa bangkit dan berkembang. Sedikit demi sedikit Hutang-hutang pun akhir nya bisa di cicil hingga lunas.


***


1 tahun kemudian


Percakapan antara Tedja dan Indah ketika sebelum tidur malam.


"Sayang, syukur ya. Sekarang penjualan kita sudah meningkat, dan sedikit demi sedikit dengan keuntungan yang kita dapatkan bisa membuka cabang baru", ucap Indah dengan bahagia penuh syukur.


"Iya sayang, itu semua berkat kamu. Terimakasih ya, kamu selalu mendukung dan mensupport aku terus. Kalau kamu tidak ada mungkin akupun saat ini masih terus di penjara", Tedja bersyukur dan bangga kepada Indah.


"Tidak usah berlebihan seperti itu. Memang seharusnya sebagai istri harus selalu mensupport, menyemangati dan menjadi pelindung bagi keluarganya", ucap Indah agar Tedja tidak mengungkit masa lalu.


"Baiklah, sebenarnya bukan mengungkit masa lalu, tetapi aku bangga dan sangat bersyukur mempunyai istri seperti kamu. Apalagi kamu merupakan istri yang tahu dan pinter meladeni suami", Tedja menggoda mengedipkan matanya dengan genit kepada Indah, seperti memberikan kode kalau dirinya sedang ingin bercinta.


"Kamu itu ya, tua-tua keladi. Sudah tua tetapi keinginan untuk bercintanya menyaingi para lajang atau para lelaki yang baru menikah. Seperti pengantin baru saja", Indah geleng-geleng kepala menghadapi keinginan hasrat suaminya begitu tinggi.


"Kalau memang lagi pengen mau gimana lagi. Toh hubungan kita ini kan sah, tidak ada larangannya. Daripada aku berpikir yang tidak-tidak, malah kepikiran kepada wanita lain", Tedja blak-blakan sedikit mengancam Indah.


"Hmmm. Iya deh kalau ngomongan nya sudah seperti itu. Mau gimana lagi mau menolak. Harus pasrah deh akhirnya", Indah naik ke atas tubuh Tedja menindihnya dari atas.

__ADS_1


"Kamu tu iya, dasar laki-laki nakal", Indah mengecup bibir Tedja. mengulum nya dan menjalar terus hingga ke leher.


Indah merasakan kalau bagian peluru Tedja terasa mengeras. Indah dengan penuh nafsu dan gairah memainkan bagian tersebut, seperti layaknya mengulum sebuah permen lolipop.


Tedja mengerang semakin bergairah dan berhasrat. Hingga keduanya rebah karena merasa puas dengan wajah ceria penuh kepuasan. Mereka langsung terlelap tanpa sehelai baju pembalut tubuh.


Keesokan harinya


Seperti biasa Indah melakukan rutinitas nya sebagai istri dan sebagai ibu yang baik buat anaknya. Memasak sarapan buat Tedja sebelum akhirnya pergi ke kantor.


Begitu tiba waktunya sarapan, mereka berkumpul di meja makan. Ketika Tedja turun ke bawah menuju meja makan. Tiba-tiba Tedja menutup mata Indah, bermaksud untuk memberikan surprise.


"Ada apa sih sayang", Indah terkejut dan bingung tiba-tiba Tedja menutup mata Indah tanpa sepengetahuan Indah.


"Aku ingin menunjukkan sesuatu kepada mu", pinta Tedja sambil menuntun Indah bergerak ke suatu tempat. Kearah ruang tamu.


"Apaan sih sayang, bikin penasaran aja deh", Indah tidak sabaran.


"Ok kita sudah sampai, pada hitungan ke tiga, buka matanya ya sayang. Satu...dua.... tiga. Silahkan buka matanya", ucap Tedja penasaran ingin tahu ekspresi Indah atas kejutan yang akan di tunjukkan nya kepada Indah.


Indahpun langsung membuka matanya tidak sabaran, kejutan apa sih yang akan di tunjukkan Tedja padanya.


Begitu Indah membuka matanya. Indah bingung ada sebuah map di atas meja.


"Apa ini sayang", Indah belum membuka map itu.


"Lihat dan baca aja", Tedja semakin membuat Indah penasaran. Lantas indah lalu membuka map itu. Ternyata sebuah sertifikat tanah dan bangunan sebuah rumah.


"Maksud nya apa ini sayang", tanya Indah masih penasaran.

__ADS_1


"Sesuai dengan janji aku sayang. Bahwa secepatnya setelah bisnis aku kembali membaik. Aku berjanji kepada mu untuk membelikan sebuah rumah baru. Pengganti dari rumah kita yang telah disita, dan rumah yang telah kita jual untuk modal bisnis kita.


"Ini benaran kan sayang?", tanya Indah belum percaya atas kejutan dari Tedja yang memberikan sebuah rumah di komplek perumahan mewah.


"Benaran dong, masak palsu", Tedja menyakinkan Indah.


"Dapat uang darimana sayang?", tanya Indah bingung. Setahu indah memang bisnis Tedja penjualan nya meningkat dan sedang membuka cabang baru. Tetapi untuk membeli sebuah rumah di komplek perumahan mewah rasanya mustahil. Indah tidak percaya.


"Kemarin itu aku menang tender, aku ada mengadakan perjanjian kontrak kerja selama 5 tahun ke depan untuk memenuhi kebutuhan untuk kemasan produk dari PT Perkasa Jaya yang berdomisili di Singapura, ini adalah yang perjanjian kerja yang kedua.


Jadi mereka memberikan uang muka sekalian uang bonus terhadap perjanjian kontrak pertama yang menurut mereka mendapatkan keuntungan yang melebihi target. Jadi aku tambahin dari keuntungan penjualan selama ini.


Makanya aku bisa membelikan sebuah rumah mewah untuk kamu sayang. Rumah ini kuhadiahkan kepada kamu, atas rasa terima kasih aku kepada kamu yang sudah mendampingi aku dengan setia dalam suka dan duka", ucap Tedja memberikan menyerahkan lansung sertifikat rumah itu.


"Terimakasih banyak sayang", Tedja memeluk dan menciumi Tedja dengan penuh haru.


"Aku tidak menyangka kamu secepat itu menepati janji kamu. Aku sih tidak masalah, hidup di rumah ini juga aku sudah merasa nyaman. Lagian ada ayah yang bisa bergantian dengan aku untuk menjaga Arkan", ucap Indah pelan.


"Kamu pikir, kalau kita pindah dari rumah ini ayah tidak ikut bersama kita?", ucap Tedja.


"Nggak dong sayang, sekalipun kita pindah dari rumah ini. Tidak apa-apa kok, ayah tetap ikut bersama kita. Lagian ayah sudah tua, tidak ada yang menemani.


Biarlah di hari tuanya, giliran kita yang menafkahi dan menyenangkan hatinya. Jangan ketika kita susah baru ingat ayah dan kembali ke rumah, dan malah menyusahkan nya", ucap Tedja tegas.


"Terimakasih sayang, aku senang dan terharu kamu mau dan perduli kepada ayahku", Indah senang dan terharu Tedja menganggap Karim sebagai ayah kandungnya sendiri.


"Kamu kok ngomong begitu sih sayang, ayah kamu yah ayahku juga dong", Tedja sedikit tersinggung karena indah berkata seolah-olah Tedja selama ini tidak peduli kepada Karim.


"Maaf sayang, bukan seperti itu maksud ku. Oh iya, Kita sarapan yuk, aku sudah keburu lapar ni, lagian nanti kamu malah telat ke kantor", Indah mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


__ADS_2