
Hampir lelah rasa nya, Tessa sudah pergi ke banyak cafe untuk mencari keberadaan Tedja.
"Kemana aku harus mencari mu Tedja?, kamu jahat telah meninggalkan aku. Padahal aku sudah menyerahkan segalanya kepada mu. Bahkan harta berhargaku, mahkota ku. Kupikir kamu adalah lelaki yang akan menemani ku hingga ujung waktuku.
Kamu juga berbohong, kamu bilang sangat mencintaiku. Ternyata aku salah. Kamu hanya menjadikan aku pemuas nafsu mu saja. Setelah kamu mendapatkan semuanya, kamu pergi meninggalkan aku begitu saja. Kamu jahat!", Tessa menangis menyesali semua kebodohannya.
Sebulan berlalu Tedja tidak ada kabar dan tidak sekali pun pernah datang mengunjungi Tessa. Bahkan nafkah bulanan Tessa sudah tidak diberikan lagi.
Belakangan apartemen yang ditempati Tessa pun sudah mendekati tanggal jatuh tempo.
Pemilik apartemen
datang mengunjungi Tessa.
Tok...tok... tok...
Tessa mendengar suara pintu diketuk, Tessa langsung berlari menghampiri asal suara bermaksud hendak membukakan pintu.
"Sebentar", sahut Tessa dengan kencang, karena Tessa lagi sibuk memasak. Tanggung sekali untuk meninggalkan masakannya.
"Asyik, ternyata Tedja akhirnya datang juga", gumam Tessa berseri-seri, berharap yang di depan pintu adalah Tedja yang datang untuk menemuinya.
Dengan mantap dan penuh semangat Tessa membukakan pintu. Alangkah kecewanya Tessa ternyata orang yang dibalik pintu bukan Tedja.
"Ehh, mau cari siapa Bu?", tanya Tessa bingung dan kecewa sosok yang ditemuinya bukan Tedja.
"Saya cari orang yang menempati rumah ini", tanyanya ketus.
"Saya orang yang menempati rumah ini Bu", Tessa menyakinkan pemilik apartemen.
"Oh, maaf kemarin yang membayar sewa ini kepada saya adalah laki-laki yang bernama Tedja kalau tidak salah", pemilik apartemen bertransaksi ketika sepakat untuk menyewa apartemen miliknya dengan Tedja.
"Oh iya benar Bu, Tedja itu adalah suami saya. Ada apa ya Bu. Mengapa ibu mengatakan mengenai sewa. Bukankah apartemen ini adalah milik Tedja?", Tessa terkejut.
__ADS_1
"Bukan Bu, apartemen ini adalah disewa selama satu tahun. Maksud kedatangan saya, karena apartemen ini sudah mau jatuh tempo. Kalau ibu masih mau melanjutkan untuk tinggal di apartemen ini.
Silahkan dipanjar sebesar 5 %. Tetapi kalau tidak lanjut lagi. Silahkan ibu keluar sesuai tanggal yang disepakati. Saya juga perlu mencari pengganti ibu, seandainya tidak memperpanjang kontrak", pemilik apartemen membuat sebuah kesepakatan kontrak.
"Oh iya, Kalau boleh saya tahu berapa uang sewa apartemen ini selama setahunnya", tanya Tessa ingin tahu. Sebenarnya Tessa kecewa, tidak menyangka kalau apartemen yang ditempati nya selama ini adalah ngontrak. Tessa pikir ini adalah kepunyaan Tedja.
"Dasar jahat kamu Tedja, sudah pergi tidak pamit, dan tidak memberi nafkah. Malah sekarang tidak ada meninggalkan harta sedikitpun kepada ku", gumam Tessa geram.
"Uang kontrak selama 1 tahun 50 juta Bu, kalau bulanan 6juta", pemilik apartemen memberitahu. Tessa terkejut kalau biaya apartemennya begitu mahal. "Dapat uang darimana aku kalau bulanan nya sebesar itu", Gumam Tessa dalam hati.
"Bu, Suami saya tidak pernah lagi datang menemui saya, sudah sebulan lebih. Saya tidak yakin kalau suami saya bakal datang menemui saya. Mungkin saya tidak akan melanjutkan untuk menyewa apartemen ini Bu", Tessa memberitahu kondisinya.
"Ok baiklah kalau begitu. Silahkan ibu keluar sesuai tanggal yang sudah kita sepakati", pemilik apartemen tegas memberitahu peraturan yang harus disepakati pihak penyewa.
"Baik Bu", ucap Tessa pasrah.
"Baiklah Bu, Kalau ibu sudah paham kesepakatan nya. Jangan dikemudian hari ibu membujuk-bujuk saya kalau tiba harinya ibu harus meninggalkan tempat ini. Saya permisi dulu bu", pemilik apartemen pamit pulang meninggalkan Tessa. Tessa hanya bisa mengangguk-angguk.
"Ya ampun Tedja, jahat sekali kamu", Tessa terduduk lemas di sofa.
Sekarang pengobatan ibu harus terhenti lagi karena tidak ada biaya. Aku harus kembali bekerja sebagai pelayan cafe", Tessa membuat sebuah rencana dalam menjalani kehidupannya di masa yang akan datang.
****
Dipihak Tedja.
