
Akhirnya Indah berinisiatif mengantar Arkan ke sekolah. Indah segera mengganti bajunya dengan cepat agar Arkan tidak terlambat. Karena situasi kota pada pagi hari, kendaraan begitu rame sehingga wajib macet.
Sengaja Indah tidak membawa kendaraan sendiri, Indah menelepon kendaraan yang dipesan melalui aplikasi, karena biasanya supir nya sudah tahu jalan-jalan tikus untuk menghindari kemacetan.
Dengan cepat kendaraan itu sudah sampai di depan rumah. Indah dan Arkan pun segera masuk dan kendaraan langsung melaju dengan cepat.
Selama di dalam mobil Arkan banyak diam. "Sayang, kamu malu ya punya ayah Tedja?, mengapa harus malu, toh kenyataannya ayah Arkan memang ayah Tedja. Ayah Tedja pasti marah dan sedih kalau tahu Arkan malu punya ayah tua", Indah mencoba memberikan arahan dan menasihati Arkan.
Arkan diam saja, "Mengapa ayah Tedja tua tidak seperti ayah Beni, dan ayah Tika yang masih muda", tanya Arkan dengan polos.
"Karena mama jodohnya sama ayah Tedja. Tidak mungkin dong, kamu dengan seenaknya mengaku kalau ayah orang lain adalah ayah Arkan.
Karena memang ibu berjodohnya dengan ayah Tedja. Jadi seharusnya Arkan tidak perlu malu. Toh ayah Tedja kan orang hebat, bisa mencari uang untuk memenuhi semua kebutuhan sekolah kamu.
Nanti mama akan ngomong sama guru kamu, untuk menasihati teman-teman kamu yang mengejek kamu", Indah memberitahu. Arkan hanya diam saja merasa bersalah terhadap Tedja.
"Besok pergi ke sekolah, mau kan diantar ayah Tedja?", Indah ingin tahu apakah Arkan sudah menerima kondisinya. Arkan hanya mengangguk-angguk kan kepalanya tanda setuju.
"Baiklah, mama tahu pasti Arkan anak yang patuh. Sekarang kita sudah tiba di sekolah kamu. Kamu masuk dulu ya ke kelas kamu. Mama sebentar akan menemui wali kelas kamu", ucap Indah langsung meninggalkan Arkan di kelasnya dan Indah langsung menuju ruang guru.
tok...tok...tok...
Indah mengetuk pintu.
__ADS_1
"Silahkan masuk, Bu", ucap salah satu guru yang berada diruang guru, terdapat banyak guru diruangan tersebut.
"Begini Bu, saya orang tua dari Arkan. Saya ingin mengadu bahwa ada siswa sekelasnya mengejekinya dengan mengatakan 'itu yang antar kamu, ayah kamu atau kakek kamu sih', ucap salah satu siswa Arkan. Arkan pun merasa malu karena diejekin temen-temennya.
Tolong ibu nasihati teman Arkan tersebut, agar tidak lagi membully anak saya", Indah mengungkapkan keluhan nya.
"Baiklah Bu, nanti akan saya tanyakan hal itu kepada anak yang membully tersenut. Saya minta maaf atas ketidaknyamanan Arkan ya Bu!", ibu wali kelas Arkan merasa bersalah. Indah pun segera pamit meninggalkan ruang guru.
"Baiklah Arkan, ibu sudah bicara kepada ibu wali kelas kamu, mudah-mudahan anak yang anak itu tidak lagi mengejeki kamu", Indah pamit pulang kepada Arkan.
****
"Yah, kita main basket yuk di belakang rumah", ajak Arkan kepada Tedja karena hari ini adalah hari minggu. Ketika semua anggota keluarga sedang tidak sibuk melakukan rutinitas sehari-hari dan kebetulan sedang kumpul di ruang tamu.
"Tidak ahh, ayah lagi malas", Tedja menolak dan tetap asik dengan handphone nya. Indah melihat ekspresi wajah Arkan sedih, dan Indah mencoba menengahi.
"Bagaimana kalau kita nonton di bioskop saja yah, sekarang ada film enak", Arkan mencoba kegiatan yang lain agar Arkan bisa merasa dekat dengan Tedja. Arkan ingin agar Tedja tidak marah lagi karena telah menolak Tedja untuk mengantarnya ke sekolah.
