Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#42. Tedja tidak terima indah menceraikan nya.


__ADS_3

Tedja merasa geram karena telah diceraikan oleh Indah. Dan sekarang Indah dan Tedja sudah tidak merupakan pasangan suami istri lagi.


Tedja pun mendatangi Indah di kediamannya.


"Indah, berani sekali kamu menceraikan aku. Mengapa kamu menceraikan aku dan tidak menanyakan aku terlebih dahulu?", Tedja marah-marah setelah tiba di rumah Indah dan ketemu secara langsung dengan Indah. Setelah sebelumnya Tedja mengetuk pintu untuk dibuka


"Kemana aku memberitahu kamu?, kamu saja sudah 6 bulan tidak pernah menemui dan menafkahi ku. Apa lagi yang harus kutunggu dari mu. Kamu pun sudah 2 kali menikah secara diam-diam.


Kamu masih beruntung karena aku tidak menuntut kamu atas perselingkuhan dan menikah secara diam-diam dengan wanita lain. Karena aku masih kasihan kepada mu.


Aku memikirkan kredibilitas mu di kantor. Kurang baik apa aku. Sekarang aku ingin menceraikan mu karena aku tidak mau. Kamu datang dan pergi sesuka hatimu. Kala susahmu kamu baru ingat kepada ku.


Aku tidak mau kamu datang besok mengemis-ngemis untuk dikasihani, karena semua teman wanitamu hanya akan memoroti mu saja", Indah memberitahu dengan tegas dan tidak mau dibodohi lagi.


"Sombong sekali kamu, kamu tidak sadar kalau bantuan yang kamu berikan adalah hasil dari penjualan rumahku, bukan dari jerih payah mu. Sekarang kamu keluar dari rumahku. Karena rumah ini adalah milikku. Aku membelinya dengan keringatku sendiri", Tedja memaksa Indah keluar dari rumah nya.


"Kamu mengusirku dari rumah ini. Baiklah Tedja. Aku pun tidak Sudi tinggal di rumah ini", Indah merasa geram karena selama ini Tedja ternyata tidak menghargai pengorbanan nya.


Indah pun segera mengemasi pakaian yang hendak di bawa nya. Sebelumnya karena Indah telah mengantisipasi kalau Tedja akan datang untuk mengusir nya dari rumah. Indah pun sudah menyicil barang dan pakaian nya ke rumah orang tuanya.


Jadi seluruh barang berharga Indah sudah berada di rumah orang tua nya. sekarang Indah hanya membawa koper yang berisi beberapa pakaian saja, dan itu hanya secara simbolis saja. Agar Tedja tidak curiga malah akan memaksanya untuk mengembalikan seluruh apa yang dibeli Tedja.


"Bagus kalau kamu menyadari yang bukan hak kamu", Tedja pun mendorong Indah keluar dari rumah. Sedangkan Arkan kebetulan sedang bersekolah.


Indah ingin mengeluarkan mobilnya dari garasi, tetapi Tedja mencegatnya.


"Jangan sentuh mobil itu Indah. Itu bukan mobil kamu. Kamu membelinya adalah berasal dari uangku", Tedja melarang Indah membawa mobil. Lagi-lagi Indah pasrah apa kemauan Tedja, Indah pun pergi dengan ojek yang kebetulan lewat. Indah malas ribut.


"Tidak apa-apa Tedja, bagus kalau kamu mengambil semuanya dari ku. Sehingga besok bila kamu benar-benar bangkrut tidak ada lagi yang bisa kamu tuntut kepada ku. Toh Aku juga mampu kok membeli sebuah mobil", Indah tidak merasa sedih karena diperlakukan Tedja secara kasar.

__ADS_1


Tedja semakin geram, pikirnya Indah akan membujuknya untuk rujuk, karena semua barang berharga nya diambil Tedja.


Tetapi Tedja salah kaprah. Sikap Indah yang mengalah saja, malah membuat Tedja marah. Tedja melemparkan sebuah gelas di lantai.


"Kamu akan datang bersujud di hadapan ku Indah, memohon-mohon untuk minta rujuk kembali", gumam Tedja begitu percaya diri.


***


Kini Perasaan Indah telah lega, karena sudah bebas dari Tedja.


"Ini adalah yang terbaik, toh selama ini aku sudah hidup sendiri, Arkan juga sudah seperti tidak mempunyai ayah", Indah menyemangati dirinya.


