Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#72. Shifa tidak mau menggugurkan kandungannya


__ADS_3

Febri sangat galau hatinya, tidak sabar untuk segera bertemu dengan Indah dan ingin segera mengungkapkan perasaannya.


"Indah, kuharap kamu tidak salah paham atas kepergian ku yang mendadak ini. Aku tidak ingin kamu menganggap aku tidak serius. Setelah kamu mengungkapkan masa lalu mu, aku malah mendadak pergi ke luar kota", gumam Febri di dalam benaknya, sambil merenung di balkon penginapannya. Ingin rasanya Febri menelepon Indah. Tetapi segera diurungkan nya niatnya.


"Biarlah nanti ketika aku sudah tiba di jakarta, aku langsung mengungkapkan perasaan ku, agar menjadi surprise yang luar biasa bagi Indah", Gumam Febri dalam hatinya.


"Mudah-mudahan besok urusanku segera selesai. Agar aku bisa cepat kembali ke Jakarta", harapnya dalam hati.


Keesokan harinya, Dengan penuh semangat Febri bangun dari tidurnya. Berharap dan berdoa dalam hatinya, semoga hari ini urusannya segera selesai.


Segera Febri bersiap-siap untuk mandi.


***


"Aduh sayang, kepalaku sakit sekali", rengek Shifa sambil memegangi kepalanya.


"Apakah kamu sudah sering mengalami sakit kepala ini?", tanya Pangestu ingin tahu.


"Dalam 3 hari belakangan ini, sakit kepala ini sering melanda ku. Awal-awal aku selalu menahan-nahan nya. Karena setelah aku bawa rebahan dan langsung tertidur. Sakitnya biasanya langsung hilang. Tetapi, sekarang sepertinya sakit kepala ku makin terasa sakit banget", Shifa sampai berkeringat jagung.


"Baiklah, aku bawa kamu ke rumah sakit ya sekarang", Pangestu segera menuntun dan memapah Shifa untuk masuk ke dalam mobil. Shifa pun hanya menurut saja.


"Aduh sakit sekali sayang", Shifa terus merengek-rengek menahan rasa sakit pada kepalanya.


"Sebentar lagi kok, ini juga mau nyampe. Kamu yang sabar ya", Pangestu menyemangati Shifa.


"Kamu tahan dulu ya", Pangestu memegangi tangan Shifa dengan erat.


Tidak beberapa lama mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Pangestu langsung ambil posisi memarkirkan mobilnya di depan UGD dan segera memanggil perawat yang sedang berjaga. Takutnya Shifa tidak tahan lagi berjalan.


Para perawat pun datang dengan membawa kursi roda, dan segera mendudukkan Shifa pada kursi roda tersebut. Dan segera membawanya ke ruangan UGD, beruntung pasien tidak terlalu ramai. Shifa pun langsung segera ditangani dan diperiksa.


Setelah Shifa merasa tenang, Pangestu pun segera diizinkan untuk bertemu dengan Shifa.


"Gimana sakitnya?, sudah mendingan?", tanya Pangestu ketika masuk menemani Shifa di ruang UGD.


"Sudah mendingan, sakitnya sih sudah hilang. Tidak tahu nanti apa sakitnya akan datang lagi", ucap Shifa pelan karena tubuhnya terasa lemas. Tiba-tiba datang dokter jaga menghampiri mereka.

__ADS_1


"Selamat pagi Pak?", sapa dokter Ilham ramah. Nama itu tertera pada name tag nya.


"Pagi juga dokter", balas pangestu sambil tersenyum.


"Gimana kondisi istri saya dok, akhir-akhir ini katanya sakit kepalanya sering menyerangnya. awalnya masih terasa biasa, lama kelamaan makin sering dan lumayan makin terasa sakitnya", Pangestu memberitahu.


"Iya pak, saya juga tidak bisa mengambil kesimpulan sekarang. Ibu masih ada pemeriksaan lebih lanjut. Sebentar lagi akan ada CT Scan pada bagian kepala ibu. Mungkin setelah pemeriksaan tersebut baru bisa disimpulkan. Kami berharap bapak bisa sabar menunggu", Dokter Ilham pamit dan segera meninggalkan Pangestu dan Shifa.


Setelah menunggu hampir 2 jam lamanya. Tiba-tiba perawat datang menghampiri.


"Permisi Pak, Pak Pangestu disuruh dokter Ilham ke ruangannya sekarang", pinta perawat itu kepada Pangestu.


"Oh, baiklah. Titip istri saya ya suster", Pangestu pamit dan segera pergi ke ruangan dokter Ilham.


Tok...tok. Pangestu mengetuk pintu.


"Silahkan masuk", ucap suara dari balik pintu. Pangestu segera membuka pintu dan segera menghampiri meja dokter Ilham.


"Ada apa dok?", tanya Pangestu merasa penasaran.


"Oh iya, Terima kasih banyak dok", Pangestu langsung segera duduk di kursi.


"Begini pak, kondisi ibu Shifa saat ini sudah semakin parah. sel Kanker nya sudah menyebar pada seluruh bagian otaknya. Saya pun tidak bisa menyimpulkan ibu Shifa bertahan entah sampai kapan.


Itu semua tergantung dari ketahanan fisik dari ibu Shifa sendiri. Saya tidak tahu apakah bisa menunggu setelah bayinya di lahirkan. Hanya obat penghilang rasa nyeri yang bisa diberikan saat ini, dan dijaga kondisi ibu harus stabil.


