
"Baiklah Indah, sekarang aku telah menyadari kesalahan ku. Tolong berikan aku kesempatan sekali lagi, agar aku bisa memperbaiki kesalahan ku. Aku minta maaf Indah dan kamu juga Arkan. Ayah ingin kita bersatu kembali untuk merajut mimpi-mimpi kita selama ini", Pangestu memohon-mohon kepada Indah dan Arkan.
"Aku sudah memaafkan kamu Pangestu. Tetapi untuk kembali lagi merajut mimpi itu sangat tidak mungkin. Hatiku sudah terlanjur sakit, dan telah di isi oleh kehadiran Febri. Tolong terima keputusan ku ini.
Aku percaya di luar sana masih banyak wanita yang mau sama kamu, sekaligus ibu buat anak kamu", ucap Indah menyemangati Pangestu. Ada raut wajah tidak terima pada Pangestu. Tetapi Pangestu tidak bisa terus memaksa kan keinginan nya untuk rujuk dengan Indah. Karena memang sepertinya Indah sudah kokoh untuk lebih memilih Febri.
"Baiklah Indah, sesungguhnya aku masih berharap kamu mau memaafkan aku dan menerima aku untuk memperbaiki kesalahan ku. Tetapi sepertinya kamu sudah tidak ingin hidup bersama ku lagi, aku tidak bisa memaksakan kamu. Bolehkah aku bertemu Arkan, walaupun kamu sudah bersama Febri?", ucap Pangestu berharap.
"Tentu Pangestu, kamu boleh ketemu Arkan sesuka hati kamu. Tetapi kamu harus memberitahu dulu, apakah Arkan ada waktu atau tidak. Maksud ku, apakah Arkan tidak sibuk, dan merasa waktunya senggang.
Karena Arkan banyak sekali kegiatannya. Arkan juga mengikuti club permainan bola basket dan apabila Arkan sedang ujian, tentu saja aku tidak ingin belajar Arkan terganggu", ucap Indah tegas.
"Sebenarnya maksud perkataan Indah, secara tidak langsung tidak ingin Arkan sering-sering bertemu dengan Pangestu", gumam Pangestu dalam hati.
Pangestu tidak bisa memaksa Indah, Pangestu sadar kalau Indah selama ini begitu sakit hati. Pangestu pun akhir nya pamit meninggalkan Indah dan Arkan. Karena dirinya sudah tidak dibutuhkan lagi di rumah itu. Arkan juga sudah sedari tadi masuk ke dalam kamarnya.
***
Sepulang Pangestu dari rumah Indah.
"Febri aku minta maaf kamu jadi tahu dan melihat permasalahan rumah tangga ku. Aku jadi tidak enakan sama kamu", ucap Indah merasa malu karena permasalahannya harus diketahui oleh Febri.
"Tidak apa-apa Indah, kamu tidak perlu merasa sungkan. Justru dengan kondisi tadi. Aku jadi tahu yang sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Pangestu dan aku juga jadi tahu bagaimana perasaan kamu kepadaku", Febri mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Oh iya, mengapa Pangestu tiba-tiba datang menemui kamu?", Febri merasa penasaran dan ingin tahu.
"Iya, istrinya Pangestu, Shifa telah meninggal dunia kurang lebih seminggu yang lalu. Pangestu ingin aku rujuk kepada nya, mungkin dalam hati Pangestu.
Pasti ayah Shifa menyetujui kalau Pangestu menikah, dan akan tetap memberikan harta warisannya kepada nya karena telah merawat cucunya. Walaupun Pangestu telah mempunya segalanya sekarang, tetap saja aku tidak mau menerima. Dia pikir aku bodoh, dan hanya persinggahan nya ketika dirinya sedang kesepian", Indah merasa kesal.
"Oh iya, ketika di rumah sakit. Pangestu juga berjumpa dengan ayahnya Tedja yang merupakan suami pertama ku. Tedja dalam kondisi kritis saat itu, dan ingin bertemu dengan ku.
Aku pun bertemu dengan Tedja. Dan tidak lama kemudian Tedja pun meninggal dunia, dan 3 hari yang lalu sudah di makamkan", Indah memberitahu mengenai perihal Tedja, suami pertama Indah.
"Benarkah?, jadi suami pertama kamu sudah meninggal dunia", Febri mempertegas. Indah pun hanya mengangguk kan kepalanya.
