Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#73. Febri mengungkapkan isi hatinya kepada Indah


__ADS_3

Shifa sudah keluar dari rumah sakit. Seperti biasa setelah bangun tidur Shifa selalu berusaha memasak sarapan untuk seluruh keluarga dan juga untuk menyediakan segala perlengkapan dan kebutuhan Pangestu sebelum berangkat ke kantor.


Setelah Pangestu pergi ke kantor. Seperti biasanya Shifa akan banyak mencoba memasak resep makanan yang baru. Itu semua dipraktekkan untuk menu makanan di malam harinya. Karena Pangestu pulang dari kantor pada pukul 16:00 waktu setempat.


Lagi asik-asik memasak tiba-tiba Shifa merasakan sakit pada kepalanya.


"Aduh Bi, kepala ku sakit banget", rintih Shifa kepada Bi Marni, orang yang bekerja untuk bantu-bantu Shifa melakukan pekerjaan rumah.


"Aduh non, apa yang harus bibi perbuat?. Atau non mempunyai obatnya biar bibi ambilkan. Dimana letak obat nya non?", jawab bi marni panik.


"Tidak usah bi, bibi bantu Shifa ke kamar saja. Shifa mau tiduran saja, biar sakitnya tidak terasa", jawab Shifa mengulurkan tangan nya agar bi Marni memapahnya ke kamarnya.


"Baiklah non, ayo bibi papah", bi Marni lalu membawa Shifa masuk ke kamarnya.


"Tinggalin Shifa sendiri bi", ucap Shifa.


"Benaran non tidak apa-apa bibi tinggalin sendirian?", Bi Marni merasa takut meninggalkan Shifa sendirian di kamarnya.


"Ia cepat bi, bibi keluar aja", Shifa sudah tidak sabar, agar bi marni segera keluar dari kamarnya.


Setelah bi Marni keluar dari kamar Shifa. Ternyata Shifa berteriak sangat kencang. Shifa tidak mau sakit yang di deritanya diketahui orang lain, termasuk Pangestu dan Burhan, ayahnya.


Bi Marni pun merasa ketakutan mendengar teriakan Shifa yang begitu kencang. Khawatir Shifa kenapa-kenapa. Bi Marni mengetuk-ngetuk pintu.


"Non, non Shifa. Non tidak kenapa-kenapa kan?", tanya bi Marni fokus mendengar asal suara dari kamar Shifa.


Sadar kalau dirinya ketahuan, Shifa langsung menjawab, "Shifa tidak kenapa-kenapa bi" Ucap Shifa kencang, sambil menahan rasa sakitnya.


"Baiklah, kalau ada perlu bi Marni ada di dapur ya non", ucap Bi Marni lalu segera berlalu meninggalkan kamar Shifa.


Begitulah Shifa, bila rasa sakitnya sedang menerpa nya. Baik ketika Pangestu ada di rumah. Shifa selalu berteriak sepuasnya di kamar mandi, sambil menyalakan suara air keran dan air guyuran shower. Agar teriakan nya tidak kedengaran sampai keluar.

__ADS_1


****


Setelah Empat hari lamanya dipulau Kalimantan akhirnya Febri kembali ke Jakarta.


"Yes, akhirnya aku kembali juga ke Jakarta. Aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Indah" gumam Febri dalam hatinya penuh kegirangan.


Febri pun segera membereskan semua keperluan dan barang-barang yang hendak dibawanya. Agar nantinya tidak ada yang ketinggalan.


"Aku akan memberitahukan berita kepulangan ku ini kepada Arkan. Aku yakin Arkan sangat senang sekali", gumamnya sambil senyum-senyum.


"Ahhh, tidak usah lah, biarlah kepulangan ku ini menjadi surprise yang luar biasa pada Arkan dan Indah", Febri mengurungkan niatnya untuk memberitahukan kabar kepulangan nya.


****


Setelah menghabiskan waktu selama hampir 2 jam. Akhirnya Febri tiba di bandara Sukarno Hatta.


Tidak menunggu lama, karena barang bawaan Febri juga semua diletakkan di kabin pesawat. artinya Febri tidak usah menunggu antrian untuk mengambil barang yang diletakkan pada bagasi pesawat.


"Jalan Srikandi ya pak", perintah Febri kepada supir yang mobilnya di naiki oleh Febri.


"Baik pak", langsung melajukan mobilnya dengan perlahan-lahan.


Tidak butuh waktu setengah jam Febri tiba di rumah Indah.


Kebetulan sekali Indah sedang duduk santai di depan rumah sambil berjemur dibawah sinar matahari pagi. Karena waktu menunjukkan jam 10:00 waktu setempat.


