Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#78. Pangestu berusaha terus membujuk Indah untuk rujuk


__ADS_3

Jenazah Tedja di semayamkan di rumah nya. Pangestu mengurus segala administrasi dan semua berkas yang dibutuhkan. Sebelumnya Pangestu telah menanyakan alamat rumah Tedja.


Ketika jenazah Tedja sudah berada dalam rumah. Tiba-tiba ada 3 orang perempuan menghampiri jenazah Tedja.


Ketiga perempuan itu, duduk mengelilingi jenazah Tedja. Ketiganya tampak menghapus airmata yang menetes di pipinya.


Pangestu datang menghampiri, dalam batin Indah telah berpikir kalau ketiga perempuan itu pasti istri-istri nya Tedja. Tetapi Indah tidak peduli dan tidak mau tahu.


"Kalian ini siapa?", tanya Pangestu kepada ketiga wanita itu.


"Saya Pipit", ucap Pipit.


"Saya Tessa", ucap Tessa.


"Saya Rani", ucap Rani.


"Apakah kalian bertiga adalah istri Tedja?", tanya Pangestu ingin tahu.


"Iya", ketiganya menjawab secara serentak. Pangestu tersentak tidak menyangka kalau ayahnya suka bermain perempuan.


Menurut Pangestu istri yang terakhir lah yang harusnya terakhir berkomunikasi dengan ayahnya.


"Dari kalian bertiga kapan terakhir kali kalian bertemu dengan ayahku. Seharusnya kalian merawat ayahku selama sisa hidupnya. Tetapi menurut ayahku, selama setahun ayah tinggal sendiri menjalani hidup dengan penyakit nya. Tidak ada yang merawatnya. Sehingga keadaan sangat memprihatinkan.


Dari pengakuan ketiga perempuan itu. Rani adalah istri yang terakhir bertemu dengan Tedja.


"Mengapa meninggalkan ayah ku dan tidak merawatnya hingga sembuh?", Pangestu sedikit kesal.


"Selama kami berumah tangga. Tedja juga jarang menemui aku, Tedja selalu keluar rumah bahkan mau sampai berbulan-bulan tidak pulang ke rumah. Akupun menyelidikinya dan ternyata Tedja selingkuh dengan perempuan lain.


Setelah beberapa hari pulang ke rumah, kulihat Tedja kondisinya sedang tidak baik. Kami pun segera berobat ke rumah sakit, dan oleh dokter dinyatakan penyakit kelamin. Tidak beberapa lama perubahan terjadi pada alat kelamin Tedja.

__ADS_1


Aku takut dan mencari informasi kalau penyakit itu adalah penyakit menular. Walaupun tedja Karena hasrat dan birahi Tedja tahu dirinya sakit, keinginan birahinya tidak bisa dibendung nya. Tedja selalu memaksaku untuk terus berhubungan suami-istri dengan nya.


Aku takut tertular oleh penyakit nya, dan berencana untuk meninggalkan nya secara diam-diam. Kukatakan kalau aku hendak membeli sesuatu, dan ternyata aku tidak pernah lagi datang menemuinya", Rani memberitahu alasannya meninggalkan Tedja.


Pangestu tidak bisa menyalahkan Rani. Siapa pun tidak ingin tertular oleh penyakit berbahaya. Apalagi Tedja memang selama ini selalu berselingkuh di belakang Rani. Pangestu memakluminya.


"Apakah kalian saling mengenal satu sama lain. Mengapa bisa kalian datang secara bersamaan?", tanya Pangestu merasa penasaran dan ingin tahu.


"Aku sudah lama mencari Tedja. Dan memang Tedja sangat familiar. Seluruh tempat hiburan bila menunjukkan foto Tedja semua perempuan disana pasti akan mengenalnya. Ternyata Tedja mempunyai kebiasaan selalu mencari kepuasan di luar.


Mungkin Tedja kehabisan uang untuk memperistri perempuan lugu. Sehingga ia mencari kepuasan dengan wanita yang memang posisinya sebagai wanita kupu-kupu malam yang menjajakan dirinya di pinggiran jalan", Tessa memberitahu.


"Kalau kedatangan kalian untuk meminta pembagian harta Tedja. Kalian salah, Tedja sekarang tidak mempunyai apa-apa lagi. Artinya Tedja sudah bangkrut. Bahkan biaya pengobatannya saja, tidak bisa di lunasi nya.


Saya yang telah melunasi biaya perawatan ayah selama di rumah sakit, agar jenazah ayah bisa saya ambil dan di semayamkan di rumah ini. Sedangkan rumah ini saja adalah rumah yang dikontrak ayah. Kebetulan sekali rumah ini masih belum habis masa berakhir kontraknya", Pangestu mengatakan kondisi Tedja yang sudah bangkrut.