"Sekarang bagaimana?. Apakah kamu berubah pikiran, untuk menerima aku jadi teman hidup kamu?", Febri ingin tahu jawaban Indah. Indah pun hanya menundukkan kepala nya merasa tersipu atas kesungguhan Febri.
"Tetapi Febri, sebelum kita melangsungkan pernikahan kita. Aku juga ingin tahu tanggapan Arkan, walaupun kamu telah tahu apa yang dikatakan Arkan tadi di depan ayahnya. Tetapi tidak salah kan kita tahu pendapat Arkan yang sebenarnya secara langsung", ucap Indah tegas.
"Baiklah besok aku akan minta izin dan menanyakan secara langsung kepada Arkan. Apakah menerima aku sebagai ayah sambungnya", ucap Febri.
"Mungkin kamu saat ini ingin menenangkan pikiran kamu. Dan kamu sangat ingin istirahat. Aku pamit dulu ya, aku juga ada sedikit pekerjaan yang harus ku lakukan", Febri pun pamit meninggalkan Indah.
Begitu Febri keluar dari rumah Indah. Tiba-tiba Pangestu datang dan kembali ke rumah Indah sebelum Indah menutup pintu. Ternyata Pangestu berada di toko sebelah rumah Indah, seolah-olah berkunjung seperti seperti seorang pembeli. Begitu Pangestu melihat Febri pulang, Pangestu langsung datang ke rumah Indah.
"Indah, tolong maafkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpa mu. Bagaimana aku merawat Rangga sendiri. Tolong Indah kembalilah kepadaku. Maafkan lah aku, berikan aku kesempatan sekali ini saja", Pangestu bersujud memohon-mohon di kaki Indah.
__ADS_1
"Bahkan aku akan melenyapkan nyawa ku, kalau kamu tidak menerima aku kembali", Pangestu mengancam.
"Pangestu mengapa kamu jadi berpikiran bodoh seperti itu. Masa depan mu masih panjang. Apalagi Rangga anak kamu, sangat membutuhkan kamu", Indah menarik pundak Pangestu, menyuruhnya untuk segera berdiri.
Tetapi dengan situasi begitu, Pangestu segera berlari masuk ke dalam dan naik ke kamar Arkan sambil berteriak-teriak.
"Arkan... Arkan. Ayo bujuk ibu kamu agar mau menerima ayah kembali", Pangestu mengetuk-ngetuk pintu Arkan dan memaksa masuk kedalam Arkan.
"Ayah ada apa", Arkan merasa heran dan bingung melihat tingkah Pangestu. Indah pun langsung naik ke atas menuju kamar Arkan. Takut terjadi sesuatu pada Arkan.
"Arkan, tolong bujuk ibumu, kamu mau kan kalau kita akan bersama-sama kembali?", Pangestu membujuk Arkan sambil menangis terisak-isak.
"Ayah, sudahlah. Mengapa ayah menjadi tidak dewasa seperti ini. Ayah sudah tahu bagaimana pendapat dan perasaan ibu. Lagian ayah yang sudah menghianati ibu. Arkan sendiri masih sakit, ketika ayah tiba-tiba meninggalkan kami.
Kalau ayah ingin pendapat Arkan, Arkan tidak mau menerima ayah lagi untuk menemani ibu seumur hidupnya. Memang ayah adalah ayah kandung Arkan, tetapi bukan berarti ayah seenaknya kembali dan datang ke rumah ini.
Izinkan dan ikhlaskan ibu bahagia dengan orang lain. Arkan merasa kalau ibu dan om Febri saling mencintai. Tolong ayah jangan ganggu ibu lagi", Arkan memohon kepada Pangestu. Pangestu pun hanya diam saja, melihat malu pada Indah. Dan segera pamit turun meninggalkan kamar Arkan dan segera turun dan meninggalkan rumah Indah.
Begitu Pangestu keluar dari rumah, segera Indah mengunci pintu, dan menelepon Febri.
"Febri tolong kamu kembali ke rumah, tadi Pangestu datang dan langsung masuk ke kamar Arkan. Aku sangat ketakutan, kupikir Pangestu akan melakukan hal yang tidak-tidak kepada Arkan", ucap Indah panik menelepon Febri.
"Baiklah segera aku akan datang ke rumah kamu", ucap Febri dan segera menutup teleponnya, dan segera tancap gas untuk menuju rumah Indah.
__ADS_1