
"Sekali lagi terimakasih banyak ya. Lagi-lagi kamu jadi penyelamat Arkan. Kalau kamu tidak ada mungkin Arkan pasti tidak akan selamat. Karena kamu datang dengan cepat dan berani untuk mempertaruhkan nyawa kamu", Indah sangat bersyukur dan berterima kasih karena Febri cepat dan sigap langsung menolong Arkan. Sehingga agar bisa selamat.
"Tidak apa-apa, Sebagai sesama manusia. Kita harus saling tolong menolong. Aku juga tidak tahu yang diseret ombak adalah Arkan. Aku tadi melihat ada anak kecil sedang bermain dipinggir pantai dan tiba-tiba terseret ombak ke laut. Karena ombak yang tiba-tiba datang menggulung tinggi", Febri merendah diri.
"Oh iya. Mengapa Kalian bisa ada disini?", tanya Febri penasaran dan ingin tahu.
"Karena Arkan yang menyendiri kemarin di taman. Aku pikir Arkan perlu liburan dan ingin melepaskan kejenuhan dan kepenatannya. Aku menawarkan agar pergi liburan. Dan Arkan memilih untuk liburan nya ke pantai aja. Dan kami pun sepakat liburan nya ke pantai", indah memberitahu alasan mereka berada di pantai.
"Oh begitu ", Febri manggut-manggut.
Tiba-tiba Arkan datang menghampiri mereka, sebelum tadi istirahat di tempat tidur di ruangan perawatan.
"Om Febri. Mengapa bisa ada di sini?", tanya Arkan ingin tahu.
"Kita sama Arkan, kebetulan aku memang ingin bermain ke pantai", Febri menjawab seadanya.
"Oh iya, maaf Febri. Sekarang kami akan langsung pulang saja. Aku sedikit trauma untuk membiarkan Arkan bermain dekat pantai sekarang", Indah pamit untuk segera pulang ke rumah.
"Oh begitu ya, baiklah. Akupun begitu akan segera pulang saja. Oh iya memang nya kalian tinggal dimana?. Boleh kah aku menumpang pulang bersama kalian. Karena aku memang tidak membawa mobil. Aku kesini dengan menggunakan angkutan online", Febri berpura-pura tidak membawa kendaraan.
"Kami tinggal di Jalan Srikandi No.8", indah memberitahu.
"Benarkah kalian tinggal di jalan Srikandi?, Aku tinggal di jalan mojopahit. Jalan Srikandi kan dekat dengan jalan mojopahit!", Febri begitu antusias dan bersemangat ternyata indah dan Arkan tinggal tidak jauh dari rumahnya.
"Wow. Berarti aku boleh dong ikut menumpang pulang bersama dengan kalian. Tidak apa-apa nanti aku turun di jalan Srikandi saja. Dari Srikandi aku akan berjalan ke arah rumah ku", ucap Febri polos. Padahal sebenarnya Febri ingin sekali diajak singgah di rumah indah. Agar Febri tahu tempat tinggal indah yang sebenarnya.
"Boleh, silahkan ikut dengan kami saja", Indah menyetujui permintaan Febri.
__ADS_1
"Om Febri ikut pulang bareng kita ma?. Arkan senang om mau ikut bareng kita. Karena Arkan juga ingin om bisa sering datang menemui Arkan. Om Mau kan bermain basket dengan Arkan?", Arkan sangat antusias.
"Yes, itu yang aku inginkan. Bisa mengenal indah dan Arkan lebih dekat lagi", gumam Febri dalam hati dengan penuh kegirangan.
"Om tidak pintar bermain basket", Febri merendah. Sengaja agar Arkan merasa bangga atas kemampuan nya.
"Tidak apa-apa om. Nanti Arkan akan mengajari om. Mama awalnya juga tidak pintar bermain basket. Setelah Arkan ajari, akhirnya mama bisa sedikit lebih pintar dibanding ketika pertama kali bermain basket", Arkan memberitahu.
"Benarkah, berarti kamu coach yang hebat dong", Febri begitu bersemangat memuji Arkan. Febri dan indah saling bertatapan melihat keseriusan Arkan.