Terus diberikan semangat agar sakitnya tidak terlalu dirasakannya. Tetapi pak, apabila terus mengkonsumsi obat penghilang rasa nyeri, takutnya akan mengganggu kondisi janin dari ibu Shifa sendiri", dokter Ilham memberitahu.


"Oh begitu ya dok. Apa tidak ada cara lain lagi dok untuk penanganan istri saya", tanya Pangestu ingin tahu.


"Satu-satunya caranya adalah menggugurkan janin ibu Shifa", ucap dokter Ilham tegas.


"Apa dok, Umur janinnya saat ini sudah memasuki usia 4 bulan!", Pangestu tidak setuju.


"Iya benar pak, memang tidak ada jalan lain pak. Hanya itu jalan satu-satunya. Itupun harus secepatnya dilakukan, karena kondisi ibu Shifa sendiri sudah makin lemah", ucap Dokter Ilham menyakinkan Pangestu.


"Baiklah dokter, terimakasih atas informasinya", ucap Pangestu lemas dan sedih, atas kondisi Shifa saat ini. Tetapi Pangestu tidak bisa berbuat apa-apa. Pangestu pun segera pamit untuk meninggalkan ruangan dokter Ilham, dengan wajah tertunduk lemas.

__ADS_1


Pangestu memasuki ruangan tempat Shifa di rawat dan segera menghampiri Shifa.


"Bagaimana sayang?, apa yang telah disampaikan oleh dokter Ilham. Aku tidak kenapa-kenapa kan sayang?", Shifa sangat berharap. Tetapi Pangestu hanya diam saja, bingung tidak tahu apa yang harus diperbuat nya.


"Apakah aku harus memberitahukan yang sebenarnya atau akan merahasiakannya?. Tetapi keputusan ini harus cepat dilakukan. Berarti aku harus mengatakan yang sebenarnya kepada Shifa", gumam Pangestu bingung.


"Shifa, kamu harus kuat dan tetap semangat ya. Kamu tahu kan keajaiban itu pasti ada. Dan itu telah terbukti sewaktu kamu di vonis umurnya hanya 40 hari lagi. Ternyata kamu bisa bertahan sampai sekarang. Jadi kamu haru optimis dan yakin akan semua itu", Pangestu ingin Shifa tidak terlalu memikirkan penyakitnya.


"Iya sayang aku percaya itu. Kamu berbelit-belit banget. Katakan saja yang sebenarnya, dokter bilang apa sama kamu?, kamu membuatku makin penasaran saja", Shifa tidak sabar ingin tahu. Pangestu menarik nafas panjang.


"Sel kanker kamu sudah menyebar ke seluruh bagian otak kamu. Yang bisa dilakukan saat ini hanya memberikan obat penghilang rasa nyeri pada kepala mu.


Para dokter juga tidak bisa memastikan kamu itu bertahan sampai kapan.


Tetapi bila kamu meminum obat penghilang rasa nyeri, pertumbuhan janin kamu akan terganggu. Untuk itu, dokter menginginkan agar kandungan kamu segera di gugurkan agar kamu bisa mengkonsumsi obat-obatan", Pangestu memberitahu dengan suara pelan.


"Apa!, tiidaaak. Aku tidak akan menggugurkan janin ku. Aku sangat mengharapkan bayi ini bisa lahir ke dunia. Aku tidak peduli sekalipun nyawaku taruhannya. Baiklah aku akan menahan rasa sakit ini, apabila rasa sakit itu melanda ku", Shifa ngotot akan mempertahankan janinnya.


"Tapi Shifa, bagaimana kamu akan menahan rasa sakit kepala mu", ucap Pangestu, agar Shifa bisa berpikir jernih.


"Kumohon sayang, jangan memaksa aku untuk menggugurkan janinku. Aku sangat ingin bayi ini lahir ke dunia", Shifa menitikkan air mata nya.


"Kalau bayi ini lahir, bagaimana kalau kamu jadi meninggal dunia?", ucap Pangestu ikut menangis.


"Kamu yang akan merawat bayi kita sayang, kamu mau kan merawat bayi kita. Aku rela kamu kembali ke indah, tidak apa-apa bayiku nantinya di rawat oleh Indah ", ucap Shifa memohon-mohon, Pangestu terkejut mendengar perkataan Shifa.


"Aku tidak yakin indah akan menerima ku kembali, sudahlah kita tidak usah membicarakan Indah lagi. Aku hanya berharap kamu bisa bertahan. Jadi tolong segera ambil keputusan agar janin itu di gugurkan", ucap Pangestu tegas.


"Kumohon sayang, aku tetap akan mempertahankan janin ini. Baiklah segera urus kepulangan kita, aku ingin segera pulang dari rumah sakit ini, aku sudah merasa baikan", Shifa ingin memaksa beranjak dari tempat tidur nya.


"Terserah kamu saja, kamu kok susah banget diberi pengarahan. Baiklah, kalau kamu tetap ingin memaksa untuk mempertahankan janin kamu. Pokoknya aku tidak mau melihat kamu merintih kesakitan di depan ku.


Kalau kamu merintih kesakitan di depanku, dengan terpaksa aku harus mengambil kesimpulan agar janin itu digugurkan. Karena Aku tidak tega melihat kamu kesakitan", Pangestu tegas dan sedikit emosi melihat Shifa begitu ngotot agar janin itu dipertahankan.


Shifa pun hanya diam saja, tidak berani lagi berkata-kata kalau melihat Pangestu marah.


Pangestu pun segera mengurus administrasi untuk kepulangannya dari rumah sakit saat ini.

__ADS_1


__ADS_2