
Keesokan harinya kondisi Burhan sudah makin membaik. Shifa dan Pangestu dengan setia menjaga Burhan di rumah sakit.
"Papa, sebentar Shifa ke ruang resepsionis dulu ya, Shifa mau tanya bagaimana kondisi papa selanjutnya, apakah masih butuh perawatan yang intensif lagi atau apakah sudah diperbolehkan pulang.
Sekalian Shifa juga mau melihat tagihan biaya rumah sakit Papa selama di rawat di rumah sakit ini", Shifa memohon izin agar keluar sebentar.
"Baiklah tidak apa-apa pergilah menanyakan dokter, papa tidak apa-apa tinggal disini. Kan ada nak Pangestu yang menemani", Burhan memberi izin.
Sekarang Tinggal antara Pangestu dan Burhan di ruang perawatan.
Burhan pun mencoba menindaklanjuti atas pembicaraan mereka kemarin mengenai pernikahan antara Pangestu dan shifa.
"Bagaimana Pangestu, apakah kamu sudah memikirkan perkataan ku kemarin?", Burhan ingin segera tahu keputusan Pangestu mengenai jawabannya untuk segera menikahi Shifa
Pangestu ingin mengatakan yang sebenarnya, bahwa ia tidak ingin menikah dengan Shifa karena sudah ada wanita lain yang mengisi hatinya.
Tetapi langsung tersadar, Pangestu ingat semua yang dikatakan dokter mengenai kondisi kesehatan Burhan.
"Kalau aku bilang menolak menikah dengan Shifa, pasti Burhan akan kembali merasa sesak. Bahkan sangat fatal. Bisa saja Burhan akan langsung meninggal dunia karena mendengar kabar yang tidak sesuai dengan harapan nya", gumam Pangestu bingung tidak tahu harus menjawab apa.
Pangestu pun hanya diam saja.
"Gimana nak Pangestu, apa sudah bisa memberikan keputusan untuk menikahi Shifa", Burhan bertanya berulang kali dengan nada suara agak keras. Pangestu terkejut mendengar Burhan sedikit berteriak. Pangestu pun langsung gelagapan, dan langsung memutar otaknya dengan cepat mencari jawaban yang tepat yang tidak membuat Burhan menjadi sesak.
"Begini pak, saya sudah menceritakan masalah ini kepada Shifa. Nanti akan kami coba diskusikan lagi", ucap Pangestu asal menjawab.
"Jangan lama-lama mengambil kesimpulannya. Kamu tahu sendiri kan kondisi kesehatan ku. Mungkin umur om tidak akan panjang. Om ingin sebelum meninggal om sudah menikah kan kamu dengan Shifa.
Agar kalau om sudah meninggal om pun bisa tenang. Karena Shifa menikah dengan orang yang tepat", Burhan tidak sabar agar Pangestu dan Shifa cepat-cepat menikah.
Sebenarnya Burhan tahu jawaban Pangestu sebenarnya tidak ingin menikah dengan Shifa. Tetapi dengan kondisi sakitnya saat ini, Burhan ingin menggunakan kesempatan ini. Agar Pangestu mau menikah dengan Shifa.
__ADS_1
"Iya om, nanti akan saya tanyakan lagi kepada Shifa", Pangestu mencari jawaban yang tepat.
"Baiklah kalau begitu", ucap Burhan pelan.
Begitu Shifa tiba di kamar inap. Burhan pun berusaha menggunakan kesempatan atas kondisi kesehatan nya saat ini.
"Shifa, kamu sangat mencintai nak Pangestu kan?", tanya Burhan tiba-tiba. Membuat Shifa terkejut. Hanya terdiam karena Pangestu ada di ruangan tersebut.
" Jawab cepat Shifa?", tanya Burhan sedikit keras. Shifa pun langsung menjawab gelagapan.
"Iya benar, Shifa mencintai Pangestu pa", jawab Shifa menundukkan kepalanya.
"Nak pangestu sendiri, apakah mencintai Shifa?", Burhan mencoba menjebak Pangestu. Pangestu pun bingung harus menjawab apa, seluruhnya sudah diceritakannya kepada Shifa kalau Pangestu tidak mencintai Shifa.
"Aku tidak mungkin mengatakan perasaan tidak suka ku dihadapan Burhan, bisa-bisa Burhan akan koma lagi", gumam Pangestu merasa bingung dalam hatinya.
Pangestu saling bertatapan dengan Shifa.
