
Begitu Indah pulang dari rumah Alex, Indah pun segera pulang ke rumah ayahnya. Takut Arkan akan menangis terlalu lama, maklum Arkan jarang ketemu dengan kakek nya.
Kalau Arkan sadar kalau yang menggendongnya adalah sosok yang agak asing baginya. Arkan pasti akan terus menerus menangis. Indahpun langsung balik ke rumah ayahnya untuk mengantisipasi hal itu.
Dugaan Indah salah, ternyata Karim, ayahnya Indah sangat pandai menjaga Arkan. Arkan begitu betah tinggal berlama-lama dengan Karim.
"Ayah, apakah Arkan tadi cengeng?", tanya Indah penasaran karena Indah menemui Arkan begitu nyaman dengan Karim, kakeknya.
"Arkan cengeng ketika ayah membuatkan susu nya, Arkan menangis karena tidak sabar menunggu susunya selesai di buat, tetapi setelah susu selesai dibuat, dan Arkan sudah merasa kenyang. Arkan langsung ceria dan mau diajak bermain dan bernyanyi ", Karim memberitahu.
"Syukurlah kalau begitu, tadinya aku sangat khawatir kalau Arkan terus menangis, ternyata tidak", Indah senang Arkan bisa akrab dengan kakeknya.
"Ayah, untuk sementara kami akan tinggal di sini. Apakah ayah tidak keberatan?", tanya Indah kepada Karim, karena sekarang Indah tidak mempunyai rumah, biarlah uang yang dia pegang saat ini dari penjualan rumah dan mobil di luar negeri digunakan untuk modal usaha.
"Tidak apa-apa Indah, justru ayah senang kalian mau tinggal di rumah ayah. Rumah ini juga akan jadi milik kamu indah. Ayah sudah tua, kelak akan meninggalkan kalian", ucap Karim dengan suara pelan.
"Ayah jangan bicara seperti itu, ayah harus sehat, umur ayah masih panjang. Indah masih ingin bersama ayah", Indah terisak.
"Mengapa jadi acara sedih-sedihan sih, kamu mengapa jadi sungkan begitu sama ayah. Oh iya, bagaimana kabar Tedja, setelah kamu menjenguknya?", tanya Karim ingin tahu.
"Tedja baik-baik saja, saya sudah bicara kepada Alex. Laki-laki yang dipukuli Tedja. Memohon agar mencabut laporan nya, agar Tedja dibebaskan.
Ternyata Alex mau mencabut laporannya, karena Alex adalah teman semasa kuliah Indah. Mungkin dalam waktu dekat ini Tedja akan dibebaskan. Dan Tedja juga akan tinggal di rumah ini. Semoga ayah tidak keberatan", Indah memberitahu Karim.
"Syukurlah Tedja akhirnya bebas juga. Tidak apa-apa Indah, kamu dan Tedja sudah bapak anggap sebagai anak. Karena kamu tinggal di rumah ini, ya memang suami kamu harus tinggal bersama kamu dong", Karim memaklumi kondisi indah saat ini.
"Terimakasih ayah atas pengertian ayah", indah memeluk Karim.
"Oh iya, apa selanjutnya yang akan kamu kerjakan?", tanya Karim ingin tahu.
"Mungkin sebagian dari rumah ini, akan saya buat toko. Toko penjualan pakaian anak-anak, remaja dan dewasa, saya akan menjual pakaian dengan satu harga, semua item mempunyai harga yang sama", Indah memberitahukan rencana nya untuk memulai bisnis baru.
__ADS_1
"Oh, terserah kamu saja, mana yang terbaik saja. Ayah akan selalu mendukung kamu. Mudah-mudahan usaha kamu lancar dan maju ya. Bapak hanya bisa berharap dan berdoa. Oh iya Tedja nanti bagaimana?, apa ikut kamu juga berbisnis yang sama?", tanya Karim.
"Usaha lamanya mungkin akan lebih di kembangkan, membuat jenis usahanya lebih kreatif, Sedikit mendapat modifikasi. Misalnya kemarin hanya fokus ke karton kemasan untuk tempat barang-barang saja.
Sekarang mungkin akan ke karton untuk kemasan makanan atau kue-kue, kita akan mengganti untuk desain yang lebih modern, simple, tetapi menarik. Nantilah, saya juga belum berunding dan memberitahukan kepada Tedja", Indah memberitahu semua rencana dan keinginannya.
"Lakukan saja mana yang terbaik nak. Ayah harap kalian saling mendukung. Pasti akan dibukakan rezekinya", Karim memberikan suport.
Karim langsung menggendong Arkan merengek karena merasa gerah.
"Oh iya, saya melihat Arkan ini tidak mirip sama kamu atau sama Tedja. kalau kamu melihatnya mirip siapa Indah?", Karim sedikit bercanda sambil bermain krincingan dengan Arkan.
