Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#47. Shifa kecewa Pangestu tidak mencintainya


__ADS_3

Selama di dalam mobil Shifa hanya diam saja tidak berselera lagi untuk jalan-jalan. Pangestu bingung harus bagaimana caranya membujuk Shifa.


"Shifa, kita duduk-duduk di taman itu yuk", ajak Pangestu untuk mencairkan suasana. Shifa hanya menurut dan langsung turun dari mobil dengan sedikit cemberut. Karena Pangestu mengungkapkan perasaannya kalau tidak mencintai Shifa.


Padahal selama ini Shifa merasa yakin sekali kalau Pangestu mencintainya. Dari sikap dan perhatian Pangestu yang selalu mengingatkan makan, mandi atau minum obat ketika sakit. "


"Ternyata aku salah selama ini, Pangestu hanya menganggap ku adik saja", gumam Shifa kesal dan geram di dalam hatinya.


Setelah mereka duduk-duduk di taman.


"Shifa, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk mengecewakan mu. Tolong mengerti lah perasaan ku saat ini. Hatiku telah terisi oleh wanita lain.


Sampai sekarang perasaan ku masih tetap kepadanya, walaupun tidak pernah berjumpa. Kebersamaan dan kedekatan kita pun tidak juga membuat perasaan ku hilang kepada nya.


Sungguh aku jujur kalau aku tidak bisa memaksakan untuk mencintai mu", Pangestu berbicara dengan lembut berharap Shifa akan terbuka pikirannya dan menerima kenyataan.


"Aku mengerti perasaan mu. Akupun tidak bisa memaksakan mu untuk mencintaiku. Aku ihklas kamu bersama dengan wanita lain.


Sekarang tidak usah lagi peduli atas kehidupan ku, aku sudah tidak bersemangat lagi menjalani hidup ini. Aku menyerahkan semua perusahaan patungan kita kepadamu", Shifa merasa putus asa.


"Shifa kamu jangan bicara seolah-olah kamu itu sudah tidak mempunyai tujuan hidup dan harapan hidup lagi. Masa depanmu masih panjang dan penuh kebahagiaan. Kamu harus semangat dan optimis kelak suatu saat nanti kamu akan mempunyai keluarga kecil yang bahagia", Pangestu menasihati.


"Tidak mungkin Pangestu. Sejak kuliah aku sudah menyukai kamu. Hampir 6 tahun, rasa itu tetap sama dan tidak berubah. Sampai sekarang aku masih mencintaimu. Sekarang orang yang kucintai telah milik orang lain. Apa lagi yang akan kuperjuangkan", Shifa bercerita seperti tidak ada harapan dan semangat.


"Shifa, kumohon. Tetap lah semangat dalam menjalani hidup. Aku akan tetap menjadi kakak, yang akan selalu mensupport dan mendukung mu. Kamu sampai kapan pun, kalau butuh untuk teman curhat dan bantuan. Aku akan selalu ada di sampingmu", pangestu menggenggam erat kedua tangan Shifa dan memeluknya.


"Kamu paham kan maksud aku", Pangestu menambahi. Shifa hanya bisa manggut-manggut.

__ADS_1


"Benarkah sikap dan perhatian mu tidak akan berubah kepadaku?", Shifa tidak ingin Pangestu jadi menjaga jarak. Walaupun hubungan mereka hanya sebatas teman.


"Iya aku berjanji, sikap dan perhatian ku. Tidak akan berubah kepada mu", Pangestu menyakinkan Shifa.


Kring....kring...


Suara handphone Shifa berdering, ada panggilan masuk dari mbok Marni. Shifa pun langsung mengangkat nya.


"Halo mbok, ada apa?", Shifa bingung.


"Non, bapak tiba-tiba tergelatak di lantai. Mbok tidak tahu penyebabnya. Mbok juga tidak tahu kejadiannya. Ketika hendak membawakan air minum untuk bapak. Tiba-tiba mbok Marni melihat bapak sudah tergeletak di lantai ", mbok Marni memberitahu kalau Burhan tergelatak di lantai.


"Apa!. Ok, Shifa langsung pulang sekarang, mbok panggil pak Tedi, supir nya papa. Suruh pak Tedi membawa papa ke rumah sakit. Shifa akan langsung menyusul saja ke rumah sakit", Shifa terkejut dan panik tahu Burhan sedang sekarat, tergeletak di lantai. Dan langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Telepon dari siapa Shifa?", tanya Pangestu penasaran dan ingin tahu.