Ternyata Tedja sudah menikah dengan perempuan yang baru tamat SMA. Pertemuan mereka berawal ketika jumpa di sebuah pusat perbelanjaan. Secara tidak sengaja Pipit menabrak Tedja ketika, Pipit mencari teman-temannya yang pergi meninggalkan nya.
Seluruh tas termasuk dompetnya telah dibawa oleh teman-temannya. Seperti biasa Tedja menawarkan diri sebagai seorang penolong.
Kebetulan Pipit adalah orang tidak mampu, hidup berkekurangan sering dibuli oleh teman-temannya dikatai miskin.
Pipit dengan polosnya percaya atas semua bujuk rayu dari Tedja. Pipit pun dibelikan handphone, laptop, pakaian, tas dan berbagai barang mewah. Pipit merasa senang, ada Tedja yang memenuhi kebutuhannya. Bahkan ATM diberikan Tedja.
__ADS_1
Akhirnya Pipit mampu mentraktir teman-temannya dan mematahkan semua bully-an teman-temannya yang mengatai kalau Pipit adalah orang miskin.
Tentunya semua yang diberikan Tedja adalah tidak gratis, ada maksud dan tujuan dari Tedja.
"Sayang, kamu sudah aku berikan semua apa yang kamu butuhkan. Gantian dong kamu kasih sesuatu kepada aku?", bujuk Tedja kepada Pipit. Setelah mereka sering ketemuan pergi kencan setiap hari, hanya sebatas jalan ke mall untuk belanja dan nonton tanpa ada sewa kamar. Dan hubungan mereka sudah berlangsung selama sebulan.
"Maksudnya apa Om?", tanya Pipit polos.
"Begini. Kita sudah jalan selama sebulan. Apa akhir dari hubungan kita ini?. Apakah hanya sebatas teman, atau ada hubungan sepesial tentunya mengenai perasaan kita masing-masing.
Kalau aku sendiri. Aku telah berkorban menghabiskan waktu ku hanya untuk menemani mu. Itu kulakukan karena memang aku ada rasa sayang dan cinta kepada mu.
Ketika pertama kali kita bertemu. Aku sudah ada rasa, sehingga aku mencoba untuk terus mendekatimu. Kemudian lama-kelamaan aku tidak bisa menahan perasaan ku. Sehingga aku mengungkapkan sekarang", Tedja berbicara seolah-olah bersungguh sungguh mencintai Pipit.
Pipit hanya diam saja, Pipit merasa kalau Tedja adalah orang yang jujur dan tulus mencintainya. Pikirnya karena Tedja selalu baik dan memenuhi kebutuhannya, Pipit merasa kalau Tedja adalah laki-laki yang baik dan pengertian.
"Om, sebelum Pipit menjawab pertanyaan om. Pipit mau tanya sesuatu. Sebelumnya maaf ya om, Pipit tidak bermaksud menyinggung perasaan om, tetapi Pipit pun harus tahu mengenai latar belakang om.
Bagaimana istri Om?, karena dari wajah om. Pasti om sudah mempunyai istri dan anak", Pipit polos ingin mencari tahu latar belakang kehidupan Tedja.
Tedja hanya senyum-senyum dan tertawa kecil menanggapi pertanyaan Pipit.
"Om, memang sudah mempunyai istri dan anak, tetapi istri Om sudah meninggal dunia. Dan untuk kedua kalinya om menikah dengan perempuan yang muda. Tetapi om tidak bahagia, karena istri Om selingkuh di belakang om.
Jadi om meninggalkan istri kedua om tersebut. Secepatnya om akan menceraikannya. Om janji bila kita menikah nanti, Om langsung akan menceraikan istri kedua om. Karena memang sudah 6 bulan om tidak pernah menemui dan menafkahinya.
Jangan takut Pipit, istri Om tidak akan berani melabrak kamu. Karena istri Om sendiri yang pertama kali menodai pernikahan kami dengan berselingkuh di belakang Om", Tedja berbohong mengenai kehidupan rumah tangga nya.
Pipit pun merasa yakin, kalau hubungannya dengan Tedja tidak ada kendala. Toh selama ini Pipit hidup sendiri, ayah dan ibunya sudah meninggal dunia. Pipit bersekolah dari biaya om nya yang bekerja serawutan di luar kota. Uang bulanan yang dikirim om nya terkadang tidak cukup untuk menutupi kebutuhannya.
"Baiklah om, Pipit setuju menikah dengan Om", Pipit menyanggupi dan setuju menikah dengan Tedja.
Bukan main senangnya Tedja karena Pipit sudah masuk perangkapnya. Ada nada kepuasan dan tidak sabar untuk segera menikmati tubuh Pipit.
__ADS_1
"Sayang, sementara ini kita menikah secara agama saja, tidak terdaftar pada catatan sipil. Kita menikah hanya dihadiri oleh saksi dan tanpa resepsi. Yang penting kan kita sudah sah sebagai suami istri. Om janji setelah om resmi bercerai dengan istri Om.
Kita akan segera meresmikan pernikahan kita ke catatan sipil", Tedja menyakinkan Pipit. Pipit pun hanya bisa pasrah dan mengangguk-angguk. Sedikitpun tidak ada perasaan Pipit kalau Tedja akan membohonginya.