Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri

Terjerat Diantara Gairah Suami Dan Anak Tiri
#37. Tessa masuk perangkap Tedja


__ADS_3

Seperti biasa keesokan harinya, Tedja selalu menyempatkan diri untuk menanyakan kondisi dan keadaan Tessa, eh ternyata handphone Tessa tidak aktif.


"Kemana Tessa ya, kenapa handphone nya tidak aktif. Apakah karena kesakitan dan tidak ingin di ganggu", Gumam Tedja dalam benaknya.


Sebenarnya Tedja ingin mencari tahu kondisi Tessa, tetapi Tedja sangat disibukkan oleh urusan bisnis dan harus mengadakan meeting mendadak dengan para kliennya.


Bukan saja satu hari, bahkan berhari-hari. Sehingga dirinya tidak mempunyai waktu lagi menanyakan kondisi Tessa. Seminggu lamanya tidak ada kontak bahkan Tedja juga tidak ada pergi ke cafe, karena Tedja sedang pergi ke luar kota.


Tessa pun merasa uring-uringan. Tadinya Tessa mematikan handphone nya untuk memastikan perasaannya kepada Tedja. Ternyata setelah handphone diaktifkan lagi, berhari-hari handphone nya tidak berdering, tidak ada panggilan bahkan chatting an dari Tedja yang menanyakan kondisinya.


Tessa merasa kesal, "Mengapa Tedja tidak ada menelepon bahkan menchatting aku?. Apa Tedja marah, karena aku menonaktifkan handphone ku?", Tessa uring-uringan, ternyata Tessa merasa rindu. Kala Tedja tidak ada menanyakan kabarnya.


Tessa berusaha untuk menelepon balik, sekarang malah handphone Tedja yang tidak aktif. Setelah sembuh Tessa langsung bekerja di cafe biasanya. Kata teman-teman Tessa, Tedja tidak pernah terlihat lagi datang ke cafe.


"Kemana Tedja ya, apakah memang Tedja menganggap aku hanya sebagai teman biasa. Mengapa setelah perasaan ku tumbuh kepadanya, Tedja malah menghilang begitu saja?", Tessa menangis, begitu rindu rasa hatinya saat ini.


Sampai-sampai Tessa tidak bersemangat untuk makan, mandi dan bekerja.


"Kamu jahat Tedja, ternyata kamu hanya mempermainkan aku. Bodoh nya aku, mengapa aku menyerahkan hatiku sepenuhnya baginya. Aku terlalu bodoh, mungkin saja saat ini Tedja sudah rujuk dan baikan dengan istrinya", Tessa menebak-nebak dalam hatinya.


"Aku harus melupakan Tedja, aku harus mencari laki-laki lain. Diluar sana masih banyak laki-laki yang lebih muda dan lebih tampan dari Tedja", Tessa berusaha memotivasi dirinya agar tidak terus memikirkan Tedja. Semakin Tessa berusaha untuk melupakan Tedja. Semakin sakit hatinya.


"Aku harus mencurahkan isi hatiku padanya, terserah tanggapan nya apa. Apakah menerima atau menolak aku. Aku sudah terbiasa merasakan perhatiannya. Tidak ada perhatiannya, aku merasa kehilangan", Tessa tidak bisa mengendalikan perasaannya.


Tessa pun iseng ingin menghubungi Tedja ketika jam makan siang. Ternyata handphone Tedja sudah aktif kembali.


"Hai Tessa, gimana kabar kamu?", Tedja langsung menjawab panggilan telepon dari Tessa.


"Kamu jahat ya, tidak pernah menghubungi aku lagi. Puas kamu sekarang mempermainkan perasaan ku", Tessa langsung menangis.


"Hai, ada apa ini. Baru telepon sudah marah-marah. Ya sudah kita ketemuan di tempat biasa. Aku jemput kamu sekarang. Kamu harus siap-siap", Tedja bingung atas perkataan Tessa.


Tessa pun langsung berbenah mengganti pakaiannya dan pergi ke ujung gang rumahnya untuk menunggu kedatangan Tedja. Tidak beberapa lama Tedja pun langsung tiba tepat di hadapan Tessa. Tessa langsung masuk ke dalam mobil. Hanya diam dan cemberut.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih, baru nyampe sudah cemberut begitu", tanya Tedja bingung sambil senyum-senyum melihat ekspresi wajah Tessa yang lucu kala cemberut. Tedja terus melajukan kendaraannya dengan pelan-pelan.


"Kamu jahat, puas kamu mempermainkan perasaan ku saat ini", Tessa langsung ketus dan marah.


"Aduh, benaran aku tidak mengerti apa maksud kamu. Tolong kamu tarik nafas dulu, tahan dan buang. Terus kamu ceritakan masalah kamu apa", Tedja tidak mengerti arah pembicaraan Tessa.


Karena ini sepertinya harus bicara serius, Tedja menghentikan mobilnya dan parkir di area taman kota. Setelah mobil berhenti Tessa kembali melanjutkan pembicaraannya.


"Kemana kamu selama ini, mengapa tidak pernah menghubungi aku lagi, bahkan ke cafe juga tidak pernah datang", Tessa bicara dengan nada sedikit tinggi.


"Oh itu, maaf aku tidak mengabari kamu. aku memang seminggu ini pergi ke luar kota, aku sibuk sekali dengan urusan bisnis ku. Aku juga harus mengadakan meeting mendadak. Lagian itu kemarin handphone kamu juga tidak aktif ketika aku mencoba ingin menghubungi mu", Tedja memberitahu.


Mengetahui dirinya pun bersalah, Tessa pun jadi melunak.


"Kamu kenapa?", Tedja mencoba bertanya, melihat Tessa sudah tenang. Sejenak Tessa diam, tidak langsung menjawab pertanyaan Tedja.


