
"Pastinya aku kerja dong, wanita karir seperti aku. Sekalipun aku berhenti bekerja sesuka hatiku. Maka dengan mudahnya aku akan segera mendapatkan pekerjaan baru.
Karena aku wanita pintar dan cantik, siapa pun akan terkesima bila mengenalku lebih dekat lagi", Shinta berusaha membangga-banggakan dirinya di depan Indah. Dan memang sengaja membuat Indah marah, cemburu dan berkecil hati. Karena Indah merasa tidak percaya diri, karena bersuamikan Febri yang ganteng, pintar, muda dan kaya.
"Shinta kalau kamu merasa wanita yang cantik, dan semua pria pasti akan bertekuk lutut di hadapan mu. Kamu cari dong laki-laki lain di luar sana. Bukan laki-laki yang sudah beristri seperti Febri", Indah langsung bicara secara tegas dan lantang kepada Shinta. Shinta langsung cemberut wajahnya, semakin emosi dan marah kepada Indah.
"Sudah tidak usah banyak bicara. Kamu kesini ada urusan apa. Kalau tidak ada urusan yang begitu penting. Lebih baik kamu segera keluar dan pergi dari rumah ini", Indah bicara dengan suara keras.
"Mana Febri aku ingin bertemu dengan Febri", Shinta memaksa ingin bertemu dengan Febri.
"Febri sedang tidak ada di rumah. Febri pergi mengantar Arkan ke sekolah", Indah memberitahu.
Ha....ha...ha..
"Aku tidak menyangka selera Febri ternyata kampungan banget. Aku berpikiran kalau kamu memang sudah mengguna-guna Febri. Kalau tidak mana mungkin Febri mau menikah dengan kamu yang hanya seorang janda yang sudah mempunyai anak", Shinta sengaja memancing emosinya Indah, agar Indah begitu marah dan benci mendengar omongan Shinta.
Karena guna-guna atau santet yang digunakan Shinta akan cepat bereaksi dan manjur kalau korbannya terpancing emosinya, merasa benci kepada pembuatnya.
"Shinta ini adalah rumah ku. Tidak pantes kayaknya kamu datang dan menghina aku di rumahku sendiri. Aku bisa berteriak dengan sekencang-kencangnya, agar kamu diseret dari rumah ini. Aku tidak mau ribut dengan kamu. Dan silahkan kamu keluar dari rumah ku sekarang", Indah berusaha tenang dan masih lembut berbicara kepada Shinta.
Shinta merasa kesal, karena sikap Indah tidak sesuai dengan harapan Shinta. Shinta pun berusaha mencari akal dan berpikir dengan keras, apa yang harus diucapkan nya agar Indah terpancing untuk marah dan emosi.
__ADS_1
"Indah, kamu tidak tahu kan. Kalau aku dan Febri pernah melakukan hubungan suami-istri. Itu kami lakukan ketika Febri sedang mabuk. Kalau kamu menanyakan itu kepada Febri bisa saja Febri tidak ingat karena dalam keadaan mabuk.
Tetapi aku tidak akan melupakan momen bahagia itu, aku sangat mengingatnya. Bahkan ciuman dan belaian Febri masih bisa kurakan dan membayangi hingga saat ini. Itulah sebabnya aku mengikuti Febri hingga aku memutuskan kerjaku di Kalimantan hanya karena aku ingin bertemu dan ingin merebut Febri dari mu", Shinta terus memancing emosi Indah sampai begitu tega mengatakan kebohongan.
"Apa, ternyata kamu sengaja datang dari Kalimantan hanya ingin merebut Febri dari ku. Tetapi kemarin kamu mengatakan karena ada urusan penting", Indah terkejut ternyata Shinta sengaja datang ke Jakarta untuk merebut Febri darinya.
"Indah-indah ternyata kamu adalah perempuan bodoh. Tentu saja aku berbohong, agar Febri tidak menjauhi dan menolakku. Sekarang aku sudah semakin dekat dengan kalian", Shinta tertawa mengejek kepolosan Indah dan mempercayainya begitu saja.
"Ya Tuhan, aku tidak menyangka tujuan kamu untuk dekat dengan kami adalah ingin merebut Febri dari ku", Indah merasa sedih setelah tahu tujuan Shinta.
