
"Ayah, ayah ikut Indah ya pindah ke rumah baru", ajak Indah kepada Karim.
"Tidak Indah, biarlah ayah tinggal di rumah ini. Ayah tidak bisa jauh-jauh dari rumah ini. Kenangan bersama ibu kamu ada disini.
Kalau ayah pindah, ayah akan merasa tidak betah karena sudah terbiasa disini.
Ayah akan sangat merindukan ibu kamu bila tidak tinggal di rumah ini lagi", Karim menolak untuk pindah dari rumah nya dan tinggal di rumah Indah yang baru.
"Tetapi ayah, izinkan Indah menemani ayah di hari tua ayah. Nanti kalau ayah tinggal dengan Indah ayah tidak perlu lagi mengayuh becak.
Ayah tidak boleh tetap tinggal di rumah ini sendiri, kalau ayah sakit bagaimana?. Malah ayah nanti tidak mau memberitahu Indah. Tolong ayah tinggal lah bersama Indah", Indah terus membujuk Karim.
"Indah, justru kalau ayah terus mengayuh becak. Itu membuat tubuh ayah terasa bugar. Kalau ayah hanya duduk dan termenung justru akan membuat tubuh ayah terasa kaku.
Dan membuat banyak penyakit akan menghinggapi tubuh ayah. Jadi biarkan lah ayah tinggal di rumah ayah ini", Karim ngotot tetap menolak untuk tinggal serumah dengan Indah.
"Ayah, maksud Indah. Rumah ini akan Indah buat menjadi sebuah toko penjualan pakaian. Karena menurut Indah lokasi ini sangat strategis.
Penjualan Indah selama ini cukup bagus. Indah bermaksud untuk memperluas area toko. Sehingga item dan jenis produk yang dijual bisa bertambah banyak", Indah mengutarakan maksud dan keinginannya.
Ada raut kecewa di wajah Karim, Bagaimana tidak. Bila rumah ini di ubah menjadi sebuah toko. Itu berarti rumah Karim akan di rubuhkan dan akan berubah menjadi sebuah toko.
"Kenangan bersama istriku pasti akan hilang. Bagaimana lagi caranya aku mengingat kenangan bersama istri?", gumam Karim dengan sangat sedih. Karim pun pasrah dan mau rumahnya di ubah menjadi sebuah toko. Karena sedari dulu rasanya Karim sangat sulit untuk menolak keinginan Indah.
Dengan perasaan sedih dan kecewa Karim menyetujui permintaan Indah agar rumahnya dirubuhkan dan diubah menjadi sebuah toko.
"Baiklah Indah, ayah setuju untuk tinggal bersama kamu", Karim menyetujui tinggal bersama Indah. Tetapi tidak mengatakan kekecewaan nya. Sebenarnya merasa sedih karena rumahnya akan dirubuhkan.
Karena ayahnya sudah setuju untuk tinggal bersamanya, Indah pun lantas meninggalkan Karim duduk sendirian di ruang tamu.
"Aku tidak akan bisa mengenang kebersamaan bersama istri ku lagi", gumam Karim sedih tiba-tiba meneteskan air matanya. Tetapi buru-buru di hapusnya, takut kalau Indah mengetahui nya.
__ADS_1
Karim terus memandangi setiap sudut dalam rumah nya, mencoba mengembalikan lagi setiap momen kebersamaan bersama istri dan anaknya.
Terkadang Karim tersenyum dan tertawa mungkin ia terlalu larut dan menikmati kenangan yang begitu melekat dalam pikiran nya.
Keesokan harinya, Karim terus melamun. Keseharian Karim sekarang lebih banyak merenung. Terkadang sampai lupa makan dan minum.
Sebelum pindahan Indah banyak pergi ke rumah baru. Untuk memberesi dan membenahi apa-apa saja yang diperlukan.
Termasuk melengkapi semua perabotan mulai dari kursi tamu, pajangan dinding, lemari, tempat tidur, AC dan lemari es. Semua diperlengkapi agar nanti setelah pindah tidak sibuk lagi beli ini dan beli itu.
Indah memang membawa serta Arkan dan Bi Inah untuk membantu Indah melengkapi semuanya. Karim sebenarnya diajak serta tetapi menolak.
"Ayah disini saja, ayah mau memuaskan diri untuk melihat-lihat rumah ini. Karena sebentar lagi bangunan ini tidak ada lagi", Karim beralasan ketika Indah mengajaknya ikut serta. Indah pun tidak berani lagi memaksanya.
****
Setelah balik dari rumah baru.
Indah bermaksud membangunkan ayahnya karena Indah membawa makanan kesukaan ayahnya yaitu sate Madura.
