
"Tedja mengatakan kalau ke Indonesia hanya selama seminggu, memang sih kalau banyak kepentingan atau urusan bisa lebih dari seminggu", Indah mengingat perkataan Tedja ketika akan berangkat dari luar negeri ke Indonesia.
"Tetapi ini sudah kelewat lama, masak iya untuk urusan kantor harus diselesaikan hampir sebulan lamanya, Mengapa Tedja belum juga kembali menemui aku?", gumam Indah dalam hati, setelah memperhatikan kalender duduk yang ada di atas meja.
"Apa mungkin, Tedja masih menemui Mitha dan berhubungan dengan Mitha?", Indah mencoba menebak-nebak.
"Mungkin aku harus menyusul Tedja ke Indonesia?, firasat ku juga sedang tidak enak. Tetapi aku juga tidak tahu arti firasat ini apa. Iya aku harus menyusul Tedja ke Indonesia. Aku tidak mau penasaran seumur hidup.
Bagaimana kalau Tedja memang sengaja menjauhkan aku, sampai aku harus tinggal di luar negeri, supaya aku tidak tahu semua perbuatan perselingkuhan nya.
Padahal Tedja berdalih ingin menjauhkan aku dari Pangestu. Padahal agar Tedja bisa bebas berselingkuh. Dasar kamu Tedja, kamu memang pintar sekali membuat alasan", Indah merasa pusing dan uring-uringan memikirkan perlakuan Tedja yang tidak pernah lagi menemui nya dan memantapkan rencananya untuk menemui Tedja ke Indonesia.
"Aku harus secepatnya menjual rumah dan mobil ini. Uang yang diberikan Tedja untuk biaya hidup antara aku dan Arkan memang lumayan juga jumlahnya, beruntung aku tidak boros menggunakan nya selama ini.
Kalau memang Tedja sudah hidup bersama dengan Mitha. Seluruh total uang penjualan dari mobil dan rumah. Cukuplah untuk membuat usaha kecil-kecilan dan membeli rumah yang sederhana", Indah mantap dan yakin balik ke Indonesia.
****
Indah pun mantap untuk menjual rumah dan mobilnya. Indah mempromosikan nya melalui iklan pada koran dan pengumuman iklan yang ditempel di tiang listrik yang ada di jalan raya.
Beruntung ada tetangganya yang tinggal di sekitar komplek tempat tinggalnya. Selama ini tetangga nya tersebut mengontrak rumah di sebelah rumah Indah. Mengetahui Indah ingin menjual rumah dan mobil, makanya ia pun membelinya. Pembeli itupun tidak keberatan membeli rumah beserta isinya.
Indahpun merasa beruntung, karena tidak mungkin bagi indah membawa perabotan nya ke Indonesia.
"Syukurlah pembelinya cepat ketemu, harganya pun lumayan mahal. Artinya aku tidak ada kerugian, malah untung banyak" gumam Indah dalam hatinya dengan senang luar biasa.
Setelah semuanya sudah beres, Indah pun kembali ke Indonesia.
Indah tidak memberitahu Tedja tentang kepulangannya ke Indonesia.
****
__ADS_1
Indah tiba di Bandara internasional Soekarno-Hatta.
"Kemana aku harus tinggal?", Indah bingung, beruntung Indah ingat alamat rumah dulu.
Dengan mobil roda empat yang dipesannya melalui aplikasi online Indah pun berangkat ke rumah lama.
Alangkah terkejutnya Indah kalau rumah itu sudah di sita oleh pihak Bank. Indah bingung "Mengapa rumah ini di sita pihak Bank?, Apa yang terjadi pada Tedja?, Dimana Tedja sekarang?", Indah tidak habis pikir dan tidak menyangka atas apa yang dilihatnya.
"Bagaimana bisa rumah ini sudah disita?", Indah bingung harus kemana lagi.
Akhirnya indah pergi ke rumah ayahnya, Karim.
"Ayah, aku harus ke rumah ayah. Sudah lama aku tidak ada kontak dengan ayah. Apakah ayah masih hidup?", Indah merasa segan bertemu dengan ayahnya. Karena selama ini indah tidak peduli terhadap ayahnya. Tetapi dengan terpaksa indah tetap harus ke rumah ayahnya, indah juga penasaran bagaimana kondisi ayahnya sekarang.
