Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#79. Pangestu bertemu Febri


__ADS_3

Indah sedikit kesal dengan kedatangan Pangestu. Karena Indah sudah mengatakannya kepada Pangestu agar sementara waktu tidak bertemu dengan Arkan. Namun Pangestu sepertinya tidak mengindahkan perintah Indah.


Arkan bersikap dingin, karena sebenarnya Arkan masih kesal dengan sikap Pangestu selama ini yang tidak peduli kepada keluarga nya, apalagi Indah sudah menceritakan sebelumnya kepada Arkan bahwa alasan Pangestu tidak datang menemui mereka adalah karena telah menikah dengan perempuan lain dan pangestu lebih memikirkan perusahaan nya.


"Hai ayah, ada angin apa ayah tiba-tiba datang menemui aku?", Arkan bertanya dengan to the poin, namun dengan suara tegas. Febri Sedikit terkejut dan merasa sedikit ketakutan dan khawatir bahwa yang datang menemui Arkan adalah ayah kandung nya.


"Apakah Indah mau menerima Pangestu kembali?. Mungkin inilah alasan Indah tidak ingin segera menikah dengan aku, barangkali Indah masih menanti kedatangan Pangestu", Gumam Febri dalam benaknya.


"Tetapi sepertinya Indah merasa kesal dan marah melihat kedatangan Pangestu", Febri sedikit bertanya-tanya di dalam hatinya. Febri mencoba diam, tidak mau bersikap untuk turut campur atas urusan keluarga Indah.


"Maafkan ayah nak, selama ini ayah sangat sibuk dengan urusan pekerjaan ayah. Sehingga tidak sempat untuk mengunjungimu. Sebenarnya ayah sangat ingin dan sangat rindu ingin sekali bertemu dengan mu", pangestu berpura-pura sedih, berharap Arkan akan luluh hatinya dan menerima Pangestu untuk kembali berkumpul dengan mereka.


Arkan pun hanya diam saja tidak menjawab apa-apa lagi atas alasan Pangestu tidak datang mengunjungi mereka. Arkan berusaha menjabat tangannya dan menciumnya, untuk menunjukkan sifat hormat nya kepada ayah kandungnya sendiri.


"Arkan bagaimana sekolah kamu lancar-lancar saja kan?. Oh ya bagaimana permainan basket kamu?. Pasti kamu sekarang sudah lebih jago bermainnya, ayah sangat yakin itu.


Oh ya mulai sekarang ayah akan selalu datang menemani kamu untuk bermain basket. Kamu mau kan ayah temani bermain basket?", Pangestu senyum-senyum merasa yakin Arkan akan sangat senang dan menerima tawaran Pangestu.


Arkan melihat wajah Indah penuh kekesalan, dan tidak merasa senang dengan kedatangan Pangestu.


"Arkan sangat yakin kalau ibunya pasti masih marah atas sikap ayah nya yang meninggalkan mereka. Apalagi ibu seperti nya sudah bahagia dan senang dengan kedatangan om Febri", gumam Arkan dalam hatinya.

__ADS_1


"Om Febri lebih bersikap gentleman, artinya menerima kondisi ibu apa adanya. Dan sangat baik dan perhatian sama aku. Aku sih lebih memilih om Febri daripada ayah", gumam Arkan merasa yakin.


"Maaf ayah, selama ini om Febri lah yang menemani Arkan untuk bermain basket. Ayah terlalu sibuk dan lebih memilih keluarga ayah dan perusahaan ayah, daripada Arkan dan ibu", ucap Arkan dengan tegas.


"Om Febri siapa itu om Febri?", Pangestu sedikit geram dan cemburu.


"Oh iya perkenalkan ayah, ini adalah om Febri", Arkan menunjuk ke arah Febri. Febri pun beranjak dari bangkunya segera menjabat tangan Febri sambil memperkenalkan dirinya.


"Om Febri sangat baik mau meluangkan waktunya buat Arkan untuk menemani bermain basket ayah. Om Febri juga banyak membantu dan menolong Arkan ketika kemarin Arkan hampir tenggelam di sungai dan dalam belajar Arkan juga", Arkan memberitahu semua kebaikan Febri kepada Pangestu, terlihat Pangestu semakin kesal karena telah dibanding-bandingkan dengan Febri, dan Arkan sepertinya lebih memuji Febri.


"Kamu pernah hampir tenggelam di sungai?", Pangestu terlihat marah kepada Indah karena telah membawa Arkan bermain ke sungai.