"Kamu tidak akan bisa merebut Febri dari ku Shinta, karena Febri sangat mencintai ku. Cinta kami suci, tulus dan kuat. Aku yakinkan kamu, bahwa tidak semudah itu kamu merebut Febri dari ku dan ingin merusak rumah tangga kami", Indah ingin membuat Shinta merasa ciut, bukannya marah malah menantang Shinta.
Tidak lama kemudian Febri pun datang, dan berulang kali membunyikan klakson mobilnya. Karena Indah tidak nongol, akhirnya Febri langsung memasukkan mobilnya ke dalam garasi rumah.
Febri bingung, biasanya begitu dirinya datang dari mengantar Arkan, Indah langsung datang membukakan pintu dan segera menghampirinya sambil mengandeng tangan nya masuk beriringan ke dalam rumah sambil bercanda gurau.
"Sayang, sayang kamu dimana?", Febri terus memanggil-manggil Indah dan mencari sosok Indah ke kamar, pikirnya mungkin Indah sedang kelelahan dan sedang beristirahat di kamar. Febri terkejut ternyata Indah tidak ada di kamar nya. Akhirnya Febri pun mencari Indah ke dapur.
Betapa terkejutnya dirinya melihat ada Shinta di dapur sedang mengobrol dengan Indah.
"Lho, Shinta mengapa sepagi ini kamu sudah berada di rumah ku", Febri bingung dan ingin tahu. Dengan cepat Shinta segera menjalankan rencana liciknya, karena melihat Febri sudah kembali dari luar.
__ADS_1
"Febri aku sangat butuh bantuan mu, makanya aku datang sepagi ini. Semalam ada beberapa laki-laki yang tidak ku kenal telah masuk kedalam apartemen ku. Dan mengacak-acak seluruh barang-barang di dalam apartemen ku.
Bahkan mereka ingin memperkosa ku, tetapi aku berusaha kabur sehingga aku bisa datang sepagi ini. Bolehkah aku sementara waktu tinggal di rumah mu?. Tolong lah aku Febri, kalau tidak kepada mu aku minta tolong, kepada siapa lagi aku minta tolong. Kamu tahu sendiri kan kalau aku tidak mempunyai siapa-siapa di Jakarta ini.
Bahkan sekarang aku tidak membawa apa-apa, bahkan dompet dan handphone ku pun aku tidak sempat membawanya. Aku bisa tiba kesinii karena meminta tukang ojek mengantarnya secara cuma-cuma. Mungkin saja semua barang berhargaku sudah di curi oleh para pria asing itu", Shinta menangis tersedu-sedu memohon-mohon belas kasihan.
Indah bingung mengapa pernyataan Shinta tiba-tiba mengatakan kalau semalam rumahnya di datangi orang asing, "Tadi Shinta mengatakan kalau ia ingin merebut Febri darinya?", gumam Shinta bingung dan dengan cepat tersadar kalau ini adalah akal-akalan Shinta untuk merebut Febri darinya.
Indah pun buru-buru mengatakan penolakannya terhadap Shinta yang ingin tinggal di rumah mereka.
"Sayang, aku tidak setuju kalau Shinta tinggal bersama dengan kita. Tadi Shinta banyak cerita sebelum kamu datang. Bahwa maksudnya ingin datang ke Jakarta ini adalah untuk merebut kamu dari ku. Jangan percaya kata-kata nya sayang", Indah berusaha menyakinkan Febri.
Dengan cepat Febri marah kepada Indah.
"Indah, tega sekali kamu menuduh Shinta yang tidak-tidak, hanya karena kecemburuan kamu. Kita sudah sepakat kalau Shinta sudah kita anggap sebagai keluarga kita. Kamu tahu sendiri kalau Shinta telah di datangi oleh pria asing dan hendak memperkosanya. Apa kamu tega membiarkan Shinta di jalanan, Aku tidak suka dengan sikap kamu ini", Febri begitu marah
"Biarlah Shinta sementara waktu tinggal bersama dengan kita", Febri menambahi.
"Tega sekali kamu mengambil keputusan sendiri tanpa merundingkan dulu kepada ku, ada banyak sekali yang ingin kuberitahu kepada mu mengenai pengakuan Shinta kepada ku sebelum kamu datang tadi", Indah berusaha memberitahu Febri.
"Sudahlah Indah, ini adalah keputusanku. Aku sudah terlebih dahulu mengenal Shinta, daripada kamu. Keputusan ku sudah bulat, Shinta boleh tinggal di rumah kita", Febri marah dan segera meninggalkan Indah dan Shinta berdua di dapur.
__ADS_1