Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#53. Pangestu terus menemani Arkan di rumah sakit


__ADS_3

Begitu Pangestu pulih. Pangestu pun langsung pergi menemui Arkan yang masih tidak sadarkan diri.


"Hai jagoan ayah, cepat sembuh ya", ucap Pangestu memegangi tangan Arkan dengan erat di dekatkan ke dadanya sesekali menciuminya.


"Cepat lah sembuh sayang, kita akan segera bermain bola basket. Dan ayah janji tidak akan meninggalkan kamu lagi", Pangestu menitikkan air mata ditangan Arkan.


Tidak lama kemudian tangan Arkan bergerak. Dan kemudian Arkan membuka matanya dengan lebar. Melihat Pangestu ada di samping tempat tidur nya, Arkan pun langsung tersenyum bahagia, "Om pangestu", ucapnya


"Om, mengapa om tidak pernah datang ke rumah?, padahal Arkan selalu berharap kalau om segera datang menemui Arkan", ucap Arkan pelan.


"Maafkan om tidak pernah datang ya, om sibuk sekali di kantor. Tetapi kali ini, om janji akan sering datang menemui mu", Pangestu menyakinkan Arkan.


"Benar iya om, om tidak bohong kan", Arkan ragu.


"Iya, om janji tidak akan bohong dan menepati janji om", Pangestu mengacungkan dua jarinya, yakni jari telunjuk dan jari tengah. membuat simbol tanda berjanji.


"Arkan bagaimana perasaan kamu sekarang, apa kamu ada merasa kesakitan pada bagian tubuh kamu?", tanya Pangestu ingin tahu perasaan Arkan.


"Tidak ada om, Arkan sudah merasa baikan", ucap Arkan sudah mulai bersemangat.


"Arkan , mulai sekarang panggil Om, ayah ya. Karena om adalah ayah Arkan", ucap Pangestu sesekali melirik ke arah indah.


"Ayah, benarkah om adalah ayah Arkan ma?", tanya Arkan polos kepada Indah. Indah pun hanya bisa mengangguk-angguk.


"Hore, Arkan sudah punya ayah. hore", Arkan begitu senang luar biasa. Tidak sabar rasanya baginya untuk segera pulang agar bisa bermain dengan Pangestu segera.


Pangestu dan Indah begitu sabar terus menunggui Arkan di rumah sakit. Karena Arkan masih butuh perawatan terhadap lukanya yang lumayan lebar dan dalam. Arkan belum diperbolehkan pulang ke rumah.


Waktu sudah menunjukkan pukul 19:00.


Biasanya Pangestu pulang kerumah menemui Shifa pukul 18:00. Pangestu berusaha memberitahu keberadaan nya kepada Shifa, agar Shifa tidak bingung dan uring-uringan menunggu terus kepulangan Pangestu.


Pangestu memberitahu via telepon, ketika indah berada di luar sedang membeli makanan. Arkan pun sedang tertidur lelap.

__ADS_1


"Shifa, maaf malam ini aku tidak bisa pulang ke rumah. Karena aku sedang menginap di tempat saudara", Pangestu memberitahu lewat telepon.


"Oh, baiklah. Kamu jangan lupa makan malam ya. Nanti maag kamu akan kambuh", Shifa menasihati dengan suara pelan dan penuh kekecewaan. Tapi Shifa tidak menunjukkan kekecewaan. Shifa tidak mau bertanya banyak dengan penuh curiga kepada Pangestu. Shifa berusaha tetap tegar.


Sebenarnya Shifa sedari tadi sore sudah mempersiapkan menu untuk makan malam. Shifa memasak menu kesayangan Pangestu. Nila goreng dengan sayur kangkung cumi.


Shifa hanya bisa pasrah. "Benarkah menginap di rumah saudara, entah mengapa feeling ku merasa kurang yakin. Karena ketika mereka menikah tidak satu pun ada keluarga dari Pangestu yang hadir", batin Shifa dalam hatinya, feeling-nya mengatakan kalau Pangestu bersama dengan wanita lain.


Pangestu segera menutup teleponnya begitu indah masuk ke kamar.


"Lagi nelpon siapa?", tanya indah penasaran.


"Shifa, aku mengatakan kepada nya kalau aku tidak bisa pulang", aku Pangestu kepada Indah.


"Sudahlah kamu pulang saja, aku bisa kok jagain Arkan disini", indah menolak.


"Please indah, jangan kamu sekali-kali melarang aku untuk bertemu dengan Arkan. Aku ingin tetap disini menjaga Arkan. Karena aku sudah berjanji untuk selalu menemuinya", Pangestu sedikit emosi. Indah hanya diam saja.