"Kamu sangat berani sekali membawa Arkan bermain ke sungai Indah. Bagaimana kalau Arkan tenggelam dan tidak bisa diselamatkan?", Pangestu menyalahkan Indah.


"Oh iya, untuk apa kamu datang ke sini tanpa memberitahu. Aku tidak senang melihat kedatangan kamu yang langsung main masuk saja tanpa mengetuk pintu. Seenaknya saja kamu datang dan pergi ke rumah ini", Indah tegas dan bicara dengan nada tinggi.


Febri berusaha menenangkan Indah dengan menepuk dan mengelus-elus pundak Indah. Pangestu melihat Febri dan Indah dengan tatapan sinis.


"Ooohh bagus, ternyata kamu sudah mempunyai laki-laki lain ya!, makanya kamu cuek dan ketus terhadap aku", Pangestu geram kepada Indah dan Febri.


"Dihadapan ku kalian tega mesra-mesraan", Pangestu semakin nyerocos.

__ADS_1


"Cukup pangestu!. Tingkah dan sikap kamu itu semakin membuat ku makin benci dan geram melihat kamu. Aku tidak suka kamu menuduh aku yang tidak-tidak. Lagian kamu selama ini kawin hingga mempunyai anak.


Apa aku banyak protes dan sampai melarang hubungan kalian. Bahkan kamu meninggalkan kami tanpa ada informasi dan kabar beritanya. Kamu hanya diam saja. Tiba-tiba kamu sekarang datang minta untuk rujuk dan malah menyalahkan dan menuduh aku yang tidak-tidak. Apa kamu punya perasaan?", Indah menangis terisak-isak.


Febri terus berusaha menenangkan Indah dan menghapus air matanya. Sebenarnya Febri ingin tegas berbicara kepada Pangestu. Tetapi Indah berusaha menahannya. Takut Pangestu akan semakin marah, dan malah menimbulkan kegaduhan. "Kasihan Arkan akan jadi sedih dan menangis", gumam Indah di dalam hatinya.


Melihat Indah menangis Pangestu berpura-pura menyadari kesalahannya.


"Indah, maafkan aku selama ini telah meninggalkan kalian. Kamu tahu sendiri kan, bahwa aku melakukan semua ini demi kebahagiaan kalian.


Aku ingin mendapatkan perusahaan ku. Sekarang aku sudah mendapatkan nya, sekarang kembali lah kepada ku Indah. Kita rajut kembali masa depan yang pernah kita cita-citakan", Pangestu memohon-mohon kepada Indah.


Indah berusaha menarik nafasnya dalam-dalam. Dengan tenang dia mencoba berpikir untuk mengucapkan kata-kata yang pas kepada Pangestu, agar bisa membuka pikiran Pangestu. Sehingga Pangestu bisa menerima dengan lapang dada apa yang dikatakan Indah.


"Pangestu, maaf sekali. Kalau untuk rujuk kembali dengan kamu aku tidak bisa. Bukan aku yang mengkhianati hubungan kita, tetapi kamu yang telah menyia-nyiakan kepercayaan ku kepada mu.


Kamu telah meninggalkan kami begitu lama tanpa berita dan kabar yang jelas. Maaf hatiku sekarang telah terisi oleh seseorang dan dia adalah Febri. Hubungan kami bukan juga terjalin begitu saja.


Febri menemukan Arkan ketika Arkan mencoba pergi meninggalkan sekolah. Saat itu aku sangat panik, mengetahui Arkan tidak ada di sekolah, padahal aku sendiri telah mengantarkan ke sekolah. Arkan lari dari sekolah karena merasa sedih, kamu telah meninggalkan kami begitu saja.


Bukan hanya itu saja, Febri juga menolong Arkan ketika kami liburan di pantai. Febri telah membuktikan bahwa ia dengan tulus menyayangi Arkan. Bukan hanya menemani bermain basket. Tetapi dalam hal belajar dan teman curhat.

__ADS_1


Kasih sayang sebagai seorang ayah mampu Febri berikan. Jadi tolong, jangan kamu datang tiba-tiba lalu mencoba mengobok-obok lagi hati kami yang sudah tersayat. Ibaratnya cermin yang sudah pecah tidak bisa disambung lagi", Indah berusaha menjelaskan dengan suara pelan dan tenang.


Pangestu pun hanya diam saja.


__ADS_2