
Melihat Indah wajahnya masih saja cemberut dan belum merasa puas atas seluruh penjelasan yang diberikannya. Febri pun bingung harus bagaimana untuk menyakinkan Indah.
"Sayang mari kesini biar aku jelasin yang sebenarnya", Febri mengambil sikap duduk bersilah di atas ranjang dan mengajak agar Indah mendekati nya.
Begitu Indah mendekat kepadanya. Febri pun langsung memeluk erat Indah sambil menatap kedua bola mata Indah sembari mengucapkan, "Sayang, aku sangat mencintaimu", Febri mencium bibir Indah dengan lembut.
"Sayang, tadi itu aku langsung menolak panggilan masuk dari Shinta, agar Shinta tahu privasi aku, maksudnya agar Shinta tidak terbiasa menghubungi aku di malam hari.
Bukan berarti aku ada hubungan yang spesial sehingga di depan mu aku tidak mau mengangkat panggilan masuk dari Shinta. Kamu jangan langsung mengambil kesimpulan begitu ya. Aku tekan kan kepadamu, aku tidak ada hubungan spesial dengan Shinta.
Memang Shinta pernah mengucapkan perasaan nya kepada ku, tetapi langsung ku tolak karena aku sudah mempunyai perasaan kepada mu.
Mungkin Shinta hanya mengucapkan selamat menempuh hidup baru kepada ku, karena memang Shinta adalah wanita karir yang mempunyai segudang kesibukan dan semua itu dilakukan hingga malam hari.
Makanya ini adalah waktu luangnya setelah pulang dari kantor, sehingga ia menelepon tengah malam", Febri menyakinkan Indah. Indah pun sedikit lega, tetapi tetap saja merasa khawatir dan was-was. "Bisa saja Shinta sengaja menghubungi Febri, ingin membuat dirinya merasa cemburu", gumam Indah dalam benaknya.
Indah pun tersenyum mencoba berlapang dada dan puas atas penjelasan yang diberikan Febri. Febri tahu isi hati Indah, pasti Indah belum terima dan percaya begitu saja penjelasannya.
"Sayang, aku sangat senang melihat kamu cemburu. Itu berarti kamu sangat mencintai ku. Tetapi cemburu buta yang tidak beralasan. Jelas sekali akan membuat aku menjadi risih, dan kamu pun akan merasa tidak nyaman dan selalu akan mencurigai ku, dan akan merasa tersiksa dan tertekan.
Percayalah, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak ingin kamu tersiksa dan tertekan dengan rasa cemburu mu yang tidak beralasan. Sayang, kalau aku masih ada di
samping mu dan selalu di dekat mu, artinya aku tidak keluar kota bagaimana mungkin aku melakukan perselingkuhan dengan wanita lain. Sekalipun keluar kota, itu tidak akan pernah kulakukan menghianati cinta kita.
__ADS_1
Aku mencintaimu Indah dan jangan pernah kamu meragukan itu", Febri sangat bersungguh-sungguh memberitahu Indah sambil memegang erat kedua tangan Indah dan menatap kedua bola mata Indah dengan begitu dalam dan mata yang berkaca-kaca. Indahpun menyadari kalau Febri bicara serius.
Akhirnya Indah yakin dan percaya kalau Febri sangat mencintainya dan jujur atas semua yang dikatakannya.
"Sayang, aku sangat takut kehilanganmu. Itu makanya aku begitu cemburu bila ada wanita lain yang ingin mendekatimu", Indah memeluk erat Febri dan sambil terisak menumpahkan kegelisahan nya karena takut Febri akan meninggalkan nya.
"Sayang, aku tahu perasaan mu. Aku tidak akan meninggalkan mu, dan selama nya ingin selalu bersama mu hingga kakek nenek dan ajal yang memisahkan kita berdua", Febri menyakinkan Indah sambil menghapus air mata yang menetes di pipi Indah.
Dengan tenang Indah pun yakin atas semua ucapan Febri kepada nya.
****
Kehidupan rumah tangga Indah dan Febri pun sangat berbahagia. Shinta tidak pernah lagi menghubungi Febri.