Tessa, Rani dan Pipit saling bertatapan satu sama lain.


"Baiklah, karena waktunya jenazah almarhum akan di kebumikan. Saya yang merupakan anak kandung dari almarhum meminta maaf secara khusus kepada semua yang hadir disini.


Agar kiranya sudi memaafkan segala kesalahan yang dilakukan almarhum ayah saya selama hidupnya. Mari kita mendoakan kiranya almarhum diterima disisi-Nya", Pangestu memberikan sepatah dua patah kata kepada seluruh pelayat yang hadir di rumah duka tersebut.


Para halayakpun serentak mengucapkan, "Amin".


Tidak beberapa lama jenazah Tedja pun dibawa untuk segera di makamkan. Ketiga istri Tedja masih setia mengikuti proses pemakaman. Setelah Tedja dimakamkan Pipit, Tessa dan Rani akhirnya pulang. Hanya tinggal Pangestu dan Indah.


Indah bermaksud ingin pulang sendiri, setelah proses pemakaman selesai.


"Indah tunggu, kita pulang bareng. Biar kamu ku antar pulang", Pangestu mencegat Indah.


"Tidak usah, aku pulang sendiri saja", Indah terus berjalan tidak memperdulikan Pangestu. Pangestu dengan cepat menarik tangan Indah agar tidak meninggalkan nya.

__ADS_1


"Lepas kan aku Pangestu!. Kamu mau aku berteriak kencang?", Indah mengancam Pangestu. Mau tidak mau Pangestu pun segera melepaskan genggaman nya pada Indah.


"Aku sudah bilang kalau aku tidak ingin kamu bertemu dengan Arkan. Kebetulan sekarang mungkin Arkan sudah di rumah", Indah tidak ingin Pangestu mengantar nya pulang. Indah pun terus berlari ke arah jalan meninggalkan Pangestu. Kebetulan sekali ada taxi lewat didepannya. Dengan secepatnya Indah menghentikan dan segera masuk ke taxi tersebut.


"Maju pak, langsung ke jalan Srikandi ya pak", perintah Indah kepada supir taxi yang ditumpanginya. Taxi pun langsung melaju begitu diperintahkan Indah.


Akhirnya Pangestu tidak bisa mengejar Indah. Karena Pangestu masih harus mengurusi acara-acara untuk memanjat kan doa-doa untuk almarhum Tedja.


****


Seminggu berlalu setelah pemakaman Tedja dan acara-acara doa selesai dipanjatkan.


Pangestu tidak menyerah dan terus berusaha untuk membujuk Indah.


"Mungkin kemarin Indah dalam keadaan emosi. Sehingga terus menghindar tidak mau berdekatan dengan ku. Kalau aku bertemu dengan Arkan pasti Arkan akan mendukung ku.


Dan membujuk Indah agar kami bersatu kembali", Pangestu senyum-senyum di dalam hatinya, pikirnya Indah pasti akan luluh dan menerimanya kembali. Terbayang di pikiran nya masa depan penuh kebahagiaan hidup bersama Indah, Arkan dan Rangga.


Pangestu tiba di rumah sore hari, Pangestu merasa yakin kalau Arkan sudah pulang sekolah.


Sebelum Pangestu memasukkan mobilnya ke halaman rumah Indah, terdapat mobil Alphard Hitam parkir di halaman rumah Indah. Pangestu merasa bingung dan bertanya-tanya dalam hatinya. Mobil siapa yang sedang parkir di halaman rumah Indah?.


"Ahh, mungkin saja itu mobil pelanggan atau supplier yang datang untuk urusan toko Indah", gumam Pangestu dalam hatinya. Memaksa untuk masuk dengan penuh percaya diri ke halaman rumah Indah, dan akan menjalankan rencananya.


Begitu Pangestu turun dari mobilnya. Ternyata Indah dan Arkan sedang asik mengobrol dengan Febri.


"Ada laki-laki dewasa di rumah Indah. Siapa laki-laki itu?", Pangestu merasa penasaran dan ada rasa cemburu di dalam hatinya. Pangestu masih optimis dan mengatakan dalam pikirannya kalau laki-laki itu mungkin supplier Indah, datang untuk urusan bisnis Indah.


Pangestu langsung menerobos untuk masuk dan langsung menyapa Arkan, "Hai Arkan. kamu agak tinggian sekarang ya", Pangestu ramah menyapa Arkan.


Semua lantas terkejut dan langsung menatap pada pangestu.

__ADS_1


__ADS_2