Indah langsung gelagapan, indah sadar Arkan sudah bertambah besar, raut wajahnya pun kian meniru wajah orangtuanya. Setelah diperhatikan lebih dalam, Arkan memang lebih mirip ke Pangestu. Memang Pangestu lah ayah biologis dari Arkan.
Karena Pangestu anak dari Tedja, sebenarnya bentuk wajah Arkan lebih mirip ke Tedja. Indah berusaha mencari jawaban yang tepat.
"Arkan mengambil wajah kami berdua ayah, bentuk wajah Arkan kan bulat seperti Ayahnya Tedja", Indah menjawab seadanya.
Oh iya ayah pergi dulu ya, ayah mau mengayuh becak. Ayah tadi dipesan ibu Salma untuk menjemputnya pulang dari wiritan di kampung sebelah", Karim meninggalkan Indah di rumah bersama Arkan.
Setelah kepergian Karim indah merenung sendiri duduk di meja makan, setelah menidurkan Arkan.
"Benar kata ayah, nanti kalau Arkan sudah besar, pasti akan menunjukkan wajah orangtuanya", gumam indah dalam hati.
"Bagaimana ini, apakah selamanya akan membohongi orang lain, bahkan membohongi Arkan sendiri. Karena Tedja bukanlah ayah biologis Arkan", Indah pusing memikirkan bagaimana esoknya.
"Sudahlah, aku juga tidak tahu Pangestu dimana. Kesalahan masa lalu, memang akan selalu membekas dan tidak bisa dihilangkan begitu saja.
Yang ada hanya penyesalan seumur hidup. Seandainya masih bisa mengulang waktu, mungkin indah akan memilih untuk tidak melakukan kesalahan itu. Tetapi kenyataannya waktu tidak bisa diulang. Hanya bisa pasrah.
Biarlah waktu yang akan menjawabnya. Mungkin seiring waktu, semua akan terselesaikan dengan sendirinya", Indah berharap kiranya indah bisa melepaskan kebohongan yang sedang dialaminya sekarang.
__ADS_1
****
Di lokasi kantor Polisi.
"Saudara Tedja, anda bebas sekarang. Saudara Alex telah mencabut laporannya", ucap petugas kepada Tedja sambil membuka jeruji besi dan mengeluarkan Tedja dari ruang tahanan.
"Terimakasih ya Tuhan", Tedja sujud bersyukur karena Alex mencabut laporannya, dan sekarang Tedja bebas dan tidak di penjara. Tadinya Tedja sangat takut dipenjara.
Tedja akhirnya menjabat tangan semua petugas tidak lupa mengucapkan terimakasih.
Begitu diluar gerbang tedja bingung harus kemana, Tedja sadar kalau rumahnya sudah di sita.
Akhirnya Tedja ingat, "Mungkin indah sementara waktu tinggal di rumah ayahnya, baiklah sekarang aku ke rumah ayah indah saja sekarang", gumam Tedja dalam hati dan segera naik angkutan menuju rumah ayah Indah.
Tedja pun tiba di rumah ayah indah.
Tedja mengetuk pintu dan sambil berteriak "Indah... Indah, buka pintu".
Tidak beberapa lama indah langsung berlari membukakan pintu, begitu mendengar ada suara orang mengetuk pintu dan memanggil-manggil namanya.
"Kamu sudah di bebaskan ternyata", ucap indah sambil membukakan pintu, Tedja masuk dan langsung duduk di kursi tamu.
"Bagaimana rencana kamu selanjutnya Indah?", tanya Tedja.
"Oh iya, aku juga belum memberitahu kamu. Kalau rumah dan mobil kita yang diluar negeri sudah ku jual dan hasilnya rencananya, aku akan membuka toko pakaian untuk anak-anak, remaja dan dewasa di samping rumah ini. Kalau kamu bagaimana?", tanya Indah balik kepada Tedja.
"Itulah, kalau usahaku sekarang memang kurang berkembang, aku juga bingung, harus bagaimana selanjutnya. Apakah kamu punya ide?", tanya Tedja.
"Oh iya, bagaimana Kalau kemasan karton kamu dimodifikasi dibuat menjadi bentuk yang kreatif untuk penyajian makanan dan kue-kue an. Dibuat modelnya lebih modern, simple dan cantik. Tempat-tempat untuk sovenir juga bagus", indah memberikan ide.
"Iya kamu benar, ide kamu bagus juga. Itu sangat kreatif menurutku. Apakah kamu bersedia memberikan modal kepadaku?", Tedja berharap.
__ADS_1
"Iya, tentu saja aku bersedia. Dan aku juga berharap kamu serius dan sungguh -sungguh mengerjakan. Dan berharap kamu tidak mudah tergoda terhadap perempuan lain", Indah menasihati Tedja.