3 bulan berlalu setelah Indah dan Febri menikah. Indah akhirnya hamil dari benih cinta Febri. Kehamilan Indah telah memasuki bulan kedua.
"Hati-hati sayang, aku sudah mengatakan kepadamu agar tidak mengangkat beban yang begitu berat. Ingat janin yang ada di dalam perut mu masih terlalu rentan. Sedikit saja kamu melakukan kesalahan, perkembangan janin mu akan terganggu.
Ingat apa yang dikatakan dokter", Febri sedikit marah dan mengingatkan Indah ketika Indah berusaha mengangkat beberapa potong pakaian. Indah bermaksud menyusunnya di rak dengan sedikit berjinjit dan naik ke atas bangku serta mengganti pajangan pakaian yang dikenakan model patung pada tokonya.
Kalau Febri tidak ada kesibukan ke luar kota, Febri ikut membantu Indah di tokonya. Febri dan Indah bersama-sama menangani toko, membuat inovasi-inovasi baru dan strategi-strategi baru untuk perkembangan dan kemajuan toko.
"Tidak apa-apa sayang ini tidak terlalu berat kok. Hanya beberapa potong pakaian kok", Indah membela diri.
__ADS_1
"Sudah dong, kan ada pegawai yang lain, kamu tinggal suruh mereka pun dengan cepat akan datang dan melakukan apa yang kamu perintahkan", Febri memberitahu dengan suara yang agak keras.
Mendengar Febri sedikit marah atas sikap Indah. Pegawai yang berada di toko spontan langsung mengambil alih pekerjaan yang dikerjakan Indah.
"Sini Bu, biar citra yang menyelesaikan nya", citra mengambil alih pekerjaan Indah.
"Tolong semua mengawasi ibu. Agar tidak melakukan pekerjaan yang berat-berat karena saya tidak mau terjadi sesuatu hal yang fatal terjadi pada kandungan ibu", Febri memberitahu dengan tegas kepada semua pegawai yang ada di toko.
Sontak seluruh pegawai menjawab dengan serentak, "Baik pak".
Indah pun akhirnya meninggalkan tokonya, karena takut Febri akan marah dan mengomelinya lagi.
"Indah, kamu jangan bandel dan sepele. Jagalah kandungan kamu dengan baik. Apa kamu tidak merasa takut kalau terjadi sesuatu terhadap janin kamu?", Febri begitu protektif atas keadaan dan kondisi kehamilan Indah. Karena Febri sangat ingin dan bahagia, kalau Indah akan memiliki anak dari benihnya.
"Iya sayang, aku baik-baik saja kok. Aku merasa kalau pekerjaan tadi tidak berat. Lagian aku merasa jenuh dan bosan bila harus terus duduk-duduk santai aku tidak terbiasa", Indah memberi alasan, tetap saja alasan yang diberikan Indah tidak masuk akal bagi Febri. Dan Febri bersikeras agar Indah tidak membantah perintah nya.
Melihat Febri yang terlihat kesal, Indah pun buru-buru untuk membujuk Febri.
"Baiklah sayang, aku akan menjaga kandungan ku dengan sebaik-baiknya. Maaf atas sikap ku tadi, aku hanya berharap kamu mengerti atas diriku", Indah berusaha ingin menenangkan hati Febri.
"Aku hanya tidak ingin anakku kenapa-kenapa", Febri ingin indah tidak salah paham atas sikap nya yang terlalu protektif terhadap dirinya, sehingga menjadi sedikit tegas dan kasar kepada pegawainya.
"Aku mengerti perasaan mu", Indah mengecup kening Febri dengan lembut.
__ADS_1
"Ayah, Ibu aku akan segera mempunyai adik. Kapan adik baru akan lahir?", Arkan tidak sabar menantikan adik barunya lahir.
"Sabar sayang, pasti akan tiba waktunya. Bantu ayah agar ibumu bisa menjaga kandungan nya dengan baik. Ingatkan ibumu untuk tidak melakukan pekerjaan yang berat-berat ya, bila kamu melihat ibumu tetap bandel memaksa melakukan pekerjaan yang berat itu", Febri meminta bantuan Arkan untuk mengawasi semua kegiatan Indah.