"Iya Pangestu mencintai Shifa om", Pangestu tidak ingin Burhan koma lagi. Shifa terkejut sekaligus senang dengan jawaban Shifa.
"Om, nanti akan kami diskusikan lagi", Pangestu bicara seadanya sambil menatap kearah Shifa.
"Baiklah tetapi jangan lama-lama ya. Papa sudah tidak sabar ingin melihat kalian segera menikah dan memberi kan cucu buat papa", ucap Burhan tegas.
"Oh iya, apa kata dokter?. Apakah sudah memperbolehkan papa pulang?. Sebenarnya Papa sudah merasa bosan dan merasa sudah baikan. Kalau hari ini diizinkan bisa pulang, sekarang juga papa akan pulang", ucap Burhan tidak sabaran.
"Kata dokter sih, papa sudah bisa pulang. Tetapi agar kesehatan papa semakin membaik, sebaiknya papa nanti tetap kontrol dan check up" , Shifa menasihati.
"Baiklah kalau begitu. Segera kamu beresi barang-barang yang akan kita bawa pulang", ucap Burhan senang, karena sudah diperbolehkan pulang.
****
__ADS_1
Setelah semua masuk ke dalam mobil. Pangestu pun melajukan mobilnya ke arah rumah Shifa.
Sepanjang perjalanan Pangestu memikirkan, bagaimana konsep pernikahan nya nanti dengan Shifa.
"Apakah kami akan menikah seperti kontrak?, sampai berapa lama?. Dan bagaimana nanti kebutuhan intim kami, apakah kami akan berpisah kamar?", Pangestu merasa pusing dan tidak fokus berkendara.
Hampir saja Pangestu menabrak mobil yang didepannya yang melaju dari arah kanan. Buru-buru Pangestu mengerem mendadak yang membuat Shifa dan Burhan hampir terpelanting ke depan. Pangestu pun sadar kalau lampu lalu lintas sedang merah.
"Hati-hati dong nak Pangestu. Berkendara itu harus fokus dan hati-hati. Kalau tidak nyawa akan menjadi taruhannya", Burhan sedikit marah dan segera menasihati Pangestu.
"Iya, maafkan Pangestu om. Tiba-tiba tadi Pangestu merasa pusing", Pangestu mencari alasan.
"Baiklah, kalau kamu memang merasa kurang enak badan, sebaiknya kita turun saja. Dan sebentar istirahat di restoran sana, agar perasaan kamu sedikit santai dan rileks", Burhan menganjurkan.
"Tidak apa-apa om, kita lanjut saja ke rumah. Benar, Pangestu tidak apa-apa. Pusingnya sudah hilang kok. Pangestu akan berkendara dengan pelan dan hati-hati", Pangestu ingin tetap lanjut, karena tidak sabar ingin berbicara mengenai konsep pernikahan nya dengan Shifa.
"Baiklah kalau begitu, kamu fokus dan hati-hati ya", Burhan menasihati. Pangestu pun hanya mengangguk-angguk.
Begitu tiba di rumah, Burhan pun dipapah langsung ke kamarnya.
"Om istirahat saja dulu ya, Pangestu dan Shifa ingin berbicara ", Pangestu membantu Burhan untuk tergeletak di tempat tidur nya. Pangestu segera meninggalkan Burhan di kamarnya.
"Shifa, kamu tahu kan kalau aku mengatakan cinta kepadamu. Itu adalah terpaksa, aku takut papamu akan kambuh lagi jantungnya bila aku menolak keinginannya", Pangestu mengingatkan Shifa.
"Iya aku tahu", jawab Shifa pelan sambil menundukkan kepalanya dengan sedih.
"Begini Shifa, kita akan melangsungkan pernikahan kita, tetapi kita tidak ada berhubungan suami istri. Karena aku sangat mencintai wanita lain, aku tidak mungkin menghianatinya. Kita akan rahasiakan konsep pernikahan kita ini, intinya aku memikirkan kesehatan om Burhan", Pangestu memberitahu konsep pernikahan mereka nanti nya.
"Baiklah terserah kamu saja", Shifa menerima keputusan dari Pangestu.
"Begini juga tidak apa-apa, berarti aku akan tinggal dalam satu atap dengan Pangestu", Shifa senang menerima keputusan Pangestu
__ADS_1
"Terimakasih ya, kamu sudah memikirkan kesehatan papa", Shifa menambahi.
"Baiklah kalau kamu setuju, agar lebih menyakinkan om Burhan sebaiknya pernikahan kita. Kita langsung kan sebulan lagi", Pangestu memberitahu.