"Aku akan minta maaf ke pada ayah, karena selama ini aku sudah jahat dan tidak pernah mau tahu akan kondisi ayah", Indah sedih mengingat tingkahnya dan perlakuan jahatnya kepada ayahnya.
Dengan pelan-pelan Indah masuk menuju rumahnya.
"Ayah....ayah...", teriak indah sambil mengetuk pintu.
"Syukurlah, ternyata ayah masih hidup", Gumam Indah senang dan penuh syukur.
"Indah...Kamu datang nak", teriak Karim menghampiri indah dan segera memeluk indah dengan erat.
"Ayah.. syukurlah ternyata indah masih bisa ketemu ayah... Maafkan Indah ya ayah... selama ini sudah jahat dan tidak peduli sama ayah", Indah sujud sambil menggendong Arkan.
"Sudah Indah, nanti anak kamu jatuh", Karim sambil mengangkat tubuh indah agar segera berdiri.
"Kamu kemana saja Indah, ayah lihat rumah kamu di sita pihak Bank sebulan yang lalu, katanya kamu sudah lama tidak tinggal disitu", Karim memberitahu.
"Iya ayah, selama ini indah telah tinggal di luar negeri. Karena suami Indah tidak pernah lagi menemui Indah makanya Indah bermaksud untuk mencari tahu keberadaan suami Indah. Apakah ayah tahu dimana suami Indah?", tanya Indah ingin tahu.
__ADS_1
"Kata orang-orang suami kamu di tangkap Polisi Indah", Karim memberitahu.
"Apa, suami Indah ditangkap Polisi?, atas dasar apa suami Indah ditangkap polisi, apa yang telah diperbuatnya selama ini?", Indah merasa shock tidak menyangka akan mendapatkan kabar seperti ini.
"Ayah juga tidak tahu jelasnya, katanya suamimu bangkrut, sehingga harus menjual rumah kalian", Karim memberitahu.
Indah semakin penasaran, "Sebenarnya apa yang telah diperbuatnya, sampai-sampai ia harus masuk penjara dan bangkrut ", Indah bingung harus mencari tahu ke mana.
"Baiklah, aku akan ke kantor polisi setempat menanyakan perihal Tedja. Mungkin akan lebih jelas bila langsung ke kantor Polisi daripada harus menebak-nebak", Indah bermaksud pergi ke kantor Polisi.
"Ayah, titip Arkan ya!. Indah harus ke kantor polisi sekarang, untuk mencari tahu keberadaan Tedja. Mungkin Tedja masih tahanan polisi sekarang.
Karena kalau kejadiannya sebulan yang lalu, kemungkinan berkasnya belum lengkap dan Tedja mungkin belum di sidang. Atau dengan kata lain Tedja belum dimasukkan ke lapas tahanan", Indah pamit kepada Karim.
"Baiklah nak, itu lebih baik. Agar semua jelas", Karim setuju.
Indah pun langsung berangkat ke kantor polisi kebetulan mobil yang dipesannya sudah tiba di depan rumah.
"Jalan pak, ke kantor Polisi setempat ya", perintah Indah pada supir.
Tidak berapa lama mobilpun tiba di kantor polisi setempat. Indah masuk dan bertanya kepada salah satu petugas yang berjaga di posko depan.
"Pak, mau tanya adakah tahanan yang bernama Tedja disini?", tanya Indah kepada petugas.
"Oh sebentar ya ibu, saya lihat dulu di Komputer saya, silahkan duduk Bu!", ucap petugas ramah.
"Baik pak", sahut Indah.
"Benar Bu, ada tahanan atas nama Tedja disini, ibu mau ketemu dengan beliau?", ucap petugas memberitahu.
"Maaf pak, kalau boleh saya tahu. Atas dasar apa suami saya ditahan pak?", tanya Indah ingin tahu.
__ADS_1
"Oh, tahanan tersebut suami ibu. Suami ibu ditahan atas dasar melakukan tindakan kekerasan atau penganiayaan kepada rekan kerjanya yang bernama Alex", petugas menjelaskan alasan penahanan Tedja.
Indah semakin bingung, "Masak iya Tedja melakukan tindakan kekerasan terhadap rekan kerjanya, apakah ini ada hubungannya dengan persaingan bisnis", Indah menebak Tedja ditahan karena persaingan bisnis tidak ada pikiran nya kalau Tedja menganiaya karena memperebutkan wanita.