"Baiklah, om sudah tidak sabar ingin segera melihat kemampuan kamu untuk bermain bola basket", Febri sangat bersemangat.
Mereka semua pun segera masuk ke dalam mobil.
"Kamu aja ya, yang menyetir", indah menyerahkan kunci mobil kepada Febri. Febri pun segera mengambilnya dan segera duduk di jok supir.
Sebenarnya Febri ingin sekali menanyakan perihal ayah Arkan, tetapi merasa tidak enakan. Karna sebelumnya Arkan cerita kalau ayah nya tidak pernah lagi mengunjungi nya. Tetapi tidak bertanya banyak, alasan nya mengapa tidak pernah mengunjunginya.
"Oh iya, apakah nanti kedatangan ku ke rumah mu. Tidak akan di curigai oleh ayah Arkan?", Febri berpura-pura tidak tahu.
"Tidak apa-apa, ayah Arkan sudah lama tidak pernah menemui kami. Dan aku merasa yakin kalau memang ayah Arkan tidak akan pernah datang lagi", Indah memberitahu dengan suara pelan dan sedikit bergetar.
"Maaf ya. Kalau aku telah menimbulkan luka di hati kamu. Tidak sengaja aku telah menyinggung masa lalu kamu", Febri merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa kok. aku malah sudah terbiasa disakiti. Jadi ya, aku merasa tidak kenapa-kenapa", mata Indah menerawang ke langit-langit mobil untuk menahan air matanya agar tidak keluar membasahi pipinya.
Febri tahu indah seperti nya sangat terluka. Entah mengapa hatinya ingin sekali mengenal indah lebih dekat lagi. Dan ingin sekali bisa menghibur hati indah yang sedang terluka.
__ADS_1
Febri pun segera memegang jemari indah. Agar bisa menguatkan Indah.
"Maaf ya, aku telah lancang memegang tangan mu. Aku tahu perasaan mu sangat terluka saat ini. Makanya aku ingin menguatkan mu", Febri memberitahu ketidak enakan hatinya.
"Tidak apa-apa", indah mengusap air matanya yang mengalir di pipinya karena tidak bisa dibendungnya lagi.
Febri pun sudah tahu arah jalan ke rumah indah, karena sudah sangat mengenal daerah itu. Setelah memasuki jalan Srikandi Febri pun fokus memperhatikan no 8. Febri melajukan mobilnya dengan perlahan-lahan.
Tidak beberapa lama mereka pun tiba di depan rumah Indah. Rumah berpagar, indah segera turun membukakan pagar karena tidak di kunci. Febri pun melajukan mobilnya masuk ke area pekarangan. Terdapat Ruko sebelah kiri berupa toko penjualan pakaian untuk anak-anak, remaja, dan ibu-ibu. Cukup luas dan beragam jenis dan ukurannya.
"Silahkan masuk di gubuk kami yang sederhana", ucap indah begitu Febri dan Arkan turun dari mobil.
Indah memencet bell, tidak beberapa lama keluar mbok Rani membukakan pintu.
"Tidak usah sungkan-sungkan silahkan duduk dulu ya", indah mempersilahkan Febri duduk di salah satu bangku yang ada di ruang tamu.
"Ayo om, kita bermain basket sekarang", ajak Arkan menarik tangan Febri ke halaman belakang tempat lapangan basket.
"Sayang, om Febri masih lelah. Bermain basketnya lain kali saja. Biarkan om Febri istirahat dulu", indah menolak keinginan Arkan untuk mengajak Febri bermain basket.
"Tidak apa-apa. Aku senang bila Arkan juga senang. Tidak apa-apa aku menemaninya bermain basket sekarang", Febri tidak keberatan. Dan segera mengikuti Arkan menuju halaman belakang.
"Sayang mainnya sebentar saja ya, jangan lama-lama. Kamu juga perlu istirahat sekarang", indah memerintahkan arkan.
"Iya ma", Arkan membalas dengan cepat.
Tidak sampai lima belas menit, Arkan dan Febri sudah tiba di dapur. Dan segera bergabung di meja makan.
__ADS_1
"Ayo, silahkan di minum jusnya selagi segar", indah menawarkan segelas jus mangga kepada Arkan dan Febri setelah selesai memblender nya.