
"Kita sudah selesai sarapan, mari kita berangkat ke rumah sakit. Takut karena jalanan macet kita jadi kesiangan. Dan ke betulan jadwal dokter Ramli yang memeriksa Shifa adanya hari ini. Kalau hari ini kita gagal bertemu dengan nya maka jadwal selanjutnya akan ada dua hari kemudian", Shifa memberitahu.
"Baiklah, mari kita berangkat", Pangestu langsung berjalan ke depan menuju garasi untuk segera mengeluarkan mobil.
Shifa dan Burhan langsung naik dan masuk begitu mesin mobil dinyalakan.
Tidak beberapa lama mereka pun tiba di rumah sakit, dan setelah sebelumnya memberitahu atau melapor ke ruang resepsionis perihal ingin bertemu dengan dokter Ramli. Suster langsung mengarahkan nya ke ruangan dokter Ramli.
Tok....tok...tok ..
Shifa mengetuk pintu ruangan dokter Ramli.
"Iya, silahkan masuk", ucap seseorang dari balik pintu.
Shifa, Pangestu dan Burhan beriringan segera masuk kedalam ruangan dokter Ramli.
"Begini dok, saya pasien dokter atas nama Shifa. Yang menderita kanker otak stadium akhir. Kemarin dokter telah memfonis umur saya hanya sekitar 40 hari. Tetapi sekarang saya sudah lebih 40 hari masih bisa hidup dan bertahan dengan kondisi yang bisa dibilang sehat dok", Shifa memperkenalkan diri.
"Benarkah", dokter Ramli merasa takjub dan heran atas pernyataan Shifa. Sambil berusaha membaca dan memeriksa berkas-berkas mengenai catatan penyakit Shifa. Dokter Ramli manggut-manggut.
"Begini ya pak Bu. Dunia kedokteran tidak memungkiri adanya keajaiban dari Sang Pencipta. Kejadian ini memang sangat jarang terjadi. Ini memang kejadian yang sangat luar biasa dan di luar
nalar kami pihak dokter.
Sementara ini saya belum bisa menyimpulkan apa-apa. Kami akan memeriksa kembali kondisi dari Shifa secara keseluruhan. Silahkan bapak-bapak sekalian menunggu di luar. Pemeriksaan akan berlangsung selama 2 jam lebih", dokter Ramli memberitahu.
Karena waktu pemeriksaan cukup lama. Akhirnya Pangestu dan Burhan pergi ke kantin.
__ADS_1
***
Dua jam lebih telah berlalu.
Sebelumya Pangestu dan Burhan sudah datang terlebih dahulu dan duduk di depan ruangan dokter Ramli kebetulan sekali ada bangku tunggu.
"Silahkan masuk pak", suster mengarahkan Burhan dan Pangestu masuk ke ruangan dokter Ramli.
Pangestu dan Burhan langsung mengikuti suster dari belakang.
"Silahkan duduk bapak-bapak", dokter Ramli mempersilahkan mereka duduk.
"Begini pak, berdasarkan pemeriksaan dan observasi yang kami lakukan. Sebenarnya penyakit kanker Shifa masih ada. Mungkin karena kondisi pasien yang happy dan seperti tidak ada beban. Itu yang menyebabkan sakit dan nyerinya tidak terlalu di rasakan oleh pasien.
Sehingga pertumbuhan sel kanker tidak terlalu berkembang dan merusak organ lain pada tubuh pasien. Saya menyimpulkan bisa saja Pasien tiba-tiba kondisinya akan sangat begitu lemah dan down. Atau bahkan kehilangan nyawanya.
Itu lah yang tidak bisa saya tetapkan. Karena saya bukan pemilik hidup. Saya berharap kondisi pasien stabil dan tanpa beban. Kita hanya bisa berharap dan banyak berdoa untuk umur panjang pada pasien", Dokter Ramli memberitahu dengan tegas. Burhan sedih, Pikirnya Shifa sudah sembuh total. Padahal suatu waktu Shifa akan pergi meninggalkan nya.
"Oh iya, Itu semua tergantung dari kondisi pasien. Saya berharap kondisi pasien stabil dan tidak ada stress. Sebaiknya kalau ada merasa sakit atau nyeri. Jangan sembarang memakan obat, bahkan harus menghentikan minum obat. Agar kesehatan janinnya tidak terganggu", dokter Ramli memberitahu dengan jelas.
