Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#61. Setelah 40 hari berlalu ternyata Shifa baik-baik saja


__ADS_3

Akhirnya setelah transit 2 kali. Dengan memakan waktu hingga 18 jam. Shifa dan Pangestu tiba juga di Prancis. Shifa dan Pangestu tiba sudah jam 3 dini hari.


Untung pihak agent sudah menyediakan taksi beserta supir nya. Jadi Shifa dan Pangestu tidak terlantar di bandara. Pagi buta supir tetap wajib mau antar sampai ke penginapan.


"This is the inn, sir. it's arrived", ucap supir setelah tiba di penginapan.


"Oh. Thank you sir. brought us", ucap Pangestu memberikan uang tip pada supir yang mengantar mereka hingga ke penginapan.


Setelah konfirmasi kepada pihak agent. Ternyata Pangestu dan Shifa tinggal di lantai 5 penginapan tersebut. Mereka pun langsung ke lantai 5 menggunakan lift, setelah terlebih dahulu check in di meja resepsionis sekaligus meminta kunci kamar.


Mereka pun masuk ke dalam kamar.


"Wow, pemandangan dari disini sangat menarik bila memandang ke luar atau ke bawah. Suasana kamarnya juga adem, sejuk, dan menarik.


Furniture dan peralatan semua tersusun rapi dan bersih. Bahkan penerangan dari lampu nya sangat menarik dan beragam, sehingga mendukung suasana jadi terlihat romantis", ucap Shifa mengagumi kamar yang di tempati nya sekarang.


"Aku mandi dulu ya, badan rasanya lelah dan letih", ucap Shifa langsung membuka busananya dan mengganti nya dengan memakai handuk.


Terdapat bak mandi untuk berendam, Shifa pun langsung berendam ke dalam bak mandi.


"Shifa cepat lah keluar, aku lapar sekali ini. Apa aku harus makan terlebih dahulu", Pangestu mengetuk pintu kamar mandi.


"Sebentar, jangan makan sendiri!. Tunggu aku selesai, kita makan bersama-sama", Shifa menjawab dari balik pintu.


Pangestu pun harus rela menunggu Shifa sampai selesai mandi.


Tidak beberapa lama Shifa pun keluar dari kamar mandi, dengan wangi sabun yang begitu wangi dan hanya memakai sehelai handuk pembalut tubuh.

__ADS_1


Sepintas begitu Shifa keluar dari kamar mandi, wangi tubuh Shifa begitu menggoda. Pangestu hampir tergoda, tetapi Pangestu coba menahan hasratnya. Karena rasa lapar yang amat sangat, di rasakan nya saat ini.


"Shifa ayo dong, berpakaian yang lama begitu, aku sudah lapar banget ini", Pangestu tidak sabar menunggu.


Shifa pun hanya mengenakan pakaian tipis tanpa lengan, dan langsung duduk di meja makan. Sebenarnya cukup menggoda, lagi-lagi Pangestu menahan hasratnya untuk tidak tergoda.


Mereka pun menikmati makan di subuh hari, dengan sangat lahap. Dengan sekejap menu makanan yang tersaji di meja makan segera habis ludes tidak bersisa.


"Aku ngantuk sekali aku ingin beristirahat sebentar, esok pagi atau tengah hari kita keluar untuk jalan-jalan", saran Pangestu kepada Shifa langsung rebah diatas ranjang.


"Sayang, kita kesini untuk bersenang-senang. Bukan tiduran, di Indonesia juga bisa tiduran buat apa capek-capek ke luar negeri', Shifa kesal lalu menghempaskan dengan kencang tubuhnya ke atas ranjang.


"Maksud kamu apa", Pangestu tidak paham maksud Shifa.


"Maksud ku, Mari kita nikmati setiap momen", Shifa langsung naik ke atas tubuh Pangestu, dan langsung melucuti satu persatu pakaian Pangestu. Dan melucuti pakaiannya juga. Mereka pun tanpa busana.


Pangestu juga begitu, menikmati setiap kelokan dari bentuk tubuh Shifa. Dengan suhu udara yang begitu dingin, keletihan yang mereka rasakan hampir tidak terasa. Malah semakin ingin memeluk dan berdekapan dengan erat dan kencang.