"Aku takut kalau Arkan terlalu berharap banyak kepada mu, padahal akhirnya kamu akan meninggalkan nya", indah jujur mengenai perasaan nya.


"Aku tidak akan meninggalkan kalian", peluk Pangestu erat ketika indah berdiri mempersiapkan makan malam mereka.


"Oh iya kamu bawa makanan apa, boleh kita makan sekarang?. Aku sangat lapar sekali", Pangestu begitu bersemangat ingin makan, sekalian mengalihkan pembicaraan mengenai Shifa.


Mereka pun lahap menyantap makanan yang tersaji di depan nya dan sesekali tertawa kecil. Ketika bercerita hal lucu.


****


Hingga 3 hari lamanya Pangestu tidak pernah pulang ke rumah, karena sedang di rumah sakit menjagai Arkan. Sebelumnya setiap hari menjelang malam, hendak mendapatkan waktu makan malam. Shifa selalu menanyakan Pangestu lewat telepon.


"Malam ini kamu pulang kan?, aku sudah memasak menu kesayangan kamu", tanya Shifa setiap hari, berharap Pangestu pulang menemui nya.


"Aku tidak bisa pulang ya, aku masih di tempat saudara",

__ADS_1


Shifa pun merasa sedih dan kecewa, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa pasrah saja.


Shifa akhirnya langsung mengurung diri dalam kamarnya, bahkan sedikitpun tidak menyentuh makan malam yang telah di masaknya sejak sore tadi.


"Shifa, ayo dong makan. Ini sudah telat jam makan malam. Papa dari tadi menunggu kamu agar datang ke meja makan. Malah mengurung diri di dalam kamar", tetap saja Shifa tidak mau keluar.


"Shifa, ayo dong. Papa sudah lapar ni. Mubajir dong makanan yang sudah kamu masak dengan resep penuh cinta dan kasih sayang, harus terbuang begitu saja", Burhan terus berusaha membujuk Shifa agar mau makan.


"Kasihan Shifa, mungkin Pangestu tidak pulang lagi makan ini. Shifa juga kelihatan agak kurusan sekarang", gumam Burhan dalam hati.


Tidak beberapa lama, Shifa pun keluar dari kamarnya.


"Ayo, pa kita makan. Nanti kalau nasi dan ikannya tidak habis. Shifa akan kasih ke tetangga", Shifa menuju meja makan, langsung menyendok nasi ke piring Burhan dan segera menyerahkannya ke Burhan.


"Sayang kamu cerai saja dari Pangestu. Daripada kamu makan hati begini. Papa lihat kamu agak kurusan. Kamu tidak usah bohong sama papa. Papa tahu kalau Pangestu sudah tiga malam tidak pulang. Kemana dia katanya pergi?", tanya Burhan ingin tahu keberadaan Pangestu.


"Pangestu pergi dan menginap di rumah saudaranya. Atas dasar apa Shifa menggugat cerai Pangestu?. Shifa tidak apa-apa pa, emang Shifa lagi mengurangi porsi makan, agar tidak kelihatan gendut", Shifa memberi alasan.


"Mungkin ada sesuatu hal penting yang harus di urusnya. Sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama", Shifa menambahi.


"Untuk apa kamu membela Pangestu terus Shifa, papa sudah tahu. Dan papa tidak ingin kamu menderita dan malah jadi sakit", Burhan merasa kasihan dengan kondisi Shifa.


"Shifa tidak mau cerai dengan Pangestu, pa", Shifa terus melahap nasinya hingga habis. Setelah nasinya habis, Shifa pun segera mencuci piring kotornya di wastafel dan pamit untuk kembali ke kamarnya. Burhan hanya geleng-geleng kepala.


"Yang ada dipikiran Shifa ini apa sih. Untuk apa mempertahankan pernikahan yang sudah tidak ada manfaatnya lagi, malah membuat Shifa menderita", gumam Burhan dalam hatinya.


****


Hari ini Arkan sudah diperbolehkan pulang ke rumah, lukanya sudah mengering, walaupun masih diperban.


"Ayah ikut kan bersama Arkan dan mama pulang ke rumah", tanya Arkan merasa senang sudah diperbolehkan pulang, dan tidak sabar ingin bermain dengan Pangestu. Karena Pangestu sebelumnya berjanji akan selalu menemani Arkan.


"Iya dong, ayah akan ikut pulang dengan kalian ke rumah", Pangestu melirik ke arah Indah. Indah hanya diam saja tidak ada ekspresi menolak kehadiran Pangestu di rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2