"Aku tidak tahu, selama seminggu tidak ada komunikasi dan tidak ada bertemu denganmu. Aku merasa kehilangan sosok kamu, terus memikirkan dirimu, bahkan aku sampai uring-uringan dan tidak bisa tidur terus memikirkan dirimu", Tessa terdiam dan matanya sampai berkaca-kaca.


Tedja tahu apa yang dirasakan Tessa saat ini. Tedja merasa kalau Tessa sudah mencintai dirinya. Tedja pun merasa senang.


"Aku merasakan rindu yang amat sangat. Aku selalu ingin menangis jadinya dan begitu ingin sekali bertemu dengan mu", Tessa menundukkan kepalanya.


"Apakah kamu mencintaiku?", Tedja bicara pelan dan lembut hampir tidak kedengaran. Tessa pun tidak bisa menahan perasaan nya lama-lama. Tessa pun hanya mengangguk-angguk.


"Sebenarnya akupun mencintai mu, apa kamu mau menjadi istri kedua ku. Saat ini aku belum bisa janji untuk menceraikan istriku. Tetapi tenang saja, waktuku akan lebih banyak bersama mu", Tedja menyakinkan Tessa dan menggenggam nya dengan erat.


Tessa senang atas perasaan yang dirasakan Tedja saat ini. "Syukurlah berarti cintaku tidak bertepuk sebelah tangan", pikir Tessa dalam benaknya.


"Kalau aku minta cerai dengan istriku sekarang, mungkin dia tidak akan setuju, dan pastinya akan menuntut aku. Bagaimana kalau kita menikah secara diam-diam saja, tidak ada resepsi, yang penting pernikahan kita sah. Kita rahasia kan dulu pernikahan kita terhadap adik dan ibu kamu.


Setelah kita menikah secepatnya aku akan menceraikan istriku. Setelah itu kita menikah resmi dan mendaftarkan pernikahan kita ke kantor catatan sipil, dan kita pun akan mengadakan resepsi pernikahan", Tedja berjanji dan menyakinkan Tessa.


Tessa yang saat ini sedang dimabuk asmara terima saja apa keputusan Tedja. Baginya saat ini adalah bisa terus bersama-sama dengan Tedja.

__ADS_1


"Bagaimana setelah makan siang nanti, kita akan melangsungkan pernikahan kita. Aku ada teman dan saksi yang bisa membuat pernikahan kita menjadi sah", Tedja memberitahu.


"Terserah kamu saja, aku hanya nurut saja", Tessa pasrah dan menyetujui keputusan Tedja.


Tedja pun membawa Tessa ketempat mereka melangsungkan pernikahan. Sebelumnya tedja sudah memberitahu kepada temannya. Dan setelah Tedja sampai di lokasi, ternyata semua telah dipersiapkan dan ada beberapa orang sudah berkumpul ditempat itu. Akhirnya Tedja dan Tessa menikah secara sah.


Tedja mencari sebuah apartemen untuk tempat tinggal sementara mereka. Tessa hanya diam saja setelah acara pernikahan bahkan hingga di dalam mobil terus terdiam.


"Kamu mengapa diam saja, kamu takut atau menyesal telah menikah dengan aku?", Tedja ingin tahu. Tessa hanya mengangguk.


"Kamu tidak perlu takut, ada aku bersama mu. Aku tidak akan meninggalkan kamu", Tedja menyakinkan Tessa. Tessa merasa lega atas perkataan Tedja.


Mereka pun tiba di sebuah apartemen. Dan segera naik dan masuk ke dalam.


"Sementara kita tinggal disini ya!. Kamu tidak keberatan kan", tanya Tedja lembut. Tessa pun hanya mengangguk.


Tessa hanya diam duduk di sofa, Tessa merasa canggung dan sedikit takut.


Tedja pun menghampiri Tessa, mengangkat tubuh Tessa agar berdiri. Kini Tessa dan Tedja saling berhadapan.


"Sekarang kamu sudah menjadi istri sah ku, apakah kamu mau meladeni ku sekarang?", tanya Tedja lembut.


"Aku takut, aku belum pernah melakukannya", ucap Tessa pelan.


"Tidak perlu takut, kamu pejamkan saja mata kamu, dan nikmati saja. Kalau kamu ingin mendesah karena senang atau perih tumpahkan saja emosi kamu", Tedja melucuti pakaian Tessa satu persatu. Tessapun hanya pasrah, baginya saat ini Tedja adalah suami yang sangat pengertian dan perhatian.


Kini mereka sama-sama tanpa busana. Tessa hanya diam, Tedja memainkan area gunung kembar nya, bahkan menganggapnya sebagai layaknya lolipop begitu meresapinya. Tessa mendesah dan merasa nikmat. Hingga akhirnya Tedja sampai pada permainan terakhir menyentuh lubang dan memasukkan peluru nya.


Tessa teriak, Tedja perlahan dan semakin kencang memasukkan nya. Hingga dia merasa *******. "Ternyata benar Tessa masih perdana", Gumam Tedja memperhatikan ada bercak darah pada pelurunya.


"Terimakasih sayang, kamu tidak menyesal kan melakukannya dengan ku?", tanya Tedja, Tessa hanya menggeleng.


"Kuharap kamu tidak malu-malu lagi untuk permainan berikutnya. Nikmati saja, kamu pasti akan ketagihan. Aku ingin kamu bisa meladeni suamimu dengan baik", ucap Tedja mengecup kening Tessa.

__ADS_1


Tedja mendapatkan area sempit, membuatnya merasa ingin dan terus ketagihan. Pikirannya dipenuhi oleh keinginan untuk terus mencari sensasi dan kenikmatan yang berbeda dan bervariasi.


__ADS_2