Shifa tampaknya sudah begitu ketagihan dan tahu kelemahan Pangestu. Shifa menjadi liar dan terus menggoda Pangestu. Pangestu pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Hasrat nya begitu menggebu-gebu mencium bau aroma tubuh Shifa yang wangi.


Mereka pun mencapai *******, langsung rebah dan tidak berdaya. Hingga tertidur lelap tanpa busana.


****


Begitulah keseharian Pangestu dan Shifa selama di luar negeri. Selesai dari negara yang satu, kemudian berpindah ke negara yang lain, menikmati panorama alam, restoran, museum, bahkan pusat perbelanjaan. Mereka kunjungi satu persatu. Bahkan untuk penginapan.


Mereka tinggal dalam satu kamar, seperti layaknya suami istri.

__ADS_1


Bahkan Pangestu sudah tidak malu-malu dan terkadang meminta untuk melakukan hubungan suami-istri. Menurut Shifa Pangestu sudah mencintai dirinya. Hubungan mereka sehari-hari seperti sudah menjadi suami istri yang saling mencintai.


Shifa terkadang bersikap manja dan kekanak-kanakan. Ingin selalu nempel dan selalu di keloni ketika tidur, bahkan disuapi ketika makan. Sudah seperti anak kecil saja.


Karena perhatian dan kemesraan-kemesraan yang mereka lakukan. Tampaknya membuat Shifa tidak mengingat lagi penyakitnya. Shifa jarang sekali kambuh sakit pada kepalanya.


Pangestu sadar bahwa sudah 40 hari sudah mereka berkeliling dunia.


"Bukankah Shifa umurnya kemarin di tafsir hanya 40 hari. Mengapa Shifa sepertinya kelihatan makin sehat", gumam Pangestu didalam hatinya dengan penuh tanda tanya.


Pangestu pun mencoba bertanya kepada Shifa.


"Shifa, bagaimana dengan kondisi kesehatan kamu. Sepertinya kamu kelihatan makin fit. Dan jarang mengeluhkan sakit pada kepalamu?", tanya Pangestu ingin tahu.


"Oh iya-iya. Aku juga tidak tahu. Mungkin karena aku merasa sekarang sudah menikmati hidup. Dan tidak pernah stress. Sehingga sakit ku tidak pernah kambuh lagi", Shifa menyadari kondisinya sudah lebih baik.


"Atau kamu malah sengaja atau berpura-pura sakit selama ini, agar mendapatkan simpati dari ku?", Pangestu sedikit curiga atas penyakit Shifa.


"Kamu jahat telah menuduh ku yang bukan-bukan. Dokter yang mengatakan itu kepada ku dan ayah. Aku juga tidak tahu mengapa usiaku tidak sesuai yang di tafsir dokter", Shifa sedikit tersinggung dan sakit hati.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakiti mu. Aku hanya bicara apa adanya. Padahal aku melakukan semua ini karena merasa kasihan kalau umur kamu tidak lama lagi.


Ternyata sudah 40 hari. Kamu malah baik-baik saja. Malah kelihatan makin sehat dan bersemangat. Padahal kita sudah melangkah lebih jauh. Bahkan aku sudah meninggalkan indah dan anakku.


Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Jelas aku merasa kecewa", Pangestu tertunduk lemah dan tidak bersemangat.


"Bunuh saja aku, bila kamu sudah tidak ingin bersama ku. Berarti kedekatan kita selama dan sejauh ini. Masih saja tidak membuatmu sedikit saja mencintaiku?", ucap Shifa datar, sedih kalau Pangestu hanya terpaksa dan hanya keinginan karna nafsu saja mau melakukan hubungan intim, bukan karena tulus mencintai shifa.

__ADS_1


"Shifa, Dari awal aku mengatakan kalau hatiku hanya terisi oleh sosok Indah. Sampai sekarang hatiku hanya kepada Indah. Kamu yang selalu berusaha menggoda dan merayu ku. Aku tidak bisa membendung hasratku. Kamu tidak boleh memaksakan aku mencintai, bahkan menuntut aku hidup bersama mu", Pangestu blak-blakan mengatakan tidak mencintai Shifa.


__ADS_2