Febri keluar dari mobil, Arkan belum pulang dari sekolah.


"Hai Indah", sapa Febri mendekati Indah dengan wajah tersenyum manis, begitu mobil yang ditumpanginya berlalu meninggalkan mereka.


"Hai", sapa Indah dingin. Karena menurut Indah kedatangan Febri kali ini pasti mengantarkan undangan pernikahan nya dengan wanita lain. Karena kepergian Febri selama 4 hari ke luar kota secara mendadak.

__ADS_1


Febri pun menyadari kalau sikap dingin Indah adalah karena dirinya datang dan pergi tanpa informasi yang jelas.


"Indah, maaf aku datang dan pergi dengan tiba-tiba tanpa memberitahu kamu. Aku pergi keluar kota karena ada urusan pekerjaan yang harus segera kuselesaikan.


Kepulangan ku sekarang juga begitu tiba-tiba, tidak ada menginformasikan nya kepada mu. Tetapi Itu semua agar kedatangan ku menjadi hal yang luar biasa bagi kamu dan arkyan. Indah masih diam saja terus mendengarkan perkataan Febri tanpa memberikan komentar. Melihat respon Indah yang biasanya, akhirnya Febri mencoba mengungkapkan perasaannya.


"Indah, tidak rindukah kamu pada ku?, karena sifat kamu dingin dan cuek melihat kedatangan ku. Padahal aku sampai tidak bisa tidur, karena menahan rasa rindu yang teramat sangat kepadamu. Bahkan sampai membuat ku ingin terus menangis dan ingin memeluk dirimu", Febri jadi merasa tidak bersemangat melihat sikap Indah.


Mendengar pengakuan Febri yang mengatakan kalau dirinya sangat rindu. Indah sedikit terkejut.


"Apa!. Kamu rindu kepada ku?", tanya Indah untuk menyakinkan perkataan yang baru saja diucapkan Febri.


"Iya Indah. Ketika kamu menceritakan semua masa lalu kamu, sebenarnya aku ingin langsung mengungkapkan perasaan ku. Tetapi waktu itu, kamu mengatakan harus segera pulang ke rumah. Aku pun tidak tidak jadi mengungkapkan semua perasaan ku kepada mu.


Sebenarnya, esok harinya aku sudah berniat ingin segera mengungkapkan perasaan ku kepadamu, tetapi aku mendapatkan telepon dari pekerja ku yang di Kalimantan. Mengharuskan aku harus segera berangkat ke Kalimantan. Untuk menyelesaikan masalah pekerjaan dengan para pemegang saham.


Aku kan menberitahu kepergian ku kepada Arkan. Apa Arkan tidak ada memberitahukan kepada mu?", Febri ingin tahu.


"Arkan ada memberitahu aku. Kamu menelepon Arkan, akupun tahu itu dan segera bertanya kepada Arkan perihal siapa yang menelepon nya", aku Indah kepada Febri.


"Terus mengapa kamu bersikap tidak peduli kepada ku?. Apakah kamu tidak ada perasaan kepada ku Indah?", Febri merasa penasaran ingin tahu sebenarnya perasaan Indah. Indah pun hanya terdiam mencoba mencari jawaban yang enak, karena Febri terlihat seperti kecewa terhadap nya.


"Maaf Febri atas sikapku ini. Bukannya aku tidak ada rasa kepada mu. Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama dengan kamu. Merasa rindu yang teramat sangat, sampai membuat ku tidak bisa tertidur. Karena selalu memikirkan dirimu.


Aku bimbang dan ragu kepada mu. Karena aku merasa tidak percaya diri kepadamu. Aku hanya seorang janda yang sudah mempunyai anak dan perilakuku sangat hina dan kotor. Aku merasa tidak layak menjadi istri kamu. Kamu masih muda, tampan, pintar dan kaya.


Seluruh kriteria wanita ada padamu. Dan diluar sana pasti banyak wanita yang mengantri untuk mendapatkan dirimu", Indah mengungkapkan semua keraguannya selama ini untuk memiliki Febri.


"Kamu benar, diluar sana banyak wanita yang cantik dan terpelajar. Tetapi hati ku sudah terpaut dengan kamu. Dan hatiku kemana harus berlabuh. Sudah kutetapkan adalah berlabuh kepada mu", Febri memegang tangan Indah.


"Apakah kamu sudah merasa yakin untuk memilih ku", Indah masih tidak percaya.

__ADS_1


"Iya Indah aku sangat yakin untuk menjadikan mu teman hidupku selama-lamanya", Febri menyakinkan Indah.


__ADS_2