"Dari mbok Marni, katanya papa tergelatak di lantai. Ayo sekarang juga kita ke rumah sakit", Shifa segera masuk ke dalam mobil. Tanpa komando Pangestu pun mengikuti dari belakang. Segera masuk kedalam mobil dan langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang paling dekat dengan rumah Shifa.


"Papa, jangan tinggalin Shifa. Papa harus kuat", Shifa terus mengucapkan doa sambil air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Bagaimana tidak Shifa begitu sedih, karena dalam pikirannya sudah terbayang kalau akan kehilangan Burhan. Orang satu-satunya yang dimiliki nya di dunia ini.


"Shifa kamu tidak usah berpikiran yang tidak-tidak, seharusnya kamu mendoakan papamu. Aku yakin papamu pasti kuat dan akan segera sembuh. Seperti sedia kala", Pangestu memberi support dan menyemangati Shifa.


Shifa terus saya menangis, tidak beberapa lama mereka pun tiba di rumah sakit. Shifa langsung turun dan berlari ke ruang UGD dan menanyakan pasien atas nama Burhan.


Ternyata mbok Marni dan pak Tedi sedang berdiri di samping ranjang Burhan.


"Bagaimana kondisi papa, pak?", tanya Shifa ingin tahu.

__ADS_1


"Masih diperiksa dokter non, belum ada dokter yang memberitahukan kepada kami bagaimana kondisi pak Burhan", ucap pak Tedi memberitahu.


Tidak beberapa lama muncul dokter yang menangani pak Burhan.


"Dengan keluarganya pak Burhan?", tanya nya ingin tahu.


"Iya dok, saya anaknya pak Burhan", balas Shifa cepat.


"Begini Bu, pak Burhan sepertinya terkena serangan jantung. Jantung pak Burhan sangat lemah. Jadi kami sangat menyarankan kalau pak Burhan tidak boleh mendengar perkataan yang membuatnya menjadi marah atau sedih. Itu akan sangat membuat fatal kepada kondisi fisik nya", dokter memberitahu.


"Saat ini pasien masih belum sadarkan diri. Jadi kalau menjenguk pak Burhan usahakan mimik dan wajah kamu jangan menjadi tanda tanya baginya, sehingga ia akan menjadi kepikiran.


Tahu sendiri kalau pak Burhan terlalu banyak berpikir, sehingga membuatnya menjadi bersedih. Nyawa pun bisa menjadi taruhannya", dokter memberitahu akibat terparah dari kondisi Burhan saat ini.


Shifa hanya bisa mengangguk-angguk tanda memahami atas apa yang diberitahukan dokter kepadanya. Pangestu pun ikut mendengar atas semua perkataan dan penjelasan dari dokter yang merawat Burhan.


Shifa terus memegangi tangan Burhan.


"Pa, bangun dong papa", ucap Shifa pelan ke arah telinga Burhan. Tetapi Burhan tetap saja belum sadarkan diri.


"Mbok Marni dan pak Tedi pulang saja duluan, biar Shifa yang menjaga papa disini", perintah Shifa kepada kedua orang yang bantu-bantu di rumah nya. Tedi dan Marni pun langsung menurut dan segera beranjak meninggalkan Shifa di rumah sakit.


Tidak beberapa lama Burhan pun sadarkan diri.


"Syukurlah, akhirnya papa sadarkan diri", Shifa senang dan merasa bersyukur.


"Papa, dimana ini Shifa?", tanya Burhan bingung.

__ADS_1


"Papa di rumah sakit, tadi mbok Marni menemukan papa sudah tergeletak di lantai. Mereka pun secepatnya membawa papa ke rumah sakit. Kalau Shifa sendiri langsung mendapati papa di rumah sakit, setelah mbok Marni menelepon Shifa. Papa sudah dalam kondisi tidak sadarkan diri", Shifa memberitahu kronologi Burhan berada di rumah sakit.


"Papa mikirin apa sih, papa tidak usah banyak pikiran. Pikirin kesehatan papa saja, Shifa tidak mau papa sakit lagi", Shifa memeluk erat Burhan. Pangestu memaklumi betapa sedihnya Shifa melihat Burhan tidak sadarkan diri, karena Burhan lah selama ini yang merawat dan menjaga Shifa. Shifa tidak ada keluarga lain lagi selain Burhan.


__ADS_2