Burhan menatap Pangestu. Dari pandangan mata Burhan. Sangat berharap Pangestu pengertian atas kondisi penyakit Shifa.
Pangestu lah kunci kebahagiaan Shifa. Kalau Pangestu perhatian dan peduli kepada Shifa pasti Shifa akan bahagia. Dan tentunya umur Shifa bisa lebih panjang.
"Pangestu, kamu sudah mendengar semua penjelasan dari dokter Ramli mengenai sakit penyakit Shifa. Dan kamu tentunya juga tahu apa yang harus dilakukan agar Shifa bisa bertahan hidup. Saya sangat berharap Shifa bisa menemani papa lebih lama lagi dan bisa melahirkan cucu papa.
Papa berharap kamu bersedia membuat Shifa bahagia, jangan buat Shifa bersedih. Tetap lah hidup bersama dengan Shifa. Papa akan berikan dan menuruti kemauan kamu asal kamu tidak bercerai dan meninggalkan Shifa", Burhan memohon-mohon kepada Pangestu. Ketika Burhan dan Pangestu sudah keluar dari ruangan dokter Ramli.
__ADS_1
Shifa lagi siap-siapan di ruangan pemeriksaan melepaskan seluruh peralatan medis yang melekat pada tubuh nya.
Pangestu hanya diam saja.
"Pangestu, janin yang tumbuh pada rahim Shifa adalah benih kamu. Tidak kah kamu menyayanginya dan berharap dia segera lahir ke dunia dan memanggil kamu ayah", Burhan memberi gambaran pada Pangestu.
"Shifa lah yang papa punya di dunia ini. Dan papa sangat berharap Shifa berumur panjang, bisa menemani papa. Pangestu pikirkanlah baik-baik", Burhan terus membujuk Pangestu. Dan menangis di hadapan Pangestu.
Dipikiran Pangestu hanya ingin menyelamatkan perusahaan yang telah dirintisnya, Pangestu tidak ingin kehilangan perusahaan itu. Pangestu pun menyetujui kemauan Burhan.
"Baiklah pa, saya tidak akan menceraikan dan meninggalkan Shifa. Pangestu akan bertanggung jawab terhadap janin Shifa. Dan akan mengakui anak shifa, bila anak itu telah lahir ke dunia", Pangestu menyetujui Burhan.
"Terimakasih banyak Pangestu, atas pengertian kamu. Papa senang mendengarnya, dan papa harap kamu tidak ingkar atas janji kamu. Bila kamu ingkar atau menyakiti Shifa. Papa tidak akan segan-segan memenjarakan kamu", Burhan tegas memberitahu Pangestu bila melanggar janji nya.
Mereka pun segera pulang ke rumah.
****
"Bu Indah, Apakah Arkan tidak masuk hari ini?", tanya Miss Linda kepada Indah, karena tidak biasanya Arkan tidak masuk sekolah, dan kalau tidak masuk sekolah. Indah pasti akan memberitahu ke pihak sekolah sebelum pelajaran di mulai.
"Miss, tadi Arkan sudah saya antar ke sekolah. Memang saya mengantar Arkan cuma sampai gerbang sekolah saja. Tidak sampai ruang kelasnya karena saya sangat buru-buru untuk ketemu dengan supplier", Indah merasa heran, mengapa Arkan dibilang tidak sekolah.
"Bu Indah, Arkan tidak ada di ruang kelas. Makanya saya menelepon ibu Indah", Miss Linda memberitahu.
"Aduh, Bu. Apa tidak ada satpam atau teman Arkan yang melihat Arkan ada di sekitar lingkungan sekolah?. Karena memang saya telah mengantar Arkan sampai pintu gerbang", Indah merasa panik.
"Baiklah Bu, kami akan coba menanyakan satpam atau teman-teman nya apa ada melihat Arkan satu hari ini", Miss Linda menutup teleponnya.
__ADS_1
"Arkan sayang, kamu dimana nak?", Indah panik. Ingin segera ke sekolah Arkan untuk mencari dan menanyakan keberadaan Arkan. Indah langsung mengeluarkan mobilnya dari garasi dan segera tancap gas menuju sekolah.
"Ya Tuhan, tolong berikan petunjuk mu. Kemana aku harus mencari Arkan. Sebelum Arkan terlalu jauh berjalan. Tolong lindungi Arkan ku, jauhkan lah dari orang-orang jahat atau kecelakaan", Indah menangis dan berdoa terus di dalam hatinya.