"Ayah sedang tidak mood ajak ibu kamu saja", lagi-lagi Tedja ngotot untuk menolak keinginan Arkan. Arkan pun segera pamit ingin masuk ke kamarnya dengan raut wajah cemberut.
Setelah kejadian Arkan menolak Tedja untuk mengantar nya ke sekolah. Tedja jadi terlihat sensitif, kurang peduli dan terkesan cuek terhadap Arkan. Bahkan terhadap Indah sendiri Tedja pun terkadang bicara ketus.
Bagi Tedja sendiri karena tahu Arkan malu terhadap nya karena sudah tua. Tedja sakit hati, dan menjadi marah karena Arkan tidak menganggap nya sebagai ayah. "Sia-sia saja aku menganggap nya sebagai anak kandung ku selama ini, dasar anak tidak tahu berterima kasih", gumam Tedja dalam benaknya penuh emosi dan kekesalan.
__ADS_1
Indah pun bermaksud mengklarifikasi semuanya.
"Sayang mengapa tidak menuruti saja permintaan Arkan?. Sekalian kita merefreshkan pikiran ini, kita pergi makan di luar saja yuk sayang", ajak Indah agar mengganti suasana yang sedikit tegang.
"Aku kan sudah bilang, kalau aku sedang tidak mood. Sudahlah jangan memaksa ku. Kalau kalian mau, kalian berdua saja yang pergi biar aku di rumah saja", ucap Tedja ketus.
Indah pun ingin tahu mengapa sikap Tedja berubah.
"Sayang mengapa kamu sekarang sepertinya berubah. Terkesan cuek dan tidak peduli lagi kepada Arkan", tanya Indah ingin tahu.
"Sudahlah indah tidak usah memicu untuk bertengkar. Kalau Arkan merasa malu dengan ku ya sudah. Arkan tidak usah tinggal bersama kita lagi. Biarkan saja dia tinggal di panti asuhan", Tedja bicara dengan kasar dan keras.
"Sayang kamu kenapa sih, mengapa bicara seperti itu. Mengapa sikap kamu jadi berubah kepada Arkan.
Arkan masih kecil tidak tahu apa-apa. Yang diinginkannya sekarang hanya perhatian dari orang tuanya", Indah sedikit terisak, karena sedih melihat sikap Tedja yang sudah tidak peduli lagi kepada Arkan.
"Sudahlah memang Arkan tidak anak kandung ku kan?, sia-sia aku menganggap nya anak kandung ku selama ini. Dasar anak tidak tahu berterimakasih, padahal aku sudah bekerja keras selama ini untuk memenuhi kebutuhannya", ucap Tedja geram.
"Sayang mengapa kamu bicara seperti itu, Arkan tidak bermaksud seperti itu. Saat itu mungkin dia terlalu sedih karena telah diejeki teman nya. Setelah aku memperingatinya dan memberi pengajaran kepada temannya yang mengejekinya.
Arkan pun berusaha minta maaf kepada mu. Dan ingin menebus kesalahannya. Sebenarnya dalam hatinya ingin sekali dekat dan bermain dengan kamu", Indah mencoba mengklasifikasi sikap Arkan terhadap Tedja.
"Sudahlah, tidak usah membela Arkan seperti itu. Kenyataannya memang dia bukan anak kandungku. Dan jangan paksa aku untuk dekat dengan Arkan", Tedja bicara dengan nada kencang.
__ADS_1
"Sayang. Tega sekali kamu bicara seperti itu. Pelan kan suara kamu, aku tidak mau Arkan nanti mendengar nya dan menjadi sedih. Malah bertanya mengenai ayah kandungnya", Indah bicara dengan pelan karena takut Arkan akan mendengar percakapan mereka.
"Sudahlah aku malas berdebat, aku juga tidak ingin di ganggu. Aku ingin beristirahat", Tedja langsung beranjak masuk ke kamarnya dan meninggalkan Indah sendirian di ruang tamu. Indah sedih mengapa Tedja jadi berubah menjadi cuek dan sering marah-marah.