Sekarang Indah bingung, apakah akan mencari keberadaan Pangestu, ayah biologis Arkan.


"Untuk apa aku mengharapkan Pangestu, aku juga tidak begitu yakin. Apakah Pangestu masih sendiri", Gumam Indah dalam benaknya.


"Biarlah aku berjuang sendiri untuk menyekolahkan Arkan setinggi-tingginya. Aku tidak akan menikah lagi", Indah mantap tidak ingin menikah lagi. Takut pria yang didapatkan nantinya hanya seorang laki-laki yang mencari kepuasan nafsu saja. Bukan dengan tulus mencintai dan menyayangi dirinya dan Arkan.


****


Setahun berlalu.


Tedja pun tidak pernah ketemu lagi dengan Indah. Tampaknya Tedja sudah menerima keadaan nya yang tidak lagi beristri kan Indah.


Tedja pun masih awet dengan Pipit, karena Pipit wanita yang polos, mau saja menuruti apa perkataan Tedja dan tidak banyak menuntut.


Pipit juga bersikap keibuan tidak suka berfoya-foya, karena memang sedari dulu Pipit hidup sangat berkekurangan. Jadi Pipit tidak mengenal pola hidup berfoya-foya.


Indah pun menjalani hari-harinya dengan suka cita, karena ada Arkan yang menjadi penghibur dan penguatnya di kala rasa putus asa dan tidak semangat melanda nya.

__ADS_1


Sesekali Indah dan Arkan selalu pergi ke mall untuk sekedar bermain game atau makan di luar. Ini dilakukan Indah agar Arkan tidak merasa suntuk, karena sehari-harinya Arkan hanya belajar dan melakukan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.


Arkan pun sangat menantikan momen itu, yaitu di akhir pekan. Biasanya juga Arkan bebas memilih satu benda yang diinginkannya atau bebas minta makanan kesukaannya.


Indah tidak perhitungan dan tidak pelit untuk menuruti kemauan Arkan. "Toh kerja keras yang ku lakukan selama ini adalah untuk kebahagiaan Arkan", gumamnya dalam hati.


"Ma, beliin sepatu roda dong ma", bujuk Arkan kepada Indah.


"Mengapa Arkan ingin sepatu roda, apakah kamu ada melihat teman mu memakai sepatu roda?", tanya Indah ingin tahu.


"Arkan ingin setiap hari sepulang sekolah bermain sepatu roda di lapangan belakang. Sepertinya dengan memakai sepatu roda. Membuat kita serasa terbang, melepaskan semua beban yang terasa berat", Arkan begitu dewasa seolah saat ini Arkan merasa terluka.


Indah bingung perkataan Arkan.


"Sayang apakah kamu merasa terpukul karena ayah dan ibu bercerai?", tanya Indah ingin tahu. Sesaat Arkan hanya diam saja


"Terpukul banget sih enggak, Rasa kehilangan itu pasti ada. Arkan hanya merasa, berarti Arkan tidak akan pernah ketemu lagi dengan ayah. Arkan juga merasa pasti mama merasa sedih karena telah bercerai dengan ayah. Mama sekarang harus lebih bekerja keras untuk menutupi kebutuhan kita", Arkan seolah mengerti apa yang dirasakan Indah saat ini.


"Mama tidak apa-apa sayang, benaran keputusan untuk bercerai dengan ayah kamu sudah mama pikirkan matang-matang. Ini adalah jalan terbaik, dan mama tidak merasa sedih.


Yah memang rasa kehilangan itu pasti, karena status mama pun saat ini berubah menjadi janda. Tetapi seiring waktu semua akan seperti biasanya. Kamu tidak usah memikirkan mama ya. Justru mama malah kasihan sama kamu, karena keegoisan mama kamu terluka. Maafkan mama ya", Indah memeluk Arkan.


"Ma, Arkan sayang mama. Mama jangan sedih ya. Arkan juga akan merasa sedih kalau mama sedih", Arkan memeluk erat sambil terisak.


"Jadi tidak beli sepatu rodanya?", Indah mengalihkan pembicaraan.


"Jadi dong ma, masak tidak jadi", ucap Arkan tegas.


"Ayo kita cari, kamu modelnya sukanya yang polos atau berkarakter?. Itu kayaknya bagus", Indah menunjuk sepatu roda yang letaknya dia atas.

__ADS_1


__ADS_2