"Ayah bangun, Indah membawa makanan kesukaan ayah, sate Madura", Indah menggoyang-goyangkan tubuh Karim. Tetapi Karim tidak juga mau bangun.
"Biasanya ayah kalau dipanggil langsung menyahut dan datang menghampiri mengapa ayah tidak menyahut ya", pikir Indah dalam hati nya.
Indah mulai panik dan ketakutan, ia berprasangka kalau ayahnya sudah meninggal dunia. Indahpun memegang seluruh tubuh ayahnya dingin, nafas nya tidak ada dari hidung dan detak jantungnya berhenti.
"Ayah....ayah...bangun ayah..ayah...jangan pergi...", Indah berteriak sekeras-kerasnya. Yang membuat para warga berdatangan ke rumah.
"Ayah nak Indah sudah tiada", ucap Bu Ratna tetangga di samping rumah Indah yang berprofesi sebagai tenaga medis setelah memegang urat nadi pada tangan Karim sudah tidak berdetak lagi.
"Tidak..., jangan tinggalkan Indah ayah", Indah memeluk Karim dengan erat sambil menangis
__ADS_1
"Yang sabar ya nak Indah, relakan ayah nak Indah pergi. Ini sudah kehendak Sang Kuasa. Karena pada akhirnya kita pun akan kembali kepada-Nya. Masing-masing kita semua hanya tinggal tunggu waktunya saja", Bu Ratna menasihati Indah sambil mengelus-elus punggung Indah.
Indah pun segera menghubungi Tedja memberitahukan kalau Karim sudah meninggal dunia.
"Sayang...ayah sayang..", ucap indah sambil menangis terisak-isak ketika hendak memberitahu kepada Tedja.
"Ada apa sih sayang, jangan membuat panik aku. Katakan dengan jelas jangan sambil terisak-isak begitu", tanya Tedja sedikit marah karena merasa bingung dan panik mendengar suara Indah melalui handphone.
"Ayah sudah tiada sayang, ayah meninggal dunia. Sepulang dari rumah baru untuk berbenah. Begitu tiba di rumah, Indah menemukan ayah sudah dalam kondisi tidak bernyawa di tempat tidurnya", Indah memberitahu kondisi sebenarnya Karim.
"Apa!. Kamu yang sabar, kuat dan ikhlas ya. Ini sudah kehendak Tuhan, kita tidak bisa melawan takdir Nya. Ya sudah kamu beresi apa yang perlu disitu. Secepat nya aku akan pulang ke rumah", Tedja memberikan semangat kepada Indah. Dan segera menutup teleponnya.
Segala keperluan dari memandikan jenazah hingga proses pemakaman di urus oleh ketua RT, Indah menyerahkan semuanya. Para tetangga datang melayat memberikan dukungan dan support. Indah bangga ternyata banyak tetangga yang datang menjenguknya.
Indah sadar, bahwa sejak dulu ayahnya sangat peduli dan baik kepada orang lain. Walaupun ayah nya miskin dan tidak mempunyai uang. Bila ada yang membutuhkan, ayah selalu ikhlas memberikan, walaupun akhirnya ia jadi tidak mempunyai uang.
Warga yang telah ditolong ayah menangis tersedu-sedu, "Pak Karim terima kasih banyak selama ini bapak sangat baik kepada keluarga saya. Maaf saya belum bisa membalas semua kebaikan bapak. Selamat jalan pak Karim", Bu Neni datang menyampaikan turut berdukacita nya.
Indah sangat terharu dan begitu sedih. Indah selama ini yang begitu jahat dan tidak peduli pada Karim. Belum sempat rasanya membalas semua kebaikan Karim. Itu yang membuat Indah sangat terpukul.
"Sudahlah sayang, jangan menangis begitu. Nanti ayah akan sangat sedih bila melihat kamu menangis terus. Ayah pasti mengerti perasaan mu, ayah pasti tahu kalau kamu berusaha untuk membalas kebaikan nya selama ini", Tedja menghibur dan menyemangati Indah.
Sore harinya Karim langsung di kebumikan di samping makam istrinya. Semua proses pemakaman berjalan dengan lancar.
"Terimakasih ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian. Kebaikan kalian yang telah datang menjenguk ayah, dan memberikan kata penghiburan buat kami.
Yang sangat mengguatkan kami agar tidak terlarut dalam kesedihan itu sangat besar dan sangat berguna bagi kami. Terimakasih banyak buat semua.
Tuhan lah yang membalas kan semua kebaikan para ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian", Tedja dan Indah mengucapkan terimakasih kepada seluruh warga yang datang dan yang ikut dalam proses pemakaman Karim.
Warga pun segera membubarkan diri. Tinggal Indah dan Tedja. yang masih di makam Karim memanjatkan doa-doa dan ucapan